Akhirnya, senyuman itu muncul kembali setelah sekian lama menghilang, senyuman yang membuatku ikut bahagia dan tenang saat melihatnya.“
~ Arga Pratama ~
Di tempat lain, seseorang baru saja sadar dari pingsan. Gadis itu membuka matanya dan kaget saat mendapati bahwa dia berada di sebuah ruangan yang cukup mewah.
“Aku di mana, ya? Bukannya tadi seharusnya aku ke panti asuhan “Kasih Bunda“, tapi kenapa aku malah ada di tempat yang super mewah kayak gini?“ kata gadis itu terheran-heran mendapati dirinya berada di tempat yang tidak dia ketahui.
Tiba-tiba, seseorang membuka pintu kamar tempat gadis itu berada lalu berkata, “Kamu sudah bangun, Nak Aluna. Ya, dia adalah Aluna kembaran Alana yang ditemukan ada di rumah sakit.
Aluna kaget melihat orang itu, dia seumuran dengan Ayah dan Ibunya.
“Om Wijaya? Kenapa aku bisa di sini? Ini rumahnya siapa?” kata Aluna kepada Wijaya yang membawa makanan untuknya.
“Kamu tenang dulu Nak, om tadi nggak sengaja lihat kamu di pinggir jalan. Kamu pingsan, jadi om bawa kamu kesini. Om lihat kamu juga terluka,” kata Wijaya.
Aluna merasakan sakit di lengannya karena terkena batu di pinggir jalan. Dia berusaha menghindar dari mobil yang akan menabraknya dalam perjalanannya pergi ke panti asuhan.
“Makasih Om sudah menolong Aluna, tadi Aluna hampir tertabrak mobil. Aluna nggak tahu siapa pengemudinya. Tiba-tiba saja mobil itu melaju kencang ke arah Aluna. Jadi, Aluna terserempet, jatuh dan pingsan. Sekali lagi, makasih Om Wijaya,” kata Aluna.
Wijaya mendekati Aluna, pria paruh baya itu duduk di samping Aluna yang masih berada di ranjang kamar itu.
“Iya sama-sama, sebenarnya kamu tadi mau ke mana? Bukannya kamu lagi dicari banyak orang? Kamu bikin cemas dan khawatir banyak orang, Nak,“ kata Wijaya mengelus kepala Aluna sebagai tanda sayang.
Aluna tersenyum ke arah Wijaya, yang nampak khawatir melihat keadaannya yang terluka.
“Niatnya tadi om mau ke rumah sakit, tapi om bingung kenapa om malah nemuin kamu di pinggir jalan. Terus yang di rumah sakit itu siapa, Nak?” tanya Wijaya.
“Sebenarnya Aluna memang dari rumah sakit, Aluna mengantar Alana, kembaran Aluna. Setelah itu Aluna berniat mau ke panti asuhan, Aluna ingin berpura-pura menjadi Alana. Aluna sengaja menukar jati diri Aluna sama dia, karena Aluna pengen Alana hidup bahagia sama keluarga Aluna yang di Jakarta,“ kata Aluna menjelaskan semuanya kepada Wijaya yang Aluna anggap sudah seperti keluarga.
Wijaya tersenyum kagum kepada Aluna, yang mau menukar kebahagiaan Aluna dengan saudari kembarnya.
“Memang kenapa kamu mau tukeran tempat sama saudari kembar kamu?” tanya Wijaya.
“Karena di Bandung, kak Alana selalu mendapat siksaan dari orang tua angkatnya beserta saudari angkat-nya, Om. Selain itu, di sekolahnya juga dia selalu di-bully sama saudari angkat dan teman-temannya,“ kata Aluna.
Wijaya terdiam sejenak, lalu tanpa diduga memeluk Aluna erat. Entah, apa yang membuat Wijaya memeluk Aluna sampai seperti itu?
“Om, Aluna pengen kasih pelajaran ke orang-orang yang sudah menyakiti kak Alana, tapi Aluna pengen ngelakuin itu semua secara diam-diam.”
“Om setuju sama ide kamu, mulai sekarang kamu boleh tinggal di sini. Selama kamu di Bandung anggap saja rumah ini rumah kamu sendiri, Lun,” kata Wijaya.
