Hari penutupan jatuh pada Jumat, dan separuh desa datang ke tikungan untuk menyaksikannya—bukan karena diundang, melainkan karena tak ada yang bisa tinggal di rumah pada hari sebesar ini. Mereka berdiri di tepi jalan yang dulu padat truk, berbaris sepanjang akses yang dulu digerus roda-roda berat, dan menonton dalam diam yang ganjil ketika alat-alat berat itu diangkut keluar satu per satu.
Ekskavator besar itu—mesin kuning yang selama belasan tahun menggali dan menggali tanpa henti, yang lengannya melahap tepi sungai sesuap demi sesuap sampai jadi jurang—dimuat ke atas truk gandeng pada siang hari. Pram berdiri di kerumunan dan menyaksikan mesin itu pergi, dan ia memperhatikan wajah-wajah di sekitarnya. Tidak ada yang bersorak. Sebagian menangis. Tapi air mata itu, ia tahu, bukan air mata haru. Itu air mata takut.
Mas Bejo berdiri di sampingnya, lelaki yang dulu mengoperasikan mesin-mesin itu, dan ia menatap ekskavator yang diangkut dengan ekspresi yang tak bisa Pram baca. "Saya ngeruk pakai itu sepuluh tahun, Le," katanya pelan. "Saya kenal mesin itu kayak kenal istri saya. Tiap pagi saya panasin, tiap sore saya matikan." Ia diam sebentar. "Dan tiap sore, sungai saya makin dalam jadinya. Saya yang bikin. Tangan saya." Ia menghela napas panjang. "Aneh ya, Le. Saya benci mesin itu sekarang. Tapi pas dia diangkut, dada saya kayak ada yang dicabut."
Pram memahaminya. Tambang ini bukan sekadar perusak. Ia juga pemberi makan, pemberi kerja, pemberi rasa berguna pada lelaki-lelaki yang tanpanya tak tahu harus jadi apa. Membenci tambang dan kehilangan tambang ternyata bisa terjadi pada dada yang sama, di saat yang sama.
Truk-truk yang dulu berbaris menunggu muatan kini berhenti. Mesin-mesin diam. Para penambang berdiri tanpa pekerjaan, tangan menggantung canggung, tak tahu harus berbuat apa pada hari yang tiba-tiba kosong. Pak Har ada di sana juga, di kejauhan, di antara pendukung lamanya, dan untuk pertama kalinya Pram melihat lelaki itu tidak tersenyum. Wajahnya keras, matanya menatap ekskavator yang pergi seperti menatap kekuasaannya sendiri diangkut keluar dari desa.
Lalu, perlahan, sesuatu terjadi yang membuat bulu kuduk Pram berdiri.
Kesunyian datang.
Selama belasan tahun, tikungan ini tak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada deru mesin, gemuruh truk, dentang besi, teriakan kuli muat, gerinda dan derak yang menjadi suara latar kehidupan desa sampai-sampai tak ada yang menyadarinya lagi. Suara itu begitu menyatu dengan Kedungwaru hingga jadi bagian dari udaranya. Dan sekarang, ketika truk terakhir membawa ekskavator menjauh dan suara mesinnya menghilang di tikungan jalan, yang tersisa adalah hening.
Hening yang total. Hening yang menusuk.
Pram berdiri di tepi sungai, di tempat yang dulu jadi jurang pasir, dan untuk pertama kalinya dalam belasan tahun ia bisa mendengar air. Hanya air—gemericik sungai yang mengalir di antara tumpukan pasir yang ditinggalkan, suara yang lembut dan tua dan ada di sana jauh sebelum mesin-mesin datang, suara yang telah ditenggelamkan oleh deru tambang selama ini hingga semua orang lupa ia pernah ada.
Kerumunan, anehnya, juga terdiam mendengarnya. Seolah seluruh desa baru menyadari, di detik yang sama, betapa bisingnya hidup mereka selama ini, dan betapa asingnya keheningan ini. Suara paling bising telah pergi. Dan apa yang tersisa di belakangnya bukan kedamaian, melainkan pertanyaan—pertanyaan yang terasa menggantung di udara yang tiba-tiba sepi itu, pertanyaan yang Pram tahu ada di setiap kepala di tepi sungai ini, walau tak ada yang berani mengucapkannya.
Kesunyian ini, ia mengerti, adalah suara yang paling sulit. Bukan deru yang menghancurkan, melainkan sepi yang bertanya: dan sekarang, makan apa kita?
Ia merasakan kemenangan dan rasa bersalah memenuhi dadanya pada saat yang sama, tak terpisahkan, seperti dua warna yang luntur ke dalam satu air. Sungai akan pulih—ia tahu itu sekarang, bisa membayangkannya, tepian yang perlahan terisi endapan, ikan wader yang kembali, anak-anak yang suatu hari berani bermain air lagi seperti dirinya dulu. Pekuburan ayahnya tak lagi terancam. Jembatan akan diperbaiki. Semua yang ia perjuangkan, terwujud, tertulis dalam surat beramplop coklat di sakunya.
Tapi di sekelilingnya berdiri tetangga-tetangganya, orang-orang yang ia kenal sejak kecil, dengan tangan yang menggantung dan dapur yang baru saja kehilangan apinya, menatap kesunyian yang sama dengan ketakutan alih-alih kelegaan.
Mbok Surti lewat di dekatnya, hendak pulang. Ia berhenti sejenak, menatap sungai yang sekarang bisa terdengar, lalu menatap Pram. Untuk pertama kali dalam berbulan-bulan, ia berbicara langsung padanya. "Sunyi ya, Le," katanya. Hanya itu. Bukan tuduhan, bukan maaf. Cuma pernyataan tentang sebuah desa yang baru saja kehilangan suaranya yang paling keras, dan belum tahu suara apa yang akan menggantikannya.
"Sunyi, Mbok," kata Pram pelan. "Tapi insya Allah ndak lama." Ia menatap sungai yang gemericiknya halus dan tak putus. "Kita isi sama suara lain."
Mbok Surti tidak menjawab. Ia melanjutkan langkahnya pulang, membawa kesunyian itu bersamanya, dan Pram berdiri sendiri di tepi sungai sampai senja, mendengarkan air yang akhirnya bisa ia dengar, dan memikul beban dari keheningan yang ia menangkan.