“Lucas... lepas!" Ivy kesulitan bicara dan suaranya terbata.
Alih-alih menuruti permintaan itu, cengkeraman tangan Lucas justru pindah ke leher Ivy. Meski tahu apa yang dia perbuat sangatlah menyakiti gadis yang dulu pernah membuatnya jatuh hati setengah mati, Lucas tampak masa bodoh dan gilanya dia justru merasa puas.
Hazel Lucas memindai wajah gadis di hadapannya lekat-lekat. Menelusuri matanya yang terbelalak karena kesulitan bernapas, menikmati ekspresi rasa sakit yang ditunjukkan oleh Ivy, menyukai bagaimana dia bisa mengintimidasi Ivy sambil menanamkan rasa takut ke hati gadis yang berhasil dia sandera.
"Lucas... tolong... lepas! Sakit!"
"Apa? Lepas katamu?" Lucas berdecih. Mencemooh Ivy yang seperti sedang meminta hal paling mustahil padanya melalui seringai di bibir. "Kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Ak-aku... tidak bisa... ber-napas!"
"Kalau bicara yang jelas. Jangan terbata-bata seperti itu. Aku kan jadi tidak dengar. Coba katakan sekali lagi.”
“Yang keras!" Tubuh Ivy terangkat saat Lucas menyentak gadis itu mendekat ke arahnya.
"Tolong..." Susah payah Ivy menyusun kata-kata yang tersendat di tenggorokan ketika pandangannya mulai kabur dan kepalanya pusing luar biasa. "Tolong lepas. Aku... bisa mati—"
"Baiklah." Kedua tangan Lucas terangkat sejajar telinga setelah dia melepaskan Ivy dalam satu dorongan kuat hingga tubuh tak berdaya gadis itu terhempas kembali ke atas kasur.
Ivy yang sudah seperti ikan yang menggelepar di darat tidak kuasa menahan laju air matanya. Sikap Lucas yang begitu kasar membuat perasaannya campur aduk. Jika dulu Lucas adalah sosok yang baik dan lembut, maka kini kebaikan serta kelembutan yang dimiliki Lucas seperti lenyap tanpa bekas. Tidak ada setitik pun kehangatan yang tertinggal di dalam hazelnya yang indah, tidak ada secuil pun senyum tulus yang dulu biasa menghiasi wajahnya yang tampan.
Lucas yang dulu dengan Lucas yang sekarang seperti dua orang berbeda yang memiliki wajah sama. Kenyataan pahit tersebut tentu saja membuat Ivy bertanya-tanya, ke mana perginya sosok Lucas yang dingin tapi sebenarnya sangat perhatian itu? Dan di mana sosok laki-laki yang lima belas tahun lalu pernah berkata kalau dia akan mencintai Ivy sampai kapan pun? Mungkinkah kalau pria yang berada di dekatnya sekarang sebenarnya bukanlah Lucas melainkan orang lain yang wajahnya hanya sekedar mirip?
Seakan mampu membaca apa yang sedang Ivy pikirkan, Lucas pun menjawab pertanyaan Ivy dengan cengkraman kuat di rahang untuk yang kedua kali. "Jika kamu berharap kalau aku bukanlah orang yang pernah kamu kenal, kamu pasti kecewa karena aku..." Lucas menjeda sejenak kalimatnya hanya untuk menikam Ivy dengan belati dendam yang tersimpan di mata, "memang Lucas yang dahulu pernah kamu permainkan."
"Tidak mungkin!"
Lucas berdecih. "Kenapa? Kamu masih tidak percaya kalau aku benar-benar Lucas?"
“Lucas bukan orang yang kasar sepertimu!”
“Seiring berjalannya waktu, orang pasti akan berubah. Termasuk aku,” jawab Lucas santai.
Lihat aku, Vy." Lucas lalu berdiri menghadap Ivy, kedua tangannya terbuka, matanya seolah-olah menyuruh gadis itu memperhatikan perubahan yang ada di dalam dirinya secara saksama. "Seperti yang kau lihat, sekarang aku bukan lagi pria miskin yang bisa kau injak-injak seperti serangga menjijikkan.”
“Bahkan aku bisa membeli apapun yang aku mau termasuk harga dirimu yang setinggi langit itu.”
Ivy tertegun, membeku tak percaya sementara air matanya yang tak kunjung kering terus membahasakan lara yang melebar di hati selagi lidahnya terasa kelu.
"Lucas... tolong jangan salah paham. Aku bukannya sengaja ingin menyakitimu! Aku hanya tidak mau—"
Secepat kilat tangan kekar Lucas kembali menjegal udara yang Ivy hirup dengan cengkraman kuatnya di leher. "Jangan bicara apa pun dan jangan beralasan karena kau hanya semakin membuatku marah!"
Tiga detik setelah kalimat yang dilontarkan Lucas mencapai titik, Ivy baru bisa menarik napas dalam-dalam meski oksigen yang dia hirup seperti dilapisi serbuk kaca. Sakit! Dalam ingatannya yang samar, Ivy tahu kalau dia pernah menyakiti hati Lucas. Namun Ivy tidak pernah mengira kalau luka yang dia berikan dahulu, akan menyisakan dendam yang tertanam begitu lama di hati pria itu. Dia bahkan tidak tahu kalau perbuatan yang dia lakukan secara tidak sadar, berhasil menyebabkan kerusakan yang begitu fatal bagi jiwa Lucas.
"Aku tidak pernah berniat mempermalukanmu di depan umum! Itu, itu bukan aku! Bukan aku yang melakukannya! Kau harus percaya!” Ivy bersikeras. Berdoa dalam hati supaya Lucas mau mendengarkannya untuk kali ini saja.
