"Aku sangat beruntung bisa memiliki dan akhirnya menikah denganmu, Sayang."
Suara seorang wanita dan pria terdengar sangat romantis dari dalam kamar sebuah rumah besar dengan ukiran kayu khas Jepara. Kamar yang juga kental dengan ukiran kayu dan dihiasi mawar putih di sekitar sudut-sudut yang tampak oleh mata menambah suasana romantis pada dua pasangan yang baru saja menikah, Sebastian Narendra Gunawan atau biasa disapa Naren dan Pramudya Ayuningtyas atau biasa disapa Tyas. Pernikahan yang dilandasi dengan cinta tentu saja akan memberikan makna tersendiri di dalamnya, terlebih pasangan yang biasa disapa NaTa ini adalah pasangan yang serasi, dan telah melewati masa-masa pacaran yang penuh dengan badai dan topan sehingga dengan resminya kedua sejoli ini menandakan babak baru dalam kehidupan mereka sebagai status dan hubungan baru, suami-istri.
"Kau tahu, Sayang. Mengenalmu adalah satu hal terbaik yang pernah ada dalam hidupku, tak pernah terbayangkan olehku memiliki seorang wanita yang digilai para pria dan kupikir tadinya kau tak mau menikah denganku, melirik pun tidak. Tapi, ternyata-"
"Tuhan mungkin telah menunjukkan padaku jika kau adalah pilihan terbaik untukku, Mas." Jemari mungil lentik bergambar seni henna di kedua tangannya mengusap halus wajah sang suami. "Aku juga sangat bersyukur, Mas karena kamu, hidupku ... duniaku jadi penuh makna dan warna. Terima kasih telah memilihku, mencintaiku, dan menikahiku." Senyum sang istri memperlihatkan wajah bahagianya.
Naren-sang suami terus menatap wajah ayu cantik jelita berbalut make-up yang terkesan natural, namun itulah yang membuat kecantikan seorang Pramudya Ayuningtyas lebih terpancar.
"K-kenapa melihatku seperti itu, Mas?" tanya Tyas menundukkan pandangannya.
"Aku takjub dan kagum!" sahut Naren mengurai senyum.
Tyas memiringkan kepalanya dan berkata, "Takjub kenapa?"
"Karena aku melihat di depanku kini bagai bidadari yang baru saja selesai dicipta dan langsung diberikan padaku."
Mendengar ucapan sang suami, istri mana yang tak akan langsung tersipu malu sekaligus bahagia selalu dipuja oleh pasangan pilihannya. "Kamu pandai merayu ya, Mas? Jadi, kemampuan kamu disembunyikan selama ini?" tanya Tyas malu-malu.
"Siapa yang merayu? Mas ga lagi merayu, kok. Itu benar-benar dari hati Mas Naren."
Naren terus mendekati sang istri yang masih mengenakan pakaian pengantin adat jawa lengkap. "Aku mau lepas ini dulu, Mas. Besok mau diambil sama yang punya." Tyas sebetulnya tak enak hati langsung memotong ucapan sang suami, tapi dirinya memang masih sedikit takut meski status dan hubungan mereka telah resmi. Akhirnya, untuk mengurangi rasa kikuk antara keduanya, Tyas memilih untuk melepas segala pernak-pernik dan pakaian yang menempel di tubuhnya. "Mas, bisa tolong aku lepas konde ini? Sepertinya tersangkut." Ucapnya, berulang kali Tyas mencoba untuk melepas konde pengantinnya yang berukuran sedang.
"Mana, coba." Naren dengan cekatan dan hati-hati melepas sanggul rambut dari kepala sang istri. "Done!" sahutnya tak lama kemudian.
"Ahhhh, enaknya ... rambutku terasa sangat ringan dan tak lepek lagi. Makasih ya, Mas." Senyum Tyas layaknya anak kecil yang baru dibelikan permen.
"Anytime, dear." Ucap Naren seraya ingin mencium kening sang istri, tapi ternyata Tyas lebih pintar dari dugaannya. Wanita ini berkelit dan mengambil kapas juga pembersih wajah dari meja riasnya.
"Haha, wajahku kan masih seperti minyak sayur, Mas. Riasan pengantin ini membuat wajahku tampak sangat tak nyaman, gatal ...." Tyas ingin menggaruk wajahnya dengan kuku-kuku yang dilapisi henna warna hitam.
"Eh, apa yang mau kau lakukan?" tanya Naren menghadang tangan sang istri.
"Wajahku gatal, Mas. Aku ingin menggaruknya," papar Tyas.
Sambil tersenyum, Naren lantas menggoda sang istri dan berkata, "Di mana yang gatal? Sini, biar aku garukin."
