Sepasang mata indah dengan bulu matanya yang lentik sekilas memperhatikan sosok pria bertubuh tambun yang berjalan mondar mandir di hadapannya sedari tadi, ia sedikit kesal karena sosok itu berhasil membuat konsentrasinya buyar yang sedang membaca majalah, duduk bersantai di kursi dekat kolom renangnya hanya mengenakan bikini berwarna biru sangat kontras dengan warna kulitnya seputih s**u.
"Niatmu datang di ke rumahku untuk apa sih Giun, dari sejak tadi ku lihat kamu terlihat gelisah sekali membuatku pusing." gerutunya meletakan kasar majalah di atas meja mengambil orange jus lalu mengisap sedotannya pelan.
Pria itu menghentikan langkahnya, menatap kesal pada si wanita yang tidak lain sahabat baiknya.
Bagaimana dia tidak kesal, beberapa hari lalu sahabatnya ini datang ke butiknya untuk meminta mendesain baju pengantin pernikahan kualitas terbaik dengan pria tidak jelas. tentu Giun menentang hal ini, ia butuh bicara secara privasi dengan Navya agar menghentikan rencana bodoh bisa merugikan Navya kelak di masa mendatang. Tidak tahukah Navya menikah bukan hal yang gampang bisa di sepelekan. Pernikahan adalah jangka waktu yang panjang seharusnya di pikirkan secara matang. Bibit, bobot, bebet harus jelas, tidak sembarangan di lakukan Navya menikah dengan lelaki miskin.
"Hentikan Navya, aku bisa saja menerima keputusanmu yang lain tapi tidak kali ini kamu harus memahaminya kenapa aku menentangmu keras, pria itu bukan setipe denganmu, dia tidak setara, ya ampun Navya pikirkanlah, apa kamu sudah gila hah." kata Giun duduk di kursi bersampingan dengan tempat duduk Navya membujuk agar Navya menghentikan ide gila itu untuk menikah.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu tentang Dimas, justru dia tipe ku yang tidak akan menyakiti atau tersakiti, Dimas pria baik yang bisa kupercaya dari pada pria di luar sana." kata Navya santai mengambil majalah itu lagi membolak balik tiap lembarannya tanpa fokus sedikit pun karena pikirannya memang berputar tentang apa yang di ucapkan Giun.
"Navya, kamu kan bisa memilih pria lebih berkelas setidaknya sebanding denganmu, kamu hanya belum mencobanya, buka hatimu dan matamu lebar, kamu tahu si model tampan Fedri menaruh hati padamu, belum lagi putra pengusaha terkaya batu bara dari Kalimantan si Venus juga mengharap kamu membalas cintanya, masih banyak daftar pria yang cocok buat di jadikan calon suami, bukan ...si pelayan itu." kata Giun dengan ekspresi geli, membayangkan Navya bersanding dengan Dimas antara langit dan bumi. entah mimpi apa dia semalam sampai sahabatnya ini akan menikah dengan pria miskin.
Navya jengah dengan nyinyiran dari Giun, ia menghela nafas lelahnya, melirik tajam pada Giun yang menyadari ekspresi tidak suka Navya hingga meneguk salivanya.
"Ini bukan pernikahan sungguhan." kata Navya membuat Giun mengernyit keningnya bingung, belum bisa menangkap maksud dari ucapan Navya.
"Maksudmu?" tanya Giun masih tidak mengerti.
"Ini hanya pernikahan kontrak, setelah aku hamil aku akan bercerai dengannya dan selesai." kata Navya lugas.
"Heh... kamu serius, kenapa bisa kamu menginginkan benih dari pria miskin itu? Astaga aku bisa ikut gila karenamu Navya."
"Dia tidak miskin Giun, jaga ucapanmu. Please."
"Ya..Sorry." Giun memutar bola matanya malas.
"Beberapa bulan ini kakek ku mendesakku untuk menikah secepatnya, kamu tau sendiri aku tidak tertarik dengan pria mana pun, tapi keadaan kakek sering sakit sakitan, aku tidak tega setidaknya aku ingin membahagiakan kakek dengan memberikannya seorang cicit, itu harapan beliau selama ini." kata Navya.
