"Bangun atau aku cium, mau?"
"Mauu," sahut Qila langsung menoleh pada Reygan, bukannya takut ia malah mendekatkan diri pada laki-laki itu.
Lalu memberi kecupan pada pipi Reygan yang membuatnya tertawa meledek.
Cup
"Nah loh," ejek Qila pada Reygan.
"Udah berani nyerang duluan yaa?" goda Reygan menyeringai.
Memegang kedua bahu gadis itu lalu menidurkannya di kasur, dan sedikit menindih tubuh sang gadis," Mau yang lebih, hm?" tanya Reygan menatap lekat mata bulat milik sang gadis.
"Boleh," jawab Qila tertawa.
Reygan dibuat tambah gemas pada gadisnya itu, lalu di berinya kecupan bertubi-tubi pada muka cubby milik Qila yang membuat gadis itu terpekik geli.
"Hahaa... u—udah, aku nyerah," ujar Qila menyerah.
Reygan menghentikan aktivitasnya, beralih menatap gadis mungil di depannya.
"Padahal baru ci— ahh ampun beb, sakit. Ga bercanda lagi janji," mohon Reygan meminta ampun karna rambutnya tengah di jambak habis-habisan oleh Qila.
"Makanya jangan m***m," kata Qila melepaskan jambakan pada rambut Reygan lalu mengecup bibir laki-laki itu secara singkat dan buru-buru melarikan diri, berlari keluar dari kamar menuju lantai satu rumahnya.
Reygan yang mendapati perlakuan seperti itu seketika linglung, terbengong sambil memegangi bibirnya. Sedetik kemudian ia tersadar dari kebodohannya lalu segera beranjak dari tempat tidur Qila dan berlari mengejar gadis itu.
Sesampainya di lantai satu, dapat Reygan lihat gadisnya yang tengah duduk membelakanginya sedang menyantap makanan. Ia dengan hati-hati berjalan menghampiri gadis itu tanpa mengeluarkan suara dan tak di sadari oleh Qila.
Cup
Reygan memberikan kecupan pada pipi Qila membuatnya menoleh kaget," Ih, kamu curang!" ujarnya kesal memandang Reygan.
Mendengar itu Reygan lalu terkekeh dan kemudian menarik satu kursi yang ada di samping kanan Qila lalu ikut duduk.
"Itu namanya pembalasan yang setimpal," sahut Reygan tertawa.
"Kamu curang!" Qila terdiam untuk dua detik lalu kembali berkata," Lha, kita kan masih musuhan. Kenapa kamu malah modus cium-cium aku?"
Reygan yang sedang mengambil beberapa makan menghentikan pergerakannya lalu menatap gadisnya," Terus kenapa, kamu juga suka kan beb?"
"Y—ya suka, tapi kan kita masih musuhan jadi gak boleh cium-cium dulu," kata Qila lucu.
"Jadi, kalau udah ga musuhan mau lagi udah boleh cium?" tanya Reygan mengangkat satu alisnya.
"Iyaa... tapi setelah aku pikir-pikir sekarang kita udah baikan lagi. Tapi, aku mau jalan-jalan besok,"
"Jalan-jalan kemana?" tanya Reygan yang kemudian menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.
"Mau yang di sekitaran komplek aja, eh di depan sebelum masuk komplek ada penjual sate, aku mau disitu,"
Reygan mengangguk-anggukan kepalanya," Gak takut aku di godain cewek-cewek diluaran sana emang?" tanyanya.
"Kalau kamu di godain lagi bakal jambakan di rambutnya terus aku kata-katain," jawabnya yang kemudian ikut menyantap makanan.
"Yaudah makan dulu abis itu boleh lanjut ngomong," perintah Reygan yang diangguki oleh Qila. Dan mereka berdua lanjut makan dengan tenang.
***
Kini Reygan dan Qila tengah nonton tv, di temani bermacam-macam camilan tak lupa minumannya, posisinya berada di atas sofa dengan Reygan yang tiduran menghadap tv berbantalkan paha Qila, sambil memainkan jari-jari gadis itu dengan sesekali akan ia kecup.
Dan sesekali Qila juga menyuapi sang pacar, keduanya sama-sama fokus memperhatikan film yang terpampang di layar tv.
Samar-samar terdengar suara mesin mobil memasuki garasi mobil rumah milik kediaman keluarga Qila.
Qila yang mendengar suara mesin mobil itu sontak membulatkan matanya, lalu seperdetik kemudian berdiri dari duduknya tanpa perduli dengan Reygan yang sedang mengaduh kesakitan sambil mengelus kepalanya.
Sesampainya di luar rumah, Qila mendapati kedua orang tuanya yang berjalan kearahnya secara beriringan. Terlihat dari raut muka Qila bahwa ia sangat senang melihat kedua orang tuanya yang sudah pulang kerja.
Kemudian Qila menghambur memeluk Bunda dan Ayahnya setelahnya menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Bawa apa?" tanyanya, yang memang sudah hal biasa bertanya seperti itu ketika kedua orang tuanya pulang dari bepergian.
"Tuh di Bunda kamu," ujar Ayah Qila mengarahkan tatapan pada sangat istri,
lalu berjalan masuk rumah yang langsung berpapasan dengan Reygan, dan remaja laki-laki itu tak lupa menyapa sang mertua juga mengalaminya.
