“Kalau mau mati setidaknya tunggu aku habis prom, jangan sekarang.”
Kalimat itu menyentak Athena kembali ke dunia nyata. Ia sudah melamun bermenit-menit lamanya. Apalagi dengan posisi ekstrem—duduk di pembatas beton jembatan yang bawahnya jalan. Itu artinya, sekali salah gerak bakal jatuh ke aspal jalanan yang keras.
Aeris mendengus kesal. Alih-alih dapat balasan, Athena justru kembali melamun. Gadis itu malah menatap lurus-lurus jalanan di bawahnya. Puluhan kendaraan berlalu lalang setiap detiknya. Jalanan itu tak pernah sepi. Aeris merinding sendiri menatapnya.
Ia bergerak hati-hati mendekati Athena, jangan sampai mengagetkannya. Takut-takut Athena tersentak terus jatuh.
“Aty?” Panggil Aeris hati-hati. Di tangannya plastik berisi snack ringan dan beberapa kaleng bir.
Athena akhirnya menoleh demi absen muka ke Aeris. Dia tampak menyedihkan dengan kantung mata besar dan menggelap. Seperti orang tak tidur seminggu. Atau memang sebetulnya dia begitu?
“Ngapain ke sini? Nggak takut dimarahin kakakmu yang menyebalkan itu?”
“Dia lagi balik ke Indonesia.” Balas Aeris. “Lupakan soal aku. Kamu ngapain di sini? Mau mati, huh?”
“Cari udara.”
Balasan santai nyaris acuh itu membuat rahang Aeris hampir jatuh. “Seriously? Di tempat kayak gini?” Aeris berdecak. “Nyari mati yang ada. Nyari udara segar itu di alam, di gunung, di laut. Bukan di ketinggian yang bawahnya lalu lintas. Biar apa sih? Kelindes?”
“Cerewet.”
“Excuse me?!” Aeris berdecak tak habis pikir. “Aku sedang menjadi sahabat yang baik lho di sini.”
Athena justru memutar bola mata malas. “Kamu hanya takut aku mati sebelum aku membantumu berdandan untuk prom.”
“Well, itu betul juga.” Aeris nyengir konyol. “Tapi serius deh, ngapain kamu di sini? Malam minggu bukannya kencan malah uji nyali begini.”
“Dia sudah kencan duluan dengan cowok lain.”
“What the hell?!” Aeris langsung menegakkan punggungnya, matanya melebar. Untuk sejenak dia pikir dia salah dengar. Tapi Athena tidak mengoreksinya. “He's gay?”
Athena langsung murung. Wajahnya antara campuran kecewa dan kesal. Bagaimanapun dia tidak cuma patah hati. Tapi juga sudah ditipu habis-habisan. Mana mereka sudah sempat nyaris make out pula.
“Argghhh!” Athena mengusap rambutnya frustasi membayangkan itu. Membayangkan apa yang telah ia dan Mike lalui bersama selama ini.
“Whoa, whoa, tenang, Aty. Kamu bisa jatuh.” Aeris menatap ngeri sahabatnya itu. Athena justru bergerak berlebihan. “Lebih baik kamu turun dulu. Kita bicarain ini di tempat yang aman.”
Untungnya Athena menurut dan turun dari pembatas beton itu. Aeris lalu menggandengnya ke mobil. Membawa Athena ke apartemennya.
***
“Jadi, sudah seminggu, ya?” Aeris membuka kaleng bir dan menyesapnya perlahan.
Alih-alih menjawab, Athena malah melotot. “Hey! Kamu masih kecil. Siapa yang mengizinkanmu minum bir??”
Aeris mengedikkan bahu santai. “Aku sudah delapan belas tahun—beberapa minggu lalu kalau kamu lupa. Itu artinya aku sudah dewasa.” Dia memperjelas kalimatnya dengan kembali menyesap minumannya.
Athena langsung merebut minuman Aeris dan meneguknya habis. “Bagiku kamu masih anak kecil.”
Aeris mendengus. “Tidak kamu, tidak Eros, sama saja.”
Kaleng di tangannya diremat sampai tak berbentuk. Entah kenapa tiap kali disamakan dengan pria itu, Athena kesal sendiri. “Ah, pria b******k itu.. kuharap dia tidak di sini. Sebab aku sedang bernapsu untuk menonjok muka orang sekarang.”
Aeris memutar bola matanya. Tom and jerry—bagi Aeris mereka persis seperti itu. “Dia pulang ke Indonesia sejak beberapa hari lalu.” Balas Aeris akhirnya. Ia mengambil sebungkus keripik dan membukanya.
“Apakah dia bilang sesuatu sebelum pergi?”
Keripik Aeris berhenti di udara. Ia terdiam sesaat sebelum mengangguk. “Dia bilang ketemu kamu di bar. Menyedihkan, kayak orang habis dianiaya dan menderita.”
