Minggu malam listrik padam tanpa pamflet. Rumah Belanda itu gelap mendadak; kulkas berhenti; kipas di kamar Ratu mati di tengah putaran. Lima belas menit kemudian listrik hidup lagi dengan bunyi kompor listrik dan kulkas yang protes seperti orang tua bangun tidur.
Ratu keluar dengan senter ponsel, kaki telanjang di lantai kayu, hampir tabrakan dengan Raja di lorong sempit dekat kamar mandi. Bau sabun sama — mereka pakai sabun batang Nek Miftah yang sama, ironi serumah. Giliran kamar mandi bentrok di ambang.
'Gue duluan,' kata Raja, kaos, rambut berantakan.
'Saya duluan. Saya udah antre dari sebelum padam. Saya bawa handuk,' sahut Ratu, mengangkat handuk sebagai bukti.
Mereka saling tatap di cahaya ponsel. Lalu Raja undur selangkah, mengangkat tangan. 'Lo duluan. Lima belas menit. Jangan keramas drama. Air panas terbatas kalau padam lagi.'
Ratu masuk, cepat, air masih hangat sisa. Keluar dengan rambut lembap, pipi basah. Raja masuk bergantian. Di dapur Ratu rebus air di ceret; tangan masih ingat gelap barusan. Ketika Raja muncul — kaos rumah, rambut basah, wangi sabun yang sama — ia mengangkat ceret. 'Teh? Atau Bapak mau pura-pura nggak butuh manusia lain di rumah ini?'
'Kopi,' kata Raja. 'Tapi teh lo juga. Gue rebusin gula.'
Mereka diam di meja makan yang terlalu besar untuk dua orang asing. Lampu kuning. Di dinding, foto Nek Miftah muda tersenyum — Ratu sering lihat foto itu waktu sendirian; malam ini terasa seperti nenek sedang mengawasi dua cucu yang tidak akur. AC kamar tamu tiba-tiba bunyi terlalu kencang setelah listrik nyala; Ratu menggigil tipis di kursi kayu. Raja berdiri, ambil remote sentral yang jarang dipakai, turunkan suhu pelan. 'Bilang kalau dingin. Jangan pura kuat. Mata lo udah jelasin cukup. Gue bukan nenek, tapi gue bisa turunin AC tanpa ceramah.'
'Saya nggak pura,' kata Ratu, memegang cangkir. Uap teh menghangatkan wajah. Lalu, lebih jujur, karena gelap barusan mengikis gengsi: 'Mata saya jelek. Kurang tidur. Bukan karena Bapak. Karena kepala saya ramai — cicilan, gosip, Bunda, Raisa, kerja, Nek Miftah yang baik, Bapak yang… ada. Ramai. Kadang saya pengen kos supaya ramai itu berkurang. Kadang saya takut kos membuat saya lebih sepi.'
Raja menatap wajahnya di cahaya lampu kuning. Tidak bilang hantu. Tidak bilang sakit jiwa. Tidak seringai. 'Gue lihat. Gue nggak ejek malam ini. Tidur. Besok Senin — lo jangan telat. Bukan karena gue kejam. Karena Faris butuh draft lo pagi, dan gue nggak mau lo dipotong bonus gara-gara mata. Kalau alarm lo jelek, bilang. Gue… bisa ketuk pintu. Bukan buka. Ketuk.'
Ratu mengangguk. Hangat di telapak dari cangkir. 'Baik. Ketuk boleh. Buka tidak. Hafal?'
'Hafal,' kata Raja. 'Gue belajar batas. Pelan.'
Di wastafel mereka beradu soal piring sisa makan malam sederhana — nasi goreng yang Ratu masak karena lapar, Raja ikut makan tanpa diminta formal. 'Lo tinggalin sendok,' kata Raja.
'Saya cuci nanti. Besok.'
'Cuci sekarang. Semut. Nenek marah. Gue yang ditelefon.'
Ratu cuci sambil berdecak; Raja mengeringkan tanpa diminta. Sinkronisasi aneh. Bukan romantis. Rumah. Dua orang belajar tidak perang di wastafel. Di luar, anjing tetangga menggonggong sekali lalu diam — kota kembali ke mode malam biasa, seolah listrik tidak pernah padam dan mereka tidak pernah hampir bertengkar soal giliran mandi.
Sebelum tidur Ratu berdiri di pintu kamar, rambut masih lembap. 'Pak… Raja.'
'Ya?' Ia bersandar di kusen lawan, jarak hormat.
'Kemarin-kemarin Bapak kasar. Cium. Ejek. Sadis. Hari ini kurang. Saya catat di otak pengacara. Jangan harap saya bilang Bapak baik total. Jangan harap saya lupakan zebra cross dan bibir saya.'
Raja menyandarkan kepala sebentar ke kayu. 'Gue nggak minta jadi baik total. Gue minta lo nggak takut di rumah nenek gue. Bedanya jauh. Gue juga masih belajar nggak jadi iblis soal volume tangisan orang. Upgrade bertahap.'
Ratu menarik napas. Senyum kecil yang tidak ambigu — lelah, jujur. 'Saya… belum takut. Hati-hati. Bedanya juga jauh. Selamat malam.'
'Selamat malam, Ratu.'
Di kamar, Ratu dengar langkah Raja menjauh, pintu kamar tamu, AC pelan. Tidak ada ketukan. Tidak ada ciuman. Ia taruh ponsel menghadap ke bawah — tidak ada SMS ipar malam ini. Buku kas di laci: sisa cicilan bulan depan masih menunggu. Jas hujan tebal sudah ia pindah ke gantungan dekat pintu, siap gerimis Senin.
Ratu menulis singkat di catatan: *listrik padam. giliran kamar mandi. teh. kopi. ketuk boleh, buka tidak. mata tidak diejek.* Lalu menghapus semuanya karena terasa seperti diary cewek SMA, lalu menuliskan ulang satu baris saja: *rumah malam — agak manusia.*
Esok kantor menunggu. Faris dan draft. Nindy dan mata waspada. Desy dan croissant. Cicilan masih ada. Bian masih diblokir. Gosip masih bernapas di lobby. Nek Miftah masih di luar kota, belum tahu cucunya dan Ratu sedang belajar tidak perang di wastafel. Tapi di antara semua itu, malam ini terasa agak lebih manusia — dan untuk Ratu yang biasa menang sendiri, “agak” sudah cukup untuk ditutup mata tanpa air mata baru, dengan rambut lembap dan perut kenyang nasi goreng yang dimakan bersama stranger tanpa harus menamainya apa pun.