Hari masih gelap, hanya detik jam dinding yang terdengar memenuhi ruangan berukuran 2 x 3 meter itu. Sesekali suara 'push' dari pengharum ruangan otomatis terdengar.
Wanita yang kini memakai daster merah berlengan panjang tampak bergerak gelisah di atas pembaringannya yang empuk. Sesuai dugaan, Zahra tidak bisa memejamkan matanya barang sebentar. Sejak tiba di rumah majikannya, ia tidak bisa tidur.
Melirik jam di depan mata, sudah pukul 4 dini hari. Adzan Subuh akan berkumandang satu jam lagi, itu artinya pekerjaannya akan dimulai dalam satu jam ke depan. Namun mata sepertinya tidak bisa diajak kompromi. Sudah bisa dipastikan kalau ia kurang tidur dan akan lelah berlebihan hari ini.
"Haaahhh."
Zahra menghela napas kesal. Ia sangat butuh tidur, namun kecemasannya membuat matanya tidak bisa terpejam. Memilih bangkit dari tempat tidur, Zahra mengendap keluar dari kamarnya yang bersebelahan dengan dapur mini. Ia mengambil air minum dan duduk di meja makan tercenung.
Kerudung hijaunya ia gunakan untuk mengusap peluh di pelipis. Memendar sekeliling, rumah itu ternyata sangat kecil. Dari tempat duduknya sekarang ia bisa melihat pintu masuk di depan. Rumah ini hanya memiliki satu pintu untuk keluar-masuk. Tidak ada pintu belakang seperti rumahnya di kampung. Bagian dinding belakang rumah sudah mentok dan berdempet dengan rumah lain. Beginilah kondisi perumahan.
Tidak terasa adzan berkumandang. Zahra bergegas mengambil wudhu untuk lekas shalat Subuh. Setelah itu ia harus berberes rumah dengan cepat. Ia bertekad akan menyelesaikan pekerjaan bahkan sebelum majikannya keluar dari kamar utama.
"Rumahnya gak berdebu gini, apanya yang harus dibersihkan?" gumam Zahra bingung.
Tangannya sibuk menggoyang kemoceng bulu ayam ke segala perabot. Menyapu dan mengepel ia lakukan dengan cepat. Jam enam pas ia sudah menyelesaikan tugasnya berberes rumah. Ia juga sudah menyiapkan pesanan sang majikan tadi malam untuk memotong sayuran dan menyiapkan bumbu soup sesuai instruksi. Dalam cemas ia menunggu sang majikan keluar kamar.
Cklek!
Suara pintu terbuka dan derap langkah kaki terdengar menuju dapur. Zahra sigap memasang telinga jikalau tiba-tiba ia dipanggil.
"Kak Zahra," seru kak Sumi yang baru saja keluar kamar menyusul sang suami yg sudah lebih dulu ke dapur meletakkan botol-botol s**u dan termos air panas di atas meja.
"Iya, kak!"
Tergopoh Zahra menghampiri sang majikan di dapur yang sedang mengeluarkan tiga botol s**u kotor dari keranjang kecil dan diletakkan di wastafel.
Setelah berkonsultasi dengan Dara malam tadi tentang panggilan untuk majikannya itu, Dara mengusulkan memanggil orang tua Kenzi dengan sebutan 'Kakak dan Abang' karena usia mereka tidak terpaut jauh dari Zahra. Lagipula sepertinya mereka juga ingin dipanggil begitu jika menilik percakapan mereka tadi malam di mana Mama Kenzi menyebutkan dirinya dengan sebutan 'Kakak dan Abang'.
"Kak, udah berberes rumah?"
"Udah, kak," jawab Zahra lembut.
"Ini botol s**u Kenzi setiap pagi dicuci pakai sleek terus di steril-kan ya kak," ujar kak Sumi.
Zahra berdiri di depan wastafel. Bersiap menyuci botol. Ia mengambil spons yang ada di mangkuk dan membilasnya hingga bersih dari busa sunlight sebelum ia gunakan untuk mencuci botol.
"Eeeehhh, cuci botolnya jangan pakai spons," tiba-tiba saja kak Sumi berteriak saat kembali dari kamar untuk memeriksa pekerjaan Zahra.
