Pukul 10 malam, Manda menari-nari dari jalan kecil yang akan mengantarnya ke rumah. Inilah suasana yang Manda suka. Petang, sunyi dan menenangkan. Ia bisa berbuat apa pun tanpa dilihat oleh orang lain.
Manda membuka gerbang besi yang catnya sudah termakan karat. Bahkan untuk membukanya saja menimbulkan decitan yang membuat telinga terganggu.
Saat membuka pintu masuk, dirinya sudah disambut dingin oleh kedua orang tuanya. Mereka hanya duduk sambil menatap Manda kesal. Bagaimana tidak, Manda adalah anak satu-satunya yang mereka besarkan, tapi perkataan mereka tidak ada yang Manda lakukan.
“Assalamualaikum, Manda.” Ibunya membuka suara saat Manda ikut diam menatap orang tuanya.
“Waalaikumsalam,” jawab Manda.
“Duduk!” pinta ayahnya. “Jam berapa sekarang?”
Manda mendudukan tubuhnya di samping sang ibu. Setidaknya hanya ia yang akan melindungi Manda ketika ayahnya marah.
“Sepuluh.”
“Kamu anak gadis bukan?” Manda langsung mengangguk. “Pantas tidak kalau jam segini baru pulang?” Manda menggeleng.
Walau ia pemberani dan sering melakukan apa yang orang tuanya larang, tetap saja ia hanya bisa bungkam ketika bau kemarahan ayahnya sudah tercium. Entah aura apa yang ayahnya punya hingga Manda begitu takutnya.
“Haris saja yang laki-laki sudah pulang dari jam 9. Itu pun karena mengajar ngaji di kampung sebelah atau karena tugas kuliah. Kamu?” Manda hanya menunduk.
Haris adalah sepupu Manda yang tinggal bersama mereka. Orang tuanya ada di Sukabumi bersama kakak dan kakak ipar ibunya Manda.
“Manda mau apa dari Abi biar omongan Abi di pakai sama Manda? Hah?”
Tidak ada nada tinggi memang, tapi itu saja sudah termasuk marahnya sang ayah bagi Manda. Selembut apa pun bagi orang lain, menurut Manda tetap ada bedanya saat biasa dan saat marah.
Manda membuka mulutnya dengan sedikit takut. “Manda nggak mau diatur, Pak.”
Ayahnya membuang napas pelan sambil merapalkan istighfar. “Tentang Abi yang suruh Manda pakai kerudung?”
“Bukan cuma itu. Manda tau kok kewajiban Manda. Tapi jangan diperintah, Manda justru malas kalau diperintah.” Manda sudah berani untuk mengangkat kepalanya.
Begitulah Manda, walau dia tau akibatnya namun tetap ia lakukan. Ia hanya tidak suka di atur sana sini hanya untuk hidupnya. Sekedar mengingatkan boleh, tapi menurutnya ia tidak diingatkan, selalu diperintah.
Ayah Manda membuka kacamata dan bersender di kursi. Melihat itu sang istri langsung bangkit untuk membuatkan teh tanpa gula. Setidaknya akan meredakan emosi suaminya.
Mereka tampak saling diam sampai ibu Manda kembali membawa secangkir teh. Diusapnya kaki sang suami agar tidak melampaui batas untuk putrinya, walau putrinya sudah berkali-kali melampaui batas larangan yang mereka buat.
Setelahnya sang ibu berdiri di sisi tembok agar tidak melihat putrinya dimarahi. Sebagai ibu tentu saja takut jika sang anak tersakiti hatinya, meskipun oleh ayahnya sendiri. Hanya saja Manda terlalu buta untuk melihat itu.
Ayah Manda hanya mendengus pelan. “Mau kamu apa sekarang?”
Gadis tersebut nampak memperlihatkan tatapan matanya yang sejak tadi menunduk. “Bapak mau kabulin?”
“Kalau itu alasan buat kamu berubah, Abi berusaha buat mengabulkannya.”
“Bapak! Bukan Abi.” Gadis itu mengoreksi. Wanita paruh baya yang berdiri tak jauh dari mereka hanya mengelus d**a. “Kita tinggal di Indonesia, Pak.”
“Ya sudah, kamu mau apa?” Ali, ayah gadis itu pun mengambil teh yang telah dibuat istrinya dan menyesapnya perlahan.
“Kawin, Pak!”
Byurr...
Belum sempat teh itu mengalir ke tenggorokan dikeluarkan begitu saja saat sang putri mengutarakan keinginannya. Niatnya hanya untuk meredakan tenggorokannya yang mengering akibat ulah anaknya. Namun nampaknya gadis yang ia besarkan dengan kasih sayang itu tidak membiarkannya begitu mudah.
Fatimah, ibunda dari gadis itu langsung menghampiri mereka bersamaan dengan suaminya yang tersedak. “Ngomong apa kamu?”
