Ayah Nara mengajak bicara lagi pada akhir pekan. Nara memberi kabar bahwa ia akan menjelaskan sekali lagi bahwa menolak perjodohan tidak sama dengan meninggalkan keluarga. Ia meminta omnya duduk bersama, bukan untuk menjadi pembela, melainkan agar semua orang mendengar kalimat yang sama.
Aku sedang menyiapkan cat untuk pesanan baru saat ia menelepon. Ia menceritakan percakapan itu setelah selesai. Kali ini ayahnya berkata ia takut usaha keluarga tak bisa diselamatkan. Nara menjawab ia juga takut, tetapi menikah tidak dapat dijadikan pengganti perhitungan yang belum jelas.
"Aku bilang aku bersedia melakukan hal yang masuk akal," katanya. "Membantu mengurutkan berkas, menghubungi untuk meminta salinan, ikut membahas pilihan. Tapi aku tidak akan menjadi jaminan."
"Apa ayahmu menjawab?"
"Dia bilang aku selalu membuat semuanya seperti transaksi. Aku bilang justru aku tidak mau diriku menjadi transaksi."
Aku membiarkan ia menuntaskan ceritanya. Ia tidak menangis, tetapi suaranya lebih pelan. Omnya mengingatkan ayahnya bahwa Nara sudah menyatakan batas. Mereka tidak mencapai kesepakatan tentang semua hal. Namun ayahnya akhirnya berkata ia akan memeriksa dokumen dulu sebelum mengajak Nara ke pertemuan lain.
Nara bertanya apakah ia terlalu keras. Aku berkata aku tak bisa menentukan nada dari cerita yang kudengar, tetapi isi batasnya jelas dan tidak merendahkan siapa pun.
"Aku tidak ingin memutus hubungan dengan Ayah," katanya. "Aku cuma ingin keputusan menikah tetap milikku."
"Keinginan itu tidak bertentangan."
"Kadang rasanya begitu."
Aku tidak membandingkan dengan rumahku. Aku hanya mengatakan bahwa orang yang takut kehilangan sering mencoba menahan hal yang mereka sayangi. Itu tidak membuat paksaan menjadi benar, tetapi mungkin menjelaskan kenapa ayahnya kesulitan. Nara berterima kasih karena aku membedakan memahami dari menyetujui.
Panggilan terputus sejenak karena sinyal. Kami menyambung kembali setelah beberapa menit. Aku bisa saja berusaha menahan percakapan agar terus berlangsung, tetapi Nara berkata ia harus membantu omnya. Aku membiarkannya pergi.
Hari itu aku memasang papan pesanan. Hujan sempat turun dan aku harus menutup alat. Pemilik toko bertanya apakah pekerjaan bisa selesai besok. Aku menjawab bisa, lalu memastikan ia tahu bagian yang belum kering. Ia setuju menunggu. Aku merasa lebih mudah meminta waktu sekarang daripada mengorbankan mutu demi terlihat sanggup.
Di rumah, ibu menyebut bahwa ayah telah menerima pembayaran rak. Mereka memasukkan sebagian ke tabungan kebutuhan dan menyimpan sisanya untuk membeli bahan kerja. Aku membantu menulis angkanya. Tidak ada utang baru yang dilunasi atau pekerjaan tetap yang datang. Hanya upah satu pesanan yang berhasil kami atur.
Malamnya aku membuka halaman naskah tentang Nara, yang hanya berisi pikiranku sendiri. Aku menulis bahwa aku ingin ia memilih hidupnya tanpa menjadikan pilihanku alasan. Aku tidak memasukkan kata-kata yang ia ucapkan kepada ayah karena itu bukan cerita yang boleh kuambil. Aku menyimpan halaman itu dalam map pribadi, tidak di draf yang mungkin dibaca orang lain.
