Cuaca di bulan di pertengahan tahun sangat panas, dan matahari bersinar terik di jalan. Meskipun dia mengenakan gaun tanpa lengan yang ringan dengan perut besar, Maura masih takut panas, jadi dia tidak pernah keluar kecuali ada keperluan mendesak.
Pada hari ini, mertuanya mendapat kabar, seorang kolega bisnis mereka yang tinggal di luar kota meninggal, dan mereka harus bergegas ke luar kota untuk melayat, sehingga dia dan Jevan yang masih bekerja, ditinggalkan di rumah.
Nggak ada yang dilakukan oleh Maura selain duduk, bermain dengan ponselnya.
Ketika membuka status WA, dia melihat nomor ibu mertuanya yang baru memperbarui status, tanpa berpikir panjang Maura membukanya.
Sinyal agak lemot malam ini, butuh sekitar sepuluh detik sebelum foto dan videonya bisa terbuka, dan ketika terbuka, Maura langsung nyesel sampai ke ubun-ubun.
Ibu-ibu ini punya masalah apa sih? Senang banget bikin status yang aneh-aneh. Segaa foto orang dikafanin dijadiin status.
Setelah melihat status ibu mertuanya, Maura yang sendirian di rumah jadi kepikiran. Apalagi waktu dia ingat, sekarang hari Kamis malam Jum’at, mendadak bulu kuduknya pada berdiri semua.
Melihat sudah jam setengah sembilan malam, dan Jevan belum pulang, dia segera menelepon suaminya. Ini adalah pertama kalinya dia meneleponnya sejak mereka menikah begitu lama.
Nada sambung panjang baru dijawab pada deringan ketiga.
"Halo." Maura berkata dengan singkat, dan Jevan menjawab dengan sama singkatnya.
“Ya.
“Jev, kamu pulang ke rumah nggak malam ini?”
Suara malas datang dari sisi lain telepon. “Kalau nggak pulang ke rumah, memangnya aku mau pulang kemana?”
Dia mencibir dengan sadar, seolah mengatakan bahwa Maura bodoh.
Bukan Maura namanya kalau dia nggak bisa menangkis.
“Siapa tahu pulang ke rumah mantan pacar kamu, atau main-main kemana gitu. Hari ini kan orang tua mu nggak ada. Bisalah kamu uji nyali di luaran.”
Maura berkata dengan tenang, dan di ujung telepon yang lain Jevan mulai kesal dengan kata-kata yang hampir seperti tuduhan dari istrinya.
“Maaf, aku nggak minat dijadiin bahan konten.”
Maura tertawa pelan, “Yaah, anggap aja kamu ngasih uang jajan ke mantanmu. Dulu juga begitu kan? Bedanya dulu pakai uang orang tua, sekarang mempermalukan diri.”
“Aku nggak lagi nggak minat denger ocehanmu.”
Jevan mengatakan kalimat ini dengan kasar dan menutup teleponnya, membuat MAura cemberut.
Dia belum sempat tanya jam berapa Jevan pulang.
Kalau suaminya pulang larut, terpaksa dia harus membuat makan malamnya sendiri.
Melupakan perasaan takut yang menghantuinya, Maura beranjak ke dapur setelah menambah volume suara TV dengan remote.
Ketika ibu mertuanya di rumah, Maura hanya diperbolehkan melakukan hal-hal lain, memetik sayuran atau mencuci sayuran, dan tidak pernah membiarkannya menyentuh spatula.
Ini bukan berarti dia tidak bisa memasak, lagipula, dia sudah cukup lama hidup sendirian di Surabaya, hampir tiga tahun, dan ketika dia bosan dengan makanan yang dibeli di luar, Maura harus memasaknya sendiri.
Dia mau bikin mie goreng dengan telur dan sayuran untuk makan malamnya.
Ini adalah jenis masakan yang gampang di buat. Rebus mie goreng sampai empuk tiriskan. Tinggal tambah irisan sedikit bawang geprek bawang putih dan sedikit cabai.
Untungnya ibu mertuanya rajin. Dalam kulkasnya yang besar, mertuanya selalu menyimpan baceman bawang merah dan bawang putih yang sudah di tumis, jadi Maura nggak harus mencemari tangannya dengan bau kedua bawang yang susah hilang.
