Suara adzan subuh terdengar sayup-sayup dari mushola di ujung komplek ketika Dina membuka matanya. Sila masih tertidur pulas di sampingnya dengan kedua tangan terangkat ke atas kepala, persis seperti posisi tidurnya sejak bayi. Dina memandangi wajah putrinya cukup lama, lalu menghembuskan napas panjang.
Semalam Ia sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Bukan karena Sila yang rewel, tapi karena ucapan suaminya masih terus terngiang di telinganya. Tuduhan yang sebenarnya tidak berdasar, tapi tetap saja terasa perih.
Setelah sholat subuh, Dina meraih telepon genggamnya. Dibukanya daftar pesan, lalu ditekannya nama yang semalam menjadi sumber keributan. Blokir. Selesai. Bahkan Ia tidak membuka isi pesannya sekali pun.
“Mas,” panggil Dina pelan saat melihat Adi keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil. “Nih, aku udah blokir nomornya. Mas mau liat sendiri?” Diulurkannya telepon genggam itu ke arah Adi.
Adi menatap layar telepon di tangan istrinya sebentar, lalu memalingkan wajah. “Ya udah, ngga usah. Aku percaya kok,” jawabnya singkat.
Hanya itu. Tidak ada kata maaf, tidak ada penjelasan. Tapi Dina sudah cukup lama mengenal suaminya untuk tahu bahwa kalimat pendek itu adalah cara Adi meminta maaf. Laki-laki seperti Mas Adi memang sulit sekali mengucapkan kata maaf dengan mulutnya sendiri.
Dina hanya tersenyum kecil, lalu beranjak ke dapur untuk memasak air.
Beberapa saat kemudian, Adi menyusul ke dapur dan duduk di kursi plastik dekat pintu belakang. Wajahnya terlihat serius. Dari raut mukanya, Dina bisa menebak bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakan suaminya.
“Din, kita ngobrol bentar,” ucap Adi.
“Iya, Mas. Kenapa?” Dina meletakkan teko di atas kompor lalu ikut duduk di kursi seberangnya.
“Warungnya … aku mau tutup aja.”
Dina terdiam. Sebenarnya Ia sudah menduga hal ini akan terjadi cepat atau lambat, tapi mendengarnya langsung dari mulut suaminya tetap saja membuat dadanya sesak.
“Tutup selamanya maksud Mas?”
Adi mengangguk pelan. “Aku udah itung-itung semalem. Kalo kita paksain buka, tiap hari kita rugi. Beras, sayur, daging, itu kan modal semua. Belum gaji Irma sama yang dua lagi. Sementara yang dateng makan ngga sampe sepuluh orang sehari. Mau bertahan pake apa?”
“Tapi kan mungkin sebulan dua bulan lagi orang udah lupa sama video itu, Mas.”
“Sebulan dua bulan itu lama, Din. Tabungan kita udah abis buat nombokin dua minggu kemaren,” sahut Adi dengan suara yang semakin pelan. “Aku juga masih punya utang dua juta sama Yusuf, baru kebayar setengah.”
Dina menunduk. Ia tahu betul angka-angka itu bukan mengada-ada. Setiap malam Ia sendiri yang mencatat pemasukan dan pengeluaran warung di buku tulis bergaris milik Sila.
“Terus sewa rukonya gimana, Mas? Bukannya masih ada sisa?”
“Masih delapan bulan lagi. Ya, mau gimana lagi. Nanti aku coba tawarin ke orang, siapa tau ada yang mau ngelanjutin sewanya. Yang penting sekarang barang-barang kita angkut dulu ke rumah,” jawab Adi. “Aku ngga mau tiap bulan mikirin ruko yang cuma jadi beban.”
“Terus Mas Adi mau kerja apa?”
Adi menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Ya nyari kerja lagi lah. Aku kan sarjana, Din. Masa iya ngga ada satu pun perusahaan yang mau nerima aku.”
Dina mengangguk. Ia tidak ingin membantah, apalagi menyinggung soal tawaran Devi lagi. Bukan waktu yang tepat.
***
Siang itu untuk pertama kalinya Adi membuka pintu rolling door rukonya bukan untuk berjualan, melainkan untuk berkemas.
