Tangis Alya malam itu berbeda, dan Rani tahu bahkan sebelum ia membuka mata.
Bukan tangis lapar yang naik pelan dan menagih. Bukan pula tangis gerah yang merengek dan bisa dibujuk dengan digendong. Ini tipis, serak, dan putus-putus, dan ketika Rani mengangkat bayi itu dari boks putih di sisi ranjang, kulit kecil di bawah telapak tangannya terasa seperti handuk yang baru diangkat dari setrika.
"Bu." Ia sudah berdiri sebelum selesai berpikir. "Bu, Alya panas."
Lampu menyala. Ibu Rani muncul dengan sarung kusut, menaruh punggung tangan ke dahi bayi itu, lalu ke leher, lalu ke ketiaknya, tanpa bicara. Termometer raksa dari laci meja diselipkan, diselip lagi, dibaca di bawah lampu dengan mata disipitkan.
"Tiga puluh delapan koma lima."
"Itu tinggi, Bu."
"Untuk bayi sekecil ini, iya." Suara ibu Rani tenang, tetapi tangan yang menaruh termometer ke meja bergetar sedikit. "Bidan bilang kalau lewat tiga delapan, jangan tunggu pagi."
"Dokter anak yang di rumah sakit itu jauh. Jam segini nggak ada ojek, apalagi angkot."
"Telepon Danu."
"Dia di kebun sampai besok, Bu. Maya bilang dia menginap di lokasi." Rani menggigit bibir. Adi sudah kembali ke Balikpapan tiga hari lalu. Maya terlalu jauh dan tidak punya kendaraan. Tetangga-tetangga tidur. Ia berdiri di tengah kamar yang remang, memeluk anak yang makin panas, dan satu nama muncul di kepalanya, jernih sekali, tanpa ia perlu mencarinya.
Ia tidak menimbang lama. Ia meraih ponsel di meja dan menekan nomor yang sudah hafal.
Bagas menjawab pada dering kedua. "Ran? Ada apa?"
"Mas." Suaranya lebih tenang dari yang ia duga. "Alya demam. Tiga delapan lebih. Saya butuh diantar ke rumah sakit. Mas bisa?"
"Aku jalan sekarang."
Telepon mati. Rani menatap ponselnya sebentar, kaget pada dirinya sendiri, lalu mengambil jaket Alya dan selimut yang lebih tipis, bukan yang kuning.
Mobil hitam itu tiba tujuh menit kemudian, dengan lampu depan yang menyapu pagar. Bagas turun, rambut berantakan dan kaus terbalik di bagian leher, tetapi sudah membuka pintu belakang sebelum Rani selesai menggembok pintu rumah.
"Ibu Rani ikut?"
"Ibu ikut." Ibu Rani sudah di undakan dengan kerudung yang dipakai terbalik dan tas besar di ketiak. Ia menatap Bagas sebentar, menaksir, lalu masuk ke jok belakang tanpa komentar.
Rani duduk di sebelah ibunya dengan Alya di dada. Bagas menutup pintu pelan seolah takut membangunkan sesuatu, kembali ke kursi sopir, dan menyalakan mesin.
Jalanan kosong dan basah oleh sisa hujan sore. Lampu-lampu jalan lewat satu per satu di kaca, membuat bayangan di wajah Alya yang kemerahan, dan Rani menghitung napas bayi itu bersamaan dengan lampu-lampu itu: satu, dua, tiga.
"Pelan atau cepat?" tanya Bagas, suaranya rendah.
"Cepat, tapi mulus, Mas. Alya jangan sampai terguncang."
"Mulus."
Ia menyetir seperti membawa telur, memelankan mobil di tiap lubang dan memicingkan mata di tiap tikungan, dan dari spion tengah Rani bisa melihat sebagian wajahnya: rahang yang mengeras, mata yang tak lepas dari jalan, dan sesekali melirik ke belakang, hanya sepersekian detik, memastikan Alya masih bernapas. Rani tahu orang tidak bisa pura-pura sekhawatir itu.
Dan ia sadar sesuatu yang membuatnya menarik napas dalam-dalam.
Selama ini ia selalu memikirkan jarak. Seberapa jauh ia harus berdiri dari Bagas, seberapa terbuka pintu harus dibiarkan, seberapa lama ia harus menunggu sebelum menjawab. Tetapi di jok belakang mobil pada pukul dua pagi, dengan anak panas di dadanya dan ibunya menggenggam lututnya, ia bersandar pada punggung laki-laki di depan itu tanpa pernah memutuskan untuk bersandar. Ia tidak terpaksa. Ia tidak sedang kehabisan pilihan. Ia hanya tahu siapa yang akan datang pada dering kedua.
*****
Dokter jaga di ruang gawat darurat anak memeriksa Alya hampir setengah jam, mengambil setetes darah dari tumit kecil, dan mengirimnya ke laboratorium. Selama itu Bagas duduk di bangku lorong, tidak masuk, tidak pergi, memandangi pintu.
