Pikiran Samesta terus mengarah pada kemungkinan buruk. Ia terus menghubungi Raya dan setiap karyawan kedai untuk menanyakan Sansan. Namun tak ada satu pun dari mereka mengangkat panggilan. Samesta makin cemas.
Laju mobil membelah jalan meningkat cepat. Samesta berhenti menghubungi semua orang dan fokus menyetir. Ia harus segera sampai di kedai secepat mungkin. Perasaannya kacau luar biasa. Di balik rongga d**a seperti ada yang menggedor-gedor saking tegang dirasa. Ia takut terjadi sesuatu pada putranya. Jika ini ulah jahil seseorang hanya agar Samesta panik, tak akan Samesta biarkan orang itu tertawa. Samesta akan meluapkan kekesalannya yang membara. Enak saja tertawa di atas penderitaan orang lain.
Tiba di kedai, Samesta membanting pintu. Kedai di saat jam makan siang biasanya tidak t