“Kenapa kita tidak pulang ke rumah saja?” tanyaku pada Zak yang sedang mengemudi menuju hotel.
“Orang-orang seperti mereka pasti-”
“Aku sedang ingin tidur di hotel. Ini sudah kurencanakan dari tadi pagi,” potong Kevin cepat. Aku tahu Kevin sedang menutupi sesuatu dariku.
Zak kembali diam, memfokuskan dirinya mengemudi dengan laju pelan.
Hatiku meringis kesakitan mengingat kejadian satu jam yang lalu. Kevin hampir saja ditusuk, beruntungnya Zak bersama beberapa orang datang melumpuhkan mereka. Sedetik saja Zak terlambat datang, aku tidak bisa membayangkan kejadian buruk apa lagi yang akan menimpa.
Aku sudah berkali-kali bertanya siapa mereka pada Kevin mau pun Zak namun keduanya tidak ada yang menjawab. Mereka lebih memilih bungkam atau terkadang berusaha mengalihkan pembicaraan dari pertanyaanku.
“Kau baik-baik saja?” tanya Kevin sejam setelah berada di hotel.
Aku menutup kotak P3K-ku setelah selesai mengobati wajahnya yang memar. Pertanyaannya membuatku semakin kesal. “Aku yang seharusnya bertanya seperti itu!”
“Wajahmu pucat,” sanggahnya. Ia menarik tubuhku untuk duduk di atas pangkuannya.
Aku sebisa mungkin menelan tangisku agar tidak keluar. Jujur saja aku masih merasakan takut perihal tadi, apalagi saat aku melihat wajah Kevin yang memar.
“Tentu Kevin. Tentu wajahku pucat. Kau hampir tertusuk beberapa jam yang lalu. Dan sekarang kau bertingkah seolah-olah tidak ada sesuatu yang buruk menimpa kita!” pekikku hampir mengeluarkan buliran bening dari mataku.
“Lupakan itu. Kau tidak boleh stress.” Tangan Kevin bergerak mengelus perutku, “dia akan sakit kalau mommynya terlalu banyak pikiran.”
Aku memejamkan mataku sejenak, mencari sedikit ketenangan di hatiku. Lalu kulingkarkan tanganku ke lehernya. Aku tahu Kevin tidak suka aku membahas soal kejadian tadi. Aku pun sebisa mungkin untuk melupakan itu. Jika Kevin tidak ingin memberi tahuku, akan kucari tahu sendiri tentang siapa mereka.
Tanganku menggeser tangan Kevin sedikit ke kanan pada perutku. “Kau bisa merasakannya?” aku tersenyum kecil.
“Dia bergerak?” Senyum Kevin mengembang. “Sejak kapan Sophia bergerak?”
“Sejak tahu daddynya hampir tertusuk,” jawabku singkat namun pelan. “Dia juga bisa merasakan bahwa daddynya sedang dalam bahaya.”
“Sepertinya adik Harry akan menjadi sekutuku untuk membelaku dari kalian,” kata Kevin, terkekeh.
Aku hanya tersenyum, menampakkan senyum palsuku. Jauh dalam lubuk hatiku, aku sangat khawatir pada Kevin. Aku merasa bahwa mimpi burukku itu adalah pertanda buruk di kehidupan nyataku.
Kevin asik meraba perutku saat bayi dalam kandunganku menendang ria. Mungkin si kecil senang daddynya menyapanya. Kevin juga terlihat senang sekali mendapat reaksi bayi yang ia nantikan meresponnya. Raut wajah Kevin meskipun memar terlihat seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru.
Harry mengucek-ngucek matanya dengan tangan mungilnya. Ia menatap Kevin setengah bingung dan tidak percaya.
“Daddy, kenapa wajah daddy jadi jelek?” tanyanya dengan mulut yang terbuka.
Aku mengulum senyum mendengar pertanyaan polos dari mulut Harry. Belum 5 menit Harry terbangun, ia sudah membuat kelucuan di antara kami.
“Semalam daddy terjatuh makanya seperti ini,” jawab Kevin menunjukan daerah wajah memarnya dengan jari telunjuknya.