Manda itu menarik dalam napasnya. “Manda janji bakal pakai kerudung, sholat, gak pulang larut apa lagi minum.” Manda menjeda kalimatnya dan melihat kedua orang tuanya. “Manda mau nikah biar apa pun yang Manda lakukan biar suami yang tanggung nantinya.” Manda lega bisa mengucapkan itu tanpa tersenggal. Hanya saja sekarang jantungnya bergemuruh.
“Baik, kalo itu yang mau mau.” Manda tersedak ludahnya sendiri. Ternyata rencananya tak berjalan dengan baik. Ia akan memikirkan rencana selanjutnya.
-o0o-
Manda berdiri di jendela hingga setengah badannya keluar. Menghirup banyak oksigen malam hari karena terlalu sesak di dalam. Ia memikirkan permintaan konyolnya tadi. Apa itu menikah?
Niatnya tadi agar ayahnya tidak lagi menuntutnya, ia ingin dengan sendirinya merubah diri, bukan dipaksakan. Ia kira ayahnya akan menolak karena ia baru saja keluar dari bangku SMA.
Namun sayangnya ia harus menyusun strategi lagi agar ayahnya bisa membatalkan pernikahannya. Hingga tiga jam Manda belum bisa menemukan solusinya. Karena ia tau, ayahnya pasti akan secepat mungkin mencarikan calon suami untuk putrinya. Apa lagi hanya dengan itu alasan agar putrinya berubah.
Pletak...
Manda semakin membuka lebar jendelanya hingga terlihat seseorang dengan posisi yang sama seperti dirinya. “Apa sih, Mas?” Manda menggerutu pelan karena lemparan tersebut membuat dirinya yang sedang melamun jadi terkejut.
“Kasian nggak sih, Dek? Sama bapakmu?”
“Jangan bahas lagi.”
Untuk sesaat Haris diam tak mengungkit. Namun pertanyaan dalam pikirannya tiba-tiba mengingatkan. “Dek, siang tadi kok mas liat kamu dikejar polisi sama Arul?”
Manda yang sejak tadi berdiri tenang, kini gelagapan. Seolah oksigen di dekatnya habis terserap hanya pertanyaan dari Haris, sepupunya.
“Oh .... Emm— itu, apa? Reflek, jadi ikut lari. Padahal yang dikejar cuma Arul.” Manda merapalkan doa-doa agar Haris tidak curiga.
“Oh, tadinya udah khawatir kamu dikejar. Eh taunya pas kamu belok gak dikejar lagi. Untung Mas belum sempat lapor bapakmu.” Haris membuka bungkus biskuit yang selalu tersedia di kamarnya. “Mau nggak, Dek?”
“Ck, kalo nawarin yang niat. Sini ke kamar.”
“Nggak, nanti gantung sama bapakmu.”
Manda hanya menggerutu pelan tentang tingkah Haris. Mungkin dia satu-satunya pria yang tidak bisa tanpa cemilan di dekatnya. Entah itu coklat, biskuit atau yang lainnya. Bahkan dirinya saja yang perempuan tidak suka ngemil. Bukan diet alasannya, hanya malas saja.
Haris menepukan kedua telapak tangannya agar remahan biskuit yang ia makan tidak tertempel. “Tidur Dek, udah jam 1 lebih. Liat teteh kunti nangkring baru tau rasa kamu.”
“Biasanya yang bilang gitu lo mas yang didatengin.” Mendengar itu Haris langsung mengunci jendelanya. Manda hanya terkekeh. Bagaimana bisa takut, dia saja suka dengan gelap.
Setelah tidak lagi mendengar suara Haris, Manda kembali ke pikirannya. Tentang bagaimana caranya ia akan membatalkan permintaannya tersebut sebelum ayahnya benar-benar mencarikan suami untuknya.
Tapi sayangnya, tidak semudah itu membatalkan hal yang sudah menyeret ayahnya di dalamnya. Apa lagi alasannya untuk Manda berubah, sesuatu yang selalu ayahnya impikan.
“Kalo nggak bisa dibatalin rencananya, kenapa gak pernikahannya aja.” Manda tersenyum nakal dan langsung berpindah tempat ke meja belajarnya.
Manda membuka bekas buku pelajarannya yang masih lengkap di meja. Menuliskan beberapa nama yang mungkin saja akan menjadi pilihan ayahnya. Untuk saat ini baru saja Manda berpikir jernih. Kenapa tidak bilang saja tadi kalo dirinya sudah punya pacar. Jadi tidak usah dicarikan.
Manda menuliskan nomor satu di bukunya. “Satu, Fawad. Anak Pak Lurah yang baru aja lulus S2. Hmm, mungkin bisa jadi dia.” Manda mengetuk-ngetukan pena ke kepalanya.
“Mari kita analisis sifatnya.” Manda membuat titik besar di bawah nama Fawad. “Pendiam, murah senyum, pintar, kaya.” Manda kembali berpikir.
