Balai desa belum pernah sepenuh itu sejak malam penghitungan suara dulu. Tikar digelar sampai ke teras, kursi plastik dipinjam dari masjid dan dari rumah-rumah, dan yang tak kebagian tempat duduk berdiri di pinggir, menyandar ke tembok, atau jongkok di ambang pintu. Bukan keramaian pesta. Ini keramaian orang yang datang untuk menimbang, untuk melihat sendiri apakah kabar yang berbisik di warung kopi itu benar atau bohong.
Pram tahu betul siapa saja yang hadir. Ada wajah-wajah pendukungnya sejak awal, ada wajah-wajah yang dulu memusuhinya saat tambang tutup, dan ada pula—di kursi paling depan, sengaja datang seperti yang Pram undang—Pak Har sendiri, duduk tenang dengan kemeja batik dan senyum yang sudah ia kenal seumur hidupnya. Di sebelahnya, Lik Wage, memangku map cokelat seakan-akan ia jaksa, bukan tamu. Camat mengirim dua orang stafnya. Mereka duduk di meja samping, mencatat.
Pram tidak naik podium. Ia menarik satu meja ke tengah ruangan, di mana semua orang bisa mengelilinginya, dan di atas meja itu ia susun berkas-berkas yang sudah ia siapkan semalaman bersama Topik—bukan satu map rapi yang dipertontonkan, melainkan tumpukan kertas yang bisa dibalik dan dibaca siapa saja: kuitansi, daftar penerima, salinan surat dari kabupaten, catatan koperasi yang tulisannya kadang dicoret dan diperbaiki.
"Bapak-bapak, ibu-ibu," Pram membuka, suaranya tidak dikeraskan. Orang-orang menahan napas untuk bisa mendengar. "Saya tidak akan pidato. Saya cuma akan baca angka. Pelan-pelan, satu-satu, dari awal sampai habis. Siapa pun yang mau tanya, potong saya kapan saja. Siapa pun yang mau pegang kertasnya sendiri, ambil, lihat, hitung. Kalau ada yang salah, tunjuk di depan semua orang sekarang juga."
Ia mulai dari dana jembatan. Berapa yang turun dari kabupaten, tanggal berapa cair, masuk ke rekening mana. Berapa untuk upah buruh, dan ia bacakan nama-namanya—Yatno, anak Mbok Surti, ada di situ; Karto, Slamet, belasan eks-penambang lain. Berapa untuk besi, semen, pasir yang sekarang harus dibeli dari luar karena tikungan sungai tak boleh dikeruk lagi. Ada yang mengangguk-angguk. Ada seorang ibu yang mengernyit, lalu Pram berhenti, mempersilakannya bicara.
"Le," kata ibu itu, "harga semen di kertasmu ini kok lebih mahal dari di toko Pak Trisno?"
Ruangan hening. Inilah jenis pertanyaan yang dulu dipakai untuk menjatuhkan ayahnya. Pram tidak gugup. "Bener, Bu. Lebih mahal lima ratus per sak. Karena dibeli musim hujan, pas pengiriman susah, jembatan lama masih ditutup buat truk berat. Saya bisa saja diam dan beli dari toko jauh yang lebih murah tapi telat sebulan. Saya pilih cepat, karena jembatan harus jadi sebelum air naik lagi. Itu keputusan saya, dan kalau menurut Ibu salah, saya terima salah."
Ibu itu memandangnya sebentar, lalu mengangguk pelan dan duduk. Bukan karena terpukau. Karena masuk akal.
Lik Wage bangkit. Map cokelatnya terbuka. "Pak Kades," katanya, nada hormat yang dibuat-buat, "di koperasi. Ada uang masuk dari penjualan ikan dua juta tiga ratus. Tapi yang dibagi ke anggota cuma satu juta sembilan. Sisanya empat ratus ke mana?"
Beberapa kepala menoleh ke Pram, menunggu. Topik di sudut ruangan menegang. Pram justru menggeser satu kertas ke arah Lik Wage.
"Bagus, Lik. Empat ratus itu masuk kas koperasi, buat beli bibit nila putaran berikutnya, sama benerin pompa air yang jebol. Ada nota pompanya, dua ratus tujuh puluh. Sisanya nempel di buku kas, sampean boleh hitung saldonya sekarang." Ia menatap mantan tangan kanannya itu, tanpa amarah. "Sampean tahu angkanya karena angkanya emang nempel di papan pengumuman tiga bulan ini. Saya nggak heran sampean hafal. Yang saya heran, sampean kira saya nyembunyiin sesuatu di angka yang saya sendiri tempel di depan umum."
Tawa kecil meriap di belakang ruangan. Bukan tawa mengejek Pram. Lik Wage menutup mapnya, duduk kembali, wajahnya merah samar.
Pram melanjutkan. Ia tidak melompati bagian yang memalukan. Ia membacakan bahwa panen tambak putaran kedua merugi karena bibit mati—rugi tujuh ratus ribu, uang sungguhan, yang artinya beberapa keluarga tidak dapat upah penuh bulan itu. Ia membacakan bahwa proposal mesin pengering hasil bumi ke kabupaten ditolak, sehingga rencana itu mundur entah sampai kapan. Ia tidak memoles. Ia tidak bilang semua baik-baik saja.
"Saya nggak datang ke depan kalian untuk bilang saya berhasil," katanya menjelang akhir. "Banyak yang belum berhasil. Banyak yang masih susah. Air masih kadang keruh kalau hujan, kerja masih belum cukup buat semua, dan saya tahu ada di antara kalian yang malam ini masih marah sama saya karena tambang." Ia diam sebentar. "Saya cuma datang untuk satu hal: supaya kalian lihat sendiri ke mana tiap rupiah pergi. Kalau ada yang masuk kantong saya, tunjuk sekarang. Saya tunggu."
Tak ada yang menunjuk. Bukan karena takut. Karena tak ada yang bisa ditunjuk.
Pak Har, yang sejak awal diam, akhirnya bangkit. Semua mata beralih padanya. Pram menyiapkan diri untuk serangan. Tapi orang tua itu hanya tersenyum, senyum yang lebih lelah dari biasanya.
"Saya nggak punya pertanyaan," kata Pak Har pelan, suara yang masih bisa membuat satu ruangan terdiam. "Saya cuma mau bilang ke warga. Dulu, dua belas tahun, nggak pernah ada acara kayak gini. Pembukuan desa? Nggak ada yang minta, nggak ada yang berani." Ia membiarkan kalimat itu menggantung, lalu duduk lagi.
Entah itu pengakuan, entah itu sindiran terakhir, Pram tak yakin. Mungkin keduanya. Tapi malam itu, saat warga pulang ke rumah masing-masing melewati papan pengumuman yang angka-angkanya kini mereka kenali satu per satu, fitnah yang ditebar Lik Wage dan Pak Har tidak mati dengan teriakan. Ia mati pelan, kehabisan udara, karena tidak ada lagi gelap tempat ia bisa tumbuh. Pram tidak menang dengan membela diri. Ia menang karena tak ada yang disembunyikan, dan kepercayaan—satu-satunya modal yang ia punya sejak hari ia nekat mendaftar—ternyata adalah hal yang paling tak bisa dibeli amplop siapa pun.