Danu berdiri di teras dengan sarung kotak-kotak, kemeja koko pinjaman, dan wajah seperti orang yang akan disidang.
"Mas, napas," bisik Rani dari ambang pintu. Tarawih baru usai sepuluh menit lalu, jamaah masih berlalu-lalang di gang, dan dari ruang tamu terdengar suara Ibu Bagas yang menyuruh Kak Laila menyiapkan teh. "Dari tadi kamu cuma berdiri."
"Aku lagi latihan."
"Latihan apa?"
"Latihan nggak lari." Danu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya lewat mulut. "Panggil Maya, Dek. Tolong. Sebelum nyaliku turun."
Rani menahan tawa, dan masuk. Maya sedang melipat mukena di kamar dengan wajah segar sehabis wudu, bersenandung lagu yang tidak jelas. Ia berhenti ketika melihat ekspresi Rani.
"Kenapa muka kamu begitu? Ada apa?"
"Ada orang di teras mau ngomong sama kamu."
"Siapa?"
"Keluar aja, May."
Maya melangkah ke teras dengan alis terangkat. Lampu kuning di atas pintu menimpa wajah Danu yang berkeringat dingin, dan untuk sesaat kedua orang itu hanya saling memandang, Maya yang bingung dan Danu yang kehilangan seluruh kosakata.
"Mas?"
"May." Danu merogoh saku sarung dan mengeluarkan kotak kecil dari kain beludru biru. Tangannya gemetar. "Aku nggak pandai ngomong. Aku bukan Reza, bukan siapa-siapa yang bisa kasih kamu mobil biru atau apa pun. Aku cuma pegawai kebun sawit yang gajinya cukup buat sewa rumah dan beli beras."
"Mas, aku..."
"Dengar dulu. Aku tahu kamu pernah bilang kamu nggak mau terikat. Aku tahu orang tua kamu... ya, kamu tahu. Aku nggak peduli. Aku mau jadi suami kamu." Ia membuka kotak itu. Di dalamnya, cincin emas mungil dengan satu mata kecil berkilat tertimpa lampu. "Kalau kamu mau, minggu depan aku bawa orang tuaku ke rumah ayahmu. Kalau ayahmu nggak mau terima, aku datangi lagi. Sampai dia bosan."
Maya menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya mengisi dengan air begitu cepat sampai Rani, yang berdiri di belakang, ikut menahan napas.
"Mas Danu," suaranya serak, "Kamu... melamar aku pakai sarung?"
"Aku baru pulang tarawih."
"Pakai sarung dan baju pinjaman?"
"Kemejanya punya Bagas," akui Danu, dan dari ruang tamu terdengar tawa tertahan. "Aku nggak punya yang lain."
Maya tertawa dan menangis di waktu yang sama, dan suara itu lebih jelek daripada apa pun yang Rani pernah dengar dari sahabatnya, dan juga lebih indah. "Ya," katanya. "Iya. Iya, Mas. Aku mau."
Danu mengembuskan napas yang ia tahan sejak azan isya. Tangannya yang memegang kotak masih bergetar saat ia menyematkan cincin itu ke jari Maya, dan mereka berdua hanya menatap jari itu seperti benda ajaib.
Di belakang Rani, tepuk tangan kecil pecah. Ibu Bagas, Kak Laila, dan perawat sudah berdiri di ambang pintu, menyaksikan sambil pura-pura sibuk dengan teh.
"Cincinnya kecil sekali, Mas," komentar Maya sambil menyeka pipi, memutar jari di bawah lampu. "Tapi aku suka. Berapa harganya?"
"Itu rahasia."
"Berapa?"
"Dua bulan tabungan nasi kotak." Danu menggaruk tengkuk. "Nanti kalau sawit lagi murah, kucicil yang lebih besar."
"Nggak usah. Yang ini sudah pas." Maya menoleh pada Rani, mata basah dan senyum yang terlalu lebar. "Ran. Kamu saksiku. Kalau Mas Danu mundur, tolong kamu yang tagih."
"Aku saksi," kata Rani, dan memeluk sahabatnya dari samping, perutnya menekan perut Maya, dan bayinya menendang dua kali sebagai persetujuan.
"Eh, dia protes," tawa Maya. "Tante peluk dulu, Nak, kamu sabar."
"Ayahmu bagaimana, May?" tanya Ibu Bagas dari ambang pintu, ramah. "Sudah tahu?"
"Belum, Bu. Ayah saya sibuk di tambang." Maya mengangkat bahu. "Tapi tenang. Orang yang bisa menyatukan rumahku bisa menghadapi ayahku."
"Rumah yang mana?" goda Siti, yang entah sejak kapan sudah muncul di pagar membawa kantong gorengan. "Yang kamu tinggali atau yang kamu dibesarkan?"
"Jangan mulai."
*****
"Assalamualaikum."
Bagas muncul di gerbang dengan kantong plastik berisi kolak di kedua tangan, napasnya tersengal karena terburu-buru. Ia baru pulang dari kantor rekanan proyek, setengah jam bermobil dari sana. Wajahnya menunjukkan bahwa ia menangkap tepuk tangan itu dan tidak mengerti artinya.
