Suatu sore, Pram membawa anak-anak latihannya bukan ke lapangan, melainkan ke tepi sungai.
Mereka berjalan beriringan menyusuri jalan setapak menuju tikungan—tikungan yang dulu menjadi pusat segalanya. Anak-anak ribut, melempar lelucon, berebut menggendong jala dan ember yang dibawa Pram. Mereka tak tahu, sebagian besar terlalu muda untuk ingat, bahwa tempat yang mereka tuju dengan riang ini dulu adalah jurang pasir yang menelan desa.
Di tikungan, Pram berhenti dan membiarkan anak-anak berhamburan ke tepian.
Ia berdiri sejenak, dan kenangan datang seperti air pasang. Di tempat ini, bertahun-tahun lalu, ekskavator menggerung dari subuh sampai malam, menggali perut sungai sampai menjadi jurang. Di tempat ini, tumpukan pasir setinggi rumah berdiri seperti monumen keserakahan. Di tempat ini, truk-truk antre, debu mengepul, dan deru mesin adalah suara paling bising di Kedungwaru—suara yang menenggelamkan segalanya, suara yang dulu ia kira tak akan pernah bisa dikalahkan.
Kini tempat itu sunyi. Bukan sunyi mati, melainkan sunyi yang hidup. Air sungai mengalir jernih di atas hamparan kerikil, tepian yang dulu jurang kini melandai, ditumbuhi rumput dan semak yang menahan tanah. Burung-burung kecil meloncat di antara batu. Dan di air dangkal, gerombolan wader berkelebat perak, ikan-ikan kecil yang dulu hilang dan kini kembali, bukti paling lirih dan paling meyakinkan bahwa sungai telah memaafkan desa yang dulu menyiksanya.
Anak-anak berteriak girang melihat ikan. Beberapa langsung menceburkan kaki, mengejar wader dengan tangan kosong dan gagal sambil tertawa.
"Pram kecil dulu juga gitu," gumam Pram pada dirinya sendiri, tersenyum.
"Ngapain, Pak?" tanya salah satu anak, melihatnya membuka jala.
"Sini, kumpul." Pram memanggil mereka, dan anak-anak berkerumun, basah dan berlumpur dan bahagia. Ia membentangkan jala di tangannya, jala yang ia bawa dari rumah, jala yang dulu milik ayahnya. "Bapak saya yang ngajarin saya nebar jala di sungai ini. Pas saya seumuran kalian. Dulu airnya jernih kayak gini. Terus ada masa airnya keruh, penuh pasir, nggak ada ikannya sama sekali. Bertahun-tahun. Saya kira saya nggak bakal pernah bisa ngajarin anak-anak nebar jala di sini lagi."
Ia mengangkat jala, mengatur posisi tangan dan kaki seperti yang diajarkan ayahnya puluhan tahun lalu. "Lihat baik-baik. Caranya nggak pakai tenaga. Pakai timing. Pakai sabar. Sungai nggak suka dikasari."
Dan ia melempar.
Jala itu terbang membuka di udara sore, melingkar sempurna seperti bunga yang mekar, lalu jatuh menutup permukaan air dengan tepat. Anak-anak terpukau, mulut menganga. Pram menariknya perlahan, dan ketika jala terangkat, beberapa ekor wader berkelebat di dalamnya, perak berkilau memantulkan matahari senja.
Anak-anak bersorak. Mereka langsung berebut ingin mencoba, dan Pram tertawa, membagi giliran, membetulkan posisi tangan yang salah, menertawakan jala yang terlempar berantakan, sabar seperti ayahnya dulu sabar padanya.
Di tengah keriuhan itu, Pram berhenti sejenak dan mendengarkan.
Ia mendengar air yang mengalir. Tawa anak-anak. Cipratan kaki di air dangkal. Burung di kejauhan. Angin di rerumputan. Dan ia menyadari bahwa inilah suaranya—suara yang dulu paling sunyi, suara yang dulu nyaris ditelan deru ekskavator dan teriakan kampanye dan bisik-bisik warung kopi. Suara air yang menolak diam. Suara yang tak pernah perlu menjadi yang paling bising untuk menjadi yang paling benar.
Selama bertahun-tahun ia mengira ia bertarung untuk sebuah kursi. Lalu ia mengira ia bertarung untuk menutup tambang. Lalu untuk membangun ekonomi baru, untuk jembatan, untuk koperasi. Tapi berdiri di tepi sungai ini, mendengar tawa anak-anak yang bermain di air yang dulu jurang, ia akhirnya mengerti apa yang sesungguhnya ia menangkan.
Bukan kursi. Kursi sudah ia serahkan, dan ia melepasnya dengan lega. Bukan kekuasaan. Bukan nama baik. Bukan kemenangan atas Pak Har.
Yang ia menangkan adalah keheningan ini. Keheningan yang hidup. Sebuah sore di tepi sungai jernih, dengan anak-anak yang belajar menebar jala seperti ia dulu belajar, di tempat yang dulu nyaris mati. Ia memenangkan kembalinya suara-suara kecil yang sempat ditelan oleh suara paling bising: tawa, air, burung, kehidupan biasa yang berjalan tanpa perlu dibeli atau diperjuangkan setiap hari.
Matahari turun, mewarnai sungai dengan emas dan jingga. Anak-anak masih bermain, basah dan tak peduli waktu. Pram duduk di atas batu di tepian, jala basah di pangkuannya, dan untuk pertama kalinya sejak ia pulang ke desa ini bertahun-tahun lalu untuk tujuh hari peringatan kematian ayahnya, ia merasa benar-benar di rumah.