Pagi berikutnya ayah bangun lebih dulu dariku. Ia duduk di teras dengan kopi dan daftar pekerjaan kecil yang ditawarkan tetangga. Ia belum memilih mana yang akan diambil. Aku duduk di sampingnya dan bertanya apakah ia ingin melihat jadwal kerjaku agar kami bisa menghindari bentrok.
Ia mengeluarkan kertas kecil, menunjukkan dua hari yang ia pilih. Kami mencocokkan jam. Ia tak menerima satu pekerjaan yang membutuhkan waktu terlalu lama, tetapi menerima pekerjaan memperbaiki rak. Keputusan itu ia buat sendiri, setelah menghitung tenaganya dan upahnya.
Ibu membawa buku belanja. Kami membicarakan hasil pekerjaan pagar dan biaya bahan. Ayah menyerahkan kuitansi. Ibu mencatat jumlahnya, lalu mengembalikan sebagian uang untuk membeli sekrup. Tidak ada yang menutupi apa pun. Aku mulai menyadari bahwa kerja keluarga bukan berarti semua uang masuk ke satu tempat tanpa aturan. Kami harus tahu siapa mengeluarkan apa dan siapa menerima upah.
Setelah sarapan, aku membuka buku hitam dan menunjukkan satu paragraf tentang percakapan keluarga. Aku bertanya lagi apakah mereka mengizinkan kalimat itu dipakai di luar rumah. Ibu berkata belum. Ayah juga belum siap. Mereka tak melarangku menulis untuk diri sendiri, tetapi tak mau tulisan itu beredar. Aku mencatat keputusan mereka dan menutup halaman.
"Kamu kecewa?" tanya ibu.
"Sedikit, mungkin. Tapi aku lebih baik menulis sesuatu yang benar-benar boleh kubagikan."
Ibu tersenyum. "Masih banyak hal di kota ini."
Aku tertawa. "Nanti orang Majalaya minta royalti."
Ayah menyahut dari teras, "Kalau ada uangnya, bagi buat belanja."
Kami tertawa bersama. Lelucon itu tidak membuat urusan ekonomi hilang, tetapi mengingatkan bahwa rumah ini tidak hanya terdiri dari hitungan dan kekhawatiran. Ada suara yang masih bisa saling menyambut.
Siang hari aku mengerjakan papan toko. Pemiliknya meminta aku menuliskan huruf lebih tebal. Aku melakukan perubahan dan mengirim foto hasilnya. Ia membayar uang muka tambahan sesuai kesepakatan. Aku mencatatnya, lalu membeli bahan tanpa mengambil uang dari belanja rumah.
Sore itu Nara menelepon. Ia berkata ayahnya mulai mempertimbangkan pembicaraan dengan rekan bisnis, tetapi belum mengundang mereka. Nara belum menyampaikan penolakan langsung kepada pihak calon. Ia ingin menunggu sampai ayahnya siap mengakui bahwa ia tidak akan menikah untuk membayar utang.
"Kalau aku menolak ke mereka sebelum ayah siap, dia mungkin menganggap aku mempermalukannya," katanya. "Aku tidak ingin mengubah jawabanku, tapi aku juga ingin bicara dengan cara yang tidak membuat semuanya jadi perang."
Aku bertanya apakah ia sudah menentukan kapan akan berbicara lagi. Ia berkata belum, dan itu membuatnya gelisah. Aku tidak menetapkan tenggat. Aku berkata ia bisa meminta ayahnya menyepakati waktu untuk bicara, bukan menunggu tanpa kepastian.
"Kalau dia tidak mau?" tanyanya.
"Kamu masih bisa menentukan batasmu sendiri. Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan."
Ia menghela napas. "Terima kasih sudah tidak berpura-pura tahu."
Kami membicarakan hal lain setelah itu. Aku menceritakan ayah mulai mengambil pekerjaan rak, ia menceritakan omnya membantu memisahkan berkas yang sudah jelas dari yang belum. Kami sepakat tak perlu menyelesaikan percakapan setiap malam. Kadang cukup tahu kabar satu sama lain.
Setelah panggilan, aku duduk di meja dan menulis tentang hari itu sebagai catatan, bukan draf yang akan dibagikan. Aku menuliskan bahwa ayah memilih pekerjaan rak dan ibu tetap memegang buku belanja. Aku menuliskan bahwa mereka belum memberi izin menerbitkan percakapan mereka. Aku menandai halaman itu dengan garis tebal.
Aku tak lagi menganggap batas itu sebagai penolakan terhadap cita-citaku. Justru dengan menghormatinya, aku mulai mencari cerita yang memang bisa kuceritakan: pekerjaan, kota, dan pengalamanku sendiri. Aku belum tahu bentuk bukunya. Tetapi untuk pertama kalinya, aku bisa membayangkan menulis tanpa harus membuka semua pintu rumah orang lain.
Aku menyusun halaman baru yang hanya berisi pengalamanku sendiri: pekerja lepas yang menghitung cat, anak yang belajar menanyakan upah, dan seseorang yang takut kehilangan sahabat. Aku masih menyebut keluarga sebagai latar, tetapi menghapus dialog mereka yang belum diizinkan. Tulisan terasa lebih sempit, namun aku bisa mempertanggungjawabkannya tanpa meminta mereka menanggung risiko.
Pak Ujang membaca satu paragraf dan bertanya apakah aku ingin ia mengoreksi bahasanya. Aku berkata ya, tetapi hanya bagian yang memang tentang pengalamanku. Ia membacanya pelan dan menunjukkan kalimat yang terlalu menggurui. Aku menggantinya dengan adegan aku sendiri yang gagal menagih pembayaran tepat waktu. Kami tidak menyebut tulisan itu siap terbit. Ia hanya lebih dekat pada apa yang benar-benar kualami.
Nara bertanya apakah aku sudah menemukan cara memulai naskahku. Aku menjawab belum ada pembuka yang terasa benar. Ia berkata mungkin aku tak perlu memulai dari sesuatu yang besar; aku bisa mulai dari pekerjaan yang sedang kulakukan. Aku mengingat ucapannya lalu memutuskan sendiri apakah akan mencobanya.
"Kamu tidak harus menulis setiap kali aku memberi saran," katanya.
"Aku tahu. Aku akan pilih yang cocok."
Ia tertawa. Kami lalu membicarakan akhir pekan masing-masing. Nara akan membantu omnya menyortir dokumen; aku akan menyelesaikan pesanan papan. Kami tidak membuat rencana untuk bertemu karena ia belum tahu kapan bisa pulang dan aku tak ingin mengubah ketidakpastian itu menjadi undangan yang menekan.
Setelah menutup telepon, aku menyimpan ponsel dan memastikan alarm kerja menyala. Aku tidak menunggu pesan lanjutan malam itu. Besok akan ada pemasangan papan dan pekerjaan bersama ayah. Rencana itu jelas, sederhana, dan sepenuhnya milikku.
Ibu memintaku membeli sabun sebelum toko tutup. Aku menuliskannya di daftar dan menyelesaikan tugas itu sepulang kerja. Rumah menyambutku dengan teh hangat dan lampu teras yang menyala.
Aku merapikan meja setelah makan malam.
Pagi itu aku bangun sebelum alarm berbunyi.
Aku memeriksa ulang jadwal minggu depan dan memastikan semua orang sudah mendapat kabar.
Aku tidak menambahkan janji pada akhir halaman. Cerita keluarga belum siap dibagikan, dan aku memilih menghormati itu.
Aku membasuh tangan sebelum tidur.
Lampu teras tetap menyala.
Besok pekerjaan baru menunggu.