Maya mematikan keran dapur setengah jalan dan berdiri kaku di depan jendela, dengan tangan masih basah dan piring tergantung di jari.
"Mas Danu."
"Hm?" Danu sedang memasang rak kecil di dinding ruang makan dan tidak menoleh.
"Itu dia."
"Dia siapa?"
"Yang turun dari mobil hitam, Mas. Yang pegang pintu buat Ibunya." Maya menurunkan suaranya sampai nyaris berbisik, seakan laki-laki di halaman bisa mendengarnya lewat kaca. "Aku lihat dia di toko, pas dia nanya nomor Rani. Aku lihat dia di pantai tahun baru, lima meter dari aku, dan aku diam. Aku lihat dia di pelaminan, dan aku diam lagi. Tiga kali aku punya kesempatan, tiga kali aku diam."
Danu akhirnya turun dari kursi lipat dan ikut mengintip dari balik gorden. Di halaman, seorang laki-laki jangkung berkemeja abu-abu sedang membuka bagasi, mengeluarkan rantang bertumpuk tiga, sementara Kak Laila membantu Ibu Bagas turun dengan walker. Wajahnya tampan dengan cara yang tidak sibuk, dan seluruh gerak-geriknya hati-hati, seperti orang yang takut menumpahkan sesuatu.
"Ya sudah." Danu mengambil lap dari bahu Maya. "Sekarang kamu bisa bantu dia angkat rantang. Tiga kali diam, satu kali nyapa. Seimbang."
"Kamu tuh nggak ada romantis-romantisnya."
"Aku romantis kalau cuaca bagus."
*****
"Ibu bawa bubur ayam," ujar Ibu Bagas sambil menyusun mangkuk dan sendok di meja kecil dekat sofa. "Resep Ibu sendiri. Laila yang aduk, Ibu yang ngawasin. Makan, Nak."
"Saya bisa sendiri, Ibu."
"Ibu tahu kamu bisa sendiri." Ibu Bagas duduk di kursi sebelah sofa, mengambil mangkuk dan sendok, dan tidak menyerahkannya. "Tapi Ibu sudah tidak punya anak perempuan di rumah yang bisa Ibu suapi, jadi turuti Ibu sekali ini."
Rani membuka mulut. Bubur itu hangat dan gurih, ada bawang goreng dan irisan seledri, dan rasanya persis seperti masakan yang tidak diminta tetapi dibutuhkan. Matanya memanas. Ia menunduk, dan Ibu Bagas berpura-pura sibuk meniup sendok berikutnya.
Karena itu mereka berdua tidak melihat pintu depan yang terbuka sedikit.
Kak Laila yang pertama menyadari. Dari dapur ia membawa nampan teh dan berhenti di mulut ruangan, tatapannya menyilang ke arah pintu. Rani mengikuti arah itu. Di ambang, tertimpa cahaya putih dari halaman, berdiri ibu Rani dengan tas anyaman yang sama, wajahnya tanpa ekspresi.
Ia melihat Ibu Bagas menyendok bubur ke mulut anaknya. Ia melihat Rani menerima suapan itu. Ia melihat mangkuk, sendok, rantang bertumpuk. Bibirnya terbuka seakan hendak bicara, lalu menutup lagi.
"Bu..." Rani setengah berdiri.
Pintu sudah menutup. Bunyi sandal menuruni undakan teras, cepat dan tanpa ragu, menghilang di jalan.
Hening di ruang itu tebal. Ibu Bagas meletakkan sendok dengan tenang. "Kejar, Nak."
"Dia nggak mau dikejar, Ibu." Rani duduk kembali pelan-pelan. "Kalau dikejar, dia makin cepat."
"Kalau begitu biarkan. Tapi lain kali pintunya Ibu buka sendiri." Ibu Bagas mengambil sendok dan menyuapkan lagi, mantap seperti tidak ada yang terjadi. "Habiskan dulu."
Kak Laila meletakkan nampan teh di meja dan berjongkok di samping Rani, suaranya rendah. "Itu ibumu tadi?"
"Iya, Kak."
"Kak Laila tidak mau ikut campur. Tapi tadi sempat lihat matanya sebelum dia pergi." Ia menyodorkan gelas. "Itu bukan mata orang yang benci. Itu mata orang yang kaget lihat ada orang lain mengerjakan tugasnya."
Rani memegang gelas teh dengan dua tangan dan tidak menjawab. Tetapi sore itu ia bisa memikirkan ibunya tanpa rasa sakit di dada, hal yang tidak terjadi sejak sebulan terakhir.
*****
Teras rumah Maya hanya cukup untuk dua kursi plastik. Pintu depan terbuka lebar, dan dari kursinya di ruang tamu Kak Laila bisa melihat punggung mereka berdua sambil berpura-pura membaca majalah usang.
Bagas duduk di kursi yang paling jauh. Ia menumpukan siku di lutut dan menatap pagar, yang sudah diganti Maya dengan yang baru, dan mulai bicara tanpa menoleh.
