Aku tidak pernah menyangka, jika perjalanan hidupku harus serumit ini. Masa kecil yang menyakitkan, kini harus terulang lagi dengan kisah yang berbeda. Dari rasa kehilangan kedua orang tua, sampai dengan kehidupan susah yang harus kujalani bersama Nenekku. Aku selalu berharap ada keajaiban untukku bisa berkumpul lagi dengan Ayah dan juga Ibu. Namun sayang, semua hanya angan-angan belaka. Aku sudah ditakdirkan menjadi yatim piatu sejak usiaku belia. Hanya kepada Neneklah tujuan hidupku saat ini.
Betapa sakit hatiku, saat Nenek harus bekerja keras banting tulang mencukupi segala kebutuhan dan sekolahku. Wajah rentanya selalu membayangi di setiap tidurku. Ingin rasanya aku segera menyelesaikan sekolahku dan membantunya bekerja mencari nafkah. Cita-cita tinggallah harapan belaka, saat Nenek mengajakku duduk bersanding di tepi ranjang dan menceritakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi padaku.
Semua berawal dari cerita Nenek ketika dirinya masih anak-anak, Nenekku memiliki seorang sahabat kecil yang sangat dia sayangi, bernama Mira. Persahabatan yang baik itu harus berakhir dengan rasa sedih yang teramat dalam, saat Nek Mira harus pindah ke kota melanjutkan kuliahnya di sana. Hubungan keduanya sempat terputus beberapa saat, hingga akhirnya mereka dipertemukan lagi dalam sebuah acara reuni di kampungnya. Dari pertemuan itulah, hubungan keduanya kembali berlanjut melalui berbagai tulisan di selembar surat. Mereka selalu menuliskan cerita kehidupan tentang anak-anaknya, hingga muncullah sebuah ide menjodohkan aku dengan cucu dari Nek Mira. Dari sinilah awal cerita sedihku dimulai, aku tidak pernah tahu seperti apakah pria yang akan dijodohkan Nenek untukku nanti. Bayanganku hanya melihat pangeran tampan baik hati dengan kuda putihnya memanggil-manggil namaku. Luna… Luna, batinku. Lamunanku kembali buyar, saat seseorang memanggil namaku.
"Luna Respati!" aku terkejut, saat Nenek memanggilku untuk segera berganti pakaian. Kami akan pergi ke rumah teman Nenek yang sempat diceritakannya beberapa waktu lalu. Sebenarnya aku tidak ingin dijodohkan di usiaku yang masih delapan belas tahun ini, karena aku memiliki cita-cita yang tinggi. Seandainya semua ini hanyalah mimpi, mungkin aku akan sangat bersyukur.
Langkah kakiku begitu berat, menyusuri jalanan menuju rumah Nek Mira. Pikiranku terus melayang kemana-mana, membayangkan sosok pangeran yang akan dijodohkan denganku nanti. Beberapa saat kemudian, sampailah taksi di rumah teman Nenek itu. Mataku membulat kagum melihat istana besar di hadapanku saat ini. Aku dan Nenek berjalan masuk kedalam, menemui Nek Mira yang kaya raya itu. Aku diperkenalkan dengan seorang pria tampan bernama, Fabiyan Pratama. Seorang pria yang sangat sempurna di mataku. Dan gilanya lagi, aku langsung jatuh cinta kepadanya. Cinta yang begitu singkat kurasakan dan tak ingin berlalu begitu saja. Hingga malam yang panjang itu, membawaku pada situasi yang aneh. Aku tak bisa menguasai diriku lagi, tanpa menunggu waktu lama, aku langsung menjabat tangan Fabiyan.
