Langit sudah kelabu sejak pagi, seperti tiap hari di Karangwungu, dan Lana memutuskan mengisi waktu dengan membongkar isi joglo. Bukan karena ingin, tapi karena ia tak tahu harus melakukan apa lagi. Pak Lurah Darmojo baru saja pamit menjelang senja kemarin, meninggalkan sesuatu yang ganjil di dadanya — nama ibunya, yang seharusnya tak diketahui siapa pun di desa ini, meluncur begitu saja dari mulut lelaki tua itu sebelum ia menutupnya dengan tawa dan alasan keseleo lidah. Semalaman ganjil itu mengganjal, dan pagi ini Lana ingin menyibukkan tangan agar pikirannya tak terus berputar ke sana.
Ia mulai dari ruang dalam, dari empat tiang utama yang menyangga seluruh atap joglo. Soko guru, begitu Bayu menyebutnya. Empat batang kayu jati setua rumah, menghitam oleh asap kemenyan bertahun-tahun, berukir sulur yang sudah aus di beberapa bagian. Lana menyalakan senter ponselnya — listrik padam sejak siang — dan menelusuri permukaan kayu dengan telapak tangan, mencari retak atau lapuk yang bisa ia catat untuk taksiran harga jual nanti.
Di tiang sebelah timur laut, jari Lana tersangkut pada sesuatu. Ada celah sempit di antara kayu dan umpak batu penyangganya, sebuah rongga yang tampak seperti cacat alami, tapi terlalu rapi untuk itu. Ia mengetuknya. Bunyinya tidak padat. Ada ruang di dalam sana.
Lana mengambil obeng dari kotak perkakas Mbah Surti yang berkarat dan mencungkil hati-hati. Sepotong kayu sebesar telapak tangan terlepas, sebuah penutup yang sengaja dibuat menyatu dengan ukiran. Di balik penutup itu, terselip sesuatu yang dibungkus kain hitam lusuh dan diikat tali ijuk.
Tangannya gemetar saat membukanya. Sebuah buku catatan kecil, sampul kulit yang sudah mengeras dan menggulung di tepinya. Bau apek dan sesuatu yang lain — bau lumpur basah, samar tapi tak salah lagi, bau yang sama dengan yang tak bisa ia cuci hilang dari telapaknya sendiri.
Ia membawa buku itu ke dekat jendela, ke sisa cahaya kelabu yang masih masuk. Tulisan tangan Mbah Surti memenuhi halaman-halamannya — huruf kecil-kecil, miring, ditekan kuat sampai kertasnya nyaris robek di beberapa tempat. Bukan bahasa Indonesia seluruhnya. Banyak Jawa kuno, beberapa aksara yang tak ia kenali sama sekali. Tapi di antara semua itu, satu kata muncul berulang-ulang, ditulis lebih besar dari yang lain, kadang dilingkari, kadang ditebalkan sampai tintanya menggumpal.
Utang.
Lana membalik halaman demi halaman. Ada tanggalan — bukan tanggal masehi, melainkan hitungan yang asing baginya, deretan angka yang dipasangkan dengan nama-nama hari pasaran: Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Di sebelah beberapa tanggal ada coretan, garis tegas seperti orang mencoret hari yang sudah lewat di kalender. Dan di sebelah coretan-coretan itu, lagi-lagi kata yang sama. Utang. Utang. Durung lunas. Belum lunas.
"Apa ini, Mbah," gumamnya pelan. Suaranya sendiri terdengar asing di tengah keheningan rumah.
Ia ingat Bayu pernah berkata, dengan nada hati-hati seolah takut didengar tembok, bahwa Mbah Surti selalu menghitung sesuatu. Bahwa nenek tua itu kerap duduk di teras menjelang magrib, bibirnya bergerak tanpa suara, jarinya menekuk satu per satu seperti orang menghitung hari menuju panen. Tapi panen apa yang dihitung sampai mati seperti ini, sampai harus disembunyikan di balik tiang rumah?
Halaman-halaman tengah penuh dengan apa yang tampak seperti doa, atau mantra, atau keduanya. Beberapa baris ditulis lalu dicoret, ditulis ulang, seakan Mbah Surti tak yakin pada urutannya, atau takut menuliskannya lengkap. Lana tidak mengerti satu pun, tapi membacanya membuat tengkuknya dingin. Ada irama di sana, irama yang entah bagaimana terasa familiar, seperti tembang yang pernah ia dengar dinyanyikan anak-anak SD kemarin di halaman sekolah Bayu. Tembang tentang memberi makan sumur.
Ia membalik lebih cepat sekarang, jantungnya berdebar tanpa alasan yang bisa ia jelaskan secara rasional. Trauma, pikirnya. Kelelahan. Aku baru saja mengubur nenekku, aku terjebak di desa tanpa sinyal, tentu saja aku gelisah. Itu penjelasan yang masuk akal, dan ia memegangnya erat-erat seperti orang memegang tali di tengah arus.
Halaman-halaman terakhir kosong. Putih, berdebu, tak tersentuh. Lana hampir menutup buku itu, lega tanpa tahu kenapa, ketika ibu jarinya menyangkut di satu halaman menjelang sampul belakang.
Halaman itu tidak kosong.
Di tengah-tengahnya, sendirian, tanpa tanggal, tanpa konteks, tertulis satu kalimat. Bukan dengan tinta hitam seperti seluruh isi buku. Tinta merah. Merah yang sudah menua menjadi cokelat tua di tepinya, tapi tetap merah, dan goresannya tebal, ditekan kuat, huruf-hurufnya gemetar seperti ditulis tergesa atau ditulis tangan yang menggigil.
Empat puluh hari, Nduk.
Lana berdiri diam. Di luar, hujan menderas, dan dari arah belakang rumah — dari balik rumpun bambu kuning yang tak pernah berhenti membuatnya merinding — terdengar suara air. Bukan suara hujan. Suara air yang menetes ke dalam ruang yang dalam dan kosong, satu tetes, lalu jeda, lalu satu tetes lagi, sabar dan teratur, seperti seseorang yang sedang menghitung.
Nduk. Itu yang ibunya dulu memanggilnya, kata Mbah Surti dalam surat-surat yang tak pernah sampai. Nduk. Panggilan untuk anak perempuan. Untuk cucu. Untuk seseorang yang dianggap milik.
Empat puluh hari sejak apa, Lana tidak tahu. Tapi ia menutup buku itu, membungkusnya kembali dengan kain hitam, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Karangwungu, ia menyadari bahwa tangannya — telapak tangan yang berbau lumpur sumur itu — bergetar bukan karena dingin.