" Kamu yang kemarin ke..." ucapan Arka terhenti karena sedikit ragu. " Iya Pak, saya yang kemarin ke ruangan Bapak. Maaf pak saya tidak tahu kalau ada Bapak" jawab Senja dengan rasa bersalah.
" Sudah, lupakan" jawab Arka, karena sebenarnya dia juga sedikit malu.
" Kalau begitu saya permisi pak, sekali lagi saya minta maaf " Senja segera berlalu dari tempat itu.
Semua tugas sudah selesai, Hari juga semakin siang. Senja berlari keluar kantor, setelah mendapat ijin untuk pulang lebih awal. Senja mencoba untuk menghubungi Mentari. Sejak panggilan terputus tadi, Mentari tidak menghubungi lagi.
Berkali-kali Senja menghubungi Mentari tapi tidak diangkat juga. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang dulu, sebelum pergi ke rumah Mentari.
Senja berdiri di depan cermin, dia memakai baju gamis dan kerudung yang sudah disiapkan Mentari dari kemarin. Dengan riasan minimalis namun terlihat cantik, Senja pun keluar kamar. " Bu, Senja berangkat dulu ya. Ibu, Bagas, sama Icha yakin ngga ikut ?" tanya Senja. " Iya, maaf ya Ibu sama adik-adikmu ngga bisa ikut. Sampaikan salam ibu untuk Mentari dan orang tuanya" jawab Ibu.
Tiba-tiba handphone Senja bergetar, ada panggilan dari nomor tidak dikenal.
" Assalamu'alaikum "
" wa'alaikumsalam "
" Apa benar ini Senja ?" tanya seseorang diseberang.
" Iya benar, maaf ini siapa ya ? " jawab Senja.
" Saya Dhenis kakaknya Mentari, saya ingin mengabarkan kalau Mentari kecelakaan. Dan dia minta kamu untuk datang kesini" jawab Dhenis.
" Apa !! Sekarang dimana ?"
"..............................."
" Ya sudah aku kesana"
Senja pun menutup panggilan dan segera pamit dan pergi menuju rumah sakit. Senja berlari agak cepat, didepan pintu ruangan tempat mentari di rawat tampak Dhenis sedang menunggu. Lalu memberi kode pada Senja untuk masuk. Dengan perlahan senja membuka pintu. Tampak Mentari sedang tertidur. Perlahan Senja duduk disamping tempat tidur Mentari. Pintu kamar mandi terbuka tampak tante Rena keluar. " Senja, kamu sudah datang " tante Rena duduk di sofa tidak jauh dari Senja.
" Iya tante, kenapa ini bisa terjadi?" tanya Senja
" Mentari pamit ingin bertemu kamu waktu itu, tapi di jalan dia kecelakaan, mobilnya menghindari sepeda motor yang lawan arah hingga menabrak tiang listrik " tante Rania mencoba menjelaskan.Senja mendengarkan dengan sedikit kaget. " Senja" suara lirih Mentari memanggil Senja. "Mentari, bagaimana ini terjadi. Apa yang kamu rasakan " tanya Senja sambil membelai kepala Mentari. "Senja aku tidak bisa..." Mentari pun menangis. Senja pun. memeluknya, seketika tangis Mentari pun semakin kencang. Tante Rena pun perlahan keluar, memberi ruang untuk mereka berdua.