Reflek, Zahra melepaskan spons itu. Terkejut mendengar suara keras majikannya. Wajahnya bingung.
"Pakek ini kak cuci botolnya," ujar kak Sumi dengan suara lebih lembut.
"Ini?" tanya Zahra memastikan ia tidak salah.
"Iya. Kalau spons kan udah kena piring makan bekas kita, jadi udah gak steril lagi, kak," jelas kak Sumi. Ia sendiri sudah berdiri di depan kompor dan mulai memasak soup untuk Kenzi.
Zahra mengangguk-angguk. Namun ia bingung, bagaimana caranya mencuci botol dengan sikat? Ia tidak pernah mencuci botol dot bayi sebelumnya.
Meskipun ragu, Zahra tetap melakukan apa yang diperintahkan kak Sumi karena majikannya itu terus menatapnya ditengah kesibukannya mengaduk-aduk panci. Ternyata mudah menggunakan sikat dalam mencuci botol. Setelahnya botol itu diletakkan dalam wadah stainless dan direndam air panas untuk mensterilkannya.
"Kak Zahra memang setiap hari pakek jilbab lebar gini?" tanya kak Sumi tiba-tiba.
Zahra mengangguk. "Iya, kak. Gak boleh ya kak?" tanya Zahra sambil menatap sang majikan. Wajahnya menunjukkan ketegasan yang tidak bisa diganggu-gugat.
"Gakpapa sih. Yang penting enggak mengganggu kerjaan kak Zahra ngurus Kenzi nanti," ujar kak Sumi terdengar ragu.
Zahra tidak berkomentar, hanya mengangguk. Mana mungkin syari'at mengganggu kerjaan dunia? Pikir Zahra.
"Pagi ini kita ke rumah kakaknya kakak ya di Sei Silau, namanya bu Rani. Nanti Kenzi sama kak Zahra di sana. Biar ada temennya si Kenzi. Apalagi kak Zahra kan masih baru, jadi nanti di sana ada yang ngajari. Makannya juga di rumah bu Rani," ujar kak Sumi sambil mencicipi soup untuk Kenzi di panci.
"Iya, kak," sahut Zahra sambil memerhatikan apa yang dilakukan majikannya.
"Yaudah kak Zahra siap-siap bawa baju ganti sama perlengkapan mandi. Nanti soup ini dimasukkan ke tupperware hijau itu ya kak. Barang-barang Kenzi udah kakak siapkan di kamar, nanti kak Zahra bantu masukkan ke dalam mobil ya. Ini kompor sama pancinya dibersihkan dulu. Botol susunya dibawa semua sama pembersih botolnya juga. Kalau udah siap nanti kakak panggil untuk bersihkan kamar kakak ya," ujar kak Sumi panjang lebar. Zahra hanya mengangguk takjub. Pekerjaannya sepertinya harus sesuai aturan si majikan.
Mengikuti instruski majikan barunya, Zahra bergerak cepat. Ia memang tidak suka membuang waktu. Setelah semua pekerjaan selesai, mereka berempat berangkat menuju rumah Bu Rani.
Kali ini Zahra memandang takjub rumah 2 lantai yang terlihat megah. Gerbangnya saja ada dua dan sangat besar. Memasuki pekarangan rumah, ada 4 mobil berjajar manis.
Zahra segera menurunkan semua barang bawaan mereka. Sesampainya di dalam, lagi-lagi ia berdecak kagum. Maklum saja, ini kali pertama ia memasuki rumah mewah yang harganya pastilah milyaran. Perabotannya tidak main-main. Ia berjalan menuju kamar tamu yang luas. Semua dinding tertutup wallpaper bernuansa emas.
"Kak Zahra, ini wak Sri, pekerja Bu Rani. Kalok ada apa-apa tanyak aja sama wak Sri ya, kak!" ujar ayah Kenzi.
Zahra mengangguk. Ia tersenyum pada wanita setengah baya bertubuh pendek yang tengah memakai legging ketat dan kaus gombor itu.
"Orang baru ya kak? Siapa namanya?" tanya wak Sri.
"Zahra, wak," jawab Zahra memanggil wanita itu sama seperti ayah Kenzi mengenalkannya tadi.