Setelah memotong sawi, kol, dan sosis serta bakso. Maura memanaskan penggorengan, beri satu sendok baceman bawang putih tumis sampai harum, tambahkan satu sendok bawang merah, cabai setan, lalu masukkan kocokan telur aduk rata, masukkan sosis dan bakso ikan, setelah matang keduanya matang, tambahkan sayuran, tumis sampai layu kemudian masukkan mie, tambahkan bumbu dan kecap. Tidak sampai sepuluh menit, mie goreng buatannya sudah jadi.
Ketika Jevan sampai, Maura sudah selesai makan, dia sedang duduk di sofa menonton TV, sementara dia dengan anggun membawa sekantong sayuran.
Pria itu melirik malas dan berbalik ke arahnya sebelum dia menyingsingkan lengan bajunya dan menuju ke dapur untuk masak makan malam.
Namun, suara Maura membuatnya terkejut.
“Makananmu sudah ada di meja makan.” Maura berkata tanpa memalingkan pandangan dari TV.
Setelah tertegun, Jevan segera pergi ke dapur, membukan tudung saji dan menemukan sepiring besar mie goreng dengan tambahan telur mata sapi di atasnya.
Maura masih menonton TV. Setelah beberapa saat, Jevan keluar dengan membawa sepiring mie goreng buatan Maura dan duduk di sebelahnya dan menemaninya.
Dia mengambil sesendok besar, dan berkata dengan serius, “Ini enak.”
"Enaklah, aku yang masak kok.”
"Bisa nggak sih kamu bilang terima kasih setelah dipuji?"
Maura membalas pertanyaan Jevan dengan. "Yang kamu bilang barusan itu kebenaran, buat apa aku harus berterima kasih?"
Maura memandangnya sebagai hal yang biasa, seperti yang diharapkan, dia tersedak oleh kata-katanya lagi.
Tidak ada percakapan lebih lanjut. Jevan menikmati makan malamnya, dan Maura menonton TV dengan serius biarpun itu cuma iklan.
Jam sepuluh malam, Maura kembali ke kamar tidur. Kemudian Jevan masuk untuk mengambil pakaiannya dan pergi mandi, sementara dia berbaring linglung bosan.
Karena Jevan membelikan buku panduan wanita hamil untuknya, dia membukanya dan melihat untuk menghindari bermain game di ponselnya.
Di waktu luangnya setiap hari, selain menonton TV, dia hanya mengerjakan pekerjaan sambilan, kemudian rebahan baca buku dan tertidur.
Namun, hari itu, dia sudah membaca buku selama hampir satu jam dan kantuk tidak menyerang.
Kemudian, Jevan masuk dan mengambil selimut dan pergi tidur di sofa. Maura tidak tahan lagi. Dia bangun dan menghampiri Jevan dan menarik selimutnya, membuatnya terbangun.
“Apaan sih Maura?”
“Aku bosan, jangan tidur dulu.”
“Terus mau ngapain?” tanya Jevan sambil menarik lagi selimutnya, “nyalain TV sana.”
“Karena nggak ada yang bagus itulah, makanya aku bosan.”
“Kalau begitu tidur sana.”
“Nggak bisa tidur!” sahut Maura lagi.
Ini sudah jam sebelas malam, Jevan yang tidak terbiasa begadang tidak bisa menahan kantuknya, “Aku tidur dulu.”
“Siapa yang ngijinin kamu tidur? Kalau aku nggak tidur, kamu juga nggak boleh tidur!”
Jevan mengejang. Dia tidak tahu apakah karakter asli Maura memang egois dan menyebalkan, atau karena dia hamil saja makanya dia jadi begini.
Akan tetapi, ketika teringat dengan gadis pendiam di sekolah yang mengikuti Zivarra kemana-mana, Jevan mengira dia menjadi begini akibat hormon kehamilan, jadi dia menggandakan kesabarannya.
“Besok aku harus kerja, Maura. Kamu begadang aja sendiri, oke.”
“Kalau begitu aku mau merapikan lemari bukumu.”
Maura berkata sambil berjalan menuju rak buku, dan dengan serius mengulurkan tangannya menyentuh tumpukan buku yang agak berantakan.
