Selasa sore, Raja tidak langsung pulang ke rumah Belanda. Fortuner meluncur ke SCBD — bukan showroom, bukan firma, tapi coffee shop sudut yang Yasa klaim 'quiet enough for gossip, loud enough for espresso'. Jam setengah tujuh masih penuh pekerja kantoran yang pura-pura meeting. Musik lo-fi dan bau sangrai biji — Jakarta versi tenang yang artifisial. Raja parkir di basement, sengaja jauh dari pintu supaya tidak ada yang foto again. Paranoia kecil yang belajar dari screenshot basement firma.
Yasa sudah duduk di pojok dengan laptop terbuka pura-pura kerja. Istri dan anak tidak ikut — 'Dika demam, ibu mau rawat,' katanya via chat siang tadi. Raja tidak protes. Obrolan malam ini butuh meja tanpa mainan anak dan tanpa telinga istri yang terlalu paham sahabatnya.
'Bro,' sapa Yasa ketika Raja duduk. 'Lo tegas banget Jumat. Sekretaris nangis, katanya.'
'Reprimand tertulis. Bukan nangis drama.' Raja pesan americano. 'Lo undang gue buat nge-roast atau ngobrol?'
'Ngobrol. Roast gratis.' Yasa tersenyum — senyum suami yang sudah lewat fase check-in hotel murah dan sekarang fase ganti popok. 'Gue denger foto Fortuner. Magang turun basement. Site visit. Motor mogok. Classic?'
'Fakta.'
'Fakta lo juga serumah.'
Raja menatap gelas. 'Nenek minta.'
'Nenek minta jodoh, bukan roommate forever.' Yasa condongkan badan. 'Lo deny romance. OK. Tapi lo bela dia di rapat roti panggang. Lo tegasin Nindy. Lo chat gue *bukan date*. Lo defensive, bro. Defensive itu bahasa cinta versi cowok takut.'
'Lo nikah, jangan jadi psikolog gratis.'
'Gratis because lo belum traktir sate since zebra cross.' Yasa minum kopi. 'Serumah. Satu dapur. Hujan pasta — gue denger versi lo almost joke handuk terus lo stop. Lo upgrade. Tapi upgrade buat siapa?'
Raja diam. Espresso pahit cocok dengan mood.
'First kiss,' kata Yasa pelan, tidak lagi bercanda. 'Lo pernah ngaku ke gue — Indo bukan Amrik. Lo salah. Magang tendang. Lo masih inget?'
'Inget.' Raja mengusap wajah. 'Gue salah. Gue nggak justify. Cuma… awal meet, handuk, nenek scenario. Gue idiot.'
'Idiot yang sekarang belajar boundary.' Yasa tidak tertawa. 'Good. Tapi boundary bukan pelarian kalau lo sebenarnya…'
'Apa?'
'Lo suka dia.'
Raja ingin protes — ingin bilang magang cuma staf, cuma cicilan, cuma titah nenek. Tapi ingatan zebra cross muncul tanpa permintaan: tangan Ratu di saku jas, protes 'nggak peka', wajah bingung di halaman resto. Ingat ketuk pintu malam lembur. Ingat *almost joke handuk* lalu stop. Boundary bukan hal yang Raja biasa latih ke staf lain.
' Gue deny romance.'
'Deny bukan bukti.' Yasa ketuk meja. 'Lo admit salah cium. Lo coba ketuk pintu, nggak buka. Lo formal di kantor. Lo hampir joke handuk terus stop. Itu effort. Effort bukan hal lo biasa lakukan ke staf random.'
Raja meneguk kopi. Panas. 'Gue nggak compete sama Bian.'
'Magang blokir Bian. Gue tahu from lo — indirectly. Patah hati. Lo stranger. Lo boss. Lo serumah. Recipe disaster or recipe… something.'
'Jangan something.'
