" Jadwalku setelah ini ?"
Tanya Daren tanpa mengalihkan pandangannya pada kertas-kertas itu.
"Tidak ada Pak"
Jawab Sweet dengan mantap.
"Baiklah ikut aku, setelah aku selesai menandatangani semua ini."
Ujar Daren lagi.
"Baik Pak"
Jawab Sweet.
Daren sedikit terganggu dengan perubahan panggilan Sweet padanya.
"Bisa ganti panggilanmu itu."
Perintah Daren yang kini sudah menatap Sweet dengan intens.
"Panggilan ? G-ganti seperti apa ?"
Sweet mendadak heran dengan sikap Bossnya itu. Yah, memang awalnya Sweet terbiasa memanggilnya Tuan. Tapi kali ini Sweet ingin membiasakannya dengan panggilan Pak karena ingin ikut seperti karyawan lain.
"Tuan"
Ujarnya yang tak ingin menganti panggilan awal Sweet padanya.
"Baiklah Tuan"
Setelah selesai berkutat dengan kertas-kertas itu akhirnya Daren telah siap pergi bersama Sweet.
Mereka tiba di Apartemen megah milik Daren.
"Ngapain dia ngajak aku kemari ?"
Pikir Sweet mulai tak enak.
"Jangan salah paham. Aku juga mana ingin menikmati tubuh sepertimu."
Ujar Daren tiba-tiba seperti bisa menebak isi pikiran Sweet.
Sweet menanggapi itu dengan tatapan sinisnya.
"Dia pikir aku juga mau ? Amit-amit"
Kata Sweet yang hanya mampu mengucapkan itu dalam hatinya.
"Bersihkan semua ini"
Ucap Daren saat mereka tiba di ruang tamu apartemen Darren.
"Maksudnya Tuan ?"
Tanya Sweet lagi seraya meminta untuk mempertimbangkan hal ini.
"Kau tuli ? Bersihkan apartemenku, aku memberimu waktu sampai sebelum jam makan malam tiba. Siapkan makan malam juga, aku akan kembali malam nanti untuk melihat hasil kerjamu."
Ucap Daren setelah itu berlalu meninggalkan Sweet begitu saja tanpa menunggu tanggapan Sweet dan melihat lagi bagaimana mimik wajah gadis itu sekarang.
"Daren rese..."
Teriak Sweet penuh amarah.
Untung saja tempat itu kedap suara, jadi tak akan ada orang yang mendengarkan segala umpatannya itu.
"Bersihkan biji matamu. Tapi kenapa dari semuanya malah tempatnya yang lebih besar ? Mempersulit saja."
Sweet lagi-lagi hanya bisa mengeluh.
Dia langsung tersadar, Kenapa dia harus mengeluh ?
"Tidak, aku tidak boleh mengeluh."
Ucapnya pada diri sendiri.
Dengan segala tenaga yang ia punya, Sweet membersihkan apartemen itu dengan teliti sambil mendengarkan lagu dari ponselnya yang ia Volumekan begitu keras.
Sweet melakukannya dengan cepat. Karena memang gerakannya yang lincah akhirnya tugasnya membersihkan tempat itu telah selesai.
"Kayaknya tempat ini emang udah lama nggak di tempati deh. Tapi kok masa iya dia nggak nyewa seseorang untuk membersihkannya, seperti bos-bos pada umumnya."
Pikir Sweet sambil menilai kembali hasil kerjanya.
"Aman. Sekarang tinggal masak."
Sweet pun bergegas beranjak ke dapur, melihat bahan masakan yang tersedia.
"Untung aku orangnya nggak keringetan, kalau keringetan udah aku jadiin tumisnya si Daren rese itu."
Gumam Sweet sambil tertawa geli.
Sweet mengamati bahan makanan yang masih terisi rapi di dalam Tas besar itu.
Ia mengaturnya dulu di Kulkas dan menyisakan beberapa bahan yang ia butuhkan saat ini.
Namun, tiba-tiba fokusnya teralihkan dengan notif pesan yang berbunyi dari ponselnya.