Irma datang paling awal, disusul juru masak dan satu karyawan lainnya. Ketiganya berdiri canggung di tengah ruangan yang biasanya sudah penuh dengan aroma rendang dan gulai sejak pagi. Hari itu dapur sama sekali tidak menyala.
“Ibu, Bapak … jadi warungnya beneran tutup?” tanya Irma dengan suara bergetar.
Dina menoleh ke arah Adi, memberikan kesempatan pada suaminya untuk bicara. Tapi Adi justru terdiam sambil memandangi meja kasir yang sudah kosong.
“Iya, Ir,” akhirnya Dina yang menjawab. “Maaf ya. Bukannya Ibu sama Bapak mau mecat kalian. Tapi keadaannya emang lagi ngga memungkinkan. Kalian liat sendiri kan dua minggu ini gimana.”
Irma mengangguk sambil menunduk. Air matanya sudah menggenang di pelupuk. Perempuan berusia dua puluh tahun itu sudah ikut bekerja di warung sejak pertama kali dibuka. Dialah yang paling sering menggendong Sila saat Dina sibuk melayani pembeli.
“Ini gaji kalian bulan ini, sama sedikit tambahan dari Ibu. Maaf ya ngga banyak,” ucap Dina sambil menyerahkan tiga amplop putih.
“Ngga papa Bu, makasih banyak,” jawab juru masak itu.
“Nanti kalo Bapak sama Ibu buka lagi, panggil saya ya Bu,” kata Irma yang akhirnya benar-benar menangis.
Dina memeluk Irma. Ia tidak sanggup berkata apa-apa lagi karena tenggorokannya sendiri sudah terasa tercekat.
Sementara itu Adi memilih keluar dari ruko dan berdiri di trotoar, pura-pura sibuk menyalakan sepeda motornya. Ia tidak mau ada yang melihat matanya memerah.
“Di!” panggil seseorang dari arah samping.
Adi menoleh. Rupanya Yusuf, pemilik counter handphone yang berada dua ruko dari rukonya.
“Bener nih lo tutup?” tanya Yusuf sambil mendekat.
“Iya, Suf. Udah ngga kuat gue,” jawab Adi.
Yusuf menepuk bahu Adi beberapa kali. “Yang sabar ya, Bro. Namanya juga usaha. Naik turun.”
“Iya. Eh, Suf … soal yang satu juta itu, gue minta waktu ya. Gue usahain secepetnya.”
Wajah Yusuf terlihat sedikit tidak enak. “Gue sebenernya juga lagi butuh sih, Di. Bulan depan gue mau nambah stok. Tapi ya udah lah, gue ngerti kondisi lo. Yang penting jangan ilang aja.”
“Ngga lah, Suf. Gue di sini terus kok,” sahut Adi sambil tertawa hambar. “Nanti kalo ada orang nanyain ruko kosong, tolong kasih tau gue ya. Gue mau over sewa.”
“Siap. Nanti gue kabarin.”
Setelah Yusuf kembali ke counter-nya, Adi masuk lagi ke dalam ruko. Dilihatnya Dina tengah melepas satu per satu spanduk kecil bertuliskan nama warung mereka yang tertempel di dinding. Spanduk itu dulu mereka pesan dengan penuh semangat, bahkan Dina sendiri yang memilih warna dan ukuran hurufnya.
Dua tahun. Dua tahun mereka membangun tempat itu dari nol. Dari hanya berdua tanpa karyawan, memasak sendiri, mencuci piring sendiri, sampai akhirnya bisa mempekerjakan tiga orang dan menjadi salah satu warung makan paling ramai di deretan ruko itu. Semuanya hancur hanya dalam hitungan dua minggu, oleh satu video yang tidak jelas siapa yang menyebarkannya.
“Mas,” panggil Dina lirih.
“Hm?”
“Menurut Mas, orang yang bikin video itu … sengaja ngga sih?”
Adi terdiam cukup lama. “Ngga tau, Din. Buat apa juga mikirin itu sekarang. Toh, kita udah ngga bisa apa-apa,” jawabnya akhirnya.
Padahal jauh di dalam hatinya, pertanyaan yang sama juga terus menghantuinya setiap malam.
