Paman tiba lebih awal di kantor konsultasi. Ia duduk di ruang tunggu sambil memegang map cokelat. Saat Rahma datang, ia berdiri dan menyapanya dengan formal. Tidak ada pelukan. Giana menyapa dan memperkenalkan petugas hukum yang akan membantu mencatat, bukan memutuskan perkara.
Petugas menjelaskan semua pihak boleh membaca catatan dan tidak perlu menandatangani sebelum memahami isinya. Giana membuka dengan menunjukkan riwayat resmi yang mencantumkan ayahnya dan Rahma sebagai pemilik. Ia bertanya dokumen apa yang menjadi dasar paman mengelola rumah.
Paman berkata setelah orang tua Giana meninggal, ia mengambil alih rumah agar tidak kosong. Ia membayar beberapa perbaikan dan mengurus tagihan. Ia mengira Rahma setuju karena keluarga tidak kembali tinggal di sana. Rahma menjawab ia setuju paman menjaga rumah untuk sementara, bukan mengambil hak milik atau menolak mereka pulang.
Paman mengeluarkan kuitansi perbaikan pagar dan atap. Ada juga salinan tagihan yang dibayar atas namanya. Dokumen tersebut menunjukkan biaya yang dikeluarkan, tetapi tidak ada surat pengalihan kepemilikan. Paman berkata sertifikat asli pernah berada dalam map yang ia simpan, tetapi ia tidak menemukannya ketika mencari bulan lalu.
Petugas meminta paman tidak menebak lokasi. Ia menyarankan pencarian bersama setelah pertemuan. Giana bertanya apakah rumah pernah disewakan. Paman mengakui satu kamar pernah disewakan selama beberapa tahun untuk menutup biaya perawatan. Ia belum membawa catatan pembayaran sewa.
Rahma berkata ia tidak pernah menerima bagian dari hasil sewa. Paman menjawab uang itu dipakai untuk listrik, perbaikan dan pajak. Ia tidak mengingat semua jumlahnya. Giana tidak langsung menuntut uang. Ia meminta catatan pengeluaran dan pemasukan dibuat sejauh masih tersedia, supaya mereka dapat memahami apa yang terjadi.
Paman merasa dirinya sedang dituduh. Giana menjawab ia tidak menyebutnya pencuri; ia hanya meminta penjelasan karena catatan resmi tetap mencantumkan keluarga mereka sebagai pemilik. Rahma berkata ia berterima kasih atas perbaikan yang dilakukan, tetapi ingin rumah dan dokumennya kembali dikelola bersama.
Mereka belum mencapai kesepakatan. Petugas menyarankan jeda dan meminta tiap pihak menyusun daftar dokumen yang perlu dicari. Paman setuju kembali minggu depan. Giana dan Rahma pulang dengan salinan kuitansi, tidak dengan kunci rumah.
Paman melihat salinan riwayat resmi dan berkata ia tidak pernah mengklaim namanya tercatat sebagai pemilik. Ia menganggap dirinya bertanggung jawab mengelola rumah karena tidak ada orang dewasa lain yang melakukannya. Rahma mengingat ia pernah menyetujui paman menjaga rumah, tetapi tidak pernah diberi tahu bahwa keluarga tak boleh kembali. Paman berkata ia mengira Rahma menerima keadaan setelah pindah.
Giana bertanya kapan ia menganggap izin sementara berubah menjadi penguasaan tanpa batas. Paman tidak dapat menyebut tanggal. Ia menjelaskan rumah perlu diperbaiki dan ia memakai uang sendiri untuk pagar dan atap. Giana berterima kasih atas pengeluaran yang dapat dibuktikan, tetapi berkata biaya perbaikan tidak otomatis mengubah catatan kepemilikan.
Paman mengeluarkan buku catatan, namun beberapa halaman hilang. Ia mengatakan ada penyewa kamar yang membayar tunai dan uangnya dipakai untuk biaya rumah. Rahma bertanya mengapa ia tidak menerima catatan atau bagian uang. Paman menjawab ia tidak berpikir perlu melapor karena keluarga sedang kesulitan. Rahma berkata justru karena mereka kesulitan, ia seharusnya diberi penjelasan.
