Kamis pagi, briefing divisi. Raja memproyeksikan slide timeline kasus pidana korporasi — tenggat ketat, dokumen ribuan halaman, klien sulit dihubungi. Ratu Ananda Sahara duduk barisan magang, blazer cream, binder tipis, mata lebih jernih dari minggu lalu.
'Magang Ratu, slide empat — ringkasan risiko kontrak,' titah Raja datar.
Ratu berdiri. Suara steady — bukan karena Bian sudah dilupakan, tapi karena ia memutuskan tidak lagi menunggu jawaban dari masa lalu. 'Poin satu: force majeure clause terlalu luas, membuka celah terminate sepihak. Poin dua: penalty payment tidak simetris — klien kita expose lebih besar.'
Faris mengangguk di ujung meja. 'Tambahin precedent banding 2019 — gue forward file.'
Ratu lanjut tiga menit tanpa gugup. Slide lima: timeline discovery. Slide enam: witness list draft. Raja tidak puji verbal — hanya angguk sekali, professional. Itu cukup.
Setelah briefing, Desy kejar di koridor. 'Lo on fire, atau lo running from something?'
'Both,' jawab Ratu jujur. 'Bian — gue stop hope. Work — gue start focus.'
'Healthy combo kalau lo tidur.'
'Trying.'
* * *
Siang, Ratu habiskan empat jam straight di meja — highlight, footnote, cross-reference. Typo kecil, fix, kirim ke Faris sebelum jam tiga. Balasan Faris singkat:
`Clean work. Lanjut ke draft respons — lo lead paragraf satu sampai tiga.`
Lead — bukan assist. Ratu taro telapak tangan di mouse, napas dalam. Focus after deciding not to hope for Bian: energi yang tadinya bocor ke chat unblock yang tidak pernah ia kirim, sekarang masuk ke liability clause.
Raja lewat jam empat — printout jadwal minggu depan di sudut meja, tangan cepat. Intercom lima belas menit kemudian:
`Draft respons — deadline Jumat sore. Lo capable. Jangan overwork.`
Professional praise — Faris/Raja style. Ratu jawab:
`Copy. Pulang normal.`
`Good.`
Nindy tidak comment hari itu — dingin, sibuk, avoid eye contact. Ratu tidak peduli. Pantry sudah clear; performa yang bicara.
* * *
Jumat sore, case progress: draft respons versi satu selesai — Faris review, minor revision, approve untuk lanjut ke klien. Desy di meja sebelah high-five pelan — magang solidarity.
'Lo proud?' tanya Desy.
'Lo proud of me?' balas Ratu.
'Very.' Desy senyum. 'Adik mode executed. Lawyer mode activated.'
Ratu tertawa kecil — sungguh, bukan practice smile ballroom. 'Barely activated. Still magang.'
'Magang yang Faris trust.' Desy angguk ke arah ruang senior. 'Itu progress.'
Pulang motor — macet, matahari sore. Ratu ingat Bian sebentar — bukan wajah di panggung, tapi memori kecil: kakak yang pernah ia anggap pelabuhan. Sakit masih ada — seperti bekas luka yang tidak gatal lagi, tapi kelihatan kalau cermin ditekan.
Malam Jumat, Ratu di kamar, hoodie, laptop tutup. Functional seharian. Sad at night — normal. Ia tidak turun ke dapur; tidak nangis; hanya duduk lima menit, napas, lalu tidur.
Chat Desy:
`Weekend?`
`Sleep. Heels return done. Gaun done.`
`Raja?`
`Same page. Not date.`
`OK. Rest.`
Ratu taruh ponsel. Performa naik. Hati belum healed — tapi karier tidak ikut ambruk. Itu small victory yang ia pegang erat.
* * *
Sabtu pagi, Ratu bangun late — jam sembilan. Dapur kosong; Raja mungkin lari atau meeting online. Ia buat kopi sendiri, baca ulang footnote cetak. Otak sharp pagi Sabtu — rare gift belakangan ini.
Nek Miftah chat: *Rajasa bilang lo bagus di kantor. Nenek bangga. Lo jaga diri.* Ratu balas: *Hafal Nek. Processing pelan.* Nenek: *Good girl.*
Ratu senyum kecut ke layar — bukan practice smile, bukan harapan romantis. Hanya… diakui. Performa naik bukan untuk tepuk tangan, tapi karena berhenti berharap pada Bian membebaskan energi yang selama ini bocor diam-diam.
Minggu malam, briefing mental untuk Senin: draft respons versi dua, site visit prep, no lembur kecuali emergency. Functional. Malam kadang masih sedih — keduanya bisa coexist; Ratu belajar pelan.
* * *
Senin pagi, draft respons versi dua. Ratu masuk jam delapan, kopi kantin, blazer cream. Meja bersih — printout Faris sudah menunggu: comment margin tipis, mostly approve.
'Paragraf tiga — tighten,' tulis Faris. Ratu tighten. Kirim jam sebelas.
Raja lewat — intercom tidak perlu; Faris sudah forward. Professional chain — Ratu tidak bypass, tidak di-bypass.
Siang, site visit prep: Ratu baca dossier klien, highlight alamat, risiko onsite. Hendro assist logistics — polite setelah pantry apology. Team functional.
Nindy minta signature Raja di dokumen — lewat meja Ratu, tidak comment. Dingin, tapi tidak hostile. Progress kecil.
Sore, Faris panggil Ratu ke meja senior. 'Lo lead respons public. Raja setuju. Gue setuju. Lo deliver Jumat.'
'Copy, Pak.' Ratu jawab steady.
'Dan…' Faris pause. 'Ignore gosip. Performa lo speak.'
Ratu angguk. Praise professional — Desy proud, Faris trust, Raja assign tanpa romance filter. Case progress visible: timeline discovery on track, witness list draft v2 done.
Malam Senin, Ratu pulang lelah — lelah yang enak. Memori Bian muncul sekali saat motor macet: flash kakak di meja keluarga resepsi. Ratu kedip, fokus lampu merah. Memory boleh; harapan tidak. Aturan berbeda.
Dapur kosong. Chat Raja:
`Lo eat?`
`Sudah.`
`Draft?`
`On track.'`
`Good. Sleep.'`
Ratu tidur jam sepuluh — sad at night minimal. Functional wins day.