"Perkenalkan, aku Luna Respati. Panggil saja, Luna," ucapku penuh percaya diri dan berharap mendapat balasan yang sama darinya. Namun takdir berkata lain, Fabiyan menghempaskan tanganku dan pergi meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Wajahnya yang dingin tak mengekspresikan kesukaannya terhadapku. Kulihat Fabiyan pergi menghampiri seorang wanita cantik di seberang sana, dia memiliki tubuh yang sangat sempurna. Cantik, tinggi, putih bersih, berambut pirang dan manis sekali. Mataku fokus menatap keduanya, yang terlihat sangat mesra dan intim. Entah mengapa ada rasa sakit dan iri di dalam hatiku, sakit seperti tertusuk-tusuk duri. Seketika aku tersadar, langsung kutepis rasa yang seharusnya tidak pantas kurasakan ini. Karena aku tahu, diriku hanya sampah bagi Fabiyan yang kaya raya dan tampan itu.
"Fabiyan!" panggil Nek Mira kepada cucunya. Segera Fabiyan mendatangi Neneknya, dan meninggalkan wanita itu.
"Mau kemana, kamu? Ajak Luna jalan-jalan, di sekitar," pinta Nenek Mira kepada cucunya yang tampan itu.
Tanpa penolakan, segera disetujui oleh Fabiyan perintah dari Neneknya itu. Memang menurut cerita, Fabiyan selama ini tidak pernah melawan perintah dari Nenek ataupun orang tuanya, ia termasuk cucu yang penurut dan jarang menuntut, karena di keluarga besar Fabiyan, Nenek Mira penguasanya. Siapa yang berani menentang, akan di hapus dari data ahli waris olehnya. Maka dari itu, Fabiyan dan kedua orang tuanya memilih patuh dan menuruti setiap keputusan dari Nek Mira.
Aku tahu, Fabiyan nampak malas dan tidak menyukaiku, terlihat dari sorot mata serta wajahnya yang begitu terpaksa mematuhi perintah Neneknya. Kami berjalan berjauhan, aku hanya diam mengikutinya dari belakang. Langkahku yang pendek begitu kesulitan untuk bisa mengimbangi langkah Fabiyan yang begitu cepat. Namun aku tak berani protes, aku tetap pasrah dan terus berjalan mengikutinya, jangankan untuk bertanya, sekedar menatap wajahnya saja aku sudah ketakutan.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh gertakan Fabiyan padaku, karena tanpa sengaja kakiku menabrak tubuhnya yang bidang itu.
"Buta!" teriaknya.
"M- maaf, aku tidak tahu, kalau kamu mendadak berhenti," jawabku ketakutan.
Kembali Fabiyan melanjutkan langkahnya menuju kolam renang, ia nampak menatapku datar dengan senyum sinis yang sulit diartikan. Tanpa permisi, Fabiyan melempar tubuhku ke dalam kolam renang yang sangat dalam. Aku yang memang tidak bisa berenang, langsung gelagapan dan berusaha meminta tolong kepadanya. Namun semua itu percuma, kulihat Fabiyan hanya berdiri santai dengan senyum yang terus menyeringai menyaksikanku.
Tubuhku mulai melemah, tenagaku sudah habis, perlahan diriku mulai tenggelam kedalam kolam. Berharap ada seseorang yang mau menyelamatkanku, namun semua itu mustahil, Fabiyan sudah tidak terlihat lagi disana. Entah kemana dirinya pergi, aku hanya pasrah kepada takdir, kini mataku mulai terpejam, tubuhku akhirnya karam di dasar kolam. Jantungku berdetak kencang, nafas terasa lemah, pandanganku mulai gelap dan merasa tenang.
Aku merasakan ada pelukan dan tarikan hangat di tubuhku. Serta tekanan yang kuat dan menyakitkan, membuatku memuntahkan begitu banyak air dari mulutku. Aku mulai membuka mata dan tersadar, masih kurasakan kebingungan dengan keadaan di sekitar. Samar-samar mataku melihat ada seorang pria manis di hadapanku, dia bukan Fabiyan, namun orang asing yang telah basah kuyup dan penuh kekhawatiran di wajahnya.