"Tapi bukannya kakek mu sudah ada cicit dari adikmu Fajar yang sudah menikah lalu kenapa harus darimu lagi?" tanya Giun.
"Kamu ini bodoh atau apa, bukannya aku sudah menjelaskan padamu kakek ku meminta cicit padaku bukan adik ku Fajar." kata Navya kesal menatap Giun menyengir.
"Setidaknya aku ingin balas jasa padanya membesarkan aku dan Fajar sampai kami sukses hingga sekarang, meski tanpa orang tua mendampingi kami." kata Navya.
Giun tersentuh, dia tau persis tentang masa kecil Navya yang sudah di tinggalkan kedua orang tuanya dalam kecelakaan pesawat berpuluh tahun silam yang merenggut semua penumpang pesawat di antaranya kedua orang tua Navya.
Navya saat itu masih umur 6 tahun, dan Fajar masih kecil belum tau apa sebenarnya terjadi, Navya lah yang teramat terpukul namun sang kakek menabahkan hati Navya.
"Jadi karena alasan ingin membahagiakan kakek mu, kamu rela menikah dengan pria tidak kamu cintai, tapi seandainya tujuan kamu berhasil, apa kakek mu tidak mempertanyakan kalau kalian berpisah kelak." kata Giun mencoba menyadarkan Navya dampak buruknya dari rencana yang di wanita itu susun.
Navya hanya terdiam, enggan menjawab pertanyaan Giun, saat Giun ingin berbicara lagi namun terhenti karena ponsel pria itu berdering nyaring buru buru di angkatnya.
Giun terlihat berbicara serius di balik ponselnya, tidak lama ia menutup ponselnya menatap Navya samar.
"Aku pergi dulu ada urusan." kata Giun berdiri, lalu membungkuk mengecup pipi Navya.
"Lain kali tidak terlalu penting jangan datang ke sini." sahut Navya membuat Giun bedecak kesal.
Pria itu berjalan gemulai meninggalkan kediaman Navya.
Navya menarik nafasnya ia berdiri, saat ia mengenakan jubah handuknya, ia menangkap sosok Dimas yang ingin menghampirinya namun tidak jadi, pria itu terlihat buru buru berbalik pergi.
"Dimas!" panggil Navya hingga Dimas menghentikan langkahnya menoleh pada Navya yang sudah mengikat jubah handuknya.
"Kamu perlu sesuatu?" tanya Navya hingga Dimas perlahan melangkah kan kakinya yang terasa berat.
"Begini nona, saya ingin mengajak ibu saya untuk bertamu ke rumah ini sebagai mestinya seorang pria melamar calon wanitanya, meski pernikahan ini sandiwara tapi saya berharap ibu saya tidak mengetahui hal ini, jadi kapan nona ada waktu walau sekejap berkenan menemui ibu saya di saat beliau ke sini." kata Dimas grogi.
"Malam ini silakan kalian datang, aku akan menjamu kalian." kata Navya melangkah melewati Dimas menuju kamarnya, sekilas ia menoleh ke Dimas.
"Dan jangan terlalu formal padaku lagi karena kamu calon suamiku."
Dimas bengong sendiri, memperhatikan punggung Navya dari belakang, ia memang merasa canggung dengan Navya, tapi hanya hitungan minggu wanita itu akan menjadi istrinya.
"Dosa loh perhatikan non Navya seperti itu." kata seorang wanita paruh baya menepuk bahu Dimas kuat, hingga Dimas tersadar dari lamunannya.
"Ah.. bibi Emi kagetin saja." kata Dimas.
Bibi Emi tersenyum simpul melirik pada Navya yang sudah menaiki anak tangga.
"Kamu suka pada nona Navya?"
"Enggak, Bibi ngomong apa sih, sudah dulu ya... Bi aku bersihin mobil lagi." kata Dimas menyudahi obrolan nya dengan Bibi Emi yang mampu membuatnya salah tingkah.
Tbc