"Ishh, ngomong apa sih kamu, Mas?! Gatel beneran ini mukaku! Udah, ah! Aku mau cuci muka dulu." Tyas pergi meninggalkan sang suami masih dengan kebayanya. Sementara Naren hanya bisa diam berdiri layaknya patung selamat datang dan menghela napas.
Wajah Naren sedikit masam ketika sang istri masih bersikap "jual mahal". Dengan berusaha lapang, Naren menarik laci dekat nakas warna coklat di kamar mereka dan mengambil sebatang rokok sambil keluar balkon kamar, menikmati sesapan rokoknya di tengah dinginnya kota Jogja. Tak lama, Tyas keluar dan melihat sang suami yang tengah berdiri di balkon kamar mereka sambil menikmati hisapan rokok. "Mas, ngapain di luar?" tanya Tyas ingin menghampiri.
"Cari angin," sahut Naren.
'Cari angin?' Gumam Tyas melihat jam dinding di kamar mereka yang menunjukkan pukul tujuh malam.
Tyas yang tak memiliki pikiran lain pun mulai membersihkan riasan yang masih menempel di wajah cantiknya, sementara Naren sesekali melihatnya dari balkon. 'Cantik, sih ... bersyukur. Tapi, kenapa masih jual mahal, ya?' Gumam Naren hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Mas, masuklah. Nanti masuk angin." Ucap Tyas yang masih sibuk membersihkan makeup-nya.
"Tanggung."
Tyas menoleh ke arah Naren dan menghampiri sang suami yang masih berdiri di luar balkon kamar mereka. "Indah." Ucap Tyas melihat kemilau bintang tanpa penghalang di langit kota Jogja kala malam.
"Iya, indah. Apalagi kalau-"
"Kalau apa lagi, hayoooo?" goda Tyas namun dengan lirikan tajam.
"Kalau ditemani sama orang tersayang, terkasih, tercinta, ter ... ter ... ter ... semua." Naren mematikan rokoknya dan menggenggam kedua tangan sang istri.
"Kau tahu kan bagaimana awal kita bertemu, Tyas?"
"Di udara?" Tyas menaikkan salah satu alisnya.
"Oh, ayolah ...." rengek Naren.
"Haha, iya ... iya, Mas. Tentu aku ingat betul bagaimana kita bertemu. Memangnya ada apa?"
"Sama seperti bintang-bintang itu, kan?"
Tyas hanya menggelengkan kepalanya. "Aku tak mengerti maksudmu, Mas."
"Bintang itu awalnya hanya terdiri satu bintang, kemudian bertemu dengan bintang lain di jagat alam semesta, kemudian bertemu lagi dengan berbagai bintang lain yang masing-masing berlainan bentuk, nama, jenis, dan juga kadar terangnya."
"Kamu tuh mau ngomong apa, sih Mas? Kok aku jadi ga mudeng, ya?" keluh Tyas ingin melepaskan genggaman tangan sang suami.
"Teruslah menjadi bintangku yang paling bersinar di antara ribuan bahkan jutaan, ah tidak. Miliaran! Ya, jadilah bintang yang paling bersinar dan selalu menerangi jalanku kala jalanku gelap dan langkahku tertatih. Bukan Venus ... bukan Mars ... bukan pula kejora. Jadilah selalu bintang yang mengalahkan Sirius sekali pun."
Tyas hanya termangu mendengar ucapan sang suami. Pria yang selama tujuh tahun dipacarinya itu, tak pernah satu kalimat romantis dan puitis yang terlontar dari mulutnya. Entah ada apa dengannya malam ini. Semua rasanya tampak asing bagi Tyas meski dia telah lama mengenal keluarga sang suami, namun ketika masuk dan menjadi salah satu keluarga Gunawan, semua terasa sangat berbeda. "Sayang, kenapa kamu diam? Apa ucapanku salah?" tanya Naren melihat sang istri hanya diam dan tiba-tiba punggung tangan Naren basah, mengira hujan turun tapi ternyata air mata sang istri.
"K-kenapa, Sayang?" tanya Naren sedikit panik.
"Tidak, tak apa-apa, Mas. Aku hanya ... hanya kaget sejak kapan kamu jadi sangat puitis dan romantis?" Tyas tak jemu-jemu memandangi sang suami.
"Hah, kenapa baru menyadarinya. Ini adalah keahlianku dan hanya akan ku keluarkan di depan orang yang benar-benar aku sayang." Naren kini menarik tubuh sang istri dan mendekapnya erat. "Biarkan kita menikmati malam pengantin kita sambil ditemani sinar bulan dan senyuman para bidadari bintang yang aku yakin mereka sedang memainkan kidung kebahagiaan dan pesta yang sangat meriah."
Tyas hanya mengangguk sambil berada di dekapan sang suami tercinta, menikmati tenangnya malam, terangnya langit, dan guyuran sinar bulan yang tepat ada di atas kepala mereka.