'Malam ini saya ingin Seafood. Buatkan Udang goreng mentega dan Gulai cumi.'
Sweet menegak ludahnya dengan susah payah.
"Apa-apaan"
Sweet yang merasa geram sekali dengan Bossnya itu.
"Cumi ?"
Sebenarnya mudah saja bagi Sweet membuat itu semua. Tapi, masalahnya dia alergi dengan salah satu makanan ini.
"Emang aku yang makan ? Nggak apa-apa Sweet."
Ujarnya pada diri sendiri.
Belum lama ia fokus untuk membuat semua bumbunya, notif di ponselnya kembali berbunyi.
'Saya juga ingin sayur, tapi terserah kau saja mau buat sayur seperti apa.'
"Tumis kangkung saja"
Pikir Sweet yang memilih untuk memasak saja sayur seperti itu.
Setelah kangkung tumis dan Udang goreng mentega telah tersaji, Sweet sedikit ragu untuk menyajikan Gulai cuminya. Ia takut mencicipinya walau hanya sekedar kuahnya saja.
Sweet alergi dengan cumi, jadi dia takut mencicipinya.
"Tidak apa, pasti rasanya sudah pas."
Pikir Sweet, yang memilih memindahkannya saja pada mangkuk besar. Dan siap menyajikannya.
Sweet gerah sekali, ia ingin sekali mandi saat ini.
"Huftt, apa aku pulang saja ?"
Sweet baru saja ingin menghubungi Daren untuk memberitahukan hal itu. Namun, ia mengurungkannya karena langkah seseorang yang menuju ke tempatnya.
Dan benar saja, itu adalah Daren. Boss rese yang sedang di nantikannya.
"Makan malamnya sudah siap Tuan. Karena Tuan sudah di sini maka saya ingin pamit pulang."
Ucap Sweet tiba-tiba dan ingin berdiri dari duduknya namun dengan cepat di hentikan Daren.
"Temani saya makan malam dulu, bagaimana kalau masakanmu itu tidak layak ? Aku ingin kau mempertanggung jawabkannya nanti."
Ujar Daren dan ingin berlalu ke kamarnya.
"Maaf Tuan jika saya lancang, tapi saya ingin sekali membersihkan tubuh saya kali ini. Apa tuan mau makan bersama saya yang sudah bau keringat ini ?"
Daren diam sesaat memperhatikan Sweet dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Yang membuat Sweet merasa aneh dengan tingkah Bossnya itu.
"Mandilah di kamar sana, Ada banyak pakaian wanita di lemari itu. Kau bisa memakainya."
Ujar Daren lalu pergi meninggalkan Sweet menuju kamarnya.
Sweet memasuki kamar itu dan membuka lemarinya. Benar saja, ternyata di situ banyak pakaian wanita.
"Apa ini punya kekasihnya ?"
Pikir Sweet mencoba menerka.
"Ah, maksudku mantan kekasihnya."
Jelas Sweet lagi.
Sungguh, tak ada satupun pakaian yang sesuai dengan keinginannya.
Akhirnya pilihannya menetap pada Dress selutut lengan pendek berwarna Mint.
"Aku rasa ini masih lebih baik"
Ucapnya lagi.
Ia pun langsung memasuki kamar mandi dan bergegas membersihkan dirinya yang seharian ini menunggu untuk di bersihkan.
Selesai berganti pakaian, Sweet memutuskan langsung ke ruang makan.
Daren sedari tadi di sana sambil memainkan ponselnya.
"Kau sudah selesai ?"
Tanya Daren mengalihkan tatapanya kini pada Sweet.
Daren terpana menyaksikan Sweet kali ini, kaki jenjangnya terekspos dengan begitu sempurna.
Sweet sedikit kikuk saat Daren menatapnya seperti itu.
"Iya Tuan"
Balas Sweet yang mampu menyadarkan tatapan Daren seketika.
Daren menormalkan keadaannya
"Apa kau mau berdiri di situ terus ?"
