Siapa yang menyangka pada masa depan yang akan terjadi, hal itu tidak bisa diprediksi sama sekali. Namun, mengharapkan masa depan yang terbaik adalah salah satu yang bisa dilakukan tak lupa juga diiringi oleh usaha dan doa. Hal itu yang selalu Clarista tanamkan dalam benak dirinya Meskipun tak dapat melihat masa depan, ia selalu berdoa kepada Tuhan agar kehidupannya di masa depan lebih baik.
Clarista Kiara Amelia adalah gadis remaja yang masih duduk di bangku kelas dua SMA semester akhir. Dirinya begitu penuh keceriaan, kebahagiaan, dan juga sedikit kenakalan dalam dirinya. Kini, ia menggenggam tangannya berdoa agar hari ini diberi kelancaran dalam ujian matematikanya.
“Ya Tuhan, kali ini kau harus mengabulkan doa ku. Aku harus mencapai nilai minimal 75 dalam ujian matematika kali ini. Aku tidak bisa membuat mama marah lagi, saat ini mama sedang banyak pikiran apalagi sekarang ayah sakit. Kumohon kabulkan doaku, aku akan jadi anak yang berbakti dan mengikuti semua permintaan orang tua jika aku mendapat nilai yang bagus tanpa terkecuali."
"Sudah berdoa nya?" tanya Retno_ibu Clarista
"Ma, mengagetkan saja," pekik Clarista seraya mengelus dadanya, Ia kemudian menghampiri Retno, memeluk lengannya seraya bergelayut manja. "Ma, doain Clarista biar nilainya gak merah."
"Ma, kalau Clarista sampai dapat nilai diatas 75. Clarista bakal kabulkan permintaan permintaan Mama dan Ayah. Masing-masing dapat satu permintaan. Clarista janji bakalan usahain semampu dan setitik darah penghabisan Clarista buat penuhin permintaan Mama dan Ayah."
Retno mengangkat alisnya mendengar putrinya. " asal kamu bahagia, mama juga bahagia."
"Ya udah Clarista mau siap-siap dulu ke sekolah."
" Oke, mama udah siapin roti kaya kesukaan kamu."
Setelah sang ibunda pergi, Clarista kemudian merapikan tempat tidurnya dan juga mulai menyisir rambutnya hitam nan lebatnya. Ia kemudian menguncir rambutnya, lalu mengoleskan sedikit bedak pada wajahnya.
Clarista keluar dari kamarnya, di sana ia sudah melihat ayahnya di atas kursi roda dan ibunya yang tengah menyiapkan sarapan untuknya. Ayah Clarista yang bernama Erda, baru saja keluar dari rumah