"Hasilnya bagus," kata dokter ketika kembali. "Tidak ada tanda infeksi berat. Dia hanya kepanasan dan kurang cairan sedikit. Selimutnya terlalu tebal untuk cuaca sekarang dan kamarnya pengap."
Rani menutup mata. "Selimutnya rajutan, Dok. Tebal."
"Selimut rajutan bagus untuk dipeluk, bukan untuk tidur bayi kecil di daerah sini. Kenakan baju tipis, kain katun, jendela dibuka sedikit. Susui lebih sering. Besok pagi kalau demamnya tidak turun, kembali ke sini."
Ibu Rani mendengus pelan, entah lega atau geli. "Anak pertama," gumamnya. "Semua ibu begini."
Mereka pulang menjelang subuh. Alya sudah tidur di dada Rani, napasnya halus dan hangat, bukan lagi panas. Di jok depan, Bagas tidak berkata apa pun, hanya menurunkan kaca jendela dua jari agar udara masuk, dan sesekali melirik ke spion.
"Terima kasih, Mas," kata Rani, di depan pagar, ketika matahari baru menyentuh genteng. "Saya tidak tahu harus telepon siapa."
"Kamu menelepon yang benar." Bagas menggenggam setir erat. "Selalu telepon aku, Ran. Kapan pun. Jam berapa pun."
Ibu Rani, yang sudah turun duluan dan memegang gembok pagar, berhenti sebentar tanpa menoleh.
*****
Pukul sepuluh pagi, Ibu Bagas tiba bersama Kak Laila dan membawa kotak beludru biru.
Ia sudah mendengar semuanya dari Bagas, dan duduk di sofa ruang tamu rumah ibu Rani dengan wajah ngeri pura-pura, menggenggam tangan Rani lama sekali sebelum menyerahkan kotak itu.
"Ibu sudah beli seminggu lalu," katanya. "Ibu mau kasih nanti waktu Alya genap empat puluh hari. Tapi Ibu pikir, anak yang sudah ke rumah sakit pantas dapat hadiah sekarang."
Di dalam kotak, di atas bantalan putih, melingkar gelang emas tipis, selembut benang, dengan satu huruf A yang diukir kecil di lempeng mungilnya.
"Ibu, ini terlalu..."
"Tidak ada yang terlalu untuk bayi cantik ini." Ibu Bagas tersenyum dan menepuk punggung tangan Rani. "Ambil, Nak. Ibu tidak minta apa-apa. Simpan sampai dia besar, biar tahu ada orang yang menyayanginya sebelum dia bisa bilang terima kasih."
Rani menerima kotak itu dengan dua tangan. Di sudut ruangan, ibu Rani, yang menyusun bantal sofa tanpa alasan, berhenti dan menatap gelang itu.
"Terima kasih, Bu Bagas," katanya, datar tetapi jelas. "Anak ini beruntung."
*****
Sesudah semua tamu pulang dan Alya tertidur di bawah kipas, Rani membuka ponselnya dan mengetik pesan yang sudah berminggu-minggu ia susun di kepala.
[Arman, mohon sampaikan ke Mas Reza: saya terima tawaran laporan keuangan itu. Mulai Januari, dikerjakan dari rumah, dengan kontrak tertulis dan bayaran per laporan. Kalau setuju, kirim kontraknya lewat kamu.]
Jawaban datang dalam lima menit, singkat dan resmi. [Siap, Mbak. Akan saya sampaikan.] Rani meletakkan ponsel, lega pada keputusan yang ia ambil dengan kepalanya sendiri, lalu duduk di kursi teras dengan gelang itu di telapak tangannya. Ibu Rani keluar membawa dua gelas teh, menaruh satu di meja, dan duduk di bangku sebelahnya.
"Ibu lihat kamu semalam," katanya. "Dengan dia."
"Mas Bagas?"
"Ibu lihat kamu duduk di mobil." Ibu Rani menyeruput teh. "Kamu tahu apa yang Ibu lihat? Ibu lihat kamu nggak takut."
Rani diam. Ia menggosok gelang itu dengan ibu jari.
"Bu, aku takut kalau terlalu cepat. Kalau nanti aku salah lagi."
"Salah pilih itu lain." Ibu Rani menaruh gelasnya. "Dulu kamu pilih orang yang pura-pura baik. Kamu bilang kamu nggak bisa lihat. Ibu juga nggak bisa lihat, karena Ibu cuma lihat jujurannya." Ia menatap lurus ke jalan gang. "Yang sekarang beda. Dia sudah ada waktu kamu nggak butuh dia, Ran. Waktu kamu menolak, waktu kamu menyuruh tunggu, dia tetap datang. Yang begitu nggak muncul dua kali seumur hidup."
"Aku nggak lari, Bu."
"Belum." Ibu Rani menatapnya. "Jangan lari dari hal baik, Ran. Cukup sekali kamu lari ke tempat yang salah."