"Suhunya stabil, napasnya bagus, berat badannya naik dua puluh gram," kata dokter anak sambil mencatat di papan klip. "Kalau besok pagi tidak ada perubahan, Bu Rani boleh membawanya pulang."
"Besok pagi," ulang Rani, seperti menghafal kata yang baru dipelajari.
Ini hari ketiga. Ia sudah hafal jadwal ruang bayi itu: tangis jam enam, popok jam tujuh, susu jam delapan, dan di antara itu semua, kaca besar tempat para ibu dan nenek menempelkan dahi mereka seperti anak-anak di depan etalase kue. Rani duduk di kursi roda di balik kaca itu sejak pagi, mengenakan kain batik dan sandal rumah sakit. Alya tertidur di inkubator terdekat, mulut kecilnya mengerucut seperti menghisap sesuatu dalam mimpi.
Seseorang berdiri di sebelah kirinya. Rani tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.
"Bu Hajjah."
"Nak." Hajjah mendekatkan wajah ke kaca, mengatur napas yang mendadak pendek. Tas kainnya merosot dari bahu, dan ia membiarkannya. "Yang mana?"
"Yang paling dekat, Bu Hajjah. Yang topinya biru muda."
Hajjah memandang lama. Rani melihat pantulan wajahnya di kaca: mata yang membesar, bibir yang bergerak tanpa suara, jari-jari yang menempel di permukaan dingin seakan ingin menembusnya. Kemudian air mata mengalir pelan di pipi itu, tanpa isak, tanpa upaya menutupinya.
"Hidungnya..." Suara Hajjah pecah. "Hidungnya hidung Rendi waktu kecil. Persis."
Rani tidak langsung menjawab. Sesuatu di dalam dadanya mengetat, lalu mengendur sendiri.
"Biar saja, Bu Hajjah. Itu bukan salah hidungnya."
Hajjah menutup mulut. Bahunya berguncang. Rani membiarkannya menangis, dan ketika tangis itu mereda, ia berkata, tenang dan terdengar jelas: "Bu Hajjah mau memotretnya?"
Hajjah menoleh begitu cepat sampai kerudungnya bergeser. "Boleh?"
"Satu foto. Alya saja, tidak ada saya, tidak ada orang lain. Untuk Rendi." Rani menatap kaca, bukan wajah Hajjah. "Dia boleh melihat fotonya. Bukan anaknya. Itu dua hal yang berbeda, dan saya ingin Bu Hajjah mengerti bedanya."
"Mengerti, Nak. Mama mengerti."
Hajjah mengeluarkan kamera digital kecil dari tasnya dengan tangan yang gemetar sampai ia harus memegangnya dengan dua tangan. Seorang perawat mengangguk setelah Rani memberi isyarat. Klik. Satu kali, tidak lebih. Hajjah memandang layar kecil kamera, lalu menekan benda itu ke dadanya, dan untuk beberapa saat tidak ada yang bicara sama sekali.
*****
Pagi kepulangan, Rani sedang melipat baju bayi di ruang rawat ketika Maya masuk dengan wajah geli dan memberi tahu bahwa ada seseorang di lobi.
Bagas sudah duduk di bangku dekat pintu masuk sejak pukul sembilan dengan dua kantong besar, satu berisi pakaian bayi dari Ibu Bagas, satunya berisi bantal menyusui yang dibeli Kak Laila. Ia tidak menanyakan nomor kamar dan tidak minta naik. Ia hanya menunggu sampai ada yang lewat.
"Mas Bagas?" Maya berhenti di depannya. "Kenapa nggak naik?"
"Rani bilang boleh antar sampai sini. Selebihnya dia yang menentukan." Bagas menyodorkan kantong-kantong itu. "Pakaian bayi dari Ibu, bantal dari Kak Laila. Mereka berdua sudah berdebat dua hari soal warnanya."
"Tunggu, aku panggil dia."
"Jangan. Dia baru melahirkan, dia butuh istirahat." Bagas menggeleng, dan sesuatu di wajahnya lembut dan sedikit malu. "Aku cuma mau kasih ini. Kalau dia perlu apa-apa lagi, aku ada di kontrakan."
Dari jendela lantai dua, Rani, yang diam-diam melongok karena Maya terlalu lama, melihat punggung Bagas keluar melewati pintu kaca otomatis. Ia mengangkat satu tangan sedikit, tidak tahu apakah Bagas melihat. Ternyata Bagas melihat. Ia berhenti di tengah tangga, menoleh ke atas, dan mengangguk sekali.
Hanya itu.
Hajjah masih menunggu di ruang rawat ketika Rani kembali ke ranjang, duduk di kursi dengan tangan terlipat di pangkuan. Perawat baru saja menyerahkan Alya dalam balutan selimut kuning, sudah bebas dari selang dan topi rajut.
"Bu Hajjah," kata Rani, "mau menggendongnya?"
Hajjah tidak bergerak. Ia menatap Rani seakan mengira salah dengar.
"Duduk yang tegak, tangan kiri di bawah kepalanya."
