Satu hal yang tidak pernah Izora sangka, bahwa hari sial dalam hidupnya masih terus berlanjut. Dari dia yang bangun terlalu siang, sampai macet di jalan, dan kali ini, baju putih yang dia kenakan harus terkena noda kopi yang dia pegang.
Tangan Izora terkepal dengan urat-urat leher yang terlihat mencuat keluar. Izora mulai menghitung angka dengan mata terpejam, dia harus mencoba mengatur emosinya. Dia tidak bisa terus meledak di tempat umum.
Mata hitam legam itu terbuka pelan, objek yang pertama dia lihat adalah pemuda dengan helm kuning cerahnya, jaket orange dan makanan yang terlihat berantakan di atas lantai. Belum lagi kopi tumpah yang dia genggam.
"Sabar Izora. Jangan meledak di tempat umum, ini bukan dirimu." Izora terus menggumamkan kalimat itu berulang kali.
"Arkana! Saya sudah bilang untuk berhati-hati!" sentak suara yang cukup tinggi dari balik tubuh Izora. Wanita itu sedikit terkejut dengan suara teriakan yang cukup nyaring.
Arkana yang sedang merunduk dengan cepat berdiri tegap, matanya mengedip pelan, dia menatap pria bertubuh tambun di depannya dengan perasaan yang mulai was-was. Jika dia dipecat, maka tamat sudah semua cita-citanya.
Izora pun tidak luput dari rasa terkejutnya, dia menatap Arkana dan meneliti pemuda di depannya itu. Dia jelas mengingat jika Arkana adalah pria yang sama, dengan pria yang kemarin sore menawari dirinya sebuah payung.
"Maaf Mbak, anak buah saya memang nggak becus," kata pria tambun itu dengan senyuman canggung. "Kami akan mengganti kopi yang sudah tumpah, dan maaf karena karyawan kami sudah membuat baju Anda kotor."
"Tidak apa-apa," jawab Izora dingin, tanpa menoleh lagi. Dia melanjutkan langkahnya begitu saja.
Tepat di depan pintu kafe, suara dering ponsel kembali terdengar. Izora dengan enggan mengangkat telpon dari ibunya dengan cepat.
[Apa mom?] tanya Izora dengan nada malas.
[Tsk, kamu darimana saja sih, lama sekali angkat telponnya] hardik Ratna dari sebrang sana.
[Ada apa, mom? Aku ada rapat penting, jadi nggak bisa ngobrol terlalu banyak]
[Selalu seperti itu, semalam kamu bilang cape, terus tadi pagi, kamu malah pergi tanpa pamit dulu, kali ini, kamu bilang ada rapat. Mommy cuma mau ngobrol] cerocos Ratna tanpa henti.
Izora menarik napas dalam, dia menyugar pelan rambutnya dan merasakan urat-uratnya kembali menegang. [Lantas, mommy ingin bicara apa? Bisa to the point saja, Zora nggak ada waktu banyak]
Izora berucap dengan sesekali menatap jam yang berada di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan angka tujuh lebih lima belas menit, dan dia benar-benar sudah terlambat lima belas menit masuk kantor.
[Mommy ada kenalan, ini akan cocok di kamu. Dia anak teman mommy]
[Mom, come on, jangan terus menerus membahas jodohku. Aku bisa mencari sendiri]
[Mana buktinya, tidak ada 'kan. Kamu bicara seperti itu sudah dari tahun lalu] sela Ratna dengan suara jengkel.
Izora terdiam, dia menggaruk pelan ujung pelipisnya. Merasa kesal, tetapi tidak bisa berbuat apapun.
[Pokoknya jam tujuh malam, di kafe Purnama, paham]
Panggilan terputus begitu saja, dengan amarah yang siap meletup dalam diri Izora. Dia berbalik pelan dan menatap lewat pantulan kaca, pemuda yang tadi menabraknya, pemuda itu terlihat sedang menunduk dihadapan bos nya.
"Kamu saya pecat!" bentak pria tambun di depan wajah Arkana.
Arkana hanya mampu menunduk dengan jemari yang saling tertaut. Dia memejamkan mata, dan mencoba menerima semuanya. Namun, tetap saja, Arkana tidak terima, bukan dia yang salah melainkan wanita tadi.
"Maaf sekali lagi, Bos," ucap Arkana pelan, jemarinya mengepal di sisi tubuh, dia begitu marah dengan dirinya sendiri karena tidak mampu menjaga pekerjaan yang sudah susah payah dia dapatkan ini.