“Kemungkiman ayah nggak pilih dia. Terlalu tua buat Manda, latar belakang keluarga, hmm mungkin cuma itu.”
“Dua, Rizman. Murid kesayangan Bapak, pandai mengaji, pintar. Kemungkinan nggak dipilih, dia masih kuliah kaya Mas Haris dan mau nikah kalo udah lulus S2. Ini mah fix nggak dipilih bapak.”
Manda memukul kepalanya pelan dengan tangan. Dia tidak akan menikah besok, tapi pikiran ini seolah menjadi beban untuknya hingga sulit untuk tidur.
“Siapa lagi? Yang akrab sama bapak cuma itu.” Manda menerawang ke atap memikirkan siapa lagi kemungkinan besar yang akan menjadi suaminya.
“Ah iya, anak temen bapak!” Manda berteriak kegirangan. Setelahnya ia langsung menutup mulutnya rapat.
“Tiga, Toriq. Pandai, nggak tua dan nggak muda juga, penurut, pendiam.” Manda menutup mulutnya untuk tidak kembali berteriak.
“Kalo gue nikah sama mas Toriq, udah pasti nggak akan dituntut ini itu. Secara dia penurut banget, pasti gue yang selalu menang.” Manda meninju angin kegirangan.
Tok tok tok
Dengan cepat Manda langsung menutup bukunya rapat dan menoleh ke belakang. Ibunya sudah membuka sedikit pintu kamar Manda dan menampakkan kepalanya.
“Kenapa jendelanya nggak ditutup?” Fatimah berjalan menuju jendela untuk ia tutup. Lalu setelahnya ia duduk di kasur yang langsung berhadapan dengan posisi Manda duduk di kursi.
“Masih mikirin yang tadi?” Manda mengangguk. “Begini, ibu sudah tau siapa orangnya.” Manda langsung melotot kaget. Secepat itu ayahnya mencarikan jodoh untuknya?
Manda langsung memutar duduknya agar bisa berhadapan dengan sang ibu. “Bu, bisa dibatalin nggak? Manda cuma bercanda tadi, Manda kira bapak nggak begitu gampangnya nurutin maunya Manda.”
Fatimah merain tangan anaknya dan ia bawa ke pangkuannya. “Niat bapakmu baik, dia cuma nggak mau kamu terus bergabung dengan orang yang nggak baik.”
“Kata bapak nggak ada orang yang nggak baik, hanya saja kurang baik. Untuk urusan teman-teman Manda kenapa jadi alasan juga? Kata bapak nggak boleh pilih-pilih temen.” Manda tak kuat, air matanya mengalir.
Tingkahnya kini hanya membuat Fatimah terkekeh. “Air mata buaya, jatuh dari tangga nyampe kaki patah aja nggak nangis sedikit pun.”
Mendengar itu Manda langsung mengusap air matanya kasar. Nampaknya sang ibu begitu tau bahwa Manda tak mungkin menangis begitu mudahnya.
Manda ingat sesuatu dan langsung membuka buku yang beberapa menit lalu sudah ia buatkan daftar calon suaminya. “Bu, apa salah satu dari mereka?”
Fatimah mengambil alih buku dari tangan Manda dan terkekeh. “Kamu mau menikah sama salah satu nama ini?”
Manda menggeleng. “Itu cuma kemungkinan besar buat bapak carikan suami kaya gitu. Tipe bapak kan gitu, alim, pandai mengaji, kalo bukan ustad ya mungkin anak ustad. Atau anak pak lurah itu.” Mendengar jawaban Manda membuat Fatimah kembali terkekeh.
Ia sangat jarang sekali tertawa hingga suaranya terdengar. Hanya pada saat bersama anak dan suaminya saja. Fatimah memang tipe istri yang soleha. Tak heran jika seorang Kyai seperti ayah Manda saja jatuh cinta. Walau umur mereka terpaut cukup jauh.
“Pantas tadi di kamar nggak ada, taunya disini.” Ayah Manda tiba-tiba membuka pintu lebar-lebar. Sepertinya ia tau istrinya tidak ada disampingnya hingga ia terbangun.
“Bi, liat daftar yang Manda buat.” Manda langsung menampilkan wajah tak suka karena ibunya begitu mudah membagi rahasianya.
Sama seperti respon ibunya, ayah Manda pun terkekeh melihat daftar nama laki-laki yang Manda buat. “Sayangnya bukan salah satu dari mereka. Malam ini puas-puasin Manda cari nama laki-laki yang Abi carikan buat Manda. Umi biar Abi culik dulu.” Ck, pemandangan seperti ini yang Manda tak suka. Lihat saja matanya sudah memutar malas.
Manda merentangkan tubuhnya diatas kasur. “Ahhh, bodo ah! Ayo aja nikah, mau kapan? Gue siap kapan pun. Tahan sebulan, gue kasih tepuk tangan sama kaki sekalian.” Manda terkekeh.