Harry menyipitkan matanya lalu menyengir lebar. “Daddy sering-sering saja jatuh. Biar daddy jadi jelek terus dan Harry akan jadi yang paling tampan supaya mommy lebih sering mencium Harry dari pada daddy,” katanya kemudian menjulurkan lidahnya pada Kevin.
“Jadi anak daddy ingin saingan untuk mendapatkan perhatian mommy, hum?” goda Kevin, mencolek dagu Harry. “Percayalah, mommymu lebih menyukai daddy.”
Bibir Harry maju ke depan, merengut. Ia melipat kedua tangannya menentang Kevin lalu Harry menyeret tubuhnya menggeser padaku. Tangan mungilnya memeluk leherku cukup posesif. Aku balik memeluk Harry sembari tiduran, memberinya kecupan-kecupan kecil di wajahnya.
“Daddy nakal mommy,” adunya. Suaranya memelas.
“Daddy memang menyebalkan. Biarkan saja daddy mau bicara apa, yang penting mommy sangat menyayangi jagoan mommy satu ini,” belaku. Aku menepuk-nepuk punggung Harry yang memunggungi Kevin.
Kevin menggeser tubuhnya. Ia ikut memelukku. Bertingkah layaknya Harry yang sedang ingin dimanja olehku.
“Daddy sana daddy!” pekik Harry, menendang-nendang Kevin dari belakang.
“Harry. Jangan seperti itu. Daddy sedang tidak enak badan,” tegurku.
Harry langsung diam tidak bergerak sedikit pun.
“Lihat, jagoanku langsung menurut jika mommynya yang menegurnya,” sindir Kevin. “Jika aku yang menegurnya, dia akan mengomeliku,” lanjutnya, tertawa kecil.
Aku tidak menghiraukan Kevin. Pikaranku berkelana. Rasa khawatirku tidak kunjung hilang. Meskipun Kevin terus berusaha untuk menghiburku tetap saja aku tidak bisa melupakan kejadian semalam, kecuali kalau kepalaku terbentur keras dan amnesia, baru aku bisa melupakannya. Aku jadi merasa tembakan brutal di mall beberapa hari lalu dengan kejadian semalam itu ada hubungannya.
Lamunanku terbuyar saat aku mendengar dering ponsel yang bukan milikku. Itu milik Kevin. Kevin segera bangkit dari tidurnya dan menerima panggilan telepon itu dengan sedikit menjauh dariku. Lagi, Kevin menyembunyikan sesuatu dariku. Terlihat dari cara Kevin menerima telepon berbisik-bisik.
“Luna aku harus pergi, ada yang harus kuselesaikan pagi ini juga.”
Aku hanya diam menatapnya. Entah kenapa reaksiku tiba-tiba seperti ini. Aku merasa tidak enak.
“Oh ya, Blake akan mengantarmu dan Harry ke sekolah hari ini. Jadi bersiap-siaplah,” paparnya lagi. Kevin mencium keningku dan Harry bergantian lalu ia pergi.
Aku cukup dibingungkan dengan sikap Kevin. Biasanya jika ada kejadian buruk, Kevin akan selalu melarangku mati-matian untuk pergi keluar sekali pun hanya untuk mengantar Harry. Tapi kali ini Kevin tidak bisa kutebak. Dia berlagak seperti tidak terjadi apa pun.
Aku mengambil ponselku dan mengirim pesan singkat pada Kevin. Kediamanku saat dia pergi sedikit membuatku merasa bersalah.
07.30 am
Setelah mengantar Harry, aku ingin berkunjung ke Kanya. Hanya sebentar.
Hati-hati di jalan.
15 menit aku menatap layar ponselku. Tidak ada balasan dari Kevin. Biasanya sesibuk apa pun Kevin dia pasti akan sempat membalas pesanku dalam waktu singkat.