"Bawa apa Bunda?" tanyanya Qila kini sudah bergelayut manja pada lengan Bundanya.
"Nih, Bunda bawain kamu martabak telur dan martabak manis, ayo masuk dulu," ajaknya yang di anggukin oleh Qila.
Reygan yang baru berjalan keluar pun menyalami tangan Runa—Bunda Qila, lalu mengikuti langkah anak—ibu itu. Runa membiarkan kedua sepasang kekasih itu, ia pamit ke kamar terlebih dahulu untuk membersihkan diri.
"Bi, Bibi! Bawain Qila dua piring," teriak Qila yang langsung dapat teguran dari Reygan," Ga usah teriak-teriak gitu sayang,"
"Kalau aku ga teriak, pasti bibi susah dengernya," kata Qila yang tak lama pembantu rumahnya—bi Ina sudah membawakan dua piring, lalu langsung pamit lagi kedapur.
Qila langsung membuka bungkusan martabak itu tak lupa menaruhnya di atas piring terlebih dahulu, lalu mencicipi martabak telur terlebih dahulu, memekik kesenangan saat martabak itu sudah ia kunyah," Ih, enak."
"Suapin, mau cicip juga," pinta Reygan membuka mulutnya.
"Aku lagi makan, makan sendiri aja yaa?"
Reygan terdiam memandang Qila tanpa ekspresi, kemudian menyibukkan dirinya dengan ponselnya.
Qila mengedipkan matanya beberapa kali, menaruh martabak yang sedang di pegangnya tak lupa membersihkan tangannya menggunakan tisu," Kamu marah?" tanyanya, namun yang di tanya tak menjawab.
"Jangan cuekin aku ih," pinta Qila sedikit merengek memegang ujung baju Reygan.
"Kamu ngambekin aku yaa?" tanyanya lagi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Huwaaaaa... jangan diemin aku," tangisnya membuat Reygan menoleh padanya.
Reygan terkesima memandang kekasihnya yang tengah menangis, dengan sekali tarikan ia memeluk tubuh gadis itu.
"Kenapa nangis hm? Aku gak marah dan gak bermaksud diemin kamu, tadi aku lagi fokus main game jadi gak bisa ngalihin pandangan aku," elaknya berbohong.
"B—bohong hiks, tadi kamu b—beneran marah dan diemin aku huwaaaaa..." bukannya tenang, Qila malah semakin menangis kejar.
"Ngga sayang, aku ga bohong. Udah jangan nangis lagi," ujar Reygan melepaskan pelukannya lalu mengecup kedua mata sembab milik gadis itu dengan lembut.
Qila mendongakkan kepalanya menatap Reygan dengan mata dan hidung yang sudah memerah, tapi malah semakin terlihat imut.
Qila menganggukan kepalanya.
"Masih mau makan gak?" tanya Reygan dan lagi-lagi di angguki oleh Qila.
"Mau yang mana?" tanyanya, lalu Qila menunjuk martabak yang sudah di cicipinya sedikit.
Diambilnya satu potong martabak manis itu oleh Reygan, kemudian menyuapi Qila," Buka mulutnya coba," pinta Reygan dan menyuapi Qila saat gadis itu membuka mulutnya.
Setelah martabak yang ada di tangannya tersisa sedikit Reygan membuka suara," Haus gak?"
Lagi-lagi Qila hanya mengangguk sebagai jawaban, Reygan mendengarnya langsung berdiri.
"Mau kemana?" tanya Qila mencekal pergelangan tangan Reygan.
"Mau ambilin minum buat kamu,"
"Panggil bibi aja," kata Qila.
"Gapapa, biar aku aja. Kasian bi Ina bolak-balik kesini,"
"T—tapi,"
"Udah tunggu disini, aku ke dapur dulu," ujar Reygan lalu berjalan kedapur meninggalkan Qila seorang diri. Tapi sebelum itu ia kecup terlebih dahulu kening gadisnya.
Setelah kepergian Reygan, Qila kembali lanjut makan, karna martabaknya bikin nagih. Namun, tak berselang Reygan kembali dari dapur dengan sebotol air dingin di tangannya tak lupa satu gelas kaca.
"Nih minum dulu," kata Reygan setelah menuangkan air pada gelas yang di bawahnya tadi.
Qila menurut, langsung meminum air yang di sodorkan oleh Reygan. Setelahnya ia mengambil satu potong martab*k, berniat menyuapi Reygan," Buka mulutnya! "
"Ak—" belum selesai Reygan berbicara, Qila sudah terlebih dahulu memasukkan martab*k tersebut kedalam mulutnya.
"Tadi kamu bilang mau di suapin, yaudah sekarang udah kewujud kan?" kata Qila tertawa geli melihat kedua pipi Reygan yang menggembung lucu.
Dengan kesusahan Reygan berucap," Tawpi gawk gini jugaw beb,"
Cup
Ia mengecup bibir Reygan dan langsung melarikan diri dari hadapan cowok itu.
Walau sering mendapat kecupan bibir dari Qila, tapi tetap saja jantung Reygan berdebar tak karuan. Rasanya Reygan ingin melayang saja kalau begini.
Tapi, tak urung ia menyunggingkan senyum manisnya lalu megang bibirnya yang baru saja dapat kecupan, ia laluberanjak dari tempat duduknya, lalu berjalan mengejar gadisnya yang sudah tak terlihat.