"Kak! Kak Rani!" Iki menerobos masuk ke dapur dengan sandal sebelah dan napas tersengal. "Ada Bang Rendi di pagar!"
Sendok di tangan Rani berhenti di atas bubur Alya yang belum sempat ia pindahkan ke piring. Pagi itu matahari belum tinggi, Alya baru selesai menyusu dan tertidur di bouncer dekat jendela, dan Maya, yang datang sejak tadi membawa sekotak bolu dengan alasan "kangen keponakan", tiba-tiba berhenti mengunyah.
"Dia sendirian?" tanya Rani.
"Sendirian. Tapi Ibu sudah di depan dia."
Rani menaruh sendok, mengelap tangan di taplak, dan menyadari dengan agak heran bahwa tangannya tidak gemetar. Hari itu sudah ia bayangkan berkali-kali selama berminggu-minggu, di tengah malam, di sela menyusui, di bangku mobil Bagas, dan di tiap bayangan ia selalu lebih kecil dari yang sekarang.
"Aku ikut," kata Maya.
"May, jangan..."
"Aku nggak ikut bicara. Aku ikut berdiri."
Di halaman, ibu Rani berdiri persis di depan pintu pagar yang tertutup, sarung kusut dan kerudung disematkan asal, kedua tangan terlipat di dada seperti penjaga gerbang. Di seberang besi pagar berdiri seorang laki-laki yang Rani butuh dua detik untuk mengenalinya.
Rendi kurus. Kausnya longgar di bahu, pipinya cekung, rambut dipangkas pendek seperti habis dicukur orang lain. Ia membawa tas plastik hitam lusuh di satu tangan, dan tangan itu diam. Tidak ada getar. Matanya, yang dulu selalu bergerak mencari celah, kini hanya menatap lurus, jernih dan lelah.
"Mau apa kamu?" Suara ibu Rani rendah dan datar.
"Selamat pagi, Ibu." Rendi tidak maju. "Saya cuma mau bicara dengan Rani. Sebentar saja. Kalau Ibu bilang pergi, saya pergi. Saya tidak akan masuk kalau tidak diizinkan."
"Kemarin kamu ke mana?"
"Kemarin saya keluar siang, Bu. Sampai di Sampit sudah malam, Mama minta saya tidur dulu. Subuh tadi saya naik bus." Ia menelan ludah. "Mama bilang Rani minta saya datang sendiri. Jadi saya datang sendiri."
"Kamu tahu apa yang kamu lakukan padanya?"
"Tahu, Bu."
"Kamu tampar dia. Dia berdarah. Cucuku hampir..." Suara ibu Rani patah di tengah, dan ia menelan sisanya dengan rahang mengeras. "Ibu tidak akan membuka pagar ini."
Langkah berat terdengar dari teras samping. Adi muncul dengan kaus oblong dan handuk di bahu, rambut masih basah, dan berhenti di sebelah ibunya tanpa menyentuhnya. Ia tidak berkata apa-apa ke Rendi. Ia hanya menatapnya, lama, sebagai orang yang pernah duduk semeja judi dengan laki-laki itu dan tahu persis bagaimana wajah itu terlihat saat berbohong.
"Bu," kata Rani akhirnya. "Biar aku yang bicara."
"Ran..."
"Di teras, Bu. Pintunya terbuka. Kak Adi dan May di dekat sini." Ia menatap ibunya. "Aku sendiri yang bilang dia harus datang. Aku sendiri yang akan menjawab."
Ibu Rani memejam sebentar. Lalu ia menggeser badan, satu langkah, dan menarik gerendel pagar dengan gerakan yang seperti membuka luka.
*****
Rendi tidak duduk di kursi yang Rani tunjuk. Ia berdiri di dua langkah dari undakan, tas plastik di kakinya, dan memandang pintu rumah yang terbuka lebar, tempat Adi bersandar di kusen dengan tangan terlipat dan Maya duduk di sofa dalam, jelas terlihat.
"Kamu sehat?" tanya Rendi pelan.
"Aku sehat, Bang."
"Alya?"
"Alya juga." Rani tidak menambahkan apa-apa. Ia duduk di kursi teras dan menaruh kedua tangan di pangkuan. "Bicaralah."
Rendi menarik napas panjang seperti orang yang menyelam. "Aku sudah menulis tiga surat. Aku tahu kamu mungkin cuma membaca satu, atau tidak sama sekali. Jadi aku mau bilang langsung, supaya tidak ada yang tersisa." Ia berhenti, dan kali ini suaranya bergetar. "Aku mencintaimu, Rani. Aku terlambat tahu. Waktu masih ada kamu, aku kira aku cuma sedang menang. Waktu kamu pergi, aku baru sadar tidak ada yang kumenangkan."
Ia berlutut. Bukan dengan gerakan besar, hanya turun pelan hingga dua lututnya menyentuh ubin teras yang dingin, kepala tertunduk, bahu naik turun. Di balik kusen, Rani mendengar Adi menarik napas keras lewat hidung.
Dulu, ia tahu, kalimat itu akan membuatnya goyah. Dulu ia selalu goyah di hadapan Rendi yang menangis, karena ia percaya air mata adalah bukti. Tetapi ia sudah belajar dari tiga surat, dari malam-malam menyusui, dari foto bayi yang dikirimnya dan tak dibalas dengan apa pun, bahwa menyesal dan berubah adalah dua pekerjaan yang berbeda, dan hanya yang kedua yang bisa dilihat orang lain.