******
Kevin duduk di kursinya, memutar-mutar kursinya. Ia sedang menunggu kedatangan Zak dan beberapa orang suruhannya. Tidak perlu menunggu waktu lama, mereka datang dengan wajah tanpa ekspresi. Kevin memang lebih suka mempekerjakan orang yang mempunyai ekspresi datar dan terlihat sedikit kejam.
“Kau membiarkan Luna pergi sendiri?”
Pandangan Kevin beralih pada Zak. Tentu Kevin tidak membiarkan Luna pergi sendiri. Kevin selalu menyuruh orang-orangnya mengikuti kemana pun Luna pergi. Sebenarnya Kevin tidak mengijinkan Luna untuk pergi sejengkal pun dari hotel, Kevin masih sangat khawatir mengenai kejadian semalam tapi Kevin terpaksa karena Kevin tidak ingin menambah kekhawatiran Luna. Kevin harus bersikap bahwa kejadian semalam hanya angin lalu saja agar Luna tidak terlalu stres.
“Luna akan semakin paranoid jika aku melarangnya,” jawab Kevin, menggidikan bahunya.
Zak tanpa membuang waktu memberi amplop cokelat berisi foto-foto yang Kevin perlukan. Kevin langsung membuka foto-foto itu. Ia sama sekali tidak terkejut mendapati isi dari foto-foto itu. Kevin sudah menduga semuanya. Itu semua akan menjadi cerita yang panjang.
“Bagaimana perkembangan istri Joe?” Kevin memasukan amplop cokelatnya ke dalam laci mejanya. Ia memijat pelipisnya yang terasa sakit semanjak semalam.
“Istrinya memang sudah meninggal.”
“Lalu kemana Joe?”
“Joe menerima ancaman dari Lucas tentang kakaknya dan dia langsung terbang ke Jakarta menemui kakaknya yang tak lain adalah ibu Luna.”
Darah Kevin mengalir deras. Kevin merasakan jantungnya memompa darahnya begitu cepat hingga merasakan panas yang tidak tertahan. Tidak lagi, gumam Kevin menahan emosinya yang mulai berkobar.
“Kirim orang-orang berpengalaman dan ahli untuk menjaga mereka,” titah Kevin.
Zak mengangguk dan ia bersama gerombolannya pergi meninggalkan ruangan Kevin.
Kevin menatap pintu besar miliknya dengan tatapan kosong. Ia jadi mengingat ucapan Adam saat Adam berkunjung ke rumahnya dengan sengaja.
#Flashback#
Kevin duduk berhadapan dengan Adam. Ia menatap Adam dengan kebencian. Terakhir kali Kevin bertemu Adam, Kevin mengeluarkan sisi gelapnya karena Adam mengucapkan tentang jodoh sementara.
Adam menyeruput teh yang Kevin yakin teh itu buatan Luna. Bahkan Luna membuatkan teh untuk Adam saja mampu membuat hati Kevin getir, ingin mencekik Adam hidup-hidup.
“Katakan apa maksud kedatanganmu,” sergah Kevin tidak ingin terlalu lama Adam berada di rumah di mana ada Luna.
“Tadinya aku ingin menanyakan kabar keluarga kalian, tapi sepertinya kau tidak menyukai kehadiranku jadi aku akan to the point saja.” Adam meletakan tehnya di meja sofa. Ia menegakan posisi duduknya.
Tentu saja Kevin tidak menyukai kehadirannya. Kehadirannya membuat hati Kevin getir apalagi saat Kevin melihat cara Luna memandangi Adam begitu pun sebaliknya. Masih ada hati tertinggal di antara mereka, terlihat jelas di mata mereka.
“Katakan,” kata Kevin dingin.
“Luna dalam bahaya. Ada seseorang yang menginginkan Luna lebih dariku,” ujar Adam serius.
Kevin sangat tercengang.
'…menginginkan Luna lebih dariku.'
Kevin mengulang ucapan itu di dalam hatinya. Ingin sekali Kevin menghajar Adam detik itu juga. Berani-beraninya dia berkata terlalu jujur bahwa ia juga menginginkan Luna. Kevin mengepalkan tangannya, berusaha sekeras mungkin menahan emosinya.
“Seseorang?”
