Tak ada gading yang tak retak, perselingkuhan selalu membuat keretakan, hati. Namun, bagaimana jika kita merelakan, dan berserah diri kepada Tuhan? Semua jalan kebahagiaan akan selalu tertuju kepada kehidupan.
Seperti kini, dua sejoli sedang memadu kasih, duduk bersebelahan dengan menatap langit oren, senja.
Tangan kekar, menyentuh bahu wanita yang ada di sisinya. Dia tersenyum, membiarkan kepala sang wanita bertumpu pada bahunya.
"Semua akan kembali pada akhirnya, Mas."
"Ya, terimakasih untuk semua yang kamu lakukan. Mempertahankan apa yang sejak awal kita bangun. Terimakasih, Valeri."
Valeri tersenyum, dia menatap pria yang ada di sampingnya dengan kilatan mata yang bahagia. "Aku bahagia, meski sempat meruntuki kesalahan yang kamu lakukan Mas, tapi, itu semua sudah berlalu. Jalan yang kita lalui memang tidak semulus yang aku bayangkan waktu ijab kabul dulu. Tapi kita masih di jalan yang sama, kan?"
Putra tidak langsung menjawab. Pria itu memandang lurus ke garis senja yang perlahan kehilangan warnanya, dan Valeri tahu persis apa yang sedang terjadi di kepala suaminya. Sudah dua tahun, dan Putra masih belum sepenuhnya bisa memandang wajah istrinya tanpa merasa berutang.
"Aku tidak pernah mengerti kenapa kamu bertahan," kata Putra akhirnya. Suaranya rendah, hampir hilang ditelan angin sore. "Kalau aku jadi kamu, aku sudah pergi. Aku sudah membawa Bimo, dan aku tidak akan menoleh lagi."
"Kalau kamu jadi aku, kamu akan tahu bahwa pergi itu jauh lebih gampang." Valeri mengangkat kepalanya dari bahu Putra, memaksa pria itu menoleh padanya. "Yang susah itu tinggal, Mas. Yang susah itu bangun setiap pagi dan memutuskan lagi, hari ini aku masih mau. Aku melakukan itu tujuh ratus kali. Aku hitung."
Ada sesuatu yang pecah di wajah Putra. Valeri sudah melihatnya beberapa kali dalam dua tahun terakhir — di ruang tamu waktu ia menemukan pesan-pesan itu, di kamar rumah sakit waktu Bimo demam tinggi dan ayahnya tidak ada, di meja makan pada malam pertama Putra pulang dengan koper yang ia bawa sendiri.
Tapi Valeri tidak lagi merasa perlu ikut pecah bersamanya.
"Aku sudah memaafkan kamu," katanya pelan. "Yang belum, itu kamu. Kamu masih menghukum diri sendiri, dan itu bukan tugas kamu. Itu urusan Tuhan."
Putra menunduk. Tangannya yang kekar, tangan yang selama dua puluh tahun terakhir menandatangani kontrak-kontrak besar dan membuat orang gemetar di ruang rapat, kini gemetar sendiri di atas lututnya.
"Aku menyakiti dua orang," ucapnya. "Kamu, dan dia."
Valeri diam sejenak. Nama itu tidak pernah disebut lagi di rumah ini, bukan karena dilarang, tapi karena keduanya sepakat bahwa menyebutnya hanya akan membuka luka yang sudah mulai menutup. Perempuan muda itu sudah pergi jauh, ke kota yang tidak pernah mereka tanyakan namanya, dan Valeri berdoa dengan tulus semoga di sana hidupnya lebih baik.
"Iya," jawab Valeri jujur. "Dan itu tidak akan pernah bisa dihapus. Aku tidak akan bohong sama kamu dan bilang semuanya baik-baik saja seperti dulu, karena tidak. Ada yang hilang, Mas. Ada bagian dari aku yang tidak akan kembali."
Putra memejamkan mata.
"Tapi ada juga yang tumbuh," lanjut Valeri. "Kamu sekarang pulang sebelum magrib. Kamu tahu nama wali kelas Bimo. Kamu ingat aku tidak suka bunga mawar dan lebih suka bunga matahari, padahal lima belas tahun pertama pernikahan kita kamu selalu salah." Ia tersenyum tipis. "Aku tidak bilang itu setimpal. Aku cuma bilang aku memilih melihat yang tumbuh, bukan yang hilang. Karena kalau aku terus melihat yang hilang, aku yang habis."
Angin sore bertiup lebih kencang. Valeri merapatkan kardigannya.
Dari arah rumah, terdengar suara pintu geser dibuka dan langkah kaki kecil berlari di atas lantai kayu teras.
"Mama! Papa! Kata Bibi makan malamnya sudah siap!"
Bimo berhenti di ambang teras, rambutnya masih basah sehabis mandi, kaus kebesaran menggantung di bahunya yang kurus. Anak itu berumur sebelas tahun sekarang, dan setiap kali Valeri memandangnya, ia melihat versi Putra yang belum tahu apa-apa tentang dunia.
"Sebentar, Nak," sahut Putra. Pria itu buru-buru mengusap wajahnya dengan punggung tangan sebelum berbalik.
Tapi Bimo sudah telanjur melihat.
Anak itu berjalan mendekat, berhenti di depan ayahnya, dan menatapnya lama tanpa berkata apa-apa. Lalu, tanpa bertanya, ia memeluk leher Putra dari samping dan menyandarkan kepalanya di sana.
"Papa nggak usah sedih terus," kata Bimo. "Papa udah di rumah."
Valeri harus menoleh ke arah lain, ke langit yang sudah berubah ungu tua, supaya suaminya tidak melihat matanya berair.
Putra mengangkat Bimo ke pangkuannya, sesuatu yang sudah jarang ia lakukan karena anak itu merasa dirinya terlalu besar untuk dipangku, dan malam ini Bimo tidak protes.
"Iya," bisik Putra ke rambut anaknya. "Papa udah di rumah."
Mereka duduk bertiga di teras itu sampai lampu-lampu di halaman menyala satu per satu. Valeri memandang keduanya, ayah dan anak yang bentuk hidungnya sama persis, dan berpikir bahwa hidup punya cara yang aneh dalam mengembalikan sesuatu.
Tidak utuh. Tidak seperti semula.
Tapi kembali.
"Mas," panggil Valeri.
"Hm?"
"Besok anterin aku ke pasar bunga, ya."
Putra menoleh, alisnya terangkat. "Bunga matahari?"
Valeri tertawa kecil. Suara tawanya lepas, tanpa beban, dan itu adalah hal paling melegakan yang Putra dengar sepanjang dua tahun ini.
"Nah," kata Valeri sambil berdiri dan mengulurkan tangan pada suaminya, "kamu mulai benar."
Putra menyambut tangan itu.
Di dalam rumah, meja makan sudah tertata untuk tiga orang, dan untuk pertama kalinya sejak lama, tidak ada satu kursi pun yang terasa kosong.
***
Terima kasih untuk semua yang sudah menemani cerita ini dari awal sampai akhir.
TAMAT