"Aku nggak tahu mau mulai dari mana, Ran."
"Mulai dari mana saja, Mas."
"Dari pantai kalau begitu." Ia menarik napas. "Waktu tahun baru, aku sempat lihat perempuan lewat. Rambut panjang dikuncir, lari kecil. Aku sempat mikir, mirip cewek di toko. Tapi aku bilang ke diriku sendiri aku cuma kebanyakan mikir. Dan dia sudah hilang. Padahal beberapa meter dari situ Ibu lagi ngobrol sama kamu." Ia menggeleng pelan. "Ibu cerita soal bidadari pantai berminggu-minggu, dan aku nggak pernah nyambungin."
"Saya juga tidak tahu, Mas. Waktu itu saya bilang ke Ibu 'saya ingin dilamar tanpa pacaran'. Saya nggak tahu anaknya duduk dua puluh meter dari situ." Rani tersenyum tipis. "Lucu juga kalau dipikir."
"Dan di pelaminan..." Suara Bagas turun. "Aku cuma bilang 'selamat' lalu pergi. Maaf. Aku nggak tahu harus ngomong apa."
"Mas nggak perlu minta maaf." Rani memegang lututnya sendiri. "Mas ngomong yang paling benar yang bisa Mas ngomong waktu itu. Saya yang menikah. Saya yang milih."
"Itu yang bikin aku diam." Bagas akhirnya menoleh, dan matanya ternyata jernih, tidak berlebihan, tidak mengiba. "Aku nggak mau jadi laki-laki yang datang pas kamu sedang jatuh, Ran. Itu cara paling gampang. Makanya aku nggak ikut masuk rumah sakit, nggak ikut masuk rumah ini. Aku cuma di luar."
"Mas bisa saja masuk."
"Kamu belum minta." Ia mengatakannya sederhana. "Dan aku tahu soal masa iddah. Aku nggak datang bawa pertanyaan apa pun. Aku datang antar Ibu, dan antar bubur."
Rani menatap tangannya. Di jari manis kirinya masih ada garis pucat bekas cincin yang belum hilang. "Mas Bagas, saya jujur ya. Saya mau berdiri sendiri dulu. Dua kesalahan besar sudah cukup buat saya. Saya mau tahu kaki saya sendiri kuat dulu sebelum bersandar ke siapa pun."
"Aku nggak menunggu dengan syarat, Ran." Bagas tidak bergeser sedikit pun. "Kalau kamu butuh setahun, aku di sini setahun. Kalau kamu butuh nggak ada aku, bilang saja, aku pulang ke Balikpapan dan Ibu tetap telepon kamu tiap Jumat. Yang paling nggak aku mau adalah kamu ngerasa ada utang."
Dari dalam, Kak Laila membalik halaman majalah dengan suara yang jelas terlalu keras.
Rani tertawa pelan, dan tawa itu pendek, tulus, dan yang pertama di dekat Bagas. "Terima kasih, Mas. Itu cukup. Untuk sekarang itu cukup."
*****
Ketika mereka kembali ke dalam, ruang tamu sudah penuh: Ibu Bagas duduk di sofa dengan walker di sampingnya, Maya menyandar di kusen dapur dengan lengan bersilang dan senyum yang sangat tidak bersalah, dan Danu menahan sesuatu di balik tangan yang menutupi mulutnya.
"Mas Bagas," kata Maya manis. "Tehnya nambah?"
"Saya... sudah, Mbak. Terima kasih."
"Oh, sudah. Kirain masih haus. Soalnya di teras tadi lama sekali."
"May," desis Rani.
"Aku cuma tanya soal teh."
Ibu Bagas menepuk sofa di sebelahnya, tatapannya pindah ke Rani dengan kehangatan yang tidak punya tuntutan. "Nak, Ibu mau bilang satu hal supaya jelas. Ibu menyayangimu karena kamu Rani. Bukan karena kamu mantu atau calon mantu atau apa. Kalau kamu lebih suka Ibu jadi ibu telepon saja, Ibu senang. Jangan merasa terikat."
"Saya tahu, Ibu."
"Bagus." Ibu Bagas menoleh pada Maya. "Empat hari lagi puasa pertama, kan? Bagaimana kalau kita buka bersama di sini, Mbak Maya? Ibu bawa lauknya."
Maya menoleh pada Danu, dan Danu menyerah dengan satu anggukan, tangan tak lagi menutup senyumnya.
"Mas Bagas," kata Maya, kali ini tanpa nada bercanda. "Saya mau mengaku. Tahun baru di pantai, saya lihat Mas lewat. Dan saya nggak nyapa."
Bagas berkedip. "Kalau Mbak nyapa waktu itu?"
"Mungkin Mas langsung nyari Rani saat itu juga."
"Mungkin aku langsung ngelamar saat itu juga," sahut Bagas, dan seisi ruangan tertawa, termasuk Rani, termasuk Kak Laila yang buru-buru menutupi mulut dengan majalah.