Mereka datang bukan dengan amplop, melainkan dengan harapan, dan itu justru lebih sulit ditolak.
Delegasi kecil itu—beberapa kepala dusun, ketua pengajian ibu-ibu, dua pemuda koperasi—datang ke kantor desa pada suatu sore menjelang akhir masa bakti Pram. Mereka duduk canggung, saling dorong siapa yang harus bicara duluan, sampai akhirnya seorang ibu tua yang dulu termasuk pendukung pertama Pram angkat suara.
"Le," katanya, "sebentar lagi Pilkades. Kami mau kamu maju lagi."
Pram sudah menduganya, tapi mendengarnya langsung tetap membuat dadanya berat. "Bu—"
"Dengar dulu," potong ibu itu. "Desa ini baru bener gara-gara kamu. Sungai bersih, jembatan kokoh, koperasi jalan. Kalau kamu lepas, kami takut balik kayak dulu. Takut ada yang ngerusak lagi. Cuma kamu yang kami percaya, Le."
Kalimat terakhir itu menusuk justru karena tulus. Cuma kamu yang kami percaya. Dulu, di awal cerita, Pram bermimpi mendengar kalimat seperti itu—saat tak ada yang percaya padanya, saat ia ditertawakan karena nekat mencalonkan diri. Sekarang kalimat itu diberikan dengan sepenuh hati, dan ia menyadari, dengan rasa dingin yang aneh, bahwa di situlah letak bahayanya.
Malam itu ia tak bisa tidur. Ia duduk di teras, memandang papan pengumuman balai desa di seberang, dan memikirkan kalimat Pak Har dulu—jangan jadi sok suci, jangan merasa pahlawan. Ia memikirkan dua belas tahun era Pak Har, yang dimulai dari seorang yang juga dipercaya, yang juga dianggap satu-satunya yang bisa menjaga desa. Dan ia bertanya pada dirinya sendiri pertanyaan yang sebelumnya tak pernah berani ia tanyakan: apa bedanya aku, kalau aku terus di kursi ini karena merasa cuma aku yang bisa?
Keesokan harinya ia bicara dengan Topik di garasi, tempat semuanya dulu bermula.
"Pik," katanya, "mereka minta aku maju lagi."
Topik mengangkat alis. "Ya bagus dong. Kamu pasti menang. Kali ini nggak bakal setipis dulu. Orang udah lihat hasilnya."
"Itu yang bikin aku takut."
Topik bingung. "Takut menang?"
Pram mencoba menyusun pikirannya. "Pik, kamu inget kenapa kita bisa kalah sama Pak Har dulu? Bukan cuma karena uang. Karena desa udah terlalu lama bergantung sama satu orang. Semua jalan lewat dia. Tanpa dia, orang nggak bisa bayangin gimana desa jalan. Itu yang bikin dia tak terkalahkan—bukan uangnya, tapi ketergantungan orang sama dia." Ia menatap Topik. "Sekarang mereka mulai gitu ke aku. 'Cuma kamu yang kami percaya.' Kedengarannya manis. Tapi itu racun yang sama, Pik. Kalau aku terus maju karena ngerasa cuma aku yang bisa, suatu hari aku jadi Pak Har yang baru. Mungkin lebih halus, tapi sama."
Topik terdiam lama. "Jadi kamu nggak mau maju?"
"Aku belum tahu. Tapi aku tahu satu hal: kalau desa ini cuma bisa selamat selama ada aku, berarti aku gagal. Berarti aku cuma ganti satu suara paling bising sama suara paling bising yang lain." Pram menggeleng. "Kemenangan beneran itu bukan aku terus berkuasa. Kemenangan beneran itu kalau desa ini bisa jalan tanpa aku. Kalau ada orang lain yang bisa nerusin. Kalau Pilkades berikutnya ditentuin gagasan, bukan ketergantungan sama satu nama."
Ia membiarkan kalimat itu menggantung, lalu menatap Topik dengan cara yang membuat pemuda itu tiba-tiba waspada.
"Pik, kamu ngurus koperasi sekarang. Kamu yang ngajarin pemuda. Kamu yang nengahin ribut anggota. Kamu yang ngerti administrasi lebih dari aku waktu aku mulai dulu."
"Pram, jangan—" Topik mengangkat tangan, sudah menebak arahnya.
"Aku belum ngomong apa-apa."
"Mukamu udah ngomong." Topik berdiri, gelisah, berjalan mondar-mandir di garasi. "Aku bukan kamu, Pram. Aku dulu cuma tukang main kartu. Aku nggak bisa pidato, nggak bisa bikin orang percaya kayak kamu. Aku cuma bisa ngitung dan ngurus."
"Justru itu yang desa butuh sekarang," kata Pram tenang. "Dulu desa butuh orang yang bisa bikin mereka berani melawan, bikin mereka percaya bisa menang. Itu aku. Sekarang desa butuh orang yang bisa ngurus apa yang udah kita bangun, ngerawatnya, bikin orang nggak gampang dirayu balik ke pasir. Itu kamu, Pik. Bukan suara paling bising. Suara yang paling telaten."
Topik berhenti mondar-mandir. Ia memandang Pram dengan ekspresi yang sulit dibaca—takut, tersanjung, marah, semuanya sekaligus. "Kamu serius mau lepas? Beneran?"
"Aku belum mutusin," Pram mengakui jujur. "Lelah ada. Lega kalau lepas, ada. Tapi yang lebih penting dari rasa lelahku, Pik, adalah ini: kursi itu bukan tujuan. Dia cuma alat. Aku ambil dulu karena nggak ada yang berani. Sekarang ada yang lain. Kalau aku pegang terus padahal ada yang bisa nerusin, aku nggak beda sama orang yang nyimpen bola sendiri padahal temennya kosong di depan gawang."
Kalimat itu—metafora lapangan yang selalu ia bawa—membuat Topik akhirnya diam, lalu duduk kembali, lebih berat dari sebelumnya.
Mereka tidak menyimpulkan apa-apa malam itu. Pram tidak mengumumkan keputusannya, belum. Tapi sesuatu telah bergeser, dan keduanya tahu itu. Pertanyaan tentang kekuasaan yang Pram hadapi kini berkebalikan sempurna dari awal cerita. Dulu pertanyaannya: beranikah aku merebut kursi yang dimonopoli satu orang selama dua belas tahun? Sekarang pertanyaannya jauh lebih sunyi dan jauh lebih sulit: beranikah aku melepaskannya, justru ketika semua orang memintaku menggenggamnya?
Di luar garasi, malam Kedungwaru tenang. Dan untuk pertama kalinya, Pram merasakan bahwa pelajaran terbesar dari seluruh perjuangannya mungkin bukan tentang bagaimana memenangkan kuasa, melainkan tentang bagaimana melepaskannya dengan tangan terbuka, sebelum kuasa itu mengubahnya menjadi hal yang dulu ia lawan.