"Aku lesbi untungnya" Ucap Mustika sambil merangkul Sayang.
"HAH?!" Nareza terbelalak kaget mendengar pernyataan itu.
Mustika tertawa, "Bercanda, Nareza. Ga usah dianggap serius ah, aku masih suka cowo, apalagi kalau cowonya kaya Ryder," Ucap Mustika sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Ryder.
Ryder nyengir dan merentangkan tangannya, "Sayang banget sama Mustika"
Plak!
"Akh! katanya suka cowo kayak aku" omel Ryder memegangi pipinya yang baru ditampar oleh Mustika.
"Bercanda, jir. Ga ada ya adegan peluk-peluk sembarangan, ada b-a ba t-a ta s-an san!" Sahut Mustika sambil melirik sinis.
"Makanya jangan pekob mulu pikiranmu" Ucap Nadrex menahan tawa.
"Kurang ajar" Sahut Ryder menatap tajam ke arah Nadrex.
"Pekob itu apa?" Tanya Nareza dengan nada polos.
Semua terdiam, mereka saling lirik dengan tatapan bingung. Lareen membuka suara, "Dibalik jadi..."
Belum sempat Lareen menyelesaikan kalimatnya, mulutnya dibekap duluan oleh Ryder. Yang lainnya jadi menahan tawa melihat adegan itu, hanya Nareza yang masih menyimpan kebingungan di kepala.
"Eh udah setengah 12, tidur yuk" ucap Sayang membubarkan mereka.
Mereka masuk ke kamar kosnya masing-masing, termasuk Nareza yang kembali masuk ke kamar Ravian. Nareza membuka ponselnya, tapi kuotanya hampir habis. Nareza membuka fitur Wi-Fi, tapi Nareza tak tau apa pasword-nya.
"Kenapa tadi ga minta ke mereka ya?" Gumam Nareza merasa kesal sendiri, apalagi dia tak sempat bertukar kontak dengan mereka.
Ravian: "Belum tidur?"
Notifikasi yang muncul itu membuat Nareza merasa seperti mendapat sumber air di tengah gurun. Nareza gegas membuka dan membalas pesan dari Ravian.
Nareza Elvara: "Boleh minta password Wi-Fi ga? kouta ku sekarat, hehe"
Ravian: "Waduh, aku lupa password-nya apa, anak-anak lain udah tidur?"
Nareza Elvara: "Kayaknya udah, soalnya kita udah selesai dari beberapa menit lalu"
Centang 2 namun tak di baca, Nareza diam menunggu mengetuk pinggiran HP dengan jari. Nareza menghela nafas panjang, meletakkan ponselnya di tepi ranjang.
"Kayaknya Ravian udah mulai kerja lagi" Gumam Nareza dengan lesu.
Nareza pergi ke kamar mandi, ia melepaskan hijabnya dan mulai mencuci wajah dengan air mengalir. Nareza menggunakan hijabnya untuk mengelap air di wajahnya, setelahnya Nareza keluar kamar dengan rambut terurai.
Saat Nareza mengecek ponselnya, Nareza terkejut dengan notifikasi yang muncul. SELAMAT! Paket Internet 100GB/30hr aktif.
Nareza Elvara: [Send Picture] "Ini apa?"
Ravian: "Buat kamu lah, besok aku kasih pasword-nya, sekarang pake Kouta dulu"
Nareza Elvara: "Aku kan harus hemat, Ravian. Aku balikin sebagiannya ya, aku butuh paling 20 GB-an kayak biasa, besok aku bayar."
Ravian: "Siapa bilang kamu suruh bayar? Anggap aja hadiah penyambutan dari aku"
Nareza Elvara: "Kamu terlalu baik gini, ga takut aku manfaatin kamu?"
Ravian: "Aku kenal kamu udah sejak kecil, Na. Kalo pas SMA dulu aku ga ikut ortu pindahan, pasti kita masih bareng-bareng terus. Kalopun kamu mau manfaatin aku, ya manfaatin aja, uangku banyak sekarang."
