Berita bahwa standardisasi akan jauh lebih lambat dan mahal dari rencana tidak diterima dengan baik di lantai manajemen. Pak Wibowo memanggil Bayu dan Lestari ke ruangannya pada Senin pagi, dan ia tidak melirik jam tangannya kali ini—ia menatapnya lurus, yang lebih buruk.
"Saya butuh produk yang punya bukti," katanya. "Pasar herbal sedang naik, kompetitor kita sudah merilis tiga produk tahun ini. Kalau kita menunggu sampai tiap batch bahan diukur kandungannya satu per satu, kita rilis tahun depan, dan kita kalah." Ia menggeser sebuah dokumen ke arah mereka. "Saya mau kita percepat. Uji klinik kecil. Skala terbatas, satu produk andalan, hasil cepat, lalu kita punya 'sudah teruji klinis' di label. Itu yang dilihat pasar."
Bayu merasakan dinginnya yang familiar. "Pak, uji klinik bukan stempel yang bisa kita beli cepat. Ada prosedur. Ada komisi etik—"
"Saya tahu ada komisi etik," potong Wibowo. "Makanya kalian berdua yang urus. Dokter Lestari yang berpengalaman, kamu yang teknis. Saya cuma minta cepat."
Di luar ruangan, Lestari menarik napas panjang. "Dia tidak salah soal pasar," katanya pada Bayu sambil berjalan ke arah lab. "Tapi dia salah soal kecepatan. Dan kalau kita ikut salahnya, yang menanggung bukan dia." Ia menatap Bayu. "Ayo. Aku tunjukkan kenapa ini tidak bisa cepat. Bukan karena birokrasi rewel. Karena nyawa."
Minggu-minggu berikutnya Bayu belajar sisi pekerjaannya yang tidak ada di kontraknya. Ia dan Lestari menyusun protokol uji klinik untuk rebusan daun antidiabetes—jamu Pak Darso, kebetulan, yang hasil lab awalnya cukup menjanjikan untuk dilanjutkan. Dan di sinilah Bayu pertama kali berhadapan dengan komisi etik penelitian kesehatan: sebuah ruang berisi orang-orang yang tugasnya satu, melindungi subjek manusia dari peneliti yang terlalu bersemangat.
Mereka tidak ramah dan tidak seharusnya ramah. Seorang anggota komisi, dokter senior berkacamata, membaca protokol Bayu dan langsung menemukan lubangnya. "Kalian merekrut penderita diabetes yang sudah minum obat," katanya. "Apa yang terjadi kalau jamu ini benar bekerja, lalu gula darah subjek turun terlalu rendah karena bertumpuk dengan obatnya? Siapa yang berjaga? Berapa cepat kalian bisa intervensi? Mana rencana penghentian kalau ada efek samping?"
Bayu membuka mulut, lalu sadar ia tidak punya jawaban yang cukup baik, dan ia bersyukur tidak punya—karena pertanyaan itu persis yang membuatnya tidak bisa tidur sejak bertemu Pak Darso. Hipoglikemia. Gula darah jatuh terlalu rendah, keringat dingin, gemetar, bisa sampai kejang dan tidak sadar. Itu bukan teori. Itu yang akan terjadi pada manusia sungguhan kalau dua zat penurun gula bekerja bersamaan tanpa pengawasan.
"Kami akan menambahkan pemantauan gula darah ketat," kata Lestari menyelamatkan, "dengan kriteria penghentian yang jelas dan dokter jaga. Tidak ada subjek yang minum jamu dan obat sekaligus tanpa pemantauan harian di fase awal." Komisi mengangguk, masih skeptis, dan memberi daftar revisi sepanjang dua halaman.
Di mobil dalam perjalanan kembali, Bayu memegang map persyaratan yang sekarang setebal dua jari, dan ia merasakan beratnya bukan sebagai kertas. "Saya selalu mengira pekerjaan saya teknis," katanya pelan. "Menimbang, mengukur, mendokumentasikan. Saya tidak pernah berpikir tiap angka yang saya tulis di protokol itu adalah... izin untuk memberi sesuatu ke tubuh orang."
"Itu memang yang membedakan kita dari Mbah Kuntomu," kata Lestari. Ia melepas kacamatanya, memijit pangkal hidungnya, kebiasaan yang Bayu mulai kenali sebagai tanda ia akan berkata jujur. "Mbah Kunto bertanggung jawab pada satu orang yang ada di depannya. Dia lihat mukanya, dia kenal namanya, kalau ada apa-apa dia ada di sana. Kita mau membuat produk untuk seribu orang yang tidak pernah kita lihat mukanya. Itu kekuatan kita—skala. Itu juga bahaya kita. Karena kalau kita salah, kita salah untuk seribu orang sekaligus, dan kita tidak akan ada di sana saat satu pun dari mereka jatuh."
Bayu menatap map di pangkuannya. Komisi etik yang ia kira menghambat, regulasi BPOM yang ia kira rewel—ia mulai melihatnya bukan sebagai birokrasi, melainkan sebagai memori kolektif dari semua kesalahan yang pernah membunuh orang sebelum aturan itu lahir. Tiap larangan punya nisan di belakangnya.
Dan di situ, di kursi penumpang dengan map tebal di pangkuan, luka lama Bayu bergerak. Ia ingat tempat kerjanya yang lama, pabrik obat, tiga tahun lalu. Ia ingat satu batch yang hasil ujinya berada di garis batas—nyaris lolos, nyaris tidak. Ia ingat tekanan jadwal, atasan yang menatap jam, dan keputusannya untuk meloloskannya karena angkanya, secara teknis, masih dalam rentang. Ia ingat ia benar secara prosedur. Ia ingat ia tidak bisa tidur selama berbulan-bulan sesudahnya karena "secara prosedur" bukan hal yang ia pikirkan saat membayangkan orang yang meminumnya. Tidak ada yang celaka, ternyata. Kali itu. Tapi Bayu tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa obsesinya pada bukti bukan watak yang ia banggakan—itu luka. Itu cara seorang yang pernah berdiri terlalu dekat dengan garis batas, dan tidak mau berdiri di sana lagi.
"Tekanan jadwal," katanya pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Lestari, "itu yang membunuh. Bukan ketidaktahuan. Ketidaktahuan masih bisa hati-hati. Tapi orang yang dikejar jadwal akan menandatangani hal yang dia sendiri tidak yakin."
Lestari memandangnya agak lama. "Kamu bicara seperti orang yang pernah melihatnya."
Bayu tidak menjawab. Ia menatap jalan. Di kepalanya, untuk pertama kali, dua dunia yang ia kira berlawanan—dapur Mbah Kunto yang adaptif dan komisi etik yang kaku—tampak bukan sebagai lawan, melainkan sebagai dua cara berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama: bagaimana memberi sesuatu ke dalam tubuh orang tanpa mencelakainya. Dan Wreksa Hayati, dengan tekanan jadwalnya, baru saja meminta mereka berdua menjawab pertanyaan itu lebih cepat dari yang aman. Ia melipat tangannya di atas map, dan untuk pertama kali ia takut bukan pada jamu, melainkan pada perusahaan yang membayarnya.