Tidak ada yang benar-benar lahir di kota kecil. Yang lahir hanyalah tubuh. Mimpinya selalu lahir di tempat lain. Majalaya mengajariku itu.
Setiap pagi, jalanan dipenuhi suara knalpot yang tergesa-gesa. Orang-orang berangkat bekerja seolah waktu adalah mandor yang siap memotong upah jika mereka terlambat lima menit. Warung kopi mulai mengepul sebelum matahari benar-benar bangun. Aroma gorengan bercampur dengan bau kain basah yang entah datang dari mana. Dulu, bau itu adalah tanda kehidupan. Kini, ia lebih mirip kenangan yang menolak pergi.
Orang-orang tua masih suka berkata bahwa Majalaya pernah menjadi kebanggaan.
"Kota tekstil."
Mereka mengucapkannya dengan mata berbinar, seolah dua kata itu cukup untuk menghidupkan kembali pabrik-pabrik yang kini hanya menjadi bangunan berdebu. Lucunya, manusia memang pandai merawat nostalgia. Jauh lebih pandai daripada merawat masa depan.
Di kota ini, harapan sering dijual lebih murah daripada kenyataan.
Setiap musim pemilu, jalan-jalan dipenuhi wajah-wajah yang tersenyum dari baliho. Mereka menjanjikan perubahan dengan kalimat yang terlalu indah untuk dipercaya. Setelah terpilih, baliho itu dicopot. Senyumnya ikut hilang.
Mungkin begitulah nasib kami.
Selalu menjadi latar belakang pidato.
Tak pernah menjadi isi.
Namaku Raka Mahendra.Dua puluh enam tahun.Pekerjaanku berubah-ubah, tergantung siapa yang sedang membutuhkan jasaku. Kadang aku melukis papan nama toko, kadang memotret pengantin, kadang membuat mural di tembok sekolah. Orang menyebutku pekerja kreatif. Ibuku menyebutku pengangguran yang terlalu banyak akal.
"Ayahmu dulu kerja tetap," katanya suatu malam.
Aku hanya tersenyum.
Kerja tetap memang terdengar mulia. Sampai pabrik tempat ayah menghabiskan puluhan tahun hidupnya memutuskan bahwa kesetiaan tidak lagi punya nilai ekonomi.
Ayah pulang membawa pesangon.
Lalu membawa diam.
Diam yang panjang.
Terlalu panjang.
Sejak saat itu, televisi menjadi teman terbaiknya. Bukan karena acaranya bagus, tetapi karena suara penyiar lebih ramai daripada isi kepalanya.
Aku sering ingin bertanya, "Yah, apa rasanya kehilangan pekerjaan?"
Namun setiap kali melihat rambutnya yang semakin memutih, aku sadar ada pertanyaan yang tak perlu diucapkan. Wajahnya sudah menjawab semuanya.
Sore di Majalaya selalu datang bersama debu.
Aku sedang mengecat papan nama sebuah toko fotokopi ketika seorang anak kecil berhenti di depanku.
"Bang."
"Iya?"
"Kalau hujan turun, tulisan ini luntur nggak?"
Aku tertawa kecil.
"Nggak."
"Kalau mimpi?"
Aku berhenti menggerakkan kuas.
Anak itu menatapku polos, lalu berlari mengejar teman-temannya sebelum sempat kudengar namanya.
Aneh.
Kadang pertanyaan paling berat datang dari orang yang bahkan belum tahu cara menyembunyikan kesedihan.
Malam turun perlahan.
Lampu-lampu jalan menyala malas-malasan. Angin membawa udara dingin dari arah pegunungan. Aku memilih pulang dengan motor tua peninggalan ayah.
Di sebuah persimpangan, lampu merah memaksaku berhenti.
Di sanalah, untuk pertama kalinya, aku melihat seorang perempuan berdiri sendirian di bawah halte yang catnya mulai mengelupas.
Ia mengenakan jaket abu-abu yang sedikit kebesaran. Rambutnya tergerai, diterpa angin tanpa berusaha dirapikan. Wajahnya tidak menunjukkan kesedihan ataupun kebahagiaan. Hanya lelah. Lelah yang begitu tenang hingga tampak seperti bagian dari dirinya.
Perempuan itu menatap jalan raya.
Seolah sedang menunggu sesuatu.
Atau seseorang.
Entah mengapa, untuk sesaat aku merasa kami memiliki kesamaan.
Kami sama-sama sedang menunggu.
Bedanya, aku sudah lupa apa yang kutunggu.
Lampu berubah hijau.
Klakson kendaraan di belakang membangunkanku dari lamunan.
Aku menarik gas dan melaju, meninggalkan halte itu bersama perempuan yang bahkan belum kuketahui namanya.
Aku tidak tahu bahwa pertemuan singkat itu akan mengubah hidupku.
Dan aku lebih tidak tahu lagi...
bahwa Majalaya selalu punya cara yang indah untuk mempertemukan dua manusia.
Sebelum akhirnya mengajari mereka cara berpisah.