“Bosku. Aku tidak tahu bagaimana bosku mengenal Luna tapi dia sangat terobsesi dengan istrimu…”
Kevin diam, mendengar paparan Adam dengan serius.
“Aku sudah mengenal bosku sejak lama hampir empat tahun. Tiga tahun pertama dia tidak terlalu peduli denganku tapi setahun ini dia peduli padaku. Dia memindahkan lokasi kerjaku dan menaikan jabatanku di posisi cukup tinggi-”
“Lalu apa hubungannya?” potong Kevin cepat.
“Biarkan aku menjelaskannya sampai selesai,” sanggahnya dan kembali bicara, “aku dipindahkan ke Seattle. Hal itu tentu membuatku senang karena setahuku Luna tinggal di Seattle juga. Singkat cerita setelah aku mengetahui Luna sudah menikah denganmu, bosku datang dan entah kenapa ia begitu peduli dengan urusan pribadiku. Dia tahu kisahku dengan Luna dan ia mendukung hubungan kami. Bosku malah menyuruhku membawa kabur Luna dan dia berjanji akan menyembunyikan kami darimu…”
Api dalam diri Kevin semakin berkobar ria siap membakar seluruh isi rumah ini.
“Aku heran kenapa ia begitu peduli tentangku terutama menyangkut Luna. Tepat seminggu yang lalu, aku tidak sengaja masuk ke dalam kamarnya. Di dinding kamarnya sangat banyak terpampang foto Luna. Ternyata bosku sangat terobsesi pada Luna. Semua yang ia lakukan mulai dari memindahkanku ke Seattle ternyata bagian rencananya termasuk pertemuanku dengan Luna yang tidak disengaja di Bandara. Semuanya sudah direncanakan dari awal jauh-jauh hari. Saat itu aku belum menyadarinya...
“Bosku hanya memanfaatkanku dan menghasutku untuk membawa pergi Luna agar aku bisa hidup bahagia tapi ternyata dia mempunyai maksud lain. Aku yakin dia sudah mempersiapkan suatu rencana untuk mendapatkan Luna,” terang Adam.
Kevin hanya bisa diam. Dalam diamnya ia begitu terkejut dengan apa yang Adam ceritakan. Haruskah Kevin mempercayainya?
“Siapa dia?” tanya Kevin, mengatur nada suaranya sebiasa mungkin.
“Lucas. Lucas Duncan. Kupikir dia punya kekuasaan yang cukup kuat.”
“Lu-lucas Duncan?” Kevin tergagap-gagap. Di detik itu juga jiwa dalam raga Kevin seakan berpisah. Ia bisa membayangkan bagaimana pria yang bernama Lucas akan memberi kehancuran di hidupnya jika Kevin tidak mencegahnya.
“Kau mengenalnya?”
Kevin mengangguk. Ia merasakan wajahnya menjadi dingin. “Kenapa kau memberitahu ini?”
“Karena aku mencintai Luna. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.”
Entah emosi macam apa yang sedang Kevin alami. Seluruh emosinya menyatu ingin meledak. Kevin menarik napasnya dalam-dalam, berusaha memberi ketenangan dalam hatinya.
“Aku tahu kau bisa menjaganya dan akan melakukan apa pun demi Luna. Aku hanya tidak ingin Luna jatuh di tangan Lucas karena dia menurutku psikopat,” lanjut Adam. Ia mendesah frustrasi.
Bahkan Lucas lebih dari itu, pikir Kevin. Ternyata memang benar bahwa dari awal Lucas merencanakan sesuatu mulai dari menjebak Joe hingga penculikan Luna.
#Flashback End#
Kevin terus memijat pelipisnya yang terasa sakit. Tidak puas kah dulu dia dan ayahnya menghancurkan hidupnya? Apalagi yang dia inginkan? Kevin tidak pernah menganggunya sama sekali. Kevin tahu Lucas bukan hanya terobsesi pada Luna tapi ia juga terobsesi menghancurkan hidup Kevin.