Melihat diriku tersadar, dia segera menggendongku masuk kedalam rumahnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dengan sigap dia membawaku masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Pria itu juga membantu mengeringkan rambutku yang masih basah, menggunakan handuk dan pengering rambut. Mataku terus menatapnya tajam, melalui kaca rias yang berada di depanku saat ini. Wajahnya terlihat sangat dingin dan datar, namun sikapnya begitu lembut dan penuh perhatian.
"Terimakasih," ucapku sungkan.
"Kamu, Luna?" tanyanya.
"Betul, kamu tahu?"
"Iya, Nenekku sering bercerita tentangmu, ia juga ingin menjodohkan Abangku Fabiyan, dengan dirimu," jawab pria itu santai dan manis.
Ternyata dia adalah adik kandung dari Fabiyan Pratama, namun dia sangat manis dan perhatian, berbanding terbalik dengan kakaknya yang dingin, cuek serta kasar.
"Kamu, cantik," ucapnya lagi sambil terus mengeringkan rambutku.
Ku balas dengan senyum termanis ku untuknya, jantungku berdetak kencang, entah kenapa diriku ini. Tangannya yang lembut sesekali menyentuh kulit kepalaku, ya Tuhan, mungkinkah ini rasa yang sama kurasakan terhadap Fabiyan. Batinku.
Tanpa kusadari, rambutku telah selesai di keringkan, ditaruh kembali olehnya pengering itu di atas meja sampingku. Lalu dia memberikan aku setelan baju ganti yang sangat manis.
"Pakai saja, ini punya pacarku yang ketinggalan," ucapnya datar.
Aku masih dalam kebingungan, antara menerima atau tidak. Akhirnya ku Terima setelan baju cantik itu dengan senang hati, dan aku segera mengenakan baju itu, agar terlihat rapi kembali. Selesai berganti pakaian, aku kebingungan mencari adik dari Fabiyan tadi, aku lupa belum berkenalan dan mengucapkan terimakasih padanya.
Kutelusuri rumah yang mirip istana itu satu per satu, sungguh luar biasa sempurna.
"Hai!" sapa seseorang dari kamar sebelah.
Langkahku terhenti dan segera kutoleh siapa yang telah memanggilku barusan, ternyata dia orang yang kucari-cari sejak tadi. Iya, siapa lagi kalau bukan adik Fabiyan yang baik hati. Aku langsung berjalan menuju kamar di mana pria itu sedang duduk santai.
"Terimakasih, ya?" ucapku kepadanya.
"iya, sama-sama" jawabnya singkat.
"Maaf, ngomong-ngomong boleh tahu nama kamu, tidak?" tanyaku sangat gugup.
"Riyano Pratama, panggil saja, Riyan," dijawab manis oleh Riyan.
Aku hanya menganggukkan kepala dan kembali tersenyum. Tiba-tiba cacing di dalam perutku mulai menggerutu, mereka sudah mengeluarkan suara-suara kelaparan yang memalukan, membuat Riyan ikut mendengarnya dengan jelas. Aku langsung di tarik Riyan, menuju ruang utama tempat berpesta tadi. Di Sana terlihat Nenekku dan Nek Mira masih asyik berbincang dan mengobrol. Riyan segera mengambilkanku beberapa makanan dan minuman, belum sempat masuk ke dalam mulutku, tiba-tiba Fabiyan datang menghampiri kami, membuat Riyan segera pergi dariku.
Dirampaslah kue yang ada di tanganku oleh Fabiyan, kemudian dibuang ke lantai, lalu di injak-injak kasar olehnya. Minumanku pun diambil dan di tuangkan di atas kepalaku. Aku hanya terdiam mematung atas perlakuan Fabiyan terhadapku malam itu.
Tatapannya semakin tajam dan menakutkan, sebuah acungan jari tengah berada tepat di wajahku.
Suamiku psikopat
By Adilia