Nareza Elvara: "Akunya yang ngga enak"
Ravian: "Jelaslah kamu ga enak, yang enak mah mie ayam"
Nareza Elvara: "Sempet-sempetnya kamu bercanda!"
Ravian: [Emoji Tertawa] "Udah-udah, tidur gih. besok kan interview."
Nareza tersenyum membaca pesan itu, ia mematikan ponselnya lalu merebahkan diri di kasur. Nareza memeluk guling milik Ravian dan mulai tertidur.
Matahari terbit dari ufuk timur, Nareza menutup Al-Qur'annya. Nareza merapikan alat sholat lalu duduk di tepi kasur, membuka ponselnya.
Ravian: "Lupa ngasih tau, kamu ga usah beli makan diluar, di kulkas ada bahan, masak sendiri aja apa yang kamu mau. Tapi dagingnya cuma sisa daging ayam, belum belanja soalnya hehe"
Nareza kembali tersenyum haru melihat pesan dari Ravian itu, ia meletakkan ponselnya lalu membuka kulkas. Ia mengambil beberapa lembar daun sayur sawi dan sebutir telur, Nareza juga mengambil semangkuk kecil beras untuk dimasak.
"Tunggu, gimana cara pake rice cooker? airnya segimana?" Gumam Nareza sambil menggaruk kepalanya dengan ekspresi bingung.
Nareza kembali mengambil ponselnya, mencari tutorial cara menggunakan rice cooker. Setelah berhasil memasak nasi, sembari menunggu Nareza mengambil teflon.
Nareza mengisi teflon dengan air sampai setengah penuh dan memasukkan sayur sawi yang sudah dipotong kecil. Saat sayur mulai layu, Nareza meniriskan air dan memasukkan telur ke dalam teflon.
Nareza mengambil spatula dan mulai mengorek-ngorek telur bersama sayur sawi itu, selanjutnya Nareza menambahkan penyedap rasa. Setelah nasi siap, Nareza mengambil piring dan menyendok nasi.
Nareza meletakkan alat masaknya di wastafel, sementara ia makan terlebih dahulu sambil melihat sosial medianya. Setelah makan, Nareza mulai mencuci piring dan peralatan yang ia gunakan tadi.
Namun ada satu yang membuat Nareza menjeda nafasnya, teflon-nya lecet. Nareza melihat teflon itu dalam-dalam dan mulai mengingat kondisi awalnya. Dalam ingatan Nareza, teflon itu awalnya baik-baik saja.
Tok-Tok-Tok
Nareza tersentak, hampir menjatuhkan teflon-nya. Nareza bergegas mengambil hijab dan memakaikannya, lalu Nareza membuka pintu.
"Ravian?!" Pekik Nareza terkejut.
Ravian tertawa canggung, "Kenapa kaget gitu? udah makan?" tanyanya masuk ke kamar.
Nareza meremas ujung bajunya dengan gugup, mengikuti Ravian yang sedang meletakkan barang-barangnya. Ravian berbalik menghadap Nareza, Nareza menundukkan kepalanya.
"Kenapa, Na?" Tanya Ravian dengan bingung.
"Aku... Aku ga sengaja bikin lecet teflon kamu" Ucap Nareza dengan suara pelan.
Ravian tak mengatakan apapun, dia pergi ke bagian dapur mini di kamarnya untuk mengecek. Nareza mengikuti Ravian dengan gugup, siap menanggung amarah Ravian.
"Nareza, lain kali kalau mau pakai teflon anti lengket kayak gini, jangan pake spatula stainless, ya" Ucap Ravian dengan suara pelan, "Kamu bisa pake spatula yang kayu."
Nareza mengangguk patuh tanpa berani menjawab atau sekedar mengintip pada Ravian. Ravian membuka kulkas.
