"Raya!" gertak Pak Bayu, yang membuat Raya terjingkat kaget, "Kamu itu kerjanya bengong terus! Mana bisa beres pekerjaan kamu kalau ngelamun terus. Saya memperkerjakan kamu di sini bukan untuk melamun. Paham!"
Raya menundukkan wajahnya, ia tahu ia salah. Tidak seharusnya ia melamun di saat jam kerja seperti sekarang.
"Saya merasa kinerja kamu semakin memburuk saja. Kalau kamu seperti ini terus, mending Saya keluarkan saja kamu. Rugi Saya menggaji karyawan pemalas seperti kamu!" ucap Pak Bayu kesal.
"Ah, Jangan bicara seperti itu, Pak. Saya masih sangat membutuhkan pekerjaan ini, jadi saya mohon yang pecat saya" mohon Raya, "Saya berjanji, Saya tidak akan melamun lagi. Saya juga akan bekerja dengan sangat giat" ucap Raya sungguh sungguh. Pak Bayu menggelengkan kepalanya lalu pergi begitu saja. Raya bersyukur karena Pak Bayu tidak benar benar memecatnya dari tokohnya. Raya sudah bekerja di tokoh Sembako milik Pak Bayu sekitar dua bulan ini. Kerjanya di mulai dari jam sembilan pagi sampai jam empat sore. Tak selesai di sana, karena tepat setelah jam kerjanya habis Raya harus bergegas pergi coffe shop, karena Raya juga bekerja menjadi karyawan di sana. Mulai dari cuci piring dan mengantar minuman kepada para pelanggan.
"Hah!" Raya mengehela nafasnya panjang. Akhirnya seluruh pekerjaan hari ini telah selesai. Raya juga sudah mengepel dapurnya, semua sudah bersih dan rapi. Dan kini adalah saatnya untuk pulang.
"Nih minum" segelas minuman coklat dengan dalgona di sodorkan kepada Raya.
"Makasih" ujar Raya menerima minuman itu dari Akbar, yang merupakan pemilik coffee shop ini.
"Kamu kenapa, Ray?" tanya Akbar yang memerhatikan raut Raya.
"Kenapa gimana maksudnya? Aku nggak apa apa" jawab Raya. Akbar, selain menajdi bos ia juga adalah teman baik Raya. Karena Akbar dulunya juga salah satu anak yang pernah tinggal di rumah Singgah. Namun karena nasib berpihak kepadanya. Dia mendapatkan orang tua baru, Akbar di adopsi oleh orang kaya yang tidak memiliki seorang anak. Maka dari itu mereka mengadopsi Akbar. Meskipun kini Akbar dan Raya sudah jauh berbeda namun mereka tetap menjalin tali silaturahmi. Mereka berteman dari kecil hingga besar. Bahkan Akbar sering sekali menawarkan bantuan kepada Raya untuk setiap kali ada masalah yang terjadi di rumah Singgah.
"Ray... Kita kenal udah lama, Aku tahu kalau kamu lagi ada masalah kan? Coba cerita apa masalahnya, siapa tahu Aku bisa bantu kan?" kata Akbar tulus. Raya tersenyum kecut mendengarnya. Sekeras apapun Raya berusaha tegar dan ingin terlihat kuat. Tapi nyatanya orang orang di sekitarnya tetap bisa melihat jika ada begitu banyak masalah dari raut wajahnya.
"Kelihatan banget ya, kalau muka Aku muka banyak masalah?" tanya Raya terkekeh pelan, "kalau di tanya ada masalah apa, sejujurnya masalah Aku banyak banget... Hampir tiap hari masalah ada" Raya mulai bercerita kepada Akbar.
"Aku merasa gagal jadi kakak yang baik untuk adik adik Aku. Sekeras apapun Aku bekerja, uangnya yang terkumpul tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka semua. Uang yang aku kumpulkan hanya bisa di pakai untuk makan. Sedangkan kebutuhan lainnnya..." Raya menjeda kalimatnya. Terlalu sesak rasa di dadanya. Raya mengigit bibirnya dalam dalam. Menahan gelayar di hatinya yang terasa sakit. Melihat adik adiknya mengenakan pakaian sobek sobek karena memang tidak ada uang untuk membeli. Mereka juga makannya di jatah karena persediaan makanan sangat minim.
Dari belakang Akbar merangkul pundak Raya seakan memberinya semangat.
"Ray, Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk mereka. Kamu bahkan tidak memperdulikan dengan diri kamu sendiri. Kamu mengabdikan hidup kamu hanya untuk mereka, kamu adalah pahlawan bagi mereka. Kamu nggak gagal Ray, dan nggak akan pernah gagal"
Raya hanya tersenyum tipis. Kalimat yang diucapkan Akbar hanyalah penenang sesaat untuknya. Karenanya nyatanya dia memang merasa gagal memenuhi kebutuhan adik adiknya.