Rani, yang berdiri di dekat pintu dengan satu tangan di perut, tersentak. Bayinya menendang keras sekali, tepat di saat salam itu terucap. Ia menarik napas pendek dan menunduk memegang perutnya.
"Ran?" Bagas membeku di tangga teras. "Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa." Rani tertawa pelan, terheran. "Dia nendang. Waktu Mas ngucap salam."
"Dia..." Bagas menatap perut itu lalu wajah Rani, tidak tahu harus menaruh matanya di mana. "Dia kaget?"
"Mungkin dia kenal suara Mas." Rani mendengar kalimatnya sendiri sesudah terlanjur terucap dan merasa wajahnya menghangat. "Maksud saya, dia dengar Ibu telepon tiap Jumat. Mungkin Mas mirip suara Ibu."
"Tentu." Bagas menggaruk belakang kepala. "Mirip."
Di ruang tamu, Kak Laila meletakkan gelas teh dengan sangat pelan dan menatap mereka berdua tanpa berkedip.
Danu dan Maya menyibukkan diri dengan menerima ucapan selamat dari Ibu Bagas, jadi Rani dan Bagas terdampar berdua di teras dengan kolak di tangan, pintu terbuka lebar di belakang mereka. Bagas menaruh kantong di kursi plastik, tetapi tidak duduk.
"Aku nggak maksud buat kamu kaget," ujarnya.
"Dia yang kaget, Mas. Bukan saya."
"Tetap saja." Ia mencari kata-kata, dan Rani menunggu. "Ran, aku mau bilang satu hal, biar nggak ada salah paham. Aku di sini bukan untuk nagih jawaban. Aku cuma jaga. Kalau kamu butuh antar ke dokter, aku antar. Kalau Ibu mau nengok kamu, aku bawa Ibu. Itu aja."
"Saya tahu."
"Tapi aku tahu juga kamu takut."
Rani diam. Dari ruang tamu terdengar suara Maya mengomel soal siapa yang harus memberi tahu ayahnya. Ia menatap kolak di tangannya, uapnya yang hampir habis.
"Saya takut, Mas." Suaranya rendah. "Saya pernah yakin. Saya pernah punya cincin, punya kebaya, punya semua orang bilang 'kamu bahagia, ya', dan saya tetap salah. Sekali salah memilih, rasanya saya tidak bisa percaya penilaian saya sendiri lagi. Di gang ini orang sudah berbisik soal janda yang didatangi laki-laki. Laki-laki yang kedua, kata mereka, dengan nada seolah yang kedua itu sisa."
"Itu wajar."
"Mas tidak merasa saya terlalu lama?"
"Aku lebih takut kamu terlalu cepat." Bagas menatap pagar. "Takut kamu bilang 'ya' hanya karena kamu lelah berdiri sendiri. Aku nggak mau itu. Aku mau kamu bilang 'ya' pas kamu sudah nggak butuh siapa-siapa dan masih mau aku ada."
Kalimat itu jatuh pelan, tanpa dramatisasi. Rani tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia menjawab dengan jujur, "Itu jawaban yang bagus, Mas."
"Jawaban untuk pertanyaan yang kamu belum tanya."
"Belum."
Mereka berdua tersenyum, tipis, ke arah yang berbeda.
*****
"Rani, sini." Ibu Bagas memanggil dari sofa, sebuah bungkusan kain tergeletak di pangkuannya. "Ibu mau tunjukkan sesuatu."
Rani duduk di sebelahnya. Ibu Bagas membuka bungkusan itu perlahan, seakan isinya bisa pecah. Kain rajut halus berwarna kuning pucat, dengan pinggiran bergelombang dan satu sulaman kecil di sudutnya: bulan sabit dan sebuah bintang, dikerjakan dengan benang putih.
"Selimutnya selesai kemarin malam. Ibu kerjakan sepuluh minggu, Nak. Matanya sampai sakit." Ibu Bagas tertawa kecil. "Sulamannya Ibu tambah karena sedang Ramadan. Kalau kamu tidak suka, Ibu cabut."
"Jangan dicabut, Ibu."
Rani meraih kain itu. Lembut sekali, dan baunya sabun bayi yang belum pernah dipakai siapa pun. Ia menyentuh sulaman kecil itu dengan ujung jari, dan ujung jari itu gemetar.
"Ini untuk bayimu," ujar Ibu Bagas, pelan, seolah menjawab pertanyaan yang tidak diajukan. "Bukan balasan apa-apa, Nak. Bukan juga supaya kamu merasa berutang. Ibu cuma ingin ada sesuatu yang Ibu buat dengan tangan sendiri menunggu dia lahir."
"Saya mengerti, Ibu."
"Kamu baik-baik saja?"
"Iya." Rani menempelkan kain itu ke pipi. Dadanya berdebar cepat dan hangat, dan ia tidak bertanya kepada dirinya sendiri untuk siapa debar itu. "Terima kasih, Ibu."
Bunyi sandal di teras membuatnya mendongak. Bagas berdiri di ambang dengan tangan kosong, kantong kolak kedua entah sudah ditaruh di mana, dan matanya jatuh pada kain kuning di pipi Rani.
"Selimutnya cantik, Bu," katanya, agak serak.
"Kamu diam saja, Gas," potong Kak Laila dari kursinya, tanpa menurunkan majalah. "Itu urusan perempuan."