Sepanjang perjalanan menuju pabrik, Adi memacu sepeda motor Supra itu jauh lebih kencang dari biasanya. Beberapa kali ia nyaris menyerempet mobil yang berpindah jalur tanpa memberi lampu sein. Sekali lagi ia diklakson panjang oleh sebuah bus kota yang hampir menyerempet spionnya. Tapi Adi sama sekali tidak peduli. Yang ada di kepalanya hanya satu, wajah Roni.
Semakin dekat dengan pabrik, semakin cepat pula degup jantungnya. Ia sudah menyiapkan berbagai macam kalimat yang akan ia lontarkan begitu berhadapan dengan laki-laki itu. Kalau perlu ia akan menyeret kerah baju Roni ke hadapan security dan memaksanya mengaku.
Sampai di depan gerbang, Adi memarkir sepeda motornya di tempat yang sama, di samping warung kecil milik bapak-bapak yang tadi pagi ia tanyai. Kali ini kunci motornya ia cabut dan ia genggam erat-erat.
“Permisi, Pak,” ucap Adi kepada security bertubuh tinggi besar yang tadi pagi menerima surat lamarannya.
“Eh, Mas yang tadi. Gimana Mas, motornya udah ketemu?” tanya security itu yang rupanya masih mengenalinya.
“Belum, Pak. Justru itu saya balik lagi ke sini.” Adi menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan emosinya agar tetap terdengar sopan. “Saya mau ketemu sama karyawan di sini, Pak. Namanya Roni. Bagian produksi kalau ngga salah.”
“Roni?”
“Iya, Pak. Roni. Tadi pagi saya ngopi sama dia di kantin. Penting banget, Pak.”
Security itu terlihat berpikir sejenak, lalu masuk ke dalam pos jaga. Diangkatnya gagang telepon yang tertempel di dinding pos dan menekan beberapa angka. Adi memperhatikan gerak bibir laki-laki itu dari luar. Percakapannya cukup lama, sampai dua kali security itu menoleh ke arahnya.
“Gimana, Pak?” tanya Adi tak sabar begitu security itu keluar dari pos.
“Maaf ya Mas. Kata orang bagian produksi, Roni-nya lagi ngga ada di tempat.”
“Ngga ada gimana, Pak? Ini kan masih jam kerja.” Suara Adi mulai meninggi.
“Ya saya juga cuma nyampein apa kata orang dalam, Mas. Katanya ngga ada.”
“Pak, tolong dicek lagi. Saya yakin dia ada di dalam. Tadi pagi aja dia masih kerja. Masa iya buruh pabrik bisa keluar seenaknya di jam kerja?”
Security itu menghembuskan napas panjang. Terlihat ia mulai merasa tidak enak, tapi juga tidak bisa berbuat banyak. “Mas, saya ngerti perasaan Mas. Tapi saya cuma jaga di luar. Saya ngga bisa masuk-masuk ke bagian produksi. Kalau memang orangnya ngga ada, ya saya mau bilang apa?”
Adi terdiam. Kedua tangannya mengepal.
“Saya tunggu di sini deh, Pak. Sampe jam pulang kerja,” ucap Adi akhirnya.
“Ya monggo, Mas. Asal jangan di dalam area ya.”
Maka Adi pun menunggu.
Ia duduk di bangku panjang di depan warung kecil itu, memesan segelas teh manis yang bahkan tak ia sentuh sampai dinginnya menyaingi es. Matahari perlahan turun. Bayangan pohon di seberang jalan semakin memanjang. Adi terus memandangi gerbang besi itu tanpa berkedip, takut Roni lolos begitu saja tanpa ia sadari.
Sambil menunggu, pikiran Adi melayang ke mana-mana. Terbayang wajah Dina yang tadi berusaha menenangkannya, terbayang pula Sila yang pagi tadi ia tinggalkan dalam keadaan masih demam. Sampai sekarang ia bahkan belum sempat menanyakan bagaimana kondisi putrinya. Adi merasa menjadi ayah yang paling buruk sedunia.