●●●
Suara hiruk pikuk terdengar dimana mana. Dengan berat hati Juan akhirnya menerima ajakan Alex untuk kembali melakukan aksinya di atas motor. Waktu itu balapannya di adakan di Kota Malang. Namun kali ini mereka mengadakan balapan di Kota Pasuruan, sebab Alex yang memintanya. Entah apapun itu alasannya Juan tetap menerima ajakannya karena ia membutuhkan uang untuk biaya hidupnya.
Meskipun Juan menyandang status sebagai ahli waris dari keluarga Parvipa. Namun hal tersebut tidak menjadikan patokan buat Juan untuk berpangku tangan saja. Karena nyatanya selama ini Juan selalu bekerja untuk membiayai hidupnya. Juan tidak pernah sekalipun meminta hak nya kepada Narendra.
"Hai, Bro!" sapa Alex dengan seringgai di wajahnya. Juan menerima sapaan Alex dengan berjabat tangan ala anak kekinian.
"Gue senang banget Lo mau menerima ajakan, Gue" ucap Alex.
"Gue juga senang bisa mendapatkan kesempatan untuk kembali
mengalahkan, Lo" Juan tersenyum remeh kepada Alex.
Alex berdengus mendengarnya, "Gue selalu suka dengan percaya diri Lo yang sangat tinggi" cibir Alex.
"Cih!" cemooh Juan. Tanpa basa basi Juan segera meninggalkan Alex dan menuju ke motor sport 150cc miliknya. Dengan gaya sangat keren Juan menaiki motonya dan segera memakai helm nya.
Dalam lubuk hati terdalam Juan merasa bersalah kepada Risa. Juan sangat cemas jika Risa nantinya akan mengetahui jika ia kembali iku balap motor. Entah akan seperti apa nanti reaksi Risa saat mengetahui ini.
Maafkan aku, Risa. Aku berjanji ini yang terakhir kali. Batin Juan.
Seorang wanita berjalan dengan melikuk likuk dengan ala ala model internasional dengan mengenakan pakaian super seksi nya. Di tangannya ada sebuah bedera yang di kibar kibarkan. Juan menatap fokus lurus ke arah jalan yang akan menjadi tempat untuk beradu kecepatan motor bersama Alex.
Sorak sorak penonton yang berada di samping kiri dan kanan menyerukan nama Juan dan Alex sebagai penyemangat. Alex dengan gaya sok nya itu memainkan gas motornya hingga membuat suara gaduh yang semakin memeriahkan malam ini. Wanita itu berdiri di antara Juan dan Alex lalu melemparkan bendera itu ke udara. Kedua motor sport milik Juan dan Alex melaju pesat bak kilat.
Juan sama sekali tidak memberi peluang sedikitpun untuk Alex bisa menyalip dirinya. Juan tidak ingin bermain main dengan menipu Alex agar Alex dapat melaju terlebih dahulu. Dari pada memakai trik tersebut, Juan lebih memilih langsung tancap gas dan segera memenangkan balapan ini. Garis finish sudah di depan mata, Juan menambah kecepatan motornya hingga melewati garis finish secepat kilat.
"WOAHHH" seru penonton bertepuk tangan.
Juan melepas helmnya dan menghadapkan dirinya ke Alex. Dan lihatlah wajah ke kalahan di muka Alex itu. Alex dan Juan memang musuh bebuyutan dalam area balap motor. Entah kenapa Alex sangat bersikeras mengalahkan Juan. Padahal Alex sudah sering kali kalah dari Juan.
"Sesuai persyaratan, yang menang mendapatkan uang sepuluh juta. Dan ini uangnya" kata Alex dengan memberikan amplop berwarna coklat yang berisikan uang.
"Makasih" balas Juan singkat seraya mengintip isi amplop itu.
"Itu beneran sepuluh juta kok. Kalau Lo nggak percaya Lo bisa hitung sekarang. Gue emang nggak terima kalah dari Lo. Tapi Gue nggak akan sepengecut itu untuk mengurangi jumlah uangnya" ujar Alex.
"Nggak perlu, Gue percaya kok sama Lo"
"Gue cabut!" pamit Alex yang di angguki oleh Juan. Terlihat kentara sekali jika Alex sangat kesal kepadanya. Namun Juan sama sekali tidak perduli. Karena menang dan kalah dalam perlombaan itu sudah biasa.
Juan menoleh ke kanan dan ia tidak sengaja melihat seseorang yang sangat ia kenali. Matanya melebar menatap seorang gadis yang berdiri tak jauh darinya. Gadis itu menatapnya dengan wajah datar. Juan segera berdiri dan ingin menghampiri gadi itu. Namun seseorang memanggilnya dan membuatnya menoleh. Ketika Juan kembali menoleh untuk mencari gadis tersebut, dia justru sudah tidak ada di tempatnya.