Samesta bergeming di meja makan. Sarapannya belum ia sentuh sedikitpun. Ia tak bisa mengalihkan perhatian dari seseorang di depan. Tadi waktu ia turun dari kamar, orang itu menyapa Samesta. Bahkan sentuhannya saat merapikan kerah kemeja, terasa sangat nyata.
Neneknya masih hidup.
"Makan yang banyak, Samesta." Esti menambahkan nasi goreng ke atas piring Samesta.
Di tempatnya Samesta masih cengo dengan keadaan yang ia lihat. Di kamar mandi tadi, setelah melihat dirinya tampak lebih muda, tak ada kerutan di sekitar ujung mata, dan uban pun tak dijumpainya. Samesta mencubit keras-keras lengannya untuk membuktikan dunia yang tengah ia pijak ilusi atau bukan. Ternyata cubitnnya terasa nyata dan sakit.
Ini apa-apaan?
Sebetulnya ia kembali ke masa lalu. Atau masa depan yang sempat ia jal