"Aku bilang diam!" bentak Lucas, suaranya yang menggelegar memantul di sudut-sudut kamar yang hanya diisi satu tempat tidur, satu meja kecil yang di atasnya terdapat sebotol wine, dua buah gelas, dan satu pisau kecil. Ivy tidak tahu sejak kapan pisau lipat yang tadi sempat menyita fokusnya ada di tangan Lucas. Yang jelas tak lama kemudian, punggung pisau itu mulai menempel di kulit Ivy lalu turun menelusuri pipi.
"Kamu tahu tidak? Sudah lama aku ingin mengoyak wajah cantikmu supaya kamu tidak pernah lagi mempermainkan hati laki-laki. Tapi setelah aku pikir-pikir, rasanya sayang juga kalau wajah yang berharga ini rusak dengan cara yang mudah. Sepertinya akan lebih bagus kalau kulit mulusmu diberi jejak kebiruan terlebih dahulu, atau luka sayatan yang bisa membuatmu selalu mengingatku.”
“Bagaimana? Ideku bagus, bukan? Lagi pula, aku punya banyak uang untuk memperbaiki apa yang sudah aku rusak," ucap Lucas dengan penuh rasa bangga serta arogansi yang kental.
Di bawah tekanan pisau milik Lucas, darah Ivy mulai mengalir. Tidak banyak memang. Tapi bagi Ivy yang pain tolerance-nya rendah dan takut akan darah, cairan merah itu cukup mengguncang jiwanya. Ivy yang sudah tidak sanggup lagi menerima ancaman apalagi penyiksaan fisik, sontak berteriak frustasi di depan wajah Lucas sambil menahan perih.
"DASAR b******n! PSIKOPAT! APA MAU KAMU, HAH? KAMU MAU AKU MATI? KALAU IYA, LANGSUNG BUNUH SAJA AKU! DASAR PENGECUT!”
Alih-alih tersinggung, Lucas justru terbahak-bahak mendengar makian yang Ivy lemparkan kepadanya.
"Nah, begitu dong. Kan jadi lebih seru. By the way, terima kasih pujiannya, Cantik. Kedepannya, aku janji akan berbuat lebih gila dari ini supaya kamu merasa bangga sama aku."
"Bangga katamu?" Ivy tercengang. "Kamu benar-benar gila, Lucas! Aku bersumpah akan membuatmu mendekam di penjara begitu aku keluar dari tempat sialan ini!"
"Itu bukan kata-kata yang tepat untuk kamu ucapkan di situasi seperti ini, Sayang. Jangan lupa, kamu satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas semua rasa sakit yang aku rasakan selama lima belas tahun ini," jawab Lucas santai seraya mengedikkan bahu.
Dilemparnya pisau kecil yang tadi dia gunakan untuk menakut-nakuti Ivy secara sembrono, sambil mati-matian mengekang hasrat ingin menguliti pakaian gadis itu dengan benda tersebut sampai tidak ada satupun helai benang yang menempel.
Selang beberapa detik, Lucas tiba-tiba berdiri lalu pergi meninggalkan ruangan entah untuk apa. Ivy tidak mau tahu alasan kenapa Lucas pergi dan kemana Lucas melangkahkan kaki. Malah Ivy bersyukur melihat pria itu menghilang di balik pintu. Sekalian saja jangan pernah datang lagi! Itu jauh lebih baik.
"Aku tidak membuatmu kesepian, bukan?" Lucas pun mematahkan harapan Ivy dengan kembali ke dalam ruangan sambil tersenyum lebar, seolah-olah dia tidak mau berlama-lama memberikan ruang supaya Ivy bisa bernapas lega.
"Lucas... tolong lepaskan aku. Bukankah kita bisa bicara baik-baik tanpa perlu mengikatku seperti ini?"
Lucas yang saat itu sedang fokus membaca isi dokumen di tangannya langsung mengangkat wajah dan balas menatap Ivy.
"Hm? Kamu ingin aku melepaskanmu dan bicara baik-baik?"
Ivy menganggukkan kepala beberapa kali dengan cepat. Berharap Lucas mau mengabulkan permintaannya untuk tidak diikat, karena demi apapun, trauma terhadap tali yang sudah lama dia derita dan sekarang masih dalam tahap pengobatan membuatnya dua kali lebih tersiksa. Gadis itu dilanda kecemasan ekstrem yang membuatnya merasa tercekik meski Lucas tidak sedang melakukan apa-apa.
Sialnya napas yang memburu, detak jantung yang tidak teratur, keringat yang mengucur deras serta tremor yang tak kunjung mereda, rupanya masih belum mampu menarik simpati Lucas untuk sedikit berbelas kasih kepada Ivy. Lucas justru senang melihat Ivy sudah seperti orang yang sekarat. Baginya, semua penyiksaan yang sedang dia lakukan, masih jauh dari kata setimpal jika dibandingkan dengan sakitnya penghinaan yang pernah gadis itu lemparkan ke wajahnya.
"Biar aku jelaskan, Sayang." Lucas sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Ivy. "Kau... tidak berada dalam posisi berhak mengajukan negosiasi denganku. Tapi tenang saja, jika kamu mau menurut, aku akan sedikit bersikap lembut."
Ivy mencium gelagat tak beres yang tersemat di senyum tipis Lucas tepat setelah dia mengeluarkan sebuah stempel berikut bantalannya dari dalam laci. Apapun yang tertulis di dalam dokumen itu, Ivy yakin sekali kalau isinya pasti bukanlah sesuatu yang baik.