"Oh, kalok ada apa-apa bilang aja kak. Gak usah takut," ujar wak Sri ramah.
"Iya, wak."
Kenzi memasuki rumah dengan wajah cemberut. Terlihat tidak ingin berpisah dengan orang tuanya.
"Kenzi sama kak Zahra dulu di sini ya, cenggek. Mama sama ayah kerja dulu ya," bujuk kak Sumi pada anaknya.
"Aaaaa."
Kenzi yang belum lancar bicara itu merengek tidak setuju dengan ucapan ibunya.
"Eh, eh, nanti mama belikan kinder joy. Ya?" bujuk kak Sumi lagi. Kali ini dengan iming-iming jajanan kesukaan sang anak.
Sepertinya bujukannya berhasil. Kini Kenzi berjalan mendekati Zahra dan mengulurkan tangannya meminta digendong.
"Eh, salim dulu sama ayah sama mama!" seru kak Sumi kembali memanggil anaknya yang sudah nyaman di dalam pelukan Zahra.
Akhirnya majikan Zahra pergi, sementara Zahra hanya berdiri di ruang tengah sambil mengamati kesibukan pekerja si pemilik rumah sambil menggendong Kenzi.
Tidak lama kemudian dari arah tangga turunlah Bu Rani dan suaminya yang sudah lengkap berpakaian dinas PNS. Tidak seperti orang tua Kenzi, Bu Rani dan suaminya memiliki bentuk tubuh yang proporsional. Perawakan Bu Rani sendiri tidak jauh berbeda seperti Zahra padahal usianya sudah memasuki kepala empat. Sepertinya perawatan mahal membuat wajahnya awet muda dan glowing.
"Eeehhh, ada Kenzii. Udah mandi nak?" sapa Bu Rani ramah. Ia menghampiri Kenzi dan mengulurkan tangannya. "Salim dulu sama mami," ujarnya lagi.
Zahra memerhatikan Bu Rina dengan kagum. Dalam jarak sedekat ini ia bisa mencium wangi parfum segar dari tubuh Bu Rani. Tidak ada kerutan di wajahnya yang hampir memasuki usia setengah abad itu.
"Kakak, orang baru yang jaga Kenzi?" tanya Bu Rani ramah.
"Iya, kak," sahut Zahra mantap. Ia yakin kali ini ia tidak salah menyematkan panggilan untuk si pemilik rumah bertampang highclass itu.
Bu Rani terlihat mengerutkan kening kaget mendengar Zahra memanggilnya 'Kakak'. Namun karena Zahra pekerja baru, ia memakluminya. Dengan cepat ia mengubah ekspresinya kembali ramah.
"Namanya siapa kak?"
"Zahra."
"Ooh, kak Zahra," ujar Bu Rani lalu mengalihkan pandangannya pada Kenzi. "Kenzi sini sama mami, makan kita yuk di meja makan sama abang Nadim. Ada kak Awa sama kak Eca juga," ujar Bu Rani mengulurkan tangan hendak menggendong Kenzi.
Mungkin saja Kenzi tidak terlalu akrab dengan keluarga itu hingga menolak dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Zahra yang tertutup kerudung hijau itu.
"Lhooo? Gak mau sama mami?" bujuk Bu Rani sedikit kecewa.
Kenzi sedikit memberontak dalam gendongan, tidak ingin disentuh Bu Rani. Pegangannya semakin erat di leher Zahra.
"Yaudah, yaudah. Mami sarapan dulu ya," ujar Bu Rani menyerah, tidak ingin menyulitkan Zahra yang terlihat kewalahan menggendong bocah berbobot 11 kg itu.
Bu Rani segera bergabung dengan suami dan anak-anaknya di meja makan. Matanya sesekali melihat Zahra dan Kenzi yang sedang menatap air mancur di kolam dari beranda belakang.
"Kak Zahra udah lama kerja sama si Sumi?" tanya Bu Rani tiba-tiba.
Zahra menoleh ketika namanya disebut. Alisnya mengerut bingung, sepertinya majikannya itu tidak cerita kalau ia pekerja baru pada kakaknya ini. "Ini hari pertama saya kerja. Tadi malam baru sampe di rumah kak Sumi," jawab Zahra lembut.