Dengan tangan gemetar Hajjah menerima bayi itu, dan Alya, yang sedang setengah terjaga, membuka mata sebentar, memandang langit-langit, lalu menguap lebar. Hajjah tertawa, sepotong tawa pendek yang pecah menjadi isak, dan ia menempelkan hidungnya ke kepala kecil itu.
"Wangi bayi," bisiknya. "Mama lupa wanginya."
Rani membiarkan satu menit penuh berlalu. Lalu ia mengulurkan tangan. "Cukup dulu, Bu Hajjah."
"Iya, Nak." Hajjah menyerahkannya tanpa membantah, menyeka pipi dengan ujung kerudung. "Terima kasih sudah mengizinkan Mama."
*****
Rumah itu berbau sama: minyak kayu putih, sabun cuci, dan sedikit gosong dari dapur. Rani berdiri di depan pintu masa kecilnya, kali ini bukan sebagai tamu yang diundang untuk Lebaran, tetapi dengan bayi di dalam gendongan kain dan bantal menyusui yang dipeluk Maya di belakangnya.
"Kak Rani pulang!" Iki berlari dari dalam, tetapi berhenti dua langkah di depannya, mendadak takut. "Itu adiknya?"
"Alya."
"Kecil sekali." Ia mengintip dari jarak aman, seperti melihat kupu-kupu di telapak tangan. "Boleh pegang?"
"Nanti. Dia lagi tidur."
"Iki duduk dulu, deh." Anak itu bersila di lantai dengan dua tangan terulur membentuk keranjang kosong. "Iki udah siap."
Adi, yang bersandar di kusen pintu dapur dengan sepiring tempe goreng, menyembunyikan tawa di balik tangan. Ia tiba tiga hari lalu dengan bus dan ransel besar, dan sejak itu sudah beberapa kali bertanya apakah ia boleh menggendong keponakannya, dan beberapa kali pula dijawab ibu Rani dengan "nanti, tunggu bayinya pulang".
Boks bayi putih dari toko Reza sudah berdiri di sudut kamar Rani. Danu dan Adi mengangkutnya dari rumah Maya dua hari lalu dan memasangnya di sana, tepat sebelah ranjang. Rani melepas gendongan, menidurkan Alya di dalamnya, dan menyelimutinya dengan selimut kuning bersulam bulan sabit dan bintang. Selimut itu hampir menelan seluruh tubuh kecil itu.
Setelah Alya terlelap lagi, Rani memanggil Iki dari ambang pintu. Anak itu masuk berjingkat-jingkat, bersila di tepi ranjang, dan Rani menaruh bungkusan kuning itu di kedua lengannya yang terulur, tangan kirinya menyangga kepala kecil itu dari bawah.
"Berat?"
"Nggak." Bisik Iki serius sekali. "Ringan banget. Kayak bantal."
"Jangan goyang-goyang."
"Iki nggak goyang. Iki jadi patung." Ia menahan napas sampai pipinya menggembung, dan Alya, di lengan om kecilnya yang kaku, membuka mulut dan menguap.
"Dia ngomong sama Iki!"
"Dia ngantuk."
"Dia ngomong." Iki menunduk sedekat mungkin. "Halo, Adik Aya. Aku om kamu. Kalau ada yang nakal, bilang Om."
Adi di pintu terbahak sampai tersedak tempe, dan dari ruang sebelah terdengar ibu Rani berseru bahwa jangan ribut, bayinya baru tidur.
Ibu Rani sendiri berdiri di ambang pintu kamar, tidak masuk, hanya melihat.
"Bagus," katanya. "Pas."
"Ibu sudah lihat tadi pagi."
"Ibu mau lihat lagi." Ia tersenyum, singkat, dan wajahnya seperti rumah yang baru dibuka jendelanya. "Tidur. Ibu masak sup."
Menjelang sore, Arman datang naik motor, membawa kardus kecil dan wajah ragu.
"Mbak Rani, selamat. Ini dari teman-teman toko, kue dan buah." Ia menaruh kardus di meja teras. "Satu lagi, Mbak. Karangan bunga yang dikirim ke rumah sakit kemarin, itu tidak ada kartunya. Pak Reza tidak bilang apa-apa, tapi saya tahu itu dari toko bunga langganan beliau."
"Saya sudah lihat, Man. Mawar putih, di sudut."
"Mbak mau saya sampaikan sesuatu?"
Rani berpikir sebentar, lalu masuk dan kembali dengan selembar kartu putih polos dari laci meja ibunya. Ia menulis dengan pena hitam, pelan dan rapi, seperti menulis nota barang.
Terima kasih atas karangan bunganya. Saya dan bayi saya dalam keadaan sehat. Maharani Saraswati.
"Tolong disampaikan lewat Bapak, Man," katanya sambil menyerahkan kartu itu. "Kartu resmi. Seperti ke pelanggan."
Arman membaca kartu itu sekilas, mengangguk, dan menyimpannya di saku dengan hati-hati.
"Siap, Mbak. Salam untuk Alya."