Siang itu, udara di dalam kafe "Sudut Pandang" terasa lebih sejuk dibandingkan aspal di luar yang rasanya bisa dipakai buat goreng telur mata sapi. Bobi sedang sibuk bereksperimen dengan mesin espresso yang suaranya mirip mesin traktor mau mogok.
"Mas Rian, ini mesin kayaknya butuh dipijat urut deh. Bunyinya *ngik-ngok-ngik-ngok* begini," keluh Bobi sambil menepuk-nepuk pinggiran mesin.
Rian yang sedang asyik membaca komik lama di kursinya hanya melirik sekilas. "Itu tandanya dia lagi nyanyi, Bob. Dia bosan lihat muka kamu yang datar kayak papan cucian itu. Coba kamu kasih senyum sedikit, siapa tahu dia lancar lagi."
"Dih, si Mas. Senyum saya ini sudah paling manis se-kecamatan, Mas. Tadi aja ada ibu-ibu lewat sampai nengok dua kali," balas Bobi bangga.
"Iya, nengok karena takut dompetnya kecopetan lihat muka kamu yang mencurigakan itu," sahut Rian santai, membuat Bobi manyun sepanjang lima sentimeter.
Kondisi kafe sedang agak sepi, hanya ada sepasang mahasiswa yang lagi sibuk nugas tapi lebih banyak main gim di laptop, dan seorang bapak-bapak yang tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka. Rian menikmati momen ini. Baginya, kafe bukan cuma tempat jualan kafein, tapi panggung teater gratis tempat orang-orang memainkan peran hidupnya masing-masing.
Tiba-tiba, denting pintu terdengar. *Kling!*
Seorang wanita melangkah masuk. Dia mengenakan gamis berwarna pastel yang sangat elegan dan hijab senada yang melingkar rapi di wajahnya yang putih bersih. Di bahunya tersampir tas tangan bermerek yang harganya mungkin bisa buat beli stok kopi setahun. Namun, ada yang aneh dengan caranya masuk.
Rian segera menutup komiknya. Antena "Ilmu Titen"-nya langsung berdiri tegak.
"Bob, siapkan teh chamomile hangat. Kasih madu sedikit, jangan pakai es," bisik Rian tanpa mengalihkan pandangan.
"Lho, kok teh? Bukannya biasanya orang kaya begini pesannya *caramel macchiato* yang susunya diganti almond?" tanya Bobi heran.
"Lihat tangannya, Bob. Dia meremas ujung hijabnya terus. Itu tanda orang yang lagi butuh ketenangan, bukan tambahan kafein yang bikin jantung makin berdebar. Dan lihat kakinya, dia nggak langsung cari meja yang paling nyaman, tapi cari meja yang dekat jendela yang menghadap ke jalanan. Dia lagi nunggu sesuatu, atau... lagi nyari sesuatu."
Wanita itu duduk di meja nomor 4. Meja kecil di sudut yang menghadap langsung ke arah taman bermain di seberang jalan. Dia menaruh tasnya di kursi sebelah, seolah-olah kursi itu ada penghuninya.
Rian bangkit, merapikan kemeja flanelnya yang agak kusut, lalu berjalan mendekat. Dia tidak langsung menyapa, melainkan pura-pura merapikan letak asbak (yang sebenarnya sudah rapi) di meja sebelah.
"Permisi, Mbak. Maaf mengganggu, cuma mau bilang kalau kursi di sebelah Mbak itu kaki-kakinya agak goyang. Kalau mau taruh tas, lebih aman di atas meja atau pakai gantungan di bawah sini," ujar Rian dengan nada sangat sopan.
Wanita itu tersentak, seperti baru saja dibangunkan dari lamunan yang dalam. "Oh... iya? Terima kasih infonya, Mas."
Suaranya lembut, tapi bergetar. Matanya yang indah terlihat sembab, meski dia berusaha menutupinya dengan kacamata hitam yang kini diletakkan di atas meja.
"Sama-sama. Oh ya, kebetulan saya punya 'feeling' kalau hari ini Mbak lagi nggak pengen kopi. Jadi saya minta barista saya buatkan teh penenang. Anggap saja ini *compliment* dari kafe karena Mbak sudah mempercantik sudut ruangan ini dengan kehadiran Mbak," Rian melemparkan gombalan tipis yang masih dalam batas wajar.
Wanita itu tersenyum tipis. Sangat tipis, sampai-sampai Rian harus memastikan dia tidak salah lihat. "Nama saya Sarah. Dan Mas benar, saya memang lagi nggak bisa minum kopi. Perut saya lagi nggak enak."
"Masalah perut biasanya berawal dari masalah pikiran, Mbak Sarah," ujar Rian sambil menarik kursi di hadapan Sarah (setelah Sarah mengangguk mengizinkan). "Pikiran yang penuh itu bikin asam lambung naik. Kayak gelas yang kepenuhan air, kalau nggak dituang sebagian, pasti tumpah ke mana-mana."
Sarah terdiam. Dia melihat ke arah taman bermain di seberang jalan. Di sana ada beberapa anak kecil yang sedang lari-larian sambil tertawa lepas. Tatapan Sarah mendadak kosong.
"Anak-anak itu hebat ya, Mas. Masalah terbesar mereka cuma soal mainan yang direbut teman. Setelah itu, mereka bisa pelukan lagi," gumam Sarah.
"Dan orang dewasa adalah anak-anak yang lupa cara memaafkan," tambah Rian. "Atau orang dewasa adalah anak-anak yang dipaksa kehilangan mainan paling berharganya oleh orang dewasa lainnya."
Kalimat Rian seolah menghujam tepat ke jantung Sarah. Dia menoleh ke arah Rian dengan tatapan tak percaya. "Mas ini... dukun ya?"
Rian tertawa renyah. "Aduh, ini kedua kalinya saya dituduh dukun dalam dua hari. Saya cuma pengamat, Mbak. Saya lihat Mbak naruh tas di kursi sebelah dengan sangat hati-hati, seolah-olah kursi itu ada orangnya. Dan mata Mbak nggak pernah lepas dari anak kecil berbaju merah di seberang sana yang lagi digandeng ayahnya. Ada sesuatu yang hilang dari kursi sebelah Mbak, kan?"
Air mata Sarah akhirnya jatuh juga, meski dia segera menghapusnya dengan tisu dari dalam tasnya. "Mas terlalu pintar membaca orang. Namanya Yusuf. Umurnya baru empat tahun."
"Putra Mbak Sarah?" tanya Rian lembut.
Sarah mengangguk. "Seharusnya dia ada di sini sama saya. Makan kentang goreng sambil belepotan saus. Tapi mantan suami saya... dia bawa Yusuf pergi sebulan lalu. Padahal hakim sudah bilang Yusuf ikut saya. Dia bawa paksa Yusuf saat saya lagi kerja, dan sekarang saya bahkan nggak tahu mereka ada di mana."
Rian mendengarkan dengan khusyuk. Tidak ada candaan kali ini. Dia tahu kapan harus melucu seperti Lupus, dan kapan harus menjadi pendengar setenang telaga.
"Dia punya segalanya, Mas. Uang, koneksi, pengacara hebat. Dia bilang saya nggak pantas urus anak karena saya terlalu sibuk dengan bisnis properti saya. Padahal semua yang saya kerjakan itu buat masa depan Yusuf," Sarah mulai bercerita dengan nada suara yang naik-turun karena emosi.
"Mbak Sarah tahu kenapa layang-layang bisa terbang tinggi?" tanya Rian tiba-tiba, mencoba mengalihkan sedikit ketegangan.
Sarah mengernyitkan dahi. "Karena angin?"
"Bukan. Karena ada benang yang menahannya. Tanpa benang yang ditarik ulur, layang-layang itu cuma bakal jatuh atau hilang terbawa angin tanpa arah. Anak itu layang-layangnya, dan Mbak Sarah adalah benangnya. Mantan suami Mbak mungkin bisa bawa layang-layangnya lari, tapi dia nggak akan pernah punya 'benang' batin yang Mbak punya."
"Tapi saya kangen, Mas. Setiap sore jam segini, biasanya saya sama Yusuf main di taman itu. Sekarang saya cuma bisa duduk di sini, lihat taman itu dari jauh, berharap tiba-tiba dia muncul dari balik perosotan."
Rian menarik napas panjang. "Mbak Sarah, hukum manusia mungkin bisa dibeli atau dicurangi. Tapi hukum Allah SWT itu adil. Sesuatu yang diambil dengan paksa, nggak akan pernah membawa ketenangan bagi yang mengambilnya. Sekarang, yang perlu Mbak lakukan bukan cuma menangis di sini, tapi siapkan 'rumah' yang paling nyaman buat Yusuf saat dia kembali nanti. Jangan biarkan dia kembali dan melihat ibunya sudah layu kayak kerupuk kena air."
Sarah tertegun. Dia melihat wajah Rian yang tampak santai tapi matanya memancarkan keyakinan. "Mas benar. Saya nggak boleh menyerah."
"Nah, itu baru semangat CEO properti! Eh, Mbak pengusaha properti kan?"
Sarah tertawa kecil. "Kok tahu lagi?"
"Lihat jam tangan Mbak. Itu jam edisi terbatas yang biasanya dipakai orang-orang di industri tanah dan bangunan buat pamer status tanpa harus bicara. Dan cara Mbak menaruh tas, Mbak sangat menghargai struktur. Orang properti biasanya suka sesuatu yang kokoh."
"Ya ampun, Mas Rian ini benar-benar 'berbahaya'. Saya jadi takut kalau saya punya rahasia lain, Mas pasti tahu."
"Tenang, rahasia Mbak Sarah aman di kafe ini. Sebagai gantinya, Mbak harus janji satu hal."
"Apa itu?"
"Habiskan teh chamomile itu, lalu pulang dan makan yang enak. Besok sore, datang lagi ke sini. Saya bakal siapkan meja yang sama, dan siapa tahu saya punya kabar bagus atau minimal cerita lucu buat bikin Mbak ketawa."
Sarah berdiri, merasa beban di bahunya sedikit terangkat. "Terima kasih, Mas Rian. Rasanya aneh, curhat sama orang asing di kafe, tapi saya merasa lebih baik daripada bicara sama pengacara saya yang isinya cuma soal pasal-pasal."
"Pengacara dibayar buat bicara, saya dibayar buat dengerin... eh maksudnya, saya hobi dengerin," canda Rian.
Setelah Sarah pergi dengan langkah yang lebih tegak, Bobi menghampiri Rian sambil membawa nampan kosong.
"Mas, tadi Mbak itu nangis ya? Mas Rian apain? Mas jangan main-main ya, itu kalau dilaporin pasal perbuatan tidak menyenangkan, kafe kita bisa tutup!" cerocos Bobi panik.
"Hush! Dia itu lagi mengeluarkan racun di hati, Bob. Kamu nggak lihat tadi pas keluar mukanya jadi bercahaya gitu?"
"Bercahaya karena lampu jalan baru nyala kali, Mas."
Rian menyentil dahi Bobi pelan. "Kamu itu nggak ada romantis-romantisnya pisan. Sana cuci gelas, jangan sampai ada noda lipstik yang ketinggalan. Oh ya, besok beli stok teh chamomile yang banyak ya."
"Siap Bos! Eh, Mas, tadi Mas bilang ke Mbak itu mau kasih 'kabar bagus' besok. Emang Mas bisa nemuin anaknya yang hilang?"
Rian tersenyum misterius sambil kembali membuka komiknya. "Saya memang bukan detektif, Bob. Tapi saya punya banyak teman yang hobi nongkrong di jalanan. Dunia ini sempit, apalagi kalau kita tahu sudut mana yang harus dilihat."
Bobi cuma geleng-geleng kepala. Dia tahu kalau bosnya sudah mulai 'beraksi', biasanya akan ada kejadian seru yang menyusul.
Malam mulai turun menyelimuti Jakarta. Rian menutup kafenya dengan perasaan puas. Satu lagi jiwa yang terluka berhasil dia beri "P3K" mental. Namun di balik senyumnya, Rian juga mulai berpikir. Ternyata, orang-orang cantik yang datang ke kafenya punya beban hidup yang nggak main-main.
"Arini si CEO stres, Sarah si ibu yang kehilangan anaknya... siapa lagi ya yang bakal datang besok? Jangan-jangan bidadari jatuh dari langit gara-gara sayapnya nyangkut di kabel PLN," gumam Rian sambil mengunci pintu depan.
Dia tidak tahu, bahwa di salah satu sudut kota, seorang mahasiswi sedang sibuk mengganti nomor teleponnya untuk yang kesepuluh kalinya bulan ini karena diteror oleh pengagum rahasia yang sudah berubah jadi penguntit. Dan besok, langkah kaki mahasiswi itu akan membawanya menuju satu tempat: Kafe Sudut Pandang.