“Makasih Om, Om selalu bisa bikin Aluna senang. Bahkan, Om selalu kasih yang terbaik buat Aluna, dari dulu sampai sekarang. Om nggak pernah berhenti kasih hal yang bikin Aluna bahagia,” kata Aluna.
***
Setelah membayar semua biaya administrasi rumah sakit, Arga dan Wulan membawa Alana pulang ke Jakarta. Alana masih bingung, dia merasa asing dengan Wulan dan Arga. Arga yang melihat Alana seperti orang linglung, justru tersenyum kepadanya. Arga berpikir Aluna yang biasanya rame bisa diam juga.
“Woi! Ngomong dong, Dek? Biasanya lo yang paling rame kalau lagi di jalan kayak gini,“ kata Arga menoyor kepala Alana yang masih diperban.
Sedetik kemudian, Arga mendapat jitakan dari mamanya karena mengganggu Alana yang masih sakit, tepatnya mengalami “amnesia”.
Alana tersenyum melihat Arga yang meringis kesakitan akibat jitakan mamanya. Arga sekarang tersenyum, menyadari Alana juga mulai tersenyum setelah kecelakaan yang dialaminya.
Akhirnya, senyuman itu muncul kembali setelah sekian lama menghilang, senyuman yang membuatku ikut bahagia dan tenang saat melihatnya, batin Arga.
Dua jam perjalanan dari Bandung ke Jakarta. Akhirnya Alana, Arga dan Mama Wulan sampai di rumah mereka.
“Ini rumah kita, lo pasti lupa ya Dek kalau ini rumah kita? Kak Arga bakalan bantuin lo buat mengingat semuanya lagi. Selamat datang kembali Aluna jutek,” kata Arga.
Alana tersenyum ke arah Arga dan Wulan bergantian. Lalu, mereka masuk ke rumah. Alana langsung ke kamarnya, ruang favorit Alana sebelum hilang ingatan. Gadis itu memperhatikan foto-foto yang menampilkan wajah seseorang yang mukanya sangat mirip dengannya. Namun, entah kenapa Alana tidak bisa mengingat kalau dia pernah berfoto dan berada di rumah ini. Apa karena dia amnesia seperti yang Arga bilang di rumah sakit kepadanya?
“Itu foto kita berdua, itu foto lo sama sahabat-sahabat lo; Adara sama Bella, fotonya diambil pas lo baru masuk SMA,“ kata Arga menjelaskan semuanya kepada Alana.
Alana hanya diam, dia masih memperhatikan foto-foto itu–foto Aluna dengan rambut curly-nya sewaktu memakai seragam sekolah.
Alana duduk di ranjang sambil terus memandangi foto-foto itu. Lalu, Arga keluar dari kamar.
“Oh jadi nama aku Aluna, aku punya kakak namanya Arga. Dia sangat baik kepadaku, tapi kenapa aku nggak bisa ingat masa lalu aku?” gerutu Alana lalu berbaring di ranjang.
***
Keesokan harinya, Alana sudah boleh masuk sekolah seperti biasa, meskipun dia masih belum sembuh sepenuhnya, ingatannya masih belum pulih. Alana berangkat satu mobil dengan Arga, tidak seperti biasanya. Sebelum dia mengalami amnesia, dia selalu ke sekolah menggunakan busway.
Alana turun dari mobil Arga dengan wajah yang nampak bingung, sambil memperhatikan sekolahnya.
“Ini sekolah aku, Kak?“ tanya Alana menghadap Arga yang nampak setia mendampinginya.
“Iya, Dek. Kakak harap Lo secepatnya mengingat semua,” kata Arga di samping Aluna yang masih diam memperhatikan sekelilingnya.
Arga dengan setia mendampingi Alana menuju kelas Aluna. Namun, tiba-tiba ada seseorang berjalan mendekati Alana. Alana menoleh ke arah suara langkah kaki itu, dia bingung siapa orang yang sedang berjalan ke arahnya itu.
“Itu siapa, Kak?“ tanya Aluna.
Namun, sebelum Arga menjawab pertanyaan Aluna, tiba-tiba orang itu memeluk Alana dengan erat. Alana terkejut bukan main menerima pelukan yang tiba-tiba itu. Tak hanya Alana, Arga juga kaget dan dia terdiam melihat kejadian itu.