"Aku mendengar, Bang," katanya. "Dan jawabanku tidak."
Rendi tidak mengangkat kepala.
"Aku tidak akan kembali. Bukan sekarang, bukan nanti. Itu sudah selesai di pengadilan, dan sudah selesai di hatiku sebelum itu." Ia mengatakannya jernih, tanpa tinggi, tanpa membuang apa pun. "Soal Alya, itu lain. Alya anakmu, dan aku tidak akan mengubah itu. Tapi anak bukan hadiah untuk orang yang menyesal."
"Aku..."
"Dengar dulu." Rani mengangkat satu tangan. "Kalau mau melihat Alya, aku punya syarat. Setahun. Dua belas bulan sejak hari kamu keluar, kamu bersih. Tidak ada judi, tidak ada yang lain. Selama itu Alya tidak kamu lihat. Sesudahnya, lewat Bu Hajjah, di tempat terbuka, dengan orang lain di dekat kami. Aku tidak akan melarang. Tapi aku juga tidak akan mempertaruhkan anakku pada janji."
Lama sekali Rendi tidak bergerak. Lalu ia mengangguk, dan Rani melihat air jatuh di ubin di antara lututnya, satu, dua titik gelap.
"Satu tahun," katanya serak. Ia mengangkat wajah, dan wajah itu tidak memohon, hanya sangat kecil. "Aku tidak punya apa-apa lagi, Rani. Pekerjaan tidak ada. Teman tidak ada. Nur pun tidak. Yang kupunya cuma Mama, dan dia sudah terlalu tua untuk kutanggung lagi."
"Itu yang kau tinggalkan sendiri, Bang."
Kalimat itu keluar tanpa kebencian, dan karena itu terasa lebih berat daripada bentakan mana pun. Rendi memejam. Ia mengangguk sekali lagi.
Dengan tangan yang tidak gemetar, ia membuka tas plastik di kakinya dan mengeluarkan satu lembar kertas terlipat, lalu menyodorkannya. "Surat keterangan dari klinik rutan. Hasil tes sampai kemarin. Aku tahu itu belum apa-apa. Aku cuma..." Ia berhenti. "Aku mau kamu punya satu bukti dari aku yang bukan kata-kata."
Rani menatap kertas itu. Ia tidak mengulurkan tangan.
"Simpan, Bang." Suaranya lunak, tetapi tidak bergeser. "Bawa itu setahun lagi. Bersama yang baru."
Rendi menarik kertas itu kembali, melipatnya hati-hati, dan menyimpannya di saku kemejanya seperti benda berharga. Ia bangkit lambat-lambat, mengangkat tas plastiknya, dan menunduk ke arah pintu tempat ibu Rani berdiri dengan wajah beku.
"Maaf, Bu. Terima kasih sudah membiarkan saya bicara."
Ibu Rani tidak menjawab. Tetapi ia juga tidak membuang muka.
Di undakan paling bawah Rendi berhenti dan menoleh sekali, bukan ke Rani, melainkan ke jendela yang tirainya tersibak sedikit, tempat bouncer kecil Alya berada dan tangan mungil terlihat terangkat dalam tidurnya.
"Aku akan berusaha," katanya, pelan, kepada rumah itu.
"Berusaha itu urusan Abang," jawab Rani dari kursinya. "Bukan urusanku."
Pagar menutup di belakangnya dengan bunyi besi yang lama bergema di halaman.
*****
Rani baru sadar tangannya dingin ketika Maya menaruh gelas teh hangat di antara jari-jarinya.
"Minum," kata Maya. "Kalau dia nyentuh kamu sedikit saja, Ran, aku lempar toples bolu." Ia duduk di sebelahnya dan memandang pagar. "Kamu keren tadi. Aku belum pernah lihat kamu bicara selurus itu."
Rani menyeruput tehnya, dan baru pada tegukan kedua tubuhnya mulai gemetar, pelan, dari lutut. Ibu Rani keluar dari rumah tanpa suara dan duduk di kursi di sebelahnya. Lama ia hanya memandang halaman.
"Ibu kira Ibu bakal teriak," katanya akhirnya. "Ternyata kamu sudah bilang semuanya."
"Maaf, Bu, aku nggak minta izin."
"Bukan soal izin." Ibu Rani menepuk lutut Rani sekali, singkat, kaku, tetapi tidak ditarik cepat-cepat. "Kamu yang menikah dengan dia. Kamu juga yang berhak menutup pintunya."
Di dalam, Adi melepas handuk dari bahunya dan mengusap wajah. "Gue pernah lihat orang ngomong begitu di meja judi," gumamnya. "Biasanya bohong. Tadi gue nggak yakin." Ia diam sejenak. "Itu yang bikin gue lebih takut."
Ponsel Rani bergetar di saku. Ia mengeluarkannya dengan tangan yang masih dingin dan membaca nama di layar: Ibu.
[Nak, Ibu ingat Rendi bebas kemarin. Kamu baik-baik saja? Tadi malam Ibu sudah telepon ibumu, ada yang Ibu minta izin. Kalau ibumu belum cerita, biar dia sendiri yang bilang.]
Rani membaca pesan itu dua kali, lalu mengangkat kepala dan menatap ibunya yang sedang pura-pura sibuk dengan ujung kerudung.