Kevin beringsut berdiri dan mengambil kunci mobilnya. Ia bergegas menuju tempat tujuannya. Berharap bisa menyelesaikan masalahnya dengan bicara. Jika dengan bicara tidak bisa menyelesaikannya, Kevin akan benar-benar membunuh Lucas Duncan. Pria terbrengsek setelah ayahnya Abraham Duncan.
Kevin mengemudikan mobilnya dengan laju cepat. Ia berhenti agak jauh dari rumah yang amat megah melebihi istana kerajaan yang dijaga ketat oleh banyak bodyguard bersenjata api.
Kevin menunggu di dalam mobilnya. Menunggu orang-orang yang berada di sekitar rumah itu lengah. Sudah hampir satu jam Kevin menunggu waktu yang tepat, tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda baik untuk membiarkannya masuk atau menghajar orang-orang yang sedang berdiri menjaga rumah itu. Mereka semua terlalu bahaya. Mereka memegang s*****a api dan Kevin hanya bermodal dirinya. Tentu saja Kevin akan kalah jika ia hanya punya modal nekat.
“Argh!” Kevin menggebrak setir mobilnya dengan kencang sehingga menimbulkan bunyi dentuman dan juga membuat tangan Kevin berkedut perih.
Suara dering ponsel Kevin mengalihkan perhatiannya. Ia memicingkan matanya, untuk apa Linny meneleponnya? Bukankah Kevin melarang Linny meneleponnya? Kevin pun menggeser ke kiri pada layar ponselnya.
“Bisa kita bertemu nanti malam?” pinta Linny saat Kevin baru menempelkan ponselnya di telinganya.
“Ada apa? Aku sedang tidak membutuhkanmu Linny. Aku sibuk,” tolak Kevin.
“Dari nada bicaramu kau sedang tertimpa masalah. Datanglah malam ini ke hotel biasa. Aku memerlukanmu. Kau pasti akan lebih puas dari malam sebelumnya,”
“Jangan di hotel biasa. Istriku sedang berada di sana. Aku akan mengirim alamat hotel lain padamu.”
“Mengapa kau tidak membiarkan istrimu tahu tentang hubungan kita?”
Itu sama bunuh diri, apalagi jika ingatan Luna kembali dan mengetahui tentang Linny, pikir Kevin.
“Jangan mencampuri urusan yang bukan urusanmu,” jawab Kevin. Kevin tidak nyaman dengan ucapan Linny.
“Aku akan menutup mulut jika kau mau datang malam ini. Jadi datanglah,” ujar Linny yang suaranya dibuat seseksi mungkin.
Tiba-tiba saja Kevin merasa geli mendengar nada bicara Linny. Suaranya memang terdengar seksi tapi di telinga Kevin, ia sedikit merasa mual mendengarnya. “Kau seharusnya meminta uang untuk tutup mulut bukan memintaku datang,” ucap Kevin menggeleng kepalanya sambil tertawa pelan. Kevin sampai lupa apa tujuannya datang kemari.
“Uang prioritas keduaku dan saat ini kau prioritas pertamaku. Sampai jumpa tampan pemarah yang menyebalkan.”
Kevin hendak bicara lagi namun tidak jadi karena teleponnya sudah diputus duluan oleh Linny. Lagi, Kevin menggeleng. Telepon dari Linny sedikit menyadarkannya dan langsung melupakan tujuan awalnya kemari. Kevin tidak boleh ngegabah datang sendirian, kalau bisa Kevin yang akan membuat pemilik rumah itu datang padanya dengan tangan kosong.
Kevin pun memutuskan untuk kembali ke kantornya. Mungkin setelah bertemu Linny nanti malam, otak Kevin bisa berpikir lebih mudah tentang bagaimana menyelesaikan Lucas yang sangat b******k.
Baru beberapa menit Kevin mengemudikan mobilnya, dering ponsel Kevin kembali berbunyi. Kevin tahu siapa yang meneleponnya karena dering suara itu hanya khusus untuk satu orang yaitu Luna. Kevin hanya membiarkan ponselnya terus berbunyi, ia tidak berniat untuk mengangkat telepon dari Luna.