Redd kini berada di depan sebuah pohon yang masih memiliki dedaunan kering menunggu giliran untuk akhirnya jatuh. Redd memandanginya untuk sesaat.
“Seperti halnya kehidupan yang hanya bergantung pada satu orang. Ketika kehidupan inangnya terancam, ia yang akan lebih dulu tersingkir sedangkan inangnya masih dapat bertahan.” Redd bergumam.
Setelahnya, Redd malah duduk di atas rerumputan sambil memandangi pohon di depannya. Ia meraba-raba rerumputan di sampingnya, mengambil sebuah ranting pohon yang tergeletak. Redd terlihat mengalirkan energi sihirnya kepada ranting itu.
“Hmm, mungkin aku harus menelusuri hal ini. Ketika tidak mengambil atau memberikan waktu melainkan hanya mengalirkan sihirku saja, tidak ada yang terjadi dengan benda itu.” Redd berbicara pelan seakan sedang berbisik.
En