"Kamu makan apa, Na?" Tanya Ravian bingung, menatap bahan-bahan di kulkas, "Masih banyak nih, jangan bilang kamu makan pake es batu"
"Ravian!" Keluh Nareza dengan wajah memerah, Nareza memberanikan diri mendongak dan menatap Ravian, "Aku tadi ambil telur sama sayur sawi"
Ravian mengerutkan alisnya, "Mana kenyang makan gitu, aku mandi dulu deh, habis itu aku anterin kamu ngeprint keperluan interview" ucap Ravian mengambil handuk.
"Makasih ya, aku tunggu diluar" ucap Nareza yang dibalas anggukan oleh Ravian.
Singkatnya setelah Ravian mandi, Ravian bersiap pergi. Ravian membonceng Nareza sampai ditempat fotocopy-an, Ravian menunggu di luar sementara Nareza menyelesaikan urusannya.
Saat Nareza keluar, kebetulan ada 2 anak perempuan yang masih menggunakan seragam SMA berhenti di sana. keduanya menatap Nareza dengan mata memicing.
"Jamet" ucap salah satu perempuan itu.
Yang satunya hanya tertawa pelan sebelum mereka masuk ke dalam. Nareza menatap penampilannya sendiri lalu menghampiri Ravian.
"Laper, Na. Makan dulu yok" ajak Ravian.
"Aku baru selesai sarapan, Ravian" Keluh Nareza, "Aku masakin deh nanti di Kos"
"Apaan, sekarang jam 11 kurang, nanti keburu jam 2 kamu interview." Ucap Ravian membantah.
"Yaudah deh" Ucap Nareza pasrah.
Ravian membawa Nareza ke caffe, ini pertama kalinya ke tempat yang seperti ini. Nareza melihat menu, harga yang paling murah 25 ribu, tapi bagi Nareza itu sangat berat, belum lagi minuman yang paling murah adalah es teh seharga 8 ribu.
Ravian memesan 2 porsi yang harga masing-masingnya 32 ribu, Nareza hanya mengiyakan karena tak enak untuk menolak.
"Kayaknya sesekali keluar uang banyak, gapapa" Gumam Nareza didalam hatinya.
Mereka selesai makan di jam 11.25, adzan dhuhur mulai berkumandang. Nareza membersihkan mulutnya dengan punggung tangan, Ravian menyodorkan tisu.
"gapapa diambil?" tanya Nareza dengan polos.
Ravian tertawa pelan, "Kan tisu disediakan untuk pelanggan."
Nareza tertawa pelan dengan wajah memerah, ia menghela nafas panjang lalu berkata pelan, "Kamar mandinya dimana ya? aku juga mau numpang sholat di sini."
Ravian mengangguk, "Ayo"
Nareza mengangguk, ia mengikuti Ravian. Tiba di kamar mandi, Nareza masuk ke salah satu bilik. Namun melihat noda merah di celananya cream miliknya.
Nareza mengintip keluar, melihat Ravian menunggunya "Ravian..." Panggilnya pelan.
Ravian mendekat, "Kenapa?" Tanyanya.
"Aku datang bulan, udah sampe celana" Bisik Nareza dengan wajah memerah.
Ravian melepaskan outer kemejanya dan menyapirkan di pinggang Nareza, "Tunggu di sini" Ucapnya sebelum berjalan pergi.
Nareza menunggu di toilet sambil menggenggam ponselnya, menunggu Ravian kembali. Tak lama pintu diketuk, Nareza membuka pintu dan Ravian memberikan paperbag tanpa mengatakan apapun.
Nareza membukanya di dalam, isinya ada pembalut, satu kemeja berwarna biru muda dan celana berwarna putih.
Nareza membuka pintu, "Ravian, apa ini?"
"Pake aja, sekalian buat interview nanti" jawab Ravian dengan nada santai.
Nareza menatap ragu, "Tapi..."
Ravian tersenyum tipis, "Udah, aku ngelewatin ulang tahun kamu selama 4 tahun ini, anggap aja ini kado yang telat."