"Loh apa iya? Kok Kenzi udah lengket kali sama kak Zahra?" tanya Bu Rani heran.
Zahra hanya tersenyum. Sejujurnya ia juga heran dengan Kenzi yang tiba-tiba saja manja padanya. Padahal ia belum ada berinteraksi dengan Kenzi sejak bangun tidur. Hanya tadi malam saja ketika bocah gemuk itu mencium punggung tangannya. Dan pagi ini tiba-tiba saja Kenzi minta gendong dan menempel padanya bak anak Koala.
"Iya, dari tadi si Kenzi gak mau lepas dari si Zahra," wak Sri ikut menimpali obrolan.
"Berarti tau si Kenzi mana orang baik mana yang bukan. Tau dia kalok kak Zahra orang baik," ujar Bu Rani tanpa beban.
"Iya, bu, bener itu," ujar Wak Sri menyetujui.
Zahra tersenyum simpul mendengar majikan dan pekerjanya saling melempar asumsi. Sudah biasa baginya dinilai orang lain berdasarkan penampilan. Kerudung panjang yang menyentuh paha lantas dijadikan standart pribadi seseorang. Padahal hati manusia hanya Allah sang Khalik yang mengetahui.
Menyadari sesuatu, alis Zahra bertaut bingung. Pekerja di rumah ini memanggil si pemilik rumah dengan sebutan 'Ibu'. Tidak ada satupun yang memanggilnya 'Kakak'. Akhirnya Zahra menyadari kekeliruannya.
Matahari bergerak cepat, kini ia bertahta tepat di atas kepala. Sebentar lagi waktu Dzuhur datang. Sementara Zahra sedang menidurkan Kenzi yang sudah lelah bermain mobil-mobilan.
Setelah memastikan Kenzi benar-benar tidur, Zahra segera mengambil wudhu di kamar mandi tamu. Ia lantas melaksanakan shalat Dzuhur dan disambung dengan membaca mushaf yang selalu ia bawa.
Saat membaca terjemahan ayat-ayat yang ia baca, sekelebat ingatan kembali hadir. Ia menangis tersedu. Sejujurnya ia tidak menginginkan pekerjaan ini. Ia masih tidak bisa menerima mengapa ia harus bekerja sebagai pembantu sementara ia anak kuliahan. Seharusnya ia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari ini.
Di tengah isak tangisnya, tiba-tiba saja Kenzi menangis. Bergegas Zahra menutup mushafnya dan merapikan mukena. Namun tanpa disadarinya, ternyata Bu Rani sedang memerhatikannya sejak tadi. Bu Rani bergerak cepat membujuk Kenzi yang menangis.
"Cup cup cup, kenapa nangis sayang? Kak Zahranya lagi shalat," ujar Bu Rani menepuk-tepuk b****g Kenzi lembut.
Zahra tersentak kaget. Ia segera membersihkan wajahnya dari air mata yang menganak-sungai. Malu jika dilihat oleh si pemilik rumah. Sedikit takut juga akan ditanyai macam-macam dan diadukan pada adiknya, kak Sumi.
"Kenzi kenapa, dek? Sini sini," ujar Zahra lembut.
Kenzi mengulurkan tangannya pertanda minta digendong. Bocah gemuk berumur satu setengah tahun itu sepertinya berniat mematahkan tulang Zahra dengan terus meminta gendong.
Tidak punya pilihan akhirnya Zahra mengangkat Kenzi dan menepuk bokongnya lembut. Perlahan akhirnya Kenzi kembali tertidur. Namun Zahra enggan meletakkan anak itu di kasur. Ia canggung karena sejak tadi Bu Rani tidak henti menatapnya dengan pandangan menyelidik.
"Kak Zahra kenapa nangis?"
Bak disambar petir di siang bolong, pertanyaan yang tidak diharapkan keluar begitu saja dari mulut berpoles lipstick merah si wanita highclass.
Zahra tersenyum kikuk. Tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin ia jujur kalau sebenarnya ia malu dengan pekerjaan ini.
"Hidup itu berputar kak. Bisa jadi di atas, bisa jadi di bawah. Anggap aja ini batu loncatan untuk jadi orang sukses di masa depan."