Suasana menegang. Petugas hukum menyarankan jeda dan mengingatkan mereka fokus pada informasi yang dapat diklarifikasi. Giana mengatakan ia tidak menuduh paman mengambil uang, tetapi ingin mengetahui apa yang masuk dan keluar. Paman berkata ia merasa seolah semua bantuannya tidak dihargai.
Rahma menjawab ia berterima kasih atas bantuan, tetapi rasa terima kasih tidak sama dengan menyerahkan rumah. Ia juga mengingat saat paman menolak mereka pulang, dan bagaimana mereka akhirnya menyewa tempat kecil dengan barang seadanya. Paman terdiam. Ia mengakui mungkin ia terlalu lama memperlakukan rumah itu sebagai miliknya untuk diatur.
Petugas hukum menyarankan paman mencari sertifikat atau salinan yang ia simpan dan melengkapi daftar biaya. Giana dan Rahma akan memberi akses kepada petugas untuk memeriksa catatan resmi. Mereka tidak menandatangani pengalihan atau pengosongan hari itu.
Sebelum pulang, paman berkata ia bersedia membicarakan penyerahan rumah jika keluarga setuju membahas biaya perbaikan. Giana menjawab mereka akan meninjau kuitansi dan tidak menolak biaya yang terbukti wajar, tetapi tidak akan membuat kesepakatan lisan. Mereka menjadwalkan pertemuan kedua setelah semua pihak mencari dokumen.
Rahma pulang dengan kecewa, tetapi tidak menyesal telah berbicara. Giana menulis ringkasan percakapan selagi masih segar dan meminta Rahma mengoreksi bagian yang tidak tepat. Mereka sepakat mengirim salinan kepada paman agar tak ada yang mengingatnya berbeda.
Paman berkata ia tidak pernah berniat mengusir Rahma dan anak-anaknya. Ia mengira mereka memilih pindah karena rumah mengingatkan mereka pada orang tua. Rahma menanggapi bahwa mereka pindah karena paman mengatakan tidak ada tempat bagi mereka di rumah itu. Paman membantah mengingat kalimat tersebut, tetapi mengakui ia mungkin berkata mereka tak bisa tinggal selamanya tanpa aturan.
Giana bertanya apakah paman pernah menawarkan perjanjian tertulis. Ia menjawab tidak. Giana menunjukkan catatan resmi dan meminta paman membantu menjelaskan bagaimana ia memperoleh kunci serta dokumen. Paman mengatakan ayah Giana menyerahkan kunci cadangan untuk keadaan darurat sebelum meninggal. Ia tidak punya surat yang menyatakan hak rumah berpindah.
Petugas meminta Rahma dan paman berbicara satu per satu agar catatan tidak berisi saling tumpang tindih. Rahma menjelaskan ia setuju paman menjaga rumah sementara mereka mengurus pemakaman dan kebutuhan anak. Paman mengatakan ia menerima tugas itu tanpa menentukan batas waktu. Keduanya mengakui tidak pernah membicarakan kapan pengelolaan harus berakhir.
Ketika pembicaraan menyentuh hasil sewa, paman berkata uang digunakan untuk perawatan. Rahma meminta bukti. Paman menunjukkan buku kas dengan catatan tangan, tetapi tidak seluruh pengeluaran memiliki kuitansi. Giana meminta waktu untuk meninjau, bukan meminta uang saat itu juga.
Petugas menuliskan bahwa paman menguasai rumah dan melakukan pengeluaran, tetapi belum ada dokumen pengalihan yang ditunjukkan. Mereka mencatat klaim sewa dan penggunaan uang sebagai hal yang perlu diperiksa. Paman menyetujui redaksi setelah membaca ulang. Rahma merasa lega bahwa ia bisa menyampaikan keberatan tanpa menuduh langsung.