Selasa pagi di kantor, Raja lebih singkat dari biasa — intercom tanpa 'good morning', bullet point tanpa pause. Ratu tidak comment; professional armor cukup. Printout jadwal di meja Ratu — tangan cepat, tidak ada kontak mata. Hendro lewat dengan smirk kecil; Faris potong dengan case file. Normal office — abnormal undercurrent.
Selasa sore, AC ruang tamu rumah Belanda mati — bunyi klik, lalu hembus panas. Jakarta sore seperti oven; rumah tua peninggalan Belanda tidak dirancang untuk suhu tiga puluh tiga derajat tanpa pendingin.
Ratu pulang lebih dulu, blazer dilepas, kemeja lengan digulung. 'AC mati,' gumamnya ke ponsel — chat ke teknisi rekomendasi Nek Miftah belum dibalas.
Raja datang jam setengah tujuh — jas lepas, muka lelah, mata lebih gelap dari biasa. Langkah ke ruang tamu, cek remote AC. Klik. Klik. Tidak ada respon.
'From tadi?' tanya Raja.
'Sejak gue pulang. Panas.' Ratu di dapur, buka kulkas — sejuk sementara. 'Lo mau makan apa?'
'Apa aja.'
Raja buka panel listrik — bukan ahlinya, tapi coba. Ratu bawa air dingin. 'Jangan main-main kalau nggak yakin.'
'Lo think gue bodoh?' Raja menatap — tajam setengah detik.
'Lo think gue nagging?' Ratu balas — tajam juga.
Keheningan. AC mati. Panas naik. Emosi ikut naik tanpa alasan jelas.
Mereka masak bareng — nasi goreng sederhana, telur, sisa sayur. Raja potong bawang terlalu kasar; Ratu rapihin irisan. 'Lo buru-buru,' kata Ratu.
'Lo lambat.' Raja tidak lihat.
'Excuse me?'
'Nothing.' Raja buang bawang ke wajan. Minyak splatter — Ratu mundur. 'Sorry.' Kata itu datar, bukan benar-benar sorry.
Ratu ingat pagi di kantor — Raja yang intercom kering, printout tanpa kontak mata. Pola sama: irritable tanpa penjelasan.
Makan di meja makan — AC mati, kipas langit-langit putar pelan. Ratu makan cepat. Raja makan sedikit, fork di tangan terlalu lama.
'Lo ada masalah?' tanya Ratu akhirnya — light, tapi direct.
'No.'
'Raja.' Nama depan — jarang di rumah. 'Lo irritable sejak pagi. Gue notice.'
Raja jaw clench. 'Lo notice banyak hal belakangan.'
'Apa maksud lo?'
'Nothing.' Repeat. Jealousy without name — Ratu kenal pola itu dari undangan Jumat. Gold foil. Bian. RSVP. *Sebagai adik* — tapi tetap hadir.
'Undangan?' tanya Ratu pelan.
'Lo tanya gue?' Raja tatap piring. 'Lo yang decide. Gue nggak—' stop. 'Forget it.'
'Lo cemburu?' Ratu light — bukan accusation, observasi.
'No.' Terlalu cepat.
Ratu taruh garpu. 'OK. Gue nggak punya energi debat malam ini. Panas. AC mati. Lo irritable. Gue RSVP ke Bunda — bukan ke lo, bukan ke Bian. Posisi gue clear.'
Raja diam. Lalu: 'Gue nggak claim lo.'
'Good. Gue juga nggak claim lo.'
Tapi udara tetap tebal — bukan karena claim, karena sesuatu yang tidak diucapkan duduk di meja makan seperti piring ketiga.
Raja berdiri, cuci piring kasar — bunyi keramik. Ratu ambil handuk, keringkan lebih pelan. 'Lo mau bantuan teknisi besok? Gue contact yang Nek rekomendasi.'
'Fine.'
'Fine,' echo Ratu.
* * *
Malam, Raja di kamar tamu — chat Yasa:
`Lo irritable?` Raja ketik, hapus, ketik lagi: `AC mati. Dapur panas. Undangan.` Kirim.
Yasa: `Undangan siapa.` Raja: `Bian. Adiknya RSVP.` Yasa: `Lo cemburu bro.` Raja: `Nggak.` Yasa: `Iya. Benahin muka.` Raja: `Gue nggak punya hak.` Yasa: `Cemburu bukan berarti punya. Bedain.` Raja: `Diam.` Yasa: `Traktir kopi.`
Raja menatap layar. *Cemburu bukan berarti punya.* Benar. Ratu bukan miliknya — bukan saingan Bian, bukan adik yang perlu dijaga paksa. Tapi dada tetap sesak saat bayang Ratu di venue Sudirman, dress code, seat keluarga. Tanpa nama. Tanpa hak. Tetap ada.
Di dapur, Ratu dengar notifikasi Raja — then silence. Ia tidak knock. Boundary.
Raja keluar jam sepuluh — AC masih mati. Bawa kipas kecil dari kamar, taruh di meja ruang tamu. 'Buat lo. Malam.'
'Lo?' tanya Ratu.
'Gue OK.'
'Raja.' Ratu light lagi. 'Thanks kipas. Lo irritable tadi — gue notice. Gue nggak tanya lagi kalau lo nggak mau jawab. Tapi jangan potong bawang kasar di depan gue. Stress gue juga.'
Raja hampir smile — fail. 'OK. Sorry bawang.'
'Accepted.'
Soft reset — bukan romantis, bukan pelukan. Kipas kecil, sorry bawang, panas yang turun sedikit karena malam. Ratu: 'Besok teknisi.' Raja: 'Gue contact juga.' Formal-soft.
Raja kembali kamar tamu — light off. Ratu di sofa dengan kipas kecil, AC mati, cemburu tanpa nama di ruangan sebelah. Tidak ownership. Tidak hope. Hanya dua orang lelah share atap dan sesuatu yang belum punya label.
Ratu buka catatan kecil — habit sejak vault: *Selasa. AC mati. Raja irritable. Cemburu tanpa nama. Kipas kecil = soft reset. Besok teknisi.* Tidak tulis hope. Tidak tulis Bian. Cukup fakta.
Tengah malam, suara kipas kecil dan langkah halus dari kamar tamu — Raja cek panel listrik sekali lagi, gagal, kembali. Ratu pura-pura tidur. Boundary: lo irritable, gue tidak push. Besok AC, besok teknisi, besok normal — atau semakin dekat undangan, semakin tidak normal. Ratu belum tahu. Tidur anyway. Ponsel silent — tidak chat Bian, tidak unblock. Block still block. Selasa selesai.