Bu Rani berujar dengan senyum manis bertengger di bibir. Matanya menunjukkan seolah ia tahu apa yang sedang dirasakan pekerja baru adiknya itu.
Sementara Zahra merasa egonya terluka. Ia tidak suka ada orang yang sok tahu dengan isi hatinya. Senyum dingin terbentuk di bibir pucatnya. Batu loncatan katanya? Mau meloncat ke mana? Jadi majikan mendadak? Pikir Zahra sarkas.
Seminggu kemudian dihabiskan Zahra dan Kenzi yang menginap di rumah Bu Rani selama Kak Sumi berada di Malaysia. Sementara itu ayah Kenzi tidur di rumah sendiri. Hanya setiap pulang kerja bang Fahri datang melihat anaknya lalu kembali lagi ke rumahnya. Tidak mungkin Zahra yang notabenenya adalah wanita muda berduaan di rumah bersama Bang Fahri sementara sang istri tidak ada. Meski ada Kenzi tetap saja hal itu tidaklah pantas.
Dara benar. Pekerjaannya tidaklah sulit dan berat. Selama seminggu bekerja, ia sangat santai mengurus Kenzi dan memasak untuk bocah itu. Seminggu sudah ia tidak membersihkan rumah karena menginap di rumah Bu Rani.
Hanya saja kini ia tahu perangai ayah Kenzi yang sebenarnya. Laki-laki itu sangat pemalas dan jorok. Ketika Zahra diperintahkan untuk membersihkan rumah sebelum kepulangan Kak Sumi, ia melihat keadaan rumah yang kacau balau.
Rumah pengap seperti tidak pernah terbuka jendelanya. Lantai berminyak bahkan hingga ke ruang tamu. Jangan tanya keadaan dapur, tumpukan piring dan wajan gosong ada di sana tidak dicuci. Sampah menguarkan bau busuk tidak dibuang ke tong sampah di luar rumah. Berbagai noda yang entah apa ada di taplak meja sudah mengering.
Keadaan kamar tidak jauh berbeda. Bantal berserakan, begitupula dengan bentuk sprei yang sudah tidak karuan. Belum lagi handuk lembab di atas tempat tidur dan pakaian kotor menumpuk di depan pintu kamar mandi.
Zahra menghela napas kasar. Keadaan ini sangat berbeda ketika ada sang nyonya besar di rumah. Penasaran dengan isi kamar mandi di dalam kamar utama, Zahra membuka pintu. Lagi-lagi ia berdecak. Hatinya mengucap istighfar berulang kali. Celana dalam basah dan lembab bergelantungan di keran shower. Ia bahkan bisa melihat jejak lendir dahak di wastafel. Seketika ia berteriak.
"Aaaagggrrrhhhhh!!! Astaghfirullah yaa Rabbi! Joroknyaaaaa!!"
Zahra tidak perlu takut suaranya terdengar karena ia sendirian di rumah itu. Kenzi bersama ayahnya di rumah Bu Rani dan akan pulang ketika keadaan rumah sudah bersih.
Hari itu lah pertama kali Zahra merasa pekerjaannya sangat banyak. Ia harus mengepel lantai berulang kali sampai noda minyaknya hilang. Mengganti sprei, menyikat kamar mandi dan menghempaskan semua debu di dalam rumah. Bahkan dinding pun diraba terasa sangat berdebu.
Hampir setengah hari Zahra baru menyelesaikan pekerjaannya. Hatinya tidak henti beristighfar meski mulutnya terkadang mengumpat akan kelakuan majikan laki-lakinya itu.
"Sudahlah mulutnya tajam, pemalas, suka merintah lagi!" umpat Zahra tidak tahan.
Ia teringat beberapa hari lalu ketika Kenzi tiba-tiba saja demam dan tidak mau bersamanya sama sekali. Kenzi hanya menempel pada ayahnya seharian penuh, membuat laki-laki itu tidak bisa beristirahat di hari liburnya bekerja.
"Ma, cemana ini? Si Kenzi demam, gak mau dia sama si Zahra."
Zahra segera keluar dari kamarnya dan melihat Bang Fahri sedang menelepon istrinya yang saat ini berada di Malaysia. Kenzi di pangkuannya tampak menggeliat resah. Anak itu memang rewel daripada biasanya.
