Abhi berjalan gontai menyusuri koridor yang membawanya menuju keruang kelasnya. Memikirkan perkataan yang dikatakan opahnya yang tidak menganggapnya sebagai cucu.
*Flashback on
Abhi kembali lagi kerumah karena bukunya tertinggal di dalam kamar. Abhi memakirkan mobil barunya di depan gerbang, tidak sampai masuk. Abhi terkejut ada mobil opanya di depan, Abhi pun langsung masuk dan berniat menemui opanya.
Namun yang Abhi dengar sangatlah menyakitkan. Opanya tidak menganggapnya sebagai cucu. Dan menyalahkannya atas kematian Elisa.
Abhi pun kembali ke mobilnya dan menginjak gas, menyusuri jalanan kota yang ramai. Tanpa memperdulikan pengendara lain Abhi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Marah, kecewa campur jadi satu. Salah satu orang yang ia sayang ternyata tidak menganggapnya ada.
Abhi sampai di sekolah, ia tidak langsung menuju ke kelas padahal sudah hampir masuk. Abhi duduk di kantin, tepatnya di meja paling pojok. Abhi hanya melamun tanpa memesan apa pun. Abhi baru kembali kekelas setelah ditegur guru olahraga yang berada di kantin. Pak Nugraha namanya.
*Flashback off
Abhi berjalan menunduk, hingga tidak melihat ke depan namun kebawah. Melewati ruang kelasnya hingga ke ujung koridor.
Bukkhh...
''Awww ....'' Seseorang memekik kesakitan.
Abhi menabrak seseorang di persimpangan koridor. Abi menyadari ada seseorang yang ia tabrak.
''Aduh maaf Bu Sivya, Abhi gak sengaja nabrak Ibu,'' ucap Abhi meminta maaf sambil membantu memunguti buku di lantai.
''Gak papa, kamu bantu Ibu bawa buku ke ruang kelas kamu. Ini udah bel masuk, bahkan Ibu sudah terlambat masuk karena tadi Ibu rapat dulu. Kenapa kamu terlambat dan tidak segera masuk ke kelas?'' Sivya menerpa Abhi berbagai pertanyaan karena merasa aneh dengan anak didiknya ini.
''Eng – enggak apa-apa Bu, tadi habis dari kantin,'' ucap Abhi cengar cengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
''Kamu ini kebiasaan, sudah ayo ke kelas. Kelas sendiri di lewati.'' Sivya menggeleng sambil berjalan menuju kelas yang diekori oleh Abhi.
-
Bel istirahat berbunyi, para siswa dari kelas lain berhamburan keluar. Sedangkan Sivya masih berada di kelas Abhi.
''Abhi, nanti pulang sekolah kamu ke bengkel elektronik dibawah yah. Ibu tunggu disana,'' ucap Sivya sambil membereskan buku.
''Baik Bu,'' ucap Abhi menuruti.
''Aldo kamu bawa modul ke perpustakaan!'' perintah Sivya kepada Aldo, ketua kelas XI elektro 2 yang diangguki Aldo.
Kemudian Sivya berlalu menuju keruangannya.
-
Ilyas berada di ruang rapat setelah melakukan presentasi tentang penerimaan saham perusahaannya bekerja sama dengan perusahaan asing.
''Selamat Bapak Ilyas, atas keberhasilan Bapak mengenai kontrak kerja dari Singapura,'' ucap seseorang menjabat tangan Ilyas.
''Terima kasih atas ucapan selamatnya Pak Kardi, saya tidak akan berhasil sendiri ini semua berkat kerjasama saya dengan tim Pak,'' ucap Ilyas merendah.
''Anda memang patut disegani Pak, Anda tidak sombong dan rendah hati,'' ujar pak Kardi memuji.
''Bapak bisa saja,'' ucap Ilyas sambil tersenyum ramah.
''Baik Pak, saya duluan'' Pamit Pak Kardi yang diangguki Ilyas.
''Selamat Ilyas, atas keberhasilan kamu. Mungkin kita bisa merayakan nya. Dan masalah tadi pagi, ah lupakan. Ayo kita makan siang diluar,'' ajak Pras semangat.
''Sebenarnya Ilyas masih ada kerjaan Pa. Kita rayakan saja nanti malam. Bagaimana?'' tawar Ilyas.
''Oh, baiklah. Papa pergi dulu,'' pamit Pras keluar setelah diangguki Ilyas.
-
Abhi menuju bengkel elektro yang berada dilantai bawah. Abhi memasuki ruangan yang berbentuk seperti ruang kelas biasa namun yang membedakannya adalah meja yang lebar seperti yang terdapat di laboratorium dan terdapat alat-alat yang berhubungan dengan elektronika.
Abhi menuju meja paling belakang yang digunakan para guru prodi. Abhi menuju meja yang dulu di tempati Pak Hendro yang dulu mengajar di sekolah ini.
''Selamat siang Bu,'' sapa Abhi sopan.
