“Kok mendadak sih?” celetuk Nayla. Ia melemaskan tubuhnya dan terjatuh di atas meja belajarnya.
“Gue juga nggak tau, mereka langsung berkata lusa tanpa memberikan keringanan berupa alasan apapun.”
“Ya pasti karena rencananya sudah matang, maksudku acaranya. Lagian nanti kita ngapain di sana?” tanya Nayla kepada Angkasa yang duduk di depan mejanya.
“Ntahlah, gue juga nggak tau apa tujuan kita nanti di sana.” Angkasa sedikit memasang senyum remehnya, sistem sekolah yang terlalu aneh pikirnya. Seperti mereka disuruh untuk sempurna tanpa harus mempersiapkan apapun, seakan mereka harus dapat membaca masa depan.
“Jadi kenapa gue disuruh ikut? Bukannya pertemuan perwakilan sekolah bergengsi di dunia hanya mengundang perwakilan sekolah satu saja?” tanya Nayla penasaran, ia juga mer