"Iya, gak mau dia sama si Zahra. Aku gak bisa ngapa-ngapain jadinya ah!" ujar Bang Fahri kesal.
"Jadi terbalik kayak gini. Aku yang macem pembantu jadinya ngurus si Kenzi."
Zahra mengucap istighfar dalam hati mendengar ucapan majikan laki-lakinya itu. Kok bisa ada orang tua yang merasa terbebani ngurus anaknya yang lagi sakit? Pikir Zahra heran.
Tidak lama kemudian panggilan diputus.
"Kak! Kak Zahra!" panggil Bang Fahri sedikit berteriak.
"Ya bang?" jawab Zahra.
"Ini tolong dulu urus si Kenzi," ujarnya sedikit kesal.
Zahra beralih menatap Kenzi yang masih nyaman dalam pangkuan ayahnya.
"Dek, Kenzi, main sama kakak dulu yuk," ajak Zahra lembut sambil mengulurkan tangannya.
"Aaaaaaa," teriak Kenzi marah, tidak suka dengan kehadiran Zahra yang seolah ingin memisahkannya dari sang ayah. Bang Fahri terlihat kewalahan menenangkan sang anak.
"Kenapa dia ya kak? Dulu gak kayak gini dia sama kakak sebelumnya," ujar Bang Fahri masih sambil membujuk anaknya supaya mau bermain bersama Zahra.
Sedangkan Zahra tidak menjawab karena iapun bingung dengan sikap Kenzi. Namun ia sedikit tersinggung akan ucapan ayah Kenzi itu. Siapapun pasti tidak suka jika dibanding-bandingkan dengan orang lain. Hanya saja ia tetap diam karena tahu posisinya di rumah itu hanyalah seorang pembantu.
"Mungkin karena pande kakak sebelumnya jaga anak," ujar Bang Fahri lagi tanpa menatap Zahra. Sementara Zahra menatap tidak suka akan ucapan Bang Fahri. Maksudnya aku bodoh ngurus anak? Pikir Zahra marah.
Tiba-tiba saja pundak Bang Fahri tersentak, seolah sadar dengan ucapannya yang mungkin saja akan menyakiti hati pekerjanya. Ia menoleh pada Zahra yang menatapnya tanpa ekspresi. Namun sorot mata Zahra terlihat tajam.
"Maksudnya, mungkin udah biasa kakak sebelumnya itu ngurus anak," Bang Fahri meralat ucapannya.
Namun sepertinya tidak berefek banyak karena ucapannya sama saja bermaksud meremehkan Zahra. Gadis itu sama sekali tidak tersenyum lantas ke dapur mencari kesibukan sendiri. Mengabaikan majikannya yang terlihat kesal di ruang keluarga Bu Rani.
Biar aja dia ngurus anaknya pikir Zahra sewot.
Dua minggu sudah Zahra bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Di hari Sabtu ini Zahra tidak banyak mengurus Kenzi karena ibunya tidak sedang bekerja. Siang ini ia baru akan menyikat lantai garasi depan ketika ponselnya tiba-tiba saja berbunyi.
"Halo?" sapa Zahra lembut pada nomor tidak dikenalnya itu.
'Halo, Ra! Ini ibuk, Ra.'
Mendengar suara yang dikenalnya membuat Zahra mengumpat pelan. Pasti mamak yang ngasih nomorku ke Bu Ana. Mau apa pulak ini orang? Pikir Zahra kesal.
Bu Ana adalah adik tiri ibu Zahra yang kerap meminta uang pada sang ibu. Bahkan saat keluarganya dalam masa sulit pun Bu Ana itu tidak mau tahu dan tetap memaksa meminta uang dengan alasan untuk mengurus nenek Zahra yang kini tinggal bersama Bu Ana.
"Ya, kenapa, buk?" balas Zahra cuek.
'Ra, kata mamakmu kau udah kerja? Mintak lah dulu uangmu 200rb, Ra!' ujar Bu Ana tanpa sungkan.
Zahra menjauhkan ponselnya dari telinga dan berekspresi mengejek ke arah ponsel. Gak tau malu! Pikir Zahra.
"Aku belom gajian, buk. Gak ada uang aku," jawab Zahra malas.