Sampai sore, Adi dan Dina mengangkut barang-barang dagangan mereka sedikit demi sedikit dengan sepeda motor. Etalase kaca terpaksa mereka titipkan dulu di dalam ruko karena tidak mungkin diangkut. Dandang, panci besar, kompor, sampai kipas angin butut yang menggantung di sudut dinding, semua mereka bawa pulang dan ditumpuk di halaman belakang rumah yang tidak seberapa luas.
Malam harinya, halaman belakang rumah itu terlihat seperti gudang.
***
Tiga hari berlalu.
Setiap pagi setelah sholat subuh, Adi duduk di teras dengan koran bekas yang Ia beli dari tukang loak seharga dua ribu rupiah. Dilingkarinya satu per satu pengumuman lowongan pekerjaan menggunakan pulpen milik Dina, lalu dicatatnya alamat-alamat itu di balik kertas struk belanja.
“Mas, ini kemejanya udah aku setrika,” ucap Dina sambil menggantungkan kemeja lengan panjang berwarna putih di balik pintu kamar.
“Makasih ya, Din.”
“Mas Adi ngga mau sarapan dulu?”
“Nanti aja. Perutnya lagi ngga enak,” jawab Adi.
Dina tahu itu bohong. Suaminya bukan sedang sakit perut, tapi sedang gugup.
Sudah lima amplop coklat yang Adi masukkan ke berbagai perusahaan dalam tiga hari terakhir. Belum satu pun yang membalas. Tapi sore kemarin, akhirnya ada satu telepon yang masuk, dari sebuah perusahaan otomotif yang sudah dua kali memanggilnya untuk tes.
Kata petugas HRD di ujung telepon, Adi lolos sampai tahap terakhir. Dari sekian banyak pelamar, tinggal tersisa dua orang, dan perusahaan itu memang membutuhkan dua orang untuk ditempatkan di bagian Control. Artinya, kalau tidak ada halangan, besok Ia tinggal duduk, menjawab beberapa pertanyaan kepala HRD, lalu pulang membawa kabar baik untuk istri dan putrinya.
“Jam sebelas ya interviewnya, Mas?” tanya Dina saat mereka duduk di teras malam itu.
“Iya. Tapi aku berangkat pagi. Sekalian mau masukin lamaran ke pabrik makanan yang di koran itu. Kebetulan searah, deket.”
“Ngga kesiangan Mas?”
“Ngga lah. Paling lima belas menit doang masukin amplop. Abis itu langsung meluncur,” jawab Adi enteng.
Dina hanya mengangguk. Entah kenapa, malam itu ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba menyelinap di dadanya. Tapi buru-buru Ia tepis. Mungkin Ia hanya terlalu banyak berharap.
Keesokan paginya, Adi sudah rapi jauh sebelum matahari naik. Kemeja lengan panjang putih, celana panjang hitam, dan sepatu pantofel yang semalam Ia semir sendiri dengan kain lap bekas. Rambutnya disisir licin ke belakang. Sudah lama sekali Dina tidak melihat suaminya serapi itu.
“Yayah cakep …,” celoteh Sila yang baru bangun tidur sambil mengucek matanya.
Adi tertawa dan menciumi pipi putrinya berkali-kali. “Doain Ayah ya, Sayang. Nanti kalo Ayah diterima, kita jalan-jalan.”
“Ga boyeh nakal, Yayah,” sahut Sila menirukan kalimat yang biasa diucapkan ayahnya.
Tawa Adi dan Dina pecah bersamaan.
“Ya udah, aku berangkat ya,” ucap Adi sambil meraih map dan amplop coklat berisi surat lamaran yang sudah disiapkannya semalam.
“Hati-hati Mas. Aku doain semoga lancar.”
Adi menstarter sepeda motor Verza merahnya, motor yang selama ini paling Ia banggakan. Sepeda motor itu Ia beli dengan uang tabungannya sendiri, dikumpulkan sedikit demi sedikit dari keuntungan warung nasi padang mereka, ditambah pinjaman dua juta dari Yusuf.
Dari balik pagar, Dina melambaikan tangan Sila ke arah suaminya yang mulai menjauh.
Pagi itu, tak satu pun dari mereka yang menyangka bahwa hari itu akan menjadi hari terburuk dalam hidup mereka.