“That bastard—” Athena mengerang. Dia mengingat kejadian beberapa hari lalu di bar. Eros dan para wanita penghiburnya.
“Aku tidak seperti itu. Aku hanya sedang minum.” Perempuan itu menjelaskan. “Justru kakakmu yang menyedihkan. Dikerubungi lalat pengganggu yang menjijikan.”
Aeris tau maksudnya. Eros memang terkenal suka main wanita. Dia itu playboy. Yah sesuai dengan namanya—Eros, sang dewa cinta dan gairah. Nama benar-benar mencerminkan sifat seseorang.
“Dia tidur dengan mereka?”
Athena mengedik. “Mungkin. Yang jelas aku tidak sudi melihatnya.”
Aeris menghela napas. Kalau benar kakaknya tidur dengan wanita sembarangan dan orang tuanya tau, itu bisa jadi masalah besar. Dan Aeris tidak mungkin bisa menutupinya terus-terusan.
“Lupakan soal kakakku,” Aeris akhirnya mengalihkan topik pembicaraan. Ia menghadap ke Athena. “Seperti yang sudah kukatakan jauh-jauh hari, tolong bantu aku bersiap untuk prom.”
“Tentu, jika aku tidak keburu mati karena patah hati.”
“Athenaaaa!!!!”
Athena terkekeh dapat rengekan dari Aeris. Kadang-kadang gadis itu bisa terlihat dewasa sekali, kadang-kadang jadi anak kecil seperti sekarang. Dan itulah yang membuat Athena betah berteman dengannya. Dia sudah menganggapnya sebagai adik sendiri.
Ngomong-ngomong, mereka ketemu sewaktu SMA. Athena kelas tiga dan Aeris masih murid baru waktu itu. Gadis mungil dengan wajah campuran Asia-Eropa, membuatnya terlihat beda dari lainnya. Mudah dikenali.
Aeris dulunya pendiam sekali. Apalagi dengan keterbatasan bahasa, dia sering terlihat dimana-mana sendiri. Itulah yang menggerakkan hati Athena untuk mendekatinya. Bagaimanapun dia sendiri juga bukan orang Italia asli, dia pendatang. Dia mix Amerika-yunani, sengaja datang ke italia untuk belajar.
Sejak saat itu mereka bersahabat akrab dan meski Athena sudah pindah ke jenjang perkuliahan. Dia juga sering menginap di sini kalau Eros sedang tidak ada. Tentu saja, atau mereka akan bertengkar sampai pagi.
“Malah bengong.” Aeris menampol lengan Athena keras. Membuat si empunya tersentak. “Mikirin apa sih? Orang aku cuma minta dibantu dandan buat prom, bukan minta dibangunin Colosseum.”
“Smartass!” Balas Athena. Ia menyandarkan punggungnya dengan nyaman di sofa.
“Masih mikirin Mike?” Tanya Aeris hati-hati.
“Najis. Penipu kayak gitu nggak pantas buat dipikirin.”
“Bagus deh. Harusnya dia yang nyesel udah ninggalin kamu buat cowok lain.” Aeris merinding sendiri mengatakannya. “Astaga, aku nggak bisa ngebayangin ada cowok suka sama cowok.”
“Cewek suka cewek juga ada.” Athena menatap Aeris dengan tatapan menggoda. Menggigit bibir bawahnya dalam gerakan sensual. Dia tidak benar-benar berniat melakukan itu, hanya ingin menjahili Aeris. Ia beringsut mendekat, hendak menempeli Aeris. Tapi gadis itu keburu berdiri dengan panik.
Aeris mengacungkan kaleng bir di tangannya. “Jangan macam-macam, Aty.” Katanya separuh panik. Tiba-tiba dia overthinking sendiri—bagaimana jika Athena juga belok? Astaga, no way!!!
Athena kontan ngakak hebat. Dia sampai ambruk ke sofa dan memegangi perutnya. “Kamu harus lihat mukamu. Kocak banget.”
“Nggak lucu!” Aeris menggeram kesal. Ia mengambil bantal sofa dan melemparnya ke Athena. Perempuan itu malah semakin ngakak.
“Lucu. Kamu lucu banget. Badut di taman hiburan juga kalah.” Ledeknya. Membuat Aeris cemberut dengan kesal.
Gadis itu bahkan menghentakkan kakinya saat pergi meninggalkan Athena. Ia membanting pintu kamar keras.
Athena mengusap ujung matanya yang berair, sebab kebanyakan tertawa. Ia bangun kembali dan menyandarkan punggung di sofa. “Aku menginap.” Teriaknya pada Aeris.
“Terserah! Mati saja!”
Sahutan itu bikin Athena kembali ngakak.
***
“... Hm. Aku sudah mendarat dengan selamat. Sekarang lagi di jalan menuju apartemen.”