Yasa menghela napas. 'Kejar yang bener atau mundur bersih, Ja. Jangan setengah-setengah di rumah nenek, di kantor, di foto basement. Magang itu bukan mainan gosip. Lo juga bukan.'
Kalimat itu menggantung — bukan ultimatum romantis, ultimatum keprihatinan sahabat yang sudah lihat Raja thirty tahun hidup tanpa commit yang benar.
Raja unsettled. Dada sesak bukan karena kopi. 'Gue… coba boundary. Profesional. Cicilan. Kerja. Nggak gandeng zebra. Nggak cium ulang.'
'List boundary bukan list cinta.'
'Lo kenapa sih hari ini?' Raja kesal — tapi kesal setengah, karena Yasa tidak salah total.
'Because lo tegur sekretaris terus chat gue cuma *bukan date*. Lo butuh someone bilang stop main-main.' Yasa tersenyum kecil. 'Traktir sate weekend. Lo bayar. Lo yang minta sambat.'
'Dream on.'
'Kejar atau mundur, Ja.'
Yasa lanjut — lebih pelan, lebih serius. 'Gue nggak bilang lo harus nembak besok. Gue bilang jangan pura-pura stranger forever kalau lo sudah bela dia di rapat, tegur Nindy, dan almost joke handuk. Itu bukan perilaku boss netral. Itu perilaku cowok yang denial.'
Raja menatap espresso habis. 'Kalau gue kejar wrong way, lo yang bayar sate?'
'Lo yang bayar. Plus lo yang jelasin ke nenek kalau lo jadi iblis lagi.' Yasa tutup laptop. 'Magang patah hati Bian — lo nggak confirm, tapi gue bisa baca. Lo nggak compete ghost. Good. Tapi ghost nikah bulan depan. Lo masih di rumah nenek. Clock ticking, bro.'
'Clock apa?'
'Clock lo sadar atau lo mundur.'
Mereka berdiri. Jalan ke parkiran basement — Yasa naik mobil sendiri, Raja ke Fortuner. Sebelum pisah, Yasa ketuk kaca: 'Think. Traktir sate kalau lo sudah jujur — ke gue atau ke diri sendiri.'
Raja pulang jam sembilan. Macet. Radio dimatikan. Chat Yasa di ponsel — tidak dibalas. Rumah Belanda lampu dapur menyala. Ratu belum tidur — bunyi piring di lemari.
Raja tidak cerita obrolan Yasa. Ratu tidak tanya. Check-in singkat:
'Lo OK?' — Ratu.
'OK.' — Raja. Bohong kecil, tapi bohong yang tidak menyentuh pintu kamar Ratu.
'Kerja besok.'
' Hafal.'
Raja masuk kamar tamu. Tidur terasa tipis. Yasa voice loop: *kejar yang bener atau mundur bersih.* Boundary list bukan cinta list. Deny bukan bukti.
Di dapur, Ratu dengar langkah lelah. Tidak knock — mereka sudah lewat fase itu untuk check-in malam. Ia lanjut lap piring.
Ratu sempat lihat Fortuner baru parkir — basah tipis, bau kopi eksterior. Raja pergi setelah jam kerja, pulang jam sembilan. Bukan lembur firma; pola baru. Ratu tidak tanya. Boundary juga berarti tidak interogasi.
Raja berhenti di ambang dapur. 'Ada sisa nasi?'
'Kulkas. Microwave.'
'Thanks.'
Raja ambil sendiri — tidak minta ditemani. Ratu appreciate itu. Stranger yang belajar tidak makan roti orang tanpa izin… progress kecil.
Malam Selasa tipis. Raja di kamar tamu scroll email tanpa focus. Chat Yasa masih unread. *Kejar yang bener atau mundur bersih* — kalimat yang tidak bisa di-highlight seperti footnote pidana.
Catatan Ratu: *Yasa? gue nggak tahu. Raja OK — maybe not. Fortuner late.*