Terbayang juga ruangan ber-AC di perusahaan otomotif itu, yang seharusnya siang tadi ia masuki dengan kemeja rapi dan sepatu pantofel yang sudah ia semir semalaman. Kalau saja ia menolak ajakan Roni. Kalau saja ia tidak duduk lima menit tambahan itu. Kalau saja, kalau saja, kalau saja. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak, dan tak satu pun dari itu bisa mengembalikan keadaan.
Tepat pukul empat sore, sirine pabrik berbunyi panjang. Tak lama kemudian, gerbang kecil di samping gerbang utama dibuka dan ratusan buruh berpakaian kaos oblong dengan logo merek makanan itu keluar berbondong-bondong. Adi berdiri dan berjalan mendekat, menyipitkan matanya, memperhatikan satu per satu wajah yang berjalan melewatinya.
Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Sampai kerumunan itu semakin menipis dan tinggal beberapa orang saja yang keluar sambil bercanda, Adi tetap tidak melihat batang hidung Roni.
“Mas, mas … maaf, boleh nanya?” Adi menghentikan seorang buruh yang usianya kira-kira sepantaran dengannya.
“Iya, Mas. Kenapa?”
“Mas kenal Roni ngga? Yang badannya sedeng, rambutnya agak keriting, bagian produksi.”
“Roni …,” laki-laki itu terlihat mengingat-ingat. “Oh, Roni. Kenal, Mas. Kenapa emang?”
“Dia hari ini masuk kan?”
“Masuk kok. Tadi pagi saya liat. Tapi kayaknya siang tadi dia izin pulang duluan deh. Katanya sih ada urusan keluarga.”
Seketika dada Adi terasa panas. Jadi benar. Roni memang keluar dari pabrik itu tak lama setelah mereka berpisah di kantin. Di saat yang sama sepeda motornya raib. Bukan kebetulan.
“Mas tau ngga rumahnya di mana?”
Buruh itu menggelengkan kepala. “Wah, saya ngga tau, Mas. Saya kenal cuma di pabrik aja. Ngobrol juga jarang.”
“Ya udah, makasih ya Mas.”
Adi kembali ke warung kecil itu dengan langkah yang terasa berat. Sekarang ia yakin seratus persen. Tapi keyakinan tanpa bukti tetap saja tidak ada gunanya.
“Pak,” panggil Adi pada pemilik warung. “Bapak yakin ngga liat wajahnya orang yang bawa motor saya tadi?”
“Aduh, ngga jelas Mas. Orangnya pake helm, jaketnya item. Sumpah, saya kira itu emang yang punya. Soalnya dia langsung nyalain motor, ngga ngutak-ngatik apa-apa. Ngga kayak maling.”
“Di sini ngga ada cctv ya, Pak?”
“Ngga ada, Mas. Ini kan parkiran liar. Kalau di dalem pabrik mungkin ada, tapi ini kan di luar.”
Adi mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Langsung nyalakan mesin, tidak mengutak-atik apa pun. Kalimat itu berputar-putar di kepalanya. Artinya orang itu memang memegang kunci, bukan membobol paksa. Dan siapa lagi yang mungkin masih menyimpan kunci cadangan sepeda motor itu selain pemilik sebelumnya?
Sempat terlintas di benak Adi untuk langsung mendatangi kantor polisi terdekat dan menyebut nama Roni. Tapi buru-buru ia urungkan. Ia tidak punya apa-apa. Tidak ada rekaman, tidak ada saksi yang melihat wajah, tidak ada barang bukti. Yang ia punya hanya perasaan dan kecurigaan. Menuduh orang tanpa bukti justru bisa berbalik menjeratnya sendiri. Bukannya motornya kembali, ia malah bisa dilaporkan balik.
***
Sebelum pulang, Adi menepi di pinggir jalan dan mengeluarkan telepon genggamnya. Kembali ia menekan nomor Roni. Sama seperti tadi siang, hanya terdengar suara operator yang memberitahukan bahwa nomor yang ia tuju sedang tidak aktif.
Adi lalu menggulir daftar kontaknya, mencari nama teman-teman kuliahnya dulu. Satu per satu ia kirimi pesan singkat, menanyakan apakah ada yang tahu di mana Roni tinggal sekarang.