“Langsung istirahat. Di sana pasti mulai dingin. Pakai jaket, selimut tebal, heater-nya dinyalain.” Gia mewanti-wanti dari seberang sana.
“Iya mamaku sayang. Aku udah gede, bukan bocah lagi lho. Aku tau apa yang perlu kulakukan.”
“Eros..” Gia terdengar menghela napas. “Kamu itu kayak Papamu—hobi kerja. Suka lupa diri. Ini saja untung masih ada Mama, kalau enggak, coba siapa yang mau ingetin?”
“Mama kok ngomongnya gitu, sih? Mama bakal terus nemenin Eros. Eros bakal ngerecokin Mama terus. Nggak boleh kemana-mana pokoknya, janji ya?”
Gia malah tertawa. “Malah ngawur gini ngomongnya. Ya sudah, cepet pulang dan istirahat. Salam buat princess-nya Mama.”
“Kalau buat Prince-nya Mama?” Eros balas menggoda.
“Prince-nya Mama di sini nih, di samping Mama.” Balas Gia tak kalah menggoda. Lalu terdengar suara dehaman Ares. Membuat Eros mendengus.
“Itu dugong jangan kasih masuk kamar, Ma. Suka nggak tau diri. Suka ngabisin tempat.” Sinis Eros. Lantas dibalas sahutan “betul!” keras sekali oleh Apollo, yang tampaknya jengkel momen cuddle-nya dirusuhi Ares.
Detik selanjutnya bukannya suara Gia, yang terdengar justru perdebatan kecil antara Apollo dan Ares. Tampaknya mereka sedang merebutkan Gia. Eros geleng-geleng mendengarnya.
“Pukul aja pantatnya, Pa.” Eros mengompori. Kemudian terdengar suara berisik seperti ponsel yang saling diperebutkan. Hingga akhirnya suara Gia yang kembali muncul.
“Belum sampai apartemen?”
“Udah, nih. Barusan banget mobilnya berhenti.” Balas Eros. Mengumpulkan barangnya dan membawanya keluar dari mobil. “Aku tutup, ya, Ma? Mau langsung istirahat. Love you.”
“Love you more, Sayang.”
Dengan begitu panggilan itu ditutup. Eros menggeret kopernya dengan hati-hati masuk ke apartemen. Tempat itu begitu gelap, tentu saja, adiknya pasti sudah tidur. Dengan malas, Eros menggeletakkan barang-barangnya begitu saja di lantai. Lantas masuk ke kamar.
Dalam lima menit, dia sudah selesai membersihkan diri dan berdiri di dekat ranjang dengan hanya sepotong bokser. Di luar memang dingin, tapi kebiasaan tetap kebiasaan—tidur dengan hanya pakai bokser tanpa baju itu nyaman sekali.
Begitu dia berhasil nempel di kasur, kantuk otomatis menggelayutinya. Efek perjalanan jauh dan lagi ini sudah jam dua dini hari. Capek dan kantuk benar-benar kombo yang mantap.
“Nghh.. guling gue hangat banget.” Desahnya puas. Ia memeluk gulingnya begitu erat. Kakinya dilempar ke atas guling. Melilitnya erat tak mau lepas. Posisi itu benar-benar seperti memerangkap guling itu.
Eros jatuh semakin lelap dalam tidurnya. Sementara guling itu—atau yang ia kira guling—mengeluarkan suara napas kecil terhimpit. Tanpa dia tau, itu memang bukan guling, melainkan Athena.
Athena mengerutkan kening dalam tidur. Otomatis terganggu dan mulai sesak napas.
Kenapa dadaku kayak ditekan?
Kenapa selimutnya berat?
Kenapa bau cologne laki-laki?
Athena menggeliat pelan, mencoba membalik badan. Namun usaha itu gagal total.
Sesuatu—seseorang—membelit pinggangnya dari belakang. Lengan besar dan berat melingkar sangat erat. Kakinya disangkutkan ke paha Athena. Selimut menindih tubuh mereka berdua. Nyaris tidak ada ruang gerak.
Athena menggigit bibir dalam tidur, kesal tanpa sadar.
“Ugh, Ris… jangan meluk kayak koala…” gumamnya setengah sadar. Tentu saja itu bukan Aeris.
Sementara Eros masih dalam dunia mimpi, mengeratkan pelukannya. Dan itu membuat napas Athena semakin tercekat.
“Ugh—apa ini…?” Athena membuka mata perlahan, pandangannya buram. Yang dilihatnya hanya kegelapan kamar. Dia berusaha duduk, tapi lengan di pinggangnya mengunci kuat seperti sabuk pengaman kelas dunia.
Refleks, Athena menoleh. Betapa terkejutnya begitu tau siapa pemilik lengan besar itu. Eros Moretti.
Sekonyong-konyong Athena berteriak. “A—A—AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
***