Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh maygita
Malam ini. Bintang bintang indah terhalang oleh sinar lampu kota, angin tak begitu sejuk seperti biasanya, dan aku, tak tersenyum lepas seperti malam malam kemarin.Apa yang kau pertanyakan tentang diriku di malam ini? Aku manusia yang sedang lara menyesali malam malam yang telah berlalu, berlalu dengan pikiran yang tak memikirkan apa itu masa depan dan apa itu akhirat. Duniaku bagai baik baik saja tanpa kesadaran, tanpa pikir panjang, hanya kesenangan yang aku nikmati. Dan. Malam ini, ya, malam ini, aku menangis tak lagi tersedu-sedu, rasa bersalahku terlalu besar untuk air mata yang bersuara, air mata malam ini mengalir lebih cepat dari air mata orang yang menangis tersedu-sedu. Apa yang aku rasakan? Apa? Apa itu bahkan aku tak tau, aku merasa semua kehancuran ada padaku, aku ingin mati merasa tak pantas untuk hidup, aku merasa tak lagi suci, aku merasa duniaku habis sehabis habisnya untuk malam malam maksiat yang aku lalui.Malam ini. Tak ku biarkan pikiranku membawaku loncat dari lantai tiga rumah ku untuk mengakhiri penyesalan ini, tak ku biarkan pikiranku membawaku tuk kembali ke malam malam sebelumnya karena merasa sudah terlanjur.Aku, Jisa Dwi Arilla, berjanji di malam ini, berjanji untuk bertaubat sebenar benarnya taubat, berjanji untuk tak membiarkan jalan setan terbuka untukku atas dosa besar di malam malam lalu.Tuhan, tolong. Tolong bantu aku berjalan kembali ke jalanmu, bantu aku berjuang melawan nafsu dan setan yang sesungguhnya aku tau keduanya termasuk aku pun adalah ciptaan mu.Luka ini, adalah yang sebenar benarnya luka, luka dan air mata yang tak mampu membayar apa yang sudah ku gores pada diriku sendiri, tak ku biarkan luka ini membawakan menyesal di hari yang tak ada lagi ruang untuk bertaubat. Ku usahakan luka itu hilang sebelum hari tak ada lagi diterimanya penyesalan. 🦋🦋🦋“Bangun woi ... sudah pagi, ndak sekolah kau, hah?” teriakan mak inah sedikit menyadarkanku yang belum kunjung membuka mata.“Hem ...” jawabku pelan yang mungkin tak seorangpun dengar.Pagi itu ku terbangun kembali, dalam aliran dosa yang tadi malam ku perbuat. Bukan sebuah keinginan, juga bukan sebuah paksaan. Hanya satu yang mendorongku melakukannya.‘uang’Aku tak lagi memiliki ayah atau pun ibu, tapi ... bahkan aku tak pernah benar benar ingin memilikinya. Ayah dan ibu, meninggal setahun lalu, tepat di usiaku tujuh belas tahun. Akibat pertengkaran hebat malam itu, malangnya adikku ikut tak selamat. Aku yang sedang tidak ada di rumah, tidak tau pasti apa yang terjadi. Yang ku tau, sekujur tubuh ibu penuh dengan memar, beliau tergeletak di samping ranjang tidur bersama adikku yang baru berusia satu tahun dengan kondisi sama sama tak bernyawa. Sedangkan ayah ditemukan di dapur memegangi pisau yang berlumuran oleh darahnya sendiri. Ya, leher beliu telah bolong tengah.Sudahlah. Itu bukan kenangan yang harus ku simpan di kepala.Aku beranjak dari tempat tidurku. Yah seperti biasa, di rumah kecil itu suara mak inah mencaciku memencar kemana mana, bahkan suara guyuran air pun kalah dengan lengkingan suaranya.“Kau sudah numpang tak tau diri pula” satu kalimat yang tak akan tertinggal dalam ocehannya.Aku tahu, bukan karena dia tak sayang padaku atau ingin membedakan anaknya denganku. Tapi dengan kondisi ekonomi sulit semenjak pak indro meninggalkan mak inah bersama dengan tiga anak gadisnya, membuat emosinya selalu meleak karna lelah bekerja. Aku tak tau persis apa pekerjaannya, yang aku tau banyak yang beliau lakukan dalam sehari semalam.Pak indro kemana? Dia kabur dari rumah, dan menikah lagi dengan janda kaya di luar kota.Aku memakai pelan seragam SMA ku dengan rapi. Walau tak banyak membantu setidaknya aku menghargai perjuangan mak inah untuk tetap membuatku sekolah dengan layak.Seperti biasa aku sekolah dengan tak banyak cerita ataupun sensasi. Berteman hanya dengan rifa temanku dari SD dulu, tapi tetap ramah pada yang lain.Pulang sekolah seperti biasa mak inah tak ada di rumah. Hanya ada aku dan ketiga anak mak inah yang berusia jauh dariku. Si sulung yang baru menduduki kelas enam SD bernama asila. Anak tengan yang cukup penurut dan pendiam masih menduduki kelas empat SD, bernama bintang. Dan yang terakhir masih berusia lima tahun bernama cici.Nama asli cici sebenarnya arsyi. Akupun tidak tau awal dia bisa di panggil cici gimana. Cici biasa aku bawa ikut jualan cireng sepulang sekolah, di kedai milik orang tua rifa.Sedangkan asila dan bintang, mengerjakan pekerjaan rumah, dari mulai menyapu sampai ke masak. Bisa tidak bisa, keadaan memaksa meraka untuk bisa segala hal. Usai membereskan rumah asila menjemput cici, sebelum azan asar menggema. Sekalian membawakanku makan siang yang sudah jauh telat dari waktunya. Sedangkan bintang mengantar makanan untuk mak inah di sebuah warung makan tempat ibunya mengambil upah setiap sore.Dari tiga bersaudara itu, hanya bintang tak banyak bicara, tak banyak mengeluh, bahkan ia satu satunya orang yang masih ingat tuhannya di rumic_default
Karena kamu suka Sekolah, mungkin kamu suka ini juga: