“Ya, cut! Itu bagus sekali. Kalian luar biasa!”
Teriakan sutradara serta tepukan tangan seluruh staf dan kru film mengakhiri adegan terakhir yang harus mereka rekam. Bukan hanya adegan terakhir pengambilan gambar hari ini, tapi juga adegan terakhir sekaligus penutup keseluruhan syuting film terbaru yang mereka produksi.
“Aktingmu benar-benar sempurna seperti biasanya, Crystal.” Sutradara Iggy menghampiri Crystal dan mengangkat sebelah telapak tangannya yang terbuka, bermaksud untuk melakukan high five bersama aktris kesayangannya itu.
“Maaf,” ucap Crystal lirih. Gadis itu tidak menyambut tangan sang sutradara, ia bahkan tidak menatap sutradara bertubuh tambun itu dan justru langsung pergi meninggalkan pria itu begitu saja.
“Crystal, apa yang kau …?” Alycia, manager Crystal, tak kalah terkejutnya dengan sang sutradara. Ia tahu bahwa Crystal adalah tipe gadis yang perasaannya mudah berubah dan sulit ditebak. Namun, ini pertama kalinya Crystal bertingkah tidak sopan seperti itu kepada Sutradara Iggy, sutradara film favoritnya. “Maaf, sutradara. Crystal pasti terburu-buru ingin ke toilet. Aku yakin dia tidak bermaksud mengabaikanmu.”
Alycia menunduk dalam-dalam. Ia meminta maaf seolah kesalahan Crystal adalah kesalahan yang diperbuatnya sendiri.
“Hey, tidak perlu sampai seperti itu. Aku mengerti, kok. Pasti Crystal terburu-buru karena ingin buang air kecil.” Sutradara Iggy tertawa karena leluconnya, ia juga menepuk-nepuk pundak Alycia, mengisyaratkan bahwa gadis itu tidak perlu merasa begitu bersalah karena sikap Crystal terhadapnya.
“Kau manager yang baik, ya,” puji Sutradara Iggy pada Alycia.
“Kurasa Crystal lelah. Mood-nya jadi tidak stabil.” Kali ini suara seorang pria terdengar ikut bergabung dalam percakapan mereka.
Alycia dan Sutradara Iggy kompak menoleh ke arah si pemilik suara. Pria itu adalah Rayner Davis. Aktor yang baru saja beradu peran dengan Crystal White beberapa saat lalu. Mereka baru saja menyelesaikan adegan mesra dengan sebuah ciuman di bibir yang cukup intens sebagai pasangan kekasih.
“Oh, Rayner. Kau juga sudah melakukan yang terbaik.” Sutradara Iggy juga memberikan pujian untuk pria itu. Namun, raut wajahnya tidak seperti saat ia mengucapkan pujian itu pada Crystal. Kali ini, seperti ada keterpaksaan dalam nada suara maupun ekspresi wajah yang ditunjukkannya.
“Oh, terima kasih, Sutradara. Itu biasa saja, kok.” Rayner menyisir rambutnya ke belakang dengan jari. Jelas sekali pria itu merasa sangat bangga telah menerima pujian dari sang sutradara. Namun, ia berpura-pura rendah hati.
“Alycia, sebaiknya kau susul Crystal. Dia mungkin butuh bantuanmu,” saran Sutradara Iggy layaknya seorang ayah yang mengkhawatirkan kondisi putrinya.
“Ah, Anda benar. Baiklah kalau begitu aku permisi. Sampai jumpa sutradara dan kau juga, Rayner.” Alycia berpamitan dengan sopan. Hal seperti ini sudah sering dilakukannya untuk membangun hubungan baik dengan semua rekan kerja aktrisnya.
“Baik, sampai jumpa, Alycia. Untuk sekarang sebaiknya kau bawa Crystal pulang dan beristirahat. Untuk pesta penutupan syuting film, aku akan mengabari kalian nanti,” pesan sang sutradara dan Alycia mengangguk sebagai jawaban.
“Jangan khawatir, aku juga akan memberitahu Crystal, kekasih cantikku itu nanti.” Rayner berbicara dengan gaya yang menyebalkan. “Aku mungkin akan sangat sibuk. Tapi, jika sayangku itu perlu jemputan, kau bisa menghubungiku, Alycia.” Rayner mengedipkan sebelah matanya.
***
Menjijikan! Benar-benar menjijikan.
Crystal menggosok bibirnya dengan tisu. Gerakannya sangat kasar dan hal itu bisa saja membuat bibir cantiknya terluka. Lipstik tebal yang digunakannya jadi berantakan. Warna merah menyala lipstik itu kini sudah berpindah ke lembaran tisu yang baru digunakannya.
“Crystal! Apa yang kau lakukan? Kau bisa melukai bibirmu.” Alycia yang baru saja masuk ke toilet dan mendapati Crystal yang sedang menggosok bibirnya keras-keras itu dengan cepat menggenggam tangan Crystal. Ia juga merampas tisu yang sudah berubah kemerahan itu dari tangan Crystal, lalu membuangnya ke tong sampah. “Kau itu kenapa? Kau tidak suka riasan wajahmu? Kalau begitu hapus dengan benar.”
Crystal tidak menjawab. Gadis itu berusaha melepaskan cengkeraman Alycia dari pergelangan tangannya. Setelah tangannya berhasil lolos, Crystal langsung menyalakan keran di hadapannya, lalu membasuh bibirnya yang masih menyisakan bekas lipstik dengan air yang mengalir.
“Ini menjijikan, Alycia! Menjijikan!” ucap Crystal dengan nada tinggi yang membuat suaranya bergema di toilet kosong itu. “Aku benar-benar muak dengan semuanya, terutama dengan pria menyebalkan itu!”
Alycia tersentak mendengar kata-kata Crystal yang penuh emosi. Namun, Alycia segera bertindak cepat dengan mengunci pintu toilet agar tidak ada seorang pun yang masuk secara tiba-tiba ke tempat itu.
“Sstt, kendalikan dirimu. Crystal, aku mengerti perasaanmu.” Alycia mencoba menenangkan Crystal sekuat tenaga. “Jangan sampai ada orang lain yang mendengarkan keluh kesahmu ini. Kita terikat kontrak. Ingat?” bisik Alycia.
“Apa? Kau mengerti perasaanku? Bagaimana kau bisa mengerti kalau kau saja tidak pernah menjadi aktris sepertiku?”
Setelah melontarkan kata-kata tajam itu, Crystal seolah tersadar dan cepat-cepat menutup mulutnya dengan kedua tangan. Baik Crystal maupun Alycia sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
“A-Alycia, maaf, a-aku ….” Crystal meraih tangan Alycia. Emosinya sudah hilang dan kini gadis itu terlihat sangat menyesali apa yang baru saja dikatakannya. Ia khawatir kata-katanya itu akan membuat hati Alycia terluka.
“Hey, tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena yah … aku memang sepertinya tidak sungguh mengerti perasaanmu.” Alycia tersenyum dan mengangkat bahunya. Gadis itu terlihat sama sekali tidak merasa tersinggung dengan kata-kata Crystal. Namun, tetap saja Crystal merasa tidak enak hati pada Alycia.
“Tidak, Alycia. Oh, aku benar-benar minta maaf.” Crystal memajukan tubuhnya selangkah, lalu memeluk Alycia dengan erat. Gadis itu sungguh menyesal hingga air mata menetes di pipinya.
“Kau menangis? Aduh, jangan seperti ini. Ah, bagaimana kalau kita membeli cokelat kesukaanmu dalam perjalanan pulang? Aku tahu suasana hatimu sedang tidak baik hari ini.” Alycia mengusap punggung Crystal dengan lembut layaknya seorang kakak perempuan yang berusaha menghibur adik tersayangnya.
Crystal punya alasan kenapa ia begitu menyesali kata-kata yang meluncur dari bibirnya beberapa saat lalu. Meskipun Alycia berkata tidak apa-apa, tapi Crystal tahu hati Alycia pasti terluka.
Alycia, sesungguhnya bukan hanya sekedar manager bagi Crystal. Hubungan mereka jauh lebih istimewa dibandingkan hubungan seorang manager dengan aktrisnya. Sejak kecil, mereka sudah sangat dekat karena cita-cita mereka yang sama-sama ingin terjun ke dunia hiburan.
Berbeda dengan Crystal yang tertarik dengan dunia akting karena pengaruh besar dari mendiang ibundanya, Alycia bermimpi untuk menjadi seorang penyanyi. Namun, tentu saja persaingan di dunia hiburan sangat ketat. Tidak seberuntung Crystal, Alycia tidak bisa mewujudkan mimpinya dengan mudah. Gadis itu pun memilih mengubur mimpinya dalam-dalam, tapi ia tetap ingin bekerja dekat dengan dunia hiburan.
Karena alasan itulah, Alycia memilih untuk menjadi manager Crystal, sepupunya. Meskipun awalnya tanpa pengalaman, tapi karena Alycia senang mempelajari hal baru, ia tidak terlalu mengalami kesulitan. Ditambah lagi, Crystal cukup mudah diatur, apalagi jika itu adalah saran darinya.
“Alycia, apa benar aku tidak perlu menemui mereka?” Pertanyaan Crystal memecah keheningan mereka. Alycia melepaskan pelukannya, mengusap air mata Crystal dengan ibu jarinya, lalu mengeluarkan peralatan make up dari dalam tas jinjing yang dibawanya.
“Yah, tidak perlu, sih. Tapi kurasa kau harus perbaiki riasanmu itu sebelum pergi.” Alycia menyerahkan perangkat make up itu pada Crystal. “Kau tidak mau media mengambil gambar wajahmu yang kacau ini, kan?” Alycia terkekeh.
“Oh, ya ampun kau benar.” Crystal mengamati wajahnya yang terpantul di cermin toilet. “Aku tidak boleh terlihat seperti ini. Ayo kita perbaiki dan lekas pulang. Oh, tapi … bagaimana dengan Rayner? Apa dia masih bersama para kru film dan sutradara? Rasanya saat ini aku tidak ingin melihat wajahnya,” Crystal berkata ketus. Kata-kata Crystal jelas menunjukkan bahwa gadis itu tidak menyukai Rayner yang berstatus sebagai kekasihnya saat ini.
***
[bersambung]