''Selamat siang, kamu sudah datang ruapanya,'' ucap Sivya yang masih memperhatikan laptop di depannya.
''Ibu ada perlu apa ya panggil saya kesini?'' tanya Abhi, Sivya hanya tersenyum dengan mata yang tidak lepas dari laptop nya.
''Kamu tumben gak banyak omong, biasanya suruh diem aja susah.'' Sivya terkekeh mengingat pertemuannya dengan Abi pertama kali yang memang tidak bisa diam.
''Ibu manggil saya cuma mau tanya itu?" tanya Abhi tidak menggubris kekehan Sivya.
''Haha enggak, ada maksud lain Ibu panggil kamu kesini. Cuman Ibu heran aja biasanya kelas riuh karena tingkah kamu. Tapi tadi pagi kelas terasa hampa." Sivya tersenyum. Abhi pun ikut tersenyum.
''Kayaknya bakal kangen nih kalo Abhi udah lulus," goda Abhi cengengesan, melupakan sejenak masalah tadi pagi.
''Alah kamu sudah kumat lagi. Sebenarnya ada yang mau Ibu bicarakan sama kamu,'' ucap Sivya mulai serius.
''Apa Bu?" tanya Abhi penasaran.
''Sekolah akan mengikuti lomba robotika tingkat provinsi. Dan Kaprodi meminta dua anak yang sekiranya mampu untuk mengikuti lomba ini. Dan Ibu baru mengajukan satu nama, yaitu kamu Abhi,'' ujar Sivya.
''Saya Bu?'' ucap Abhi menujuk dirinya sendiri.
Abhi merasa bingung dipilih untuk mengikuti lomba. Bahkan dirinya saja merasa tidak pantas dengan tawaran yang diberikan Sivya.
''Iya, kamu. Menurut ibu kamu berbakat di bidang robotika. Nilai mata pelajaran produktif kamu juga diatas sembilan puluh lima hampir sempurna. Nilah praktik kamu juga sangat bagus, apa lagi nilai pemrograman kamu. Sangat fantastis Abhi. Jarang sekali yang mampu memahami dengan cepat materi pemrograman karena memang menggunakan bahasa komputer yang sulit dipahami. Tapi disekolah ini tidak ada nilai kejuruan diatas sembilan puluh lima selain kamu. Saya harap kamu tidak mengecewakan saya dan sekolah dengan mengikuti lomba ini,'' ucap Sivya penuh harap.
“Saya berterima kasih sama Ibu, karena sudah mempercayai saya. Tapi satu orang lagi siapa Bu?'' ucap Abhi.
Pasalnya untuk mengikuti lomba tersebut harus ada dua orang. Dan persiapannya pun tidak sehari dua hari.
''Itu dia, Ibu baru di sekolah ini dan Ibu belum mengenal potensi yang dimiliki setiap siswa maupun siswi disini. Guru yang lain pun tidak mau mengambil resiko memilih siswa karena jika siswa itu gagal maka guru yang memilih lah yang kena marah Kaprodi karena sudah kalah di perlombaan. Kamu mungkin lebih tau sifat Kaprodi yang ingin menang sendiri,'' ujar Sivya yang diangguki Abhi.
''Kira-kira siapa Abhi untuk menjadi teman kamu saat perlombaan nanti? '' Tanya Sivya pada Abhi.
''Menurut Abhi, yang akan mendampingi Abhi itu Azahra Amelia Bu. Dia anak XI Elektro 1. Dia juga pandai di bidang kejuruan seperti Abhi, bahkan bukan hanya kejuruan, semua pelajaran ia kuasai. Dia juga paralel satu tahun lalu,'' ucap Abhi.
''Ok, besok Ibu akan temui dia. Dia biasa di panggil apa, Ibu tidak kenal betul seperti apa anaknnya karena Ibu baru satu kali masuk kelas itu,'' ucap Sivya.
''Tingginya segini,'' ucap Abi sambil mensejajarkan telapak tangan yang menghadap kebawan ke samping telinganya. ''Dia pake kacamata, kalo gak pake kacamata, matanya juling tapi tetep cantik. Terus biasanya dia dikuncir satu, rambutnya juga gak terlalu panjang, dia pake tas warnya abu muda. Dia anaknya rapi, rok selutut tapi agak toboy. Ibu tau Yuki Kato kan? Nah kaya gitu dia Bu, cuman ini versi remajanya dan Yuki Kato gak juling juga kalo lepas kaca mata. Terus—'' Abhi bercerita panjang lebar lalu di potong tiba oleh Sivya.
''Sudah-sudah nanti ibu cari sendiri besok. Sepertinya kamu terlalu mengagumi dia sampe kamu tau betul apa yang dia pakai,'' ucap Sivya dengan nada mengejek.
''Saya permisi Bu, Assalamualaikum.'' Abhi ngacir keluar bengkel.
''Waalaikumsalam,, haha anak pandai yang bandel ternyata memilih memendam perasaannya dari pada mengungkapkan nya,'' ucap Sivya peka dengan sikap Abhi tadi.