Sambil berkata, Maur berjalan menuju rak buku, dan dengan serius mengulurkan tangannya menyentuh tumpukan buku yang agak berantakan.
Jevan tidak tahu dan tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Maura, yang dia tahu, dia masih menyimpan semua barang-barang kenangan yang berkaitan dengan Callya masih dia simpan dengan rapi dalam kota sepatu yang ada disana,
Bagaimana situasinya sekarang?
Jevan segera beranjak dari sofa tempatnya tidur untuk mencegah Maura membongkar lemarinya.
Bukan karena dia takut ketahuan masih menyimpan kenangan dengan mantan pacarnya, tetapi ini untuk mencegah terjadinya perang dunia dalam rumah tangganya yang pijakannya sangat rapuh.
Meskipun pernikahan ini tidak dilandasi dengan cinta, tetapi dia bisa merasakan kalau Maura sedikit sensi dengan hal-hal yang berkaitan dengan Callya. Dan dia tidak bisa membayangan bagaimana murkanya dia kalau menemukan kotak keramatnya.
“Oke, kamu duduk, biar aku yang rapikan sendiri.”
Sikapnya yang berubah dengan tiba-tiba membuat Maura mengernyitkan dahi curiga.
Jevan meraih kotak di depannya, berbalik, dan meletakkan tangannya di belakangnya.
"Apa itu?"
Maura bertanya padanya dengan wajah jelek, dan mengikutinya dengan dukungannya. Jevan menghindari matanya yang tajam, dan jantungnya berdebar kencang.
Sial! Dia seharusnya nggak langsung mengambil ini.
Jevan mengutuk kebodohannya sendiri. Dia berusaha bersikap tenang, dan berniat membuang kotak sepatu ke bawah tempat tidur sebelum dia singkirkan besok.
"Bukan apa-apa."
Jevan memutar wajahnya dengan hati nurani yang bersalah, tetapi Maura terobsesi untuk berdebat dengannya. Wanita muda itu mengejar Jevan ke atas tempat tidur untuk merebut kotak sepatu.
Jevan berhasil menghindar, kakinya yang panjang menekuk lututnya untuk menopang tubuh bagian bawahnya dan mengangkangi sisinya.Dia juga menggertak bagian atas tubuhnya, menopang tubuhnya dengan satu tangan, dan meraih di belakangnya dengan tangan yang lain untuk mengambil barang buktinya.
Tapi bagaimana dia, yang akhirnya memenangkan kemenangan, membiarkannya berhasil?
Wajah apa yang dia miliki untuk tetap arogan di depannya setelah dia menangkap bukti?
Jadi ketika Maura meraih tangannya dengan wajah hitam, dia memutar tubuhnya untuk menghindarinya, dan dalam perselisihan yang sama sekali tidak dapat dibayangkan ini, dia secara tidak sengaja menekuk lututnya dengan gembira dan merobohkan tangan lain yang dia gunakan untuk menopang tubuh bagian atasnya.
Jevan, yang telah kehilangan pusat gravitasinya, melebarkan matanya pada saat ini, dan menghancurkan bagian atas tubuhnya ke arahnya, dan wajahnya baru saja menabrak d**a Maura yang membesar karena kehamilannya.
Dada yang tidak memakai pakain dalam tidak naik dan turun, dan tulang d**a di tengah tidak memiliki area sensitif.
Meskipun sedikit sakit, saat ini fokus Maura belum kembali ke posisi canggung ini. Sebaliknya, dia senang bahwa dia telah mengalahkan pria itu.
Maura dengan bangga mengangkat mulutnya ke arahnya, tetapi memperhatikan kasih sayang yang tidak biasa di matanya.
Keinginan yang pernah dia lihat di mata Ingga melintas di mata pria diatasnya, Maura terkejut, dan sebelum dia mengerti, wajahnya membesar di depan matanya.
Dia tertegun melihat dia menelan seteguk air liur, dan sebelum dia bisa bereaksi, Jevan meraih bibirnya dan menciumnya.
Kedua lengan Jevan yang kukuh dan kuat melingkari tubuh Maura dengan dadanya yang telanjang. Jari-jari Maura mencengkeram punggung Jevan, sementara pria itu, dia melumat bibirnya habis-habisan.