"Tehnya kebanyakan gula," kata ibu Rani, mencicipi dari ujung sendok, lalu menyerahkan sendok itu kepada Rani seolah menuduhnya.
"Kak Laila suka teh manis, Bu."
"Itu kata Adi." Ibu Rani mengerutkan dahi. "Adi juga bilang laut itu rasa jeruk."
Dapur rumah sudah sejak subuh seperti medan kerja. Maya mengiris kue lapis di meja dengan pisau yang lebih tajam daripada pendapatnya, Danu mengatur kursi plastik di ruang tamu dengan ukuran jarak yang diperdebatkan istrinya, dan Iki menyisir rambutnya tiga kali karena disuruh tiga orang berbeda. Rani berdiri di tengah semuanya mengenakan kebaya biru langit yang dipinjamkan Anita, dengan Alya di dada yang sedang menatap lampu dapur sambil menggumam sendiri.
"Ran," bisik Maya, mendekat sambil mengacungkan pisau. "Jantungmu gimana?"
"Aku nggak tahu. Kayak ada yang pindahan."
"Bagus. Artinya masih ada." Maya mengamati wajahnya sekilas. "Astaga, jangan pucat begitu, bedakmu kelihatan pecah."
Pukul sepuluh, deru mobil terdengar di gang. Adi, yang berjaga di jendela depan, menyingkap tirai dan berkata datar, "Mobil hitam. Dua mobil, malah."
Bagas turun lebih dulu. Kemeja batiknya cokelat tua, kopiahnya hitam, dan ia membuka pintu belakang untuk Ibu dengan gerak yang pelan dan tak terburu-buru, tetapi tangan yang memegang daun pintu kelihatan agak putih di buku-bukunya. Dari mobil kedua turun Kak Laila membawa dua kantong, perawat Ibu membawa walker lipat, dan seorang pria muda yang tidak dikenal Rani, rupanya sopir sewaan, mengangkat dua kotak besar berpita emas.
Ibu Bagas menolak walker.
Rani melihatnya dari ambang pintu. Di lorong rumah sakit dulu, Ibu hanya berjalan beberapa langkah. Jalan setapak menuju teras ini lebih dari dua puluh langkah, berkerikil, dan Rani tahu persis berapa lama kaki itu sanggup bertahan. Perempuan itu berdiri di sisi mobil, satu tangan di bahu Bagas, menarik napas dalam, lalu melepaskan tangan itu. Satu langkah. Dua. Ia menyusuri jalan sempit itu dengan kaki yang kelihatan harus dibujuk di setiap pijakan, bibir terkatup rapat, mata menatap lurus ke satu tempat.
Ke Rani.
"Ibu..." Rani setengah mengulurkan tangan.
"Jangan," kata Ibu Bagas, terengah, tersenyum. "Biar Ibu sendiri, Nak."
Lutut kirinya goyah di langkah kedelapan dan Bagas, di belakangnya, otomatis maju, tetapi Ibu mengangkat satu jari tanpa menoleh dan Bagas berhenti di tempat dengan tangan mengambang di udara. Di langkah kedua puluh dua ia sampai ke undakan, naik satu anak tangga dengan tangan bertumpu pada kusen, dan Rani, yang sudah tidak ingat kapan menyerahkan Alya ke gendongan Maya, merengkuhnya dengan kedua tangan.
"Ibu sampai," kata Ibu Bagas ke bahunya, dan suaranya pecah. "Sampai ke pintumu sendiri, Nak. Tanpa dipapah."
"Iya, Ibu. Saya lihat."
"Doamu dulu itu..." Ibu menarik diri sedikit, memegang kedua pipi Rani, memandang lesung pipi yang sebentar hilang karena Rani menggigit bibir. "Ibu mau bilang satu hal, sebelum yang lain-lain, supaya tidak ada salah paham. Selama ini kasih sayang Ibu padamu, itu kasih sayang saja. Bukan karena Ibu mau kamu jadi apa-apa buat Ibu. Kalau kamu bilang tidak hari ini, besok, kapan pun, Ibu tetap Ibu yang sama."
Rani tidak bisa menjawab; ia hanya menggenggam lengan baju Ibu.
Di belakang mereka, ibu Rani berdiri sangat kaku di ambang pintu, memandang perempuan yang berjalan sejauh itu tanpa walker dengan wajah seseorang yang sedang menelan sesuatu yang besar, lalu berkata pelan dan jelas, "Silakan masuk, Bu."
*****
Ruang tamu penuh sampai ke pintu. Kakak tertua Rani, yang tiba semalam dengan wajah tegas dan kemeja yang terlalu rapi, duduk di kursi utama sebagai wali, dengan Adi di sisinya dan Iki di sisi lain yang terus menarik-narik lengan kemejanya. Ibu Rani di sebelah kakak tertua. Maya dan Danu duduk di sudut. Rani duduk di dekat dinding dengan tangan terlipat di pangkuan, dan ketika matanya bertemu mata Bagas di seberang ruangan, laki-laki itu langsung menunduk memandang lututnya.
Kak Laila membuka dengan salam dan basa-basi yang halus. Kemudian ia menyerahkan dua kotak berpita emas, satu per satu, kepada kakak tertua dengan dua tangan. Isinya sehelai kain songket, seperangkat alat shalat, kue-kue Banjarmasin yang tersusun seperti perhiasan, dan buah dalam keranjang rotan.