Dengan bahu merosot, dan langkah terseret yang nyaris tanpa energi, pemuda itu keluar dari dalam kafe. Dia berjalan ke arah motor bebeknya yang selama ini menemani dirinya bekerja.
Arkana terdiam sambil menggenggam helm kuning di tangannya, dia kembali menatap kafe besar di depannya dengan perasaan enggan untuk pergi. Arkana sudah bekerja cukup lama, hanya karena masalah sepele, dia sampai dipecat seperti ini.
"Jadi, kamu dipecat?" tanya suara yang cukup asing di telinga Arkana.
Pemuda itu membalikkan setengah tubuhnya, dan menatap heran pada wanita yang beberapa waktu lalu dia temui. Alisnya menukik, Arkana menatap ke arah Izora dari atas sampai bawah.
"Mbak ...,"
Mata Izora mendelik, dia bahkan belum setua itu untuk di panggil mbak, kenapa pemuda di depannya sering sekali memanggil mbak. Sedangkan Arkana, dengan cepat menutup rapat mulutnya.
"Maaf, Kak. Aku salah panggil," ucap Arkana, sambil meringis pelan.
Izora mendelik tajam, dia berusaha menekan amarahnya, dia harus fokus pada apa yang akan dia sampaikan pada bocah di depannya ini. Izora mulai menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman manis dan indah yang dia punya.
Tangan Izora terulur, "Nama saya Izora, dan ayo menikah dengan saya."
"Apa?!" pekik Arkana tidak percaya.
Satu hal yang tidak pernah terpikirkan, dan tidak ada dalam daftar hidupnya adalah di ajak menikah oleh wanita yang bahkan tidak dia kenali. Saat ini, dua orang dengan latar belakang berbeda itu saling menatap.
Mereka duduk di salah satu bangku taman yang tidak jauh dari Kafe Purnama. Arkana terus terdiam, dan sesekali mengusap tengkuknya pelan, dia bingung harus merespon seperti apa.
"Jadi, bagaimana? Apa kamu menerima tawaran saya?" tanya Izora to the point. Dia menatap Arkana dengan raut wajah serius, tatapan itu begitu tajam dan sedikit mengintimidasi Arkana.
"Tapi ... kenapa harus saya, Kak?" Arkana mencoba melontarkan pertanyaan, setidaknya dia harus tahu alasan yang sebenarnya.
Izora mengetuk pelan meja dengan kukunya, kebiasaan yang selalu dia lakukan ketika sedang memikirkan satu hal yang tidak sesuai kehendaknya. Ayolah, ini memang bukan sifatnya.
Dia terlalu influnsif mengajak pria yang tidak dia kenali untuk menikah, tetapi, setidaknya dia pernah beberapa kali melihat Arkana mengantar makanan ke rumahnya. Yah, Izora baru mengingatnya, jika Arkana cukup sering mengantar pesanan miliknya.
"Kamu tidak perlu tahu alasannya, tapi yang jelas disini, jika kamu mau menikah dengan saya, maka semua yang kamu mau, akan saya berikan," tutur Izora terdengar tegas, dia menatap Arkana dengan raut wajah seriusnya.
Jari Arkana terpaut, dia bingung harus mengiyakan atau tidak, tetapi tawaran yang diberikan wanita di depannya cukup menguntungkan untuk dirinya. Cukup lama Arkana berfikir sampai membuat Izora kesal menunggunya.
"Satu miliar," ucap Izora. "Saya bisa memberikan kamu nominal itu."
Kepala Arkana mendongak, dia menatap Izora dengan raut wajah tidak percaya. Bagaimana bisa uang sebanyak itu dikatakan dengan entengnya.
"M-maksud Kakak, saya bisa mendapatkan uang itu, jika menikahimu?" tanya Arkana memastikan.
Izora mengangguk pelan, menunggu keputusan apa yang akan Arkana ambil ke depannya. Hampir 30 menit lamanya, keputusan itu tidak kunjung dia dapatkan, membuat Izora kesal dan merasa muak.
"Mau atau tidak?!" sentak Izora cukup kencang.
Arkana terkejut, dia dengan refleks mengangguk sebagai jawaban. Tidak ada yang salah dengan tawaran menikah, Arkana rasa itu adalah keputusan yang baik, lagipun dia memang membutuhkan uang untuk melanjutkan kuliahnya.