Tanya Daren mulai ketus lagi, yang membuat perasaan Sweet kembali kesal.
Sweet mendekat dan memilih duduk di depan Daren.
"Ambilkan makananku, aku ingin mencicipi semua lauknya."
Perintah Daren lagi dengan wajah dinginnya.
Sweet menuruti itu. Setelah itu ia menyerahkannya pada Daren.
"Sepertinya ada yang kurang"
Ucapnya lagi seraya menilai rasa dari makanan itu.
"Gulainya kurang pas"
Ketusnya dengan nada dingin.
Sweet hanya mampu menunduk tak kuasa memandang wajah dingin Daren saat ini.
"Kau tak mencicipi makanan ini sebelumnya ? Dan memilih menyajikannya langsung, begitu ?
Tanya Daren dengan tampang kesalnya.
Sweet tak tahu harus mengatakan apalagi.
"Maaf Tuan, aku tidak bermaksud untuk..."
"Coba kau cicipi sekarang"
Sela Daren yang kembali memerintah Sweet dengan amarahnya.
"Maaf Tuan saya tidak bisa."
Balasnya yang membuat Daren semakin bingung dan kesal.
"Apa maksudmu ? Karena sedang mencoba meracuniku ? Apakah setelah aku memakan ini aku akan keracunan ?"
Tanya Daren dengan amarahnya yang semakin tak terduga.
Sweet benar-benar takut menghadapi kemarahan Tuannya itu.
"Bu-bukan begitu Tuan, saya tidak mungkin melakukan hal itu. Saya..."
"Jangan banyak alasan ! Cicipi sekarang Gulai itu. Buktikan jika memang kau tak melakukan hal itu."
Ujar Daren dengan suara yang semakin meninggi.
"B-baik Tuan"
Balas Sweet dengan tangannya yang terlihat mulai bergetar.
"Tak apa Sweet, hanya kuahnya saja."
Ucap Sweet pada hatinya seraya meyakinkan dirinya sendiri.
Sweet mencicipi itu dengan tenang, meskipun kini hatinya tengah di rundung rasa khawatir.
"Iya Tuan, ternyata garamnya kurang."
Jawab Sweet dengan tenang.
"Kau membuat mood makan malam ku hancur."
Ujar Daren dan langsung pergi meninggalkan Sweet.
Badan Sweet mulai terasa panas dan gatal.
"Oh tidak..."
Gumamnya yang mulai merasakan sesak pada dadanya dan pusing yang mulai menguasai kesadarannya.
"Tuan..."
Teriak Sweet dengan kesadarannya yang mulai hilang.
Daren mendengar dengan jelas teriakan Sweet saat ia ingin membuka pintu apartemen.
Daren berbalik dengan cepat dan merasa kaget saat melihat tubuh Sweet yang tak sadarkan diri di dekat meja makannya.
"Sweet..."
Daren tambah khawatir saat menemukan banyak bintik-bintik di badan Sweet.
Daren langsung menggendong badan Sweet keluar dari apartemennya, menuju Rumah sakit.
Saat di depan Rumah sakit Daren tak lagi memarkirkan mobilnya dengan baik dan langsung bergegas membawa Sweet ke dalam.
Banyak tatapan-tatapan yang kaget dengan kedatangan Daren. Apalagi dia tengah membawa seorang gadis asing.
"Dokter, cepat tangani dia..."
Teriak Daren dengan tampang yang tak bisa menyembunyikan lagi kekhawatirannya.
Daren menunggu dengan keadaan yang benar-benar gelisah. Seraya mengingat dengan jelas keadaan mereka tadi di ruang makan.
"Apa dia alergi cumi ?"
Pikir Daren yang langsung menjambak kuat rambutnya.
"Bodoh-bodoh. Kenapa kau tak mengatakan padaku..."
"Tuan tidak apa-apa ?"
Tanya Jack tiba-tiba yang datang dengan keadaan buru-buru karena mencemaskan keadaan tuannya.
"Bukan aku, tapi Sweet."
Balas Daren lagi, yang semakin merasa bersalah pada Sweet.
***