"Ini sekadar hantaran kecil dari keluarga kami," ujarnya, "bukan harga, tetapi tanda niat."
"Kami terima dengan terima kasih," kata kakak tertua dengan suara berat. "Silakan sampaikan maksud kedatangan."
Ibu Bagas menoleh pada anaknya.
Bagas berdiri. Ia merapikan kopiahnya, yang tidak berantakan, dan menarik napas panjang sebelum bicara, dan Rani melihat tangannya yang tergantung di sisi tubuh itu mengepal, lalu membuka, lalu mengepal lagi.
"Ibu, Kakak-kakak, semua yang hadir." Suaranya serak, kemudian tenang. "Saya Bagaskara Sanjaya. Saya datang membawa Ibu dan Kakak saya untuk melamar Maharani Saraswati. Saya tahu saya datang di waktu yang tidak mudah. Saya tahu Rani sudah pernah menikah, punya anak, dan membayar mahal untuk satu keputusan. Saya tidak datang untuk menghapus itu. Saya datang untuk menemani sisanya."
Ia berhenti, dan baru kali itu menoleh ke Rani, langsung, dengan mata yang tidak lagi menghindar.
"Aku akan menjadikan kamu wanita pertama dan terakhir yang akan mendampingi aku di sisa-sisa hidupku, dan akan menjadi ibu untuk anak-anak kita kelak, walaupun aku laki-laki yang kedua untukmu, dan kupastikan akulah yang akan menjadi pelabuhan terakhir untukmu dan aku tidak pernah menyesali, jika takdirku adalah dirimu."
Tidak ada yang bergerak. Di sudut, Maya menutup mulut dengan telapak tangan dan Danu memandang langit-langit. Iki berbisik terlalu keras, "Itu artinya dia mau nikah sama Kak Rani?" dan ibu Rani, tanpa menoleh, menyentuh lututnya sekali sampai ia diam.
Ibu Bagas merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan kotak beludru kecil, tua, warnanya sudah pudar menjadi cokelat. Di dalamnya, di atas kain putih yang menguning, sebuah cincin emas tipis dengan satu mata kecil.
"Cincin ini dari nenek Bagas," katanya, menatap Rani. "Ia berpesan, untuk perempuan yang kelak Bagas lamar. Subuh tadi Bagas mengambilnya dari laci dan menitipkan kotaknya pada Ibu, supaya Ibu yang menyematkan. Boleh, Nak?"
Rani menatap kakak tertuanya, yang memejamkan mata sekejap tanda setuju. Ia menatap ibunya, yang membalas lebih lambat. Lalu ia mengulurkan tangan kirinya sendiri, dan jari manisnya tidak gemetar.
Cincin itu pas, nyaris seolah dibuat untuknya.
"Lamaran ini kami terima untuk didengar dan dibicarakan," kata kakak tertua, resmi dan pelan. "Yang menjawab adalah adik kami sendiri. Rani?"
Seluruh ruangan menoleh. Rani menarik napas.
"Saya sangat berterima kasih pada Ibu dan Mas Bagas," katanya, dengan suara yang ia pelihara agar tidak naik. "Saya mau menjawab dengan benar, bukan dengan terburu-buru. Dulu saya pernah menjawab terlalu cepat." Ia menelan ludah. "Boleh saya minta waktu tiga hari?"
Hening sepersekian detik. Lalu Bagas, yang tadi berdiri kaku, tersenyum, senyum kikuk yang rupanya tidak bisa ia sembunyikan.
"Aku sudah menunggu dari pantai," katanya. "Tiga hari tidak apa-apa."
*****
Di pagar, saat rombongan Banjarmasin pamit, Rani melihat ibu Rani menahan lengan Ibu Bagas sebentar, hal yang tidak pernah ia lihat ibunya lakukan pada orang asing.
"Bu Bagas." Suara ibu Rani rendah. "Dulu, di rumah sakit, saya bilang Ibu orang asing yang mengambil anak saya."
"Saya ingat, Bu."
"Saya salah." Ibu Rani menatap lutut Ibu Bagas yang berdiri tegak di atas sandal. "Anak itu tidak diambil. Dia dijaga. Terima kasih."
Ibu Bagas menggenggam tangannya dengan kedua tangan dan tidak berkata apa-apa, dan justru itu yang membuat ibu Rani akhirnya menghela napas lega.
*****
Sore, sesudah semua tamu pulang dan kue-kue sudah dibagi sampai tetangga, Rani duduk di teras dengan cincin di jarinya yang terus ia putar-putar, dan Alya tertidur di pangkuan.
Pagar berderit pelan. Hajjah Salmah berdiri di sana dengan tas kain di kedua tangan, tidak berani membuka pagar lebih lebar dari yang perlu untuk tubuhnya. Rupanya ia menunggu di warung ujung gang sampai rombongan Banjarmasin pulang.
"Maaf, Nak. Mama tidak mau mengganggu hari ini," katanya. "Tapi ini tidak pantas lewat pesan. Rendi menitip tanya. Ia ingin bicara dengan laki-laki yang menjagamu. Hanya bicara. Mama tidak akan memberikan nomornya tanpa izinmu."
Matanya turun ke cincin di jari Rani, bertahan sedetik di sana, lalu menunduk tanpa berkomentar.
Rani memutar cincin itu sekali. "Itu hak Mas Bagas untuk menjawab, Bu Hajjah. Saya tanyakan malam ini, dan kabari besok."