Malam yang begitu mencekam bintang dan bulan yang menghiasi langit namun tak mempengaruhi keadaan desa itu, teriakan dan cacian menggema di sampai ke langit, asap dan api membakar sebuah rumah kayu dengan orang-orang yang memegang obor yang menyala sambil mencaci maki dan tertawa tak perduli dengan api yang dengan cepat membakar sebuah rumah kayu di pinggir hutan, rumah itu berada sanggat jauh dari rumah lainya.
“Mati kau penyihir biadab” begitu teriakan para warga , dan benar merekalah yang membakar rumah itu. Itu adalah rumah seorang penyihir yang selama bertahun tahun telah meresahkan warga mencari uang melalui dendam dengan melakukan perjanjian dengan iblis kali ini warga tak lagi bisa menahan amarah karena penyihir itu telah membunuh seorang gadis demi uang.
“bakar....bakar...bakar..!!!”
Sementara itu di dalam rumah yang sedang terbakar seorang wanita yang berumur 26 tahun memeluk seorang gadis kecil yang berumur 5 tahun,
“Ibu.. ibu.. aku takut” isak anak kecil itu tanpa melepas pelukan ibunya.
“ Anakku dengarlah perkataan ibu makan ini dan larilah lewat pintu belakang dan cepat pergi jauh dari sini” kata wanita itu pada anaknya sambil memberikan 7 butir telur yang telah matang dan di kupas di dalam sebuah mangkok perunggu kepada sang anak, sang anak mengangguk mendengar perkataan ibunya.
kemudian sang anak membuka mulut dan wanita itu menyuapi sang anak dengan sebutir telur sambil membaca mantra sampai butir ketujuh.
" wahai iblis yang selama ini bersamaku, aku memutuskan perjanjian denganmu bawa aku sebagai tumbal dan jaga anakku sekarang dia adalah Tuan mu yang baru" seru wanita itu" anakku Sekarang pergilah dan lari secepat mungkin jangan lagi melihat ke belakang lari lah tetaplah hidup untuk ibu dan ingat kamu sekarang mewarisi iblis yang melakukan perjanjian dengan kita selama ribuan tahun yang lalu, jaga dirimu baik-baik dan saat umurmu 17 tahun.
hati-hatilah saat itu kamu harus menguasai 7 iblis di tubuhmu jika kamu tak mampu menguasai mereka maka kamu yang akan menjadi b***k mereka tapi jika kamu mampu menguasai mereka maka kamu adalah tuanya ingatlah selalu pesan ibu dan sekarang lari lah jangan pernah kembali lagi kesini ”
“ tidak mau aku tidak mau, aku mau sama ibu” sang anak menangis tak mau melepaskan pelukan sang ibu.
“ kenakan ini dan jangan pernah melepasnya sebelum umurmu 17 tahun dan sebelum kamu mampu menguasai 7 iblis di tubuhmu" terang sang ibu sambil memasang gelang kaki yang memiliki 7 buah lonceng kecil namun tak memiliki besi kecil seperti lonceng biasanya yang akan membuatnya berbunyi tetapi lonceng itu adalah lonceng yang berbeda dari kebanyakan lonceng lainya lonceng-lonceng itu hanya akan berbunyi jika ada hal yang gaib, belum sempat sang anak pergi warga sudah masuk ke rumah itu dengan baju pelindung api dan menarik paksa si wanita itu dan anaknya, sesampainya di luar mereka menyiramkan bensin ke wanita itu dan membakarnya.
"bakar.. bakar bakar" teriak warga
“Matilah kau wanita iblis” begitu teriakan warga sementara wanita itu teriak meronta ronta menangis di selingi tawa, semua orang disitu merinding, melihat wanita yang mengaum di tengah di bakar api matanya melotot mengeluarkan darah, bukan hanya bau daging yang terbakar yang tercium tetapi bau yang sanggat busuk pun tercium sampai-sampai membuat semua orang menutup mulut dan hidung ada beberapa warga yang muntah mengihirup bau busuk itu.
“Bakar juga anaknya” teriak salah seorang warga
“Ya bakar saja.... Bakar.. bakar” timpal warga yang lainya
“Bakar...bakar.. bakar” teriak warga dengan kompak
“Tunggu!” salah seorang warga dengan cepat menyela” tunggu jangan bakar anaknya”
“ ada apa pak Badrun? Kenapa ? Kita juga harus membakar anaknya karena bisa saja anaknya juga memili ilmu sihir seperti ibunya kita semua bisa celaka” protes Udin yang kesal Badrun menghalanginya untuk membakar anak penyihir itu.
“ Jangan bunuh anaknya, dia tidak bersalah, dia memiliki kakek di kota aku di suruh untuk menjaga anak ini dan aku akan mengembalikannya pada kakeknya.” Terang Badrun yang memang menerima upah dari kakek anak itu untuk memperhatikan dan menjaga cucunya.
Semua warga menolak dengan perkataan Badrun, tapi karena kekuasaan Badrun yang merupakan kepala desa, warga tak mampu untuk menentang lagi, karena warga sudah menyerah Badrun pun dengan cepat mengambil anak itu dan mengendongnya sementara anak itu tetap menangis memanggil nama ibunya yang sudah mati dengan badan menghitam dan luka bakar di sekujur tubuhnya.
Malam yang panjang dan mencekam itu pun berakhir, dan pagi pun tiba suasana di desa itu kembali seperti sedia kala tak ada lagi yang berani bercerita tentang apa yang terjadi tadi malam, sedangkan di rumah pak Badrun istrinya sedang menemani anak penyihir itu dengan memeluknya anak itu baru bisa tertidur pagi itu setelah semalaman menangis memanggil ibunya. Beberapa jam kemudian sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah pak Badrun dan pak Badrun menyambut seorang laki laki tua namun masih terlihat kuat yang turun dari mobil itu bersama seorang wanita yang cantik dan terlihat elegan.
“Mari pak silakan masuk” sapa pak Badrun dengan sangat ramah.
“Dimana cucu saya?” tanya laki laki itu tak sabaran
“ada sedang tidur di kamar bersama istri saya” terang pak Badrun sambil menuntun laki laki itu ke tempat cucunya berada dan di ikuti oleh wanita elegan di belakangnya. Laki laki itu menangis melihat cucunya tertidur ringkih dengan badan yang kurus tak terawat dengan rambut potongan cepak seperti anak laki- laki, laki laki itu kemudian dengan cepat memeluk anak yang tertidur itu, sang anak terbangun menatap laki- laki itu dalam diam seperti kebingungan, dan laki- laki itu terkejut melihat bola mata cucunya yang memiliki warna yang berbeda yaitu warna hijau sebelah, dia kaget apakah memang warna mata cucunya seperti ini, tapi laki- laki itu tak mengambil pusing dia mengendong anak itu dan melingkarkan tangan kecil cucunya di lehernya,
“ kasih dia uang itu” begitu perintah laki laki itu, wanita elegan tadi pun segera ke mobil dan mengambil koper kecil dan memberikan uang itu ke Badrun.
“ Terima kasih pak, terima kasih banyak” kata Badrun dengan senyuman yang tak pernah hilang dari bibirnya, istri Badrun pun melakukan hal yang sama, tidak sia sia dia menuruti perkataan suaminya.
Laki-laki itu pun kembali ke mobil di ikuti wanita tadi, dan pergi meninggalkan desa itu tanpa berpikir untuk kembali lagi,
“Betapa malangnya nasibmu cucuku” lirih laki-laki itu dengan tetap mengendong anak kecil itu sambil mengelus kepalanya.