Senja mengurai pelukannya dan mengusap air mata diwajah Mentari ketika dirasa Mentari sudah menghentikan tangisannya. "Senja, bisakah kamu membantuku " tanya Mentari ragu. " Katakan Mentari apa yang bisa aku bantu" jawab Senja. Dengan ragu Mentari mengatakan keinginannya. " Senja maukah kau menggantikan aku di pesta pertunangan nanti ?" Senja tampak terkejut. " Maksudnya " jawab senja. Mentari pun kembali menangis, membuat Senja semakin bingung. Perlahan Mentari melanjutkan permintaannya. "Senja... aku tidak bisa melanjutkan pertunangan ini sekarang, keadaanku sudah tidak seperti kemarin. Aku tidak bisa mendampingi Arka di pesta nanti..." Mentari tidak melanjutkan perkataannya. Tampak kesedihan diwajahnya. " Tapi kenapa Tari, kekasihmu pasti akan mendampingimu, apapun keadaanmu" Senja mencoba memberi semangat. " Tidak Sen, aku pasti akan menjadi beban Arka, kecelakaan ini membuatku tidak bisa berjalan" tiba-tiba suara panggilan dari telfon genggam Mentari terus berbunyi, tampak nomer Arka. Mentari mematikan panggilan itu. " Angkatlah Tari, suruh kekasihmu kesini. Dan katakan padanya untuk mengundur acaranya hingga kau sembuh" bujuk Senja. " Tidak bisa Senja, pengobatanku akan sangat lama, dan entah kapan akan pulih kembali..." Mentari terdiam sejenak. "Aku mohon Senja, bantu aku menjaga Arka hingga aku sembuh. Arka dan keluarganya sudah mempersiapkan acara ini tidak mungkin untuk dibatalkan. Aku tidak ingin membuat mereka malu. Bantu aku Senja" Mentari terus memohon. " Tidak Tari, justru dengan aku menggantikanmu akan membuat mereka malu. Apa Om dan Tante sudah tau dengan keputusanmu? " kata Senja membuat Mentari terdiam. " Ya, mama dan papa setuju apapun keputusanku. Senja, aku akan mengatakan itu pada Arka lewat telfon, kau tenang saja. Kau mau membantuku kan, aku percaya padamu" kata Mentari dengan penuh harap. Senja menatap Mentari hingga akhirnya mengangguk.
*
Acara pertunangan diadakan disebuah hotel, tamu sudah mulai berdatangan. Sementara Arka tampak kesal, setelah berkali-kali tidak dapat menghubungi Mentari. Hingga suara panggilan terdengar di telpon genggamnya. Sementara kedua orang tua Arka bersama kerabat dan tamu undangan sudah menunggu Arka dan keluarga Mentari. Tidak lama datanglah papa dan kakak Mentari datang memasuki tempat acara. Tapi mereka tidak datang bersama Mentari. Mereka datang bersama gadis berhijab dan memakai masker. Semua melihat kedatangan mereka. Mereka bertiga jalan ke arah orang tua Arka. " Selamat datang Pak Aditya Wirawan" mereka pun saling memberi salam. " Pak Aditya, dimana Mentari?" tanya Pak Surya ayahnya Arka. " Maaf Mentari belum bisa datang, bisa kita bicarakan ditempat yang lebih pribadi. Biar saya jelaskan " jawab papanya Mentari. Mereka pun pergi ke salah satu kamar yang sudah mereka pesan. Sampai dikamar mereka duduk disofa, Pak Surya membuka percakapan. " Apa ada masalah Pak Aditya?" tanya Pak Surya sambil sesekali memperhatikan Senja. " Iya pak, sebelumnya saya meminta maaf yang sebesar-besarnya, saya kesini bersama anak saya Dhenis dan ini Senja sahabat Mentari. Saya ingin menyampaikan bahwa anak saya mengalami kecelakaan..." Pak Aditya menjeda ucapannya. Kedua orang tua Arka, om dan tantenya Arka yang ada disitu tampak kaget. Tiba-tiba pintu dibuka dengan keras.
" Ayah, Om dimana Mentari" Arka masuk dengan sedih dan emosi.
" Arka tenangkan dirimu " Bunda Amira mencoba menenangkan Arka.
" Apa maksudnya ini om, kenapa Mentari ingin meninggalkanku. Kenapa aku harus bertunangan dengan orang lain " tanya Arka dengan rasa yang hancur. Semua pun terkejut dengan apa yang diungkapkan Arka.
" Apa maksudnya Arka ?" tanya bunda Amira yang dari tadi ingin tahu apa yang terjadi.
" Mentari tadi telfon Bun, dia tidak dapat melanjutkan acara pertunangan ini dan ingin menggantikan dengan perempuan lain " Pak Surya dibuat semakin bingung dengan penjelasan Arka.
" Begini Pak Surya dan Arka biar saya jelaskan" Pak Aditya terdiam sejenak sebelum melanjutkan cerita, semua tampak mendengarkan dengan rasa ingin tahu apa yang terjadi.