'Loh, jadi cemana ibu ini? Kata mamakmu suruh minta uang samamu,' ujar Bu Ana setengah memaksa.
Kening Zahra menyernyit. Yang bener aja mamak? Ngapain pulak minta uang ke aku? Pikir Zahra kesal.
"Maaf ya buk, aku gak ada uang. Aku masih kerja, kututup dulu ya buk. Assalamualaikum."
Tanpa menunggu jawaban tantenya itu, Zahra segera menekan tombol merah pada layar ponselnya.
Baru saja Zahra akan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, ponselnya kembali berbunyi. Kini pun dari nomor tidak dikenal. Ia mendesah malas.
"Siapa lagi sih?" kesalnya. Meski begitu ia tetap mengangkat panggilan tersebut.
"Halo," sapa Zahra lembut.
'Halo, assalamualaikum, dengan Ibu Zahra Maharani?'
Suara laki-laki tidak dikenal menyapa dengan nada sopan. Zahra menyernyit bingung.
"Waalaikumussalam. Ya, dengan Zahra Maharani di sini," balas Zahra.
'Baik, Ibu. Saya dari TK Islam Terpadu, bisa minta waktunya untuk wawancara terkait lamaran kerja yang Ibu lampirkan?'
Zahra tampak berpikir sejenak. Ia ingat pernah mengirimkan lamaran kerja ke tempat itu sehari sebelum ia bekerja di tempatnya yang sekarang. Dalam hati Zahra mendengus.
"Oh iya bisa, pak."
'Baik, Ibu Zahra. Di sini ibu melampirkan permohonan untuk mengisi posisi sebagai helper di TK Islam Terpadu, benar?'
"Iya, benar," balas Zahra pelan bahkan hampir seperti berbisik.
'Baik, Ibu. Kalau boleh tahu status Ibu Zahra sekarang sudah menikah atau belum?'
"Saya belum menikah, pak," jawab Zahra masih dengan volume suara yang sama.
'Baik. Kami menyediakan mess untuk pekerja TK Islam Terpadu dan katering makan 2 kali sehari. Untuk transportasi disediakan. Gajinya dua juta empat ratus. Sistem kerjanya terikat kontrak ya, Ibu. Kalau sewaktu-waktu Ibu Zahra ingin berhenti di luar kesepakatan, Ibu harus membayar denda tiga kali lipat dari uang gaji per bulan. Bagaimana, Ibu? Apakah Ibu bersedia?'
Zahra tampak menimang sejenak. Lumayan, meski lokasinya sangat jauh dari jangkauan tapi semua kebutuhan sudah disediakan pihak TK Islam Terpadu. Namun mengingat ia sudah bekerja di tempat yang sekarang sepertinya akan sulit untuk meminta berhenti.
"Maaf, pak. Bagaimana dengan transportasi ke sana ya pak?" tanya Zahra pelan, sesekali matanya melirik ke arah pintu kamar majikannya.
'Biaya transportasi Ibu ke sini ditanggung oleh kami.'
"Oh begitu."
'Maaf, Ibu sebelumnya. Kenapa suaranya terdengar seperti berbisik-bisik ya?'
"Eh, itu sebenernya saya sudah bekerja sebagai baby sitter. Tapi ada rencana untuk berhenti kerja bulan depan. Apakah masih bisa ditahan sampai bulan depan untuk posisi helper-nya?" tanya Zahra merasa tidak enak.
'Oh begitu. Sepertinya tidak bisa ditahan posisi helpernya, Ibu Zahra. Bagaimana kalau posisi lain?' tawar si bapak.
"Oh ya? Posisi apa pak?" tanya Zahra antusias.
'Menjadi istri saya, misalnya. Saya juga masih single. Kebetulan saya Kepala Sekolah TK Islam Terpadu.'
Dalam hati Zahra beristighfar. "Maaf pak, saya sedang cari kerja, bukan cari suami."
Meski tahu kalau orang yang menelepon adalah orang penting, Zahra langsung memutus panggilan tanpa pamit. Memangnya siapa yang lagi cari jodoh? Pikir Zahra kesal. Ia bergegas melanjutkan pekerjaannya yang tertunda sejak tadi.
Bersambung...