"Bagus, mari kita buat kesepakatan dulu." Izora mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, lantas menyerahkan pada Arkana. "Saya minta nomor ponselmu, nanti saya kabari lagi."
Arkana hanya mengangguk samar, dia menurut saja, dan membiarkan Izora pergi dari sana. Meninggalkan dirinya yang masih duduk di kursi taman dengan senyum tipis di wajahnya.
Virelle group adalah nama perusahaan yang selama ini Izora miliki, bergerak di bidang fashion dengan high kualitas yang cukup tinggi. Beberapa aksesoris mewah juga sering kali Virelle buat, seperti tas, sepatu, dan bahan perhiasan bertahtakan berlian premium.
Tidak sembarang orang bisa bekerja di tempat ini, selain pemilik yang memiliki sifat perfeksionis yang tinggi, perusahaan ini juga tidak menerima pekerja lelaki. Alasannya jelas, karena Izora anti dengan pria.
"Jadwal hari ini?" tanya Izora dingin, dia menatap asisten pribadinya dengan sorot tajam yang selalu terlihat di wajah cantiknya.
"Meeting dengan perusahaan cakrawala, Bu, di jam sepuluh siang, lalu memilih bahan gaun yang akan kita gunakan di acara gala premiere, yang akan dikenakan salah satu aktris terkenal," jelas asistennya–Rani.
Izora mengangguk paham, dia mulai membuka tab dan menggulir layar di tangannya dengan teliti dan cermat. Dia memeriksa satu persatu file yang harus dia pelajari sebelum meeting berlangsung.
"Maaf Bu, jika tidak ada lagi, saya izin pamit undur diri." Mohon Rani sambil menunduk pelan, dia mundur perlahan, namun sebelum benar-benar meninggalkan ruang kerja Izora, suara atasannya itu kembali terdengar.
"Buatkan satu perjanjian pra pernikahan atas namaku dengan pria bernama Arkana," perintah Izora dengan suara tenangnya.
Rani terdiam, dia sedikit tercengang dengan perintah yang baru saja Izora ucapkan. Perjanjian pra pernikahan, perintah itu membuat tanda tanya besar di dalam kepala Rani.
"Rani, kau mendengar perintahku?" Suara Izora sedikit meninggi. Membuat Rani tersentak pelan.
"I-iya Bu, saya akan membuatnya," jawab Rani dengan cepat.
Izora mengangguk, dia mengayunkan tangannya dan meminta Rani pergi dari ruang kerjanya. Setelah kepergian Rani, netra Izora beralih pada satu figura kecil yang berada di sudut meja kerjanya.
Dia tersenyum samar dan meraih benda itu dengan perlahan. Hatinya berdenyut pelan, kenyataan itu kembali menghantam dirinya, Izora memejamkan mata, mencoba menekan sakitnya. Dia membuka perlahan matanya dan kembali tenggelam dalam deretan huruf di atas kertas.
Tepat di jam dua siang, setelah melakukan rapat dengan cakrawala group, Izora pergi memeriksa beberapa kain yang akan perusahaannya pakai untuk membuat gaun. Wanita itu dengan teliti memilih bahan, sampai matanya tertuju pada gaun indah pernikahan.
Tangannya terulur, mengelus pelan gaun itu dengan pelan, butiran mutiara yang memenuhi setiap inci gaun menambah kesan indah pada gaun putih itu, bagian d**a berbentuk V dengan lengan terbuka yang elegan.
"Ini cocok untuk pernikahan elegan dan mewah," ucap pemilik butik, dia tersenyum dan menghampiri Izora yang berdiri diam cukup lama.
Izora mendelik, dia berjalan ke arah sofa dan duduk disana. "Saya tidak berniat membeli, hanya memperhatikan saja."
Gita–pemilik butik sekaligus sahabat Izora berjalan mendekati wanita itu, dia duduk di sampingnya dan menghela napas pelan. Gita menatap Izora dengan tatapan sendu dan bersalahnya.
"Jangan menatap saya dengan tatapan seperti itu, Gita." Izora menghela napas pelan. Dia meraih secangkir teh di atas meja yang sudah tersedia.
"Maaf, karena aku ...,"
"Saya datang untuk membeli bahan, saya harap butik ini memilikinya," sela Izora dengan cepat, dia enggan membicarakan prihal masa lalu.
Gita mengangguk pelan, dia berdiri dari duduknya dan menghampiri Rani yang berdiri dengan setia di sisi atasannya. Mereka berdua pergi meninggalkan Izora yang terdiam sambil menatap teh di tangannya.