Nara mengirim pesan pada siang hari bahwa ia sudah memutuskan mengirim penolakan tertulis kepada keluarga rekan bisnis ayah. Ia menuliskan kalimatnya sendiri dan meminta ayahnya membaca lebih dulu, supaya ia tahu pesan itu tidak akan diteruskan dengan makna berbeda.
Aku sedang di warung Pak Ujang ketika pesan masuk. Aku bertanya apakah ia ingin aku menelepon untuk mendengarkan sebelum mengirim. Ia menjawab iya. Aku berjalan keluar agar suara warung tak mengganggu.
Nara membaca pesannya pelan-pelan. Ia berterima kasih karena keluarga itu pernah menawarkan jalan untuk membantu ayahnya, tetapi ia tidak bersedia menikah. Ia tidak ingin menentukan tanggal atau melanjutkan pembicaraan sebagai calon pasangan. Ia bersedia membicarakan hal-hal yang menyangkut usaha keluarga bersama ayahnya, tetapi bukan sebagai bagian dari tawaran pernikahan.
"Kalau aku kirim, keputusan ini terasa sungguhan," katanya.
"Memang keputusanmu."
"Kalau mereka tersinggung?"
"Mungkin. Tapi kamu sudah memilih kata yang jelas dan tidak menghina."
Ia menarik napas. "Aku akan mengirim sekarang."
Aku tetap diam di telepon sementara ia mengetik. Aku tidak melihat layar, tidak meminta ia membacakan nama penerima. Beberapa saat kemudian, ia berkata pesan terkirim. Ia belum tahu kapan akan mendapat jawaban dan tak berniat menunggu telepon sepanjang hari.
"Sudah," katanya.
"Apa yang kamu rasakan?"
"Takut. Tapi ada bagian yang lega."
Aku berkata ia boleh merasakan keduanya. Ia tertawa kecil, lalu bilang harus kembali membantu omnya. Kami menutup telepon.
Di warung, Pak Ujang bertanya apakah semuanya baik. Aku berkata Nara baru membuat keputusan penting, tetapi tidak memberikan rincian. Ia mengangguk dan tidak bertanya lebih lanjut. Aku kembali duduk dan meminum kopi yang sudah dingin.
Sore itu aku membantu ayah memperbaiki rak. Salah satu sudut tidak bertemu rata. Ayah mengukur lagi dan meminta aku mengikis sisi kayu sedikit. Kami bekerja perlahan. Ketika rak selesai, ayah mengangkatnya dan memeriksa kestabilan. Ia tersenyum tipis.
"Kalau begini, tetangga bisa pakai lama."
Aku bertanya apakah ia bersedia mengambil pekerjaan lain jika ada. Ia berkata mungkin, tapi hanya satu pekerjaan dalam beberapa hari. Ia tidak ingin menerima semua karena takut kesempatan hilang. Aku menghormati batas itu.
Malamnya Nara mengirim pesan bahwa ayahnya membaca draf dan memintanya tidak mengirim sampai ia sempat bicara dengan keluarga rekan bisnis. Nara menjawab bahwa ia sudah mengirim. Ia khawatir ayahnya marah, tetapi tidak menyesal. Aku bertanya apakah ia ingin telepon. Ia berkata belum, ingin berada sendiri sebentar.
Aku membalas bahwa aku mengerti dan tak akan menghubungi lagi malam itu kecuali ia meminta. Aku menyimpan ponsel dan kembali ke halaman buku. Aku menulis tentang suara gergaji, bukan tentang pesan Nara. Ada hal yang penting baginya, tetapi ia belum memberi izin untuk kutulis.
Sebelum Nara mengirim pesannya, ia meminta ayahnya membaca kalimat itu di meja makan. Omnya hadir dan membantu memastikan tidak ada kata yang terdengar seolah ia berutang persetujuan. Ayahnya membaca dalam diam. Ia ingin mengubah bagian "aku tidak bersedia menikah" menjadi "aku belum siap". Nara menolak perubahan itu karena akan membuat jawabannya terdengar sementara.
"Aku tidak sedang minta Ayah menyetujui," katanya. "Aku hanya ingin Ayah tahu jawabanku."
Ayahnya bertanya apakah ia memahami konsekuensi finansial. Nara berkata ia tidak tahu semua konsekuensinya sebelum catatan diperiksa, tetapi ia bersedia membantu menata dokumen. Ia tidak akan menjanjikan uang atau menikah. Omnya menengahi agar mereka berhenti membicarakan hal yang sama dengan suara tinggi. Nara mengambil waktu sebentar, lalu kembali dan berkata ia tetap akan mengirim jawaban.
Aku hanya tahu bagian percakapan ini dari apa yang Nara ceritakan setelahnya. Ia tidak meminta aku hadir di panggilan itu, dan aku tidak mencoba membayangkan ekspresi ayahnya. Setelah ia mengirim pesan, ia duduk dengan omnya dan menunggu tanpa membuka kembali layar. Ketika tidak ada balasan segera, ia memilih makan siang.
Di Majalaya, ayahku menyerahkan rak kepada tetangga. Ia menerima upah dan berkata akan istirahat beberapa hari. Aku mencatat jumlah yang masuk, lalu membeli bahan untuk papan berikutnya. Ibu bertanya apakah aku bisa membantu ke pasar. Aku menjawab bisa setelah mengirim sketsa kepada pelanggan. Kami mengatur jamnya tanpa menjadikan satu kabar dari Jakarta sebagai pusat hari kami.
Aku bertanya apakah ia ingin memberi waktu kepada ayahnya setelah mengirim pesan. Ia berkata iya, tetapi tidak akan menarik kembali jawaban. Kami menyepakati ia akan menyimpan salinan pesan dan tidak perlu menanggapi jika tidak ada pertanyaan. Ia ingin tetap melakukan tugas rumah dan mengurus berkas tanpa berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Sore itu ayahku bercerita tentang pekerjaan yang ia tolak karena jaraknya terlalu jauh. Ia merasa sedikit bersalah, tetapi ibu berkata biaya perjalanan akan menghabiskan sebagian besar upah. Mereka menghitung bersama dan ayah memutuskan penolakan itu masuk akal. Aku melihat bahwa mengatakan tidak bukan selalu berarti tidak peduli; kadang itu cara menjaga pilihan yang masih ada.
Aku mengirim kabar kepada Nara bahwa aku selesai mengecat. Ia menjawab ia sedang makan. Kami tidak membicarakan lagi pesannya malam itu.
Ayah kemudian bertanya apakah aku akan terus bekerja sampai larut. Aku menjawab hanya sampai cat kering. Ia menawarkan mematikan lampu saat selesai, lalu kembali duduk. Ibu menyiapkan makan malam dan menyisihkan bagian untuk ayah. Kami menjalani rutinitas rumah tanpa menjadikan kabar Jakarta alasan menunda semua hal.
Aku membantu ibu menutup jendela karena hujan mulai turun. Ia bertanya apakah aku sudah memberi tahu pelanggan soal jadwal besok. Aku menjawab sudah, lalu menunjukkan pesan konfirmasi. Ibu mengangguk dan kembali menata dapur.
Aku mengisi buku belanja setelah makan dan menandai hari pembayaran berikutnya.
Ayah menyimpan alat di gudang dan ibu mematikan lampu dapur. Aku mengecek pintu depan sebelum masuk kamar.
Ibu bertanya apakah aku bisa membeli sabun sepulang kerja. Aku menuliskannya di daftar rumah.
Aku menaruh daftar belanja dekat pintu.