Aku tahu perasaan bisa membuat seseorang ingin menjadi penolong. Namun Nara tidak membutuhkan aku menjadi penjamin. Ia membutuhkan hak untuk menentukan hidupnya sendiri. Aku bisa menawarkan telinga, tetapi ia yang memilih kapan ingin berbicara.
Sebelum panggilan, aku menyampaikan bahwa aku tidak akan meminta Nara menjadi penengah antara ayahnya dan perasaanku. Ia menjawab ia tidak ingin hubungan kami dijadikan alasan baru untuk konflik keluarga.
"Aku tak akan bicara tentang kita saat membahas utang," katanya.
"Dan aku tidak akan menganggap bantuanmu sebagai tanda bahwa kamu ingin menjalin hubungan."
Nara terdiam, lalu mengucapkan terima kasih. Ia mengatakan ia ingin tetap bebas membantu ayahnya tanpa harus menjelaskan bahwa ia tidak sedang mempertimbangkan pernikahan. Aku menjawab bahwa aku ingin ia tetap punya kebebasan itu.
Setelah telepon selesai, aku duduk bersama orang tuaku. Ibu bertanya apakah aku sedang menyimpan sesuatu. Aku menceritakan secara umum bahwa Nara menolak perjodohan dan masih mengurus dokumen. Aku tidak memberitahu detail pertengkaran atau pesan yang ia kirim. Ibu berkata kalau Nara ingin bercerita kepada mereka, biarkan ia yang menyampaikan.
Ayah menambahkan bahwa ia tidak ingin aku membuat keputusan soal pekerjaan berdasarkan bayangan Nara mungkin kembali. Aku berkata aku akan tetap tinggal di Majalaya karena pekerjaan dan keluargaku, bukan karena menunggunya. Ayah mengangguk. Kami lalu membicarakan jadwal kerja pagar akhir pekan.
Ayah bertanya apakah aku akan mengajak Nara datang ke rumah jika ia kembali. Aku menjawab belum tahu dan tak akan mengundang tanpa bertanya kepadanya. Ibu setuju bahwa Nara harus memilih sendiri apakah ingin bertemu keluarga kami. Ayah berkata ia tidak ingin keberadaan kami menambah tekanan.
Kami lalu berbicara tentang hari raya yang akan datang dan pekerjaan kecil ayah. Ibu mengingatkan agar kami tidak merencanakan belanja sebelum ada pembayaran. Aku mencatat tanggal pesanan dan memperkirakan bahan. Percakapan itu menjauhkan pikiranku dari keinginan mengatur hidup Nara. Ada hal-hal nyata di rumah yang tetap butuh perhatian.
Aku menutup percakapan dengan orang tua dan membantu mereka merapikan meja. Ayah menyimpan catatan pekerjaan di laci, ibu menaruh daftar belanja di kulkas. Rumah terasa sederhana, tetapi masing-masing tahu apa yang harus dilakukan besok.
Sebelum tidur, ayah bertanya apakah aku ingin menulis tentang percakapan kami malam itu. Aku menjawab mungkin, tetapi tidak akan membagikannya tanpa izin. Ia mengangguk dan berkata untuk saat ini cukup simpan saja. Aku mencatat batas itu dan menutup buku. Tidak ada yang perlu dibuktikan kepada pembaca tentang keluarga kami.
Ibu mengingatkan aku untuk menyelesaikan pesanan lebih dulu besok pagi.
Aku menyiapkan alat kerja dan meletakkan nota dekat buku catatan. Semua sudah siap untuk pagi.
Aku menyimpan nota dan memeriksa tanggal kerja sekali lagi.
Aku menyimpan map kerja dengan rapi.
Ayah menutup pagar sebelum tidur.
Aku meminta ibu memeriksa daftar belanja.
Aku meletakkan catatan di meja kerja.
Ibu menyimpan belanja yang sudah dibeli.
Aku menyimpan kunci di laci.
Aku memeriksa jadwal pagi.
Aku merapikan meja kerja.