Balasan pertama datang sekitar sepuluh menit kemudian. Katanya Roni sudah lama tidak pernah muncul di grup dan nomornya juga sudah tidak bisa dihubungi. Balasan kedua lebih menyakitkan lagi. Temannya itu justru bertanya balik, memangnya Adi meminjamkan uang berapa kepada Roni. Rupanya bukan hanya Adi yang pernah menjadi korban.
Adi memasukkan kembali telepon genggamnya ke dalam saku, lalu menstarter Supra tua itu. Sepanjang jalan pulang, ia sama sekali tidak memacu motornya dengan kencang seperti saat berangkat tadi. Tenaganya seolah habis begitu saja.
Sampai di rumah, hari sudah gelap. Lampu teras sudah dinyalakan dan Dina duduk di kursi teras sambil menggendong Sila yang sudah tertidur.
“Gimana Mas?” tanya Dina, meskipun dari wajah suaminya ia sudah bisa menebak jawabannya.
Adi menggelengkan kepala. Ia melepas jaketnya dan menjatuhkan tubuhnya di kursi sebelah. “Ngga ketemu. Katanya ngga ada di tempat. Padahal jelas-jelas tadi pagi dia masih kerja.”
“Terus?”
“Terus ya udah. Aku tungguin sampe jam pulang, tetep ngga keluar. Nomornya ngga aktif. Rumahnya aku ngga tau di mana.” Adi tertawa kecil, tawa yang terdengar getir. “Pinter banget dia, Din. Rapi. Ngga ada satu pun yang bisa aku pegang buat nuduh dia.”
Dina meletakkan tangannya di atas punggung tangan suaminya. Ia tidak berkata apa-apa. Kadang, diam justru lebih menenangkan daripada seribu kalimat penghiburan.
Ndreeett …! Ndreeett …!
Telepon genggam Adi bergetar di atas meja teras. Nama Yusuf terpampang di layarnya. Adi menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkatnya.
“Halo, Suf.”
“Di, gue ngga enak nih nelfon lo malem-malem.” Terdengar suara Yusuf yang sungkan di ujung telepon. “Gimana, ada kabar soal yang kemaren?”
“Belum, Suf. Sabar ya. Gue lagi usaha.”
“Iya, gue ngerti kok. Cuma gue pengen mastiin aja. Soalnya minggu depan gue harus setor ke suplier.”
“Iya, iya. Nanti gue kabarin. Eh, Suf, rukonya belum ada yang nanya?”
“Belum ada, Di. Nanti kalo ada gue kabarin.”
“Oke. Makasih ya.”
Adi menutup teleponnya, lalu meletakkannya kembali di atas meja. Cukup lama ia terdiam sambil memandangi sepeda motor Supra yang terparkir di halaman depan rumah. Motor bebek tua keluaran belasan tahun lalu, catnya sudah pudar di beberapa bagian, dan knalpotnya berisik. Satu-satunya kendaraan yang kini mereka miliki.
“Din,” panggil Adi tanpa mengalihkan pandangannya dari motor itu.
“Iya, Mas?”
“Besok aku mulai narik ojek.”
Dina menoleh cepat ke arah suaminya. “Mas …”
“Kenapa? Malu kamu punya suami tukang ojek?”
“Bukan gitu, Mas. Ya Allah, bukan gitu maksud aku,” sahut Dina cepat-cepat. “Aku cuma … Mas Adi kan sarjana. Mas Adi kan masih nunggu panggilan dari perusahaan-perusahaan itu.”
“Nunggu sampe kapan, Din? Sampe Sila ngga bisa makan?” Adi menoleh dan menatap istrinya. Nadanya tidak marah, justru terdengar lelah. “Lamaran tetep aku masukin. Tapi sambil nunggu, aku harus tetep dapet uang. Sehari dapet lima puluh ribu pun ngga papa. Yang penting halal.”
Dina menunduk. Diusapnya sudut matanya dengan punggung tangan supaya suaminya tidak melihat.
“Iya, Mas,” jawabnya lirih. “Aku dukung Mas Adi. Apa pun.”
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, Adi mengeluarkan helm cadangan dari dalam gudang kecil di belakang rumah, mencucinya dengan sabun, lalu menjemurnya di